“Keangkuhan, O, Brahmana, adalah beban bahumu, Kemarahan adalah asap, ucapan salah adalah abu; Lidah adalah sendoknya, hati adalah altar, Diri yang terjinakkan dengan baik adalah cahaya bagi seseorang.

~ SN 7.9: Sundarika Sutta

Jika seseorang, sombong atas kelahirannya, kekayaannya, dan sukunya, merendahkan saudara-saudaranya — inilah penyebab keruntuhan.

~ SNp 1.6: Parabhava Sutta

[Brahmana Mānatthaddha:]

“Kepada siapakah seseorang harus menghindari keangkuhan? Kepada siapakah seseorang harus menunjukkan penghormatan? Kepada siapakah seseorang harus menghormat? Siapakah yang selayaknya dihormati dengan mendalam?”

[Sang Bhagavā:]

“Pertama ibu dan ayah seseorang, Kemudian saudara kandung yang lebih tua, Kemudian gurunya sebagai yang ke empat: Kepada orang-orang ini, ia seharusnya menghindari keangkuhan; Kepada orang-orang ini, ia seharusnya menghormat; Orang-orang ini seharusnya dihormati dengan baik; Orang-orang ini baik sekali dihormati dengan mendalam.

“Setelah menaklukkan keangkuhan, rendah hati, Seseorang harus memberi hormat kepada para Arahanta, Mereka yang berhati dingin, tugas-tugasnya telah selesai, Yang tanpa-noda, tiada bandingnya.”

~ SN 7.15 Mānatthaddha Sutta

“Orang-orang yang suka mencemooh, Terbunuh oleh keangkuhan, jatuh ke neraka. Orang-orang bersedih dalam waktu yang lama. Terbunuh oleh keangkuhan, terlahir kembali di neraka.

~ SN 8.3: Pesala Sutta


15. “Di sini, murid, seorang laki-laki atau perempuan keras kepala dan sombong; ia tidak memberi hormat kepada seorang yang selayaknya menerima penghormatan, tidak bangkit berdiri untuk seseorang yang karena kehadirannya seharusnya ia bangkit berdiri, tidak memberikan tempat duduk kepada ia yang layak menerima tempat duduk, tidak memberi jalan untuk seseorang yang seharusnya ia beri jalan, dan tidak memghormati, menghargai, memuja, dan memuliakan seseorang yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan. Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian … ia muncul kembali dalam kondisi menderita … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan berkelahiran rendah. Demikianlah, murid, hal itu mengarah pada kelahiran rendah, yaitu, sifat keras kepala dan sombong … dan tidak memghormati, menghargai, memuja, dan memuliakan seseorang yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan.

16. “Tetapi di sini, murid, seorang laki-laki atau perempuan tidak keras kepala dan tidak sombong; ia memberi hormat kepada seorang yang selayaknya menerima penghormatan, bangkit berdiri untuk seseorang yang karena kehadirannya seharusnya ia bangkit berdiri, memberikan tempat duduk kepada ia yang layak menerima tempat duduk, memberi jalan untuk seseorang yang seharusnya ia beri jalan, dan memghormati, menghargai, memuja, dan memuliakan seseorang yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan. Karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian … ia muncul kembali di alam bahagia … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan berkelahiran tinggi. Demikianlah, murid, hal itu mengarah pada kelahiran tinggi, yaitu, sifat tidak keras kepala dan tidak sombong … dan menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakan seseorang yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan.

~ MN 135: Cūḷakammavibhanga Sutta

“Setelah meninggalkan kesombongan, terkonsentrasi baik, Dengan pikiran mulia, terbebaskan di mana pun: Selagi berdiam sendirian di dalam hutan, tekun, Seseorang dapat menyeberang melewati alam Kematian.”

~ SN 1.9: Mānakāma Sutta

Dan apakah lima belenggu tinggi itu? Keinginan terhadap bentuk, Keinginan terhadap yang tidak berbentuk, kesombongan, kegelisahan, & ketidaktahuan. Inilah lima belenggu tinggi.

~ AN 10.13: Saṃyojana Sutta

“Bermeditasilah pada tanpa tanda (animitta) dan atasi kecenderungan kesombongan. Dengan sepenuhnnya memahami dan menghancurkan kesombongan engkau akan hidup dalam kedamaian (tertinggi).”

~ Snp 2.11: Rahula Sutta

“Soṇa, ketika petapa dan brahmana manapun juga, dengan berdasarkan pada bentuk – yang tidak kekal, penderitaan dan mengalami perubahan – menganggap diri mereka: ‘aku lebih mulia,’ atau ‘aku sama dengan,’ atau ‘aku lebih hina,’ apakah maksudnya kalau bukan berarti tidak melihat segala sesuatu sebagaimana adanya?

~ SN 22.49: Soṇa Sutta