Sebagai orang awam yang memilih kehidupan sebagai perumah tangga, pernikahan menjadi suatu tonggak awal untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Namun, sayangnya banyak pandangan keliru yang ada pada masyarakat yang menghilangkan esensi dari pernikahan itu sendiri. Berbagai media massa saat ini sering meliput perseteruan dalam rumah tangga karena alasan satu dan lain hal yang berujung pada perceraian. Hal seperti itu memandang seakan pernikahan hanyalah suatu hal sepele yang dapat diakhiri dengan suatu proses hukum bila dikehendaki.

Buku ”RUMAH TANGGA BAHAGIA” ini menjelaskan tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan rumah tangga dari sudut pandang Buddhis, terutama di era modern saat ini. Sehingga diharapkan buku ini dapat menjadi pedoman bagi mereka yang akan atau telah menjalani kehidupan berumah tangga. Buku karangan Ven. K. Sri Dhammananda ini dibuat dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, praktis sehingga mudah diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Diharapkan pula dengan adanya buku ini dapat membenarkan pandangan – pandangan salah dalam masyarakat tentang pernikahan.

Tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada Sdr. Seng Hansun yang telah menerjemahkan naskah Rumah Tangga Bahagia ini dan kepada Bapak Ir. Agus Santoso yang telah bersedia menjadi editor buku ini. Terima kasih juga kepada para donatur, karena tanpa Anda buku ini tidak akan terbit. Terima kasih kepada para pembaca karena tanpa Anda, buku ini hanya akan menjadi sebuah buku yang tidak bermakna. Untuk semakin memperluas cakrawala dan pandangan, marilah kita semakin membiasakan diri untuk membaca buku, khususnya buku Dhamma.

Terima kasih atas perhatiannya. Semoga semua makhluk selalu hidup berbahagia.

Manajer Produksi Buku
Andy Boedianto

Sudah sejak jaman dahulu kala, sedari bayi hingga menuju liang kubur, manusia selalu sibuk dalam mengejar kebahagiaan hidup. Kita bekerja serta berjuang keras untuk mencapai kebahagiaan, dan kebanyakan tanpa mengetahui apa makna sesungguhnya dari kebahagiaan itu sendiri, karena kebodohan kita akan hakekat kehidupan ini. Meskipun semua ajaran agama memberikan nasehat dan panduan bagi umat-umatnya untuk diamalkan guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia, kerap kali nasehat-nasehat dan panduan-panduan ini diabaikan oleh karena ketamakan, kebencian, dan kebodohan batin manusia. Banyak orang yang mengalami tekanan dan penderitaan berharap dan berdoa untuk memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan ini dan setelahnya; sementara yang lain, meskipun telah menikmati begitu banyak kebahagiaan di dunia, masih belum puas dan mendambakan kebahagiaan abadi di alam surga setelah meninggalkan dunia ini. Bagi manusia biasa, seperti kanak-kanak, mereka kesulitan untuk membedakan antara kebahagiaan dengan kenikmatan. Baginya, apa saja yang memberikan kenikmatan berarti sama dengan memberikan kebahagiaan, dan untuk menjadi bahagia adalah dengan memperoleh kenikmatan.

Kerap kali, kita menganggap masa kanak-kanak sebagai masa penuh kebahagiaan. Sebenarnya, sebagai anak-anak kita belum memahami apa kebahagiaan itu. Di bawah naungan orangtua, kita melewati hari-hari penuh kesenangan yang tidak diragukan lagi memang memberikan kenikmatan. Ketika kita memasuki masa remaja, perubahan terjadi dalam cara berpikir dan bentuk tubuh yang menyebabkan kita memperhatikan keberadaan lawan jenis kita, dan kita mulai mengalami jenis ketertarikan baru yang menimbulkan emosi-emosi yang bergejolak. Di saat yang sama, rasa ingin tahu mendorong kita untuk mencari penjelasan tentang kenyataan hidup ini, melalui diskusi-diskusi dan membaca buku. Tak lama kemudian, tiba-tiba kita menemukan diri kita sudah berada di ambang masa dewasa, masa penting dalam hidup ketika kita mencari pasangan hidup yang cocok untuk memulai suatu hubungan, yang akan menguji seluruh kualitas hidup yang telah kita pelajari sebelumnya. Cinta, seks, dan pernikahan kemudian menjadi hal yang sangat penting yang akan menentukan kualitas kehidupan pernikahan kita.

Pemuda-pemudi saat ini berhadapan dengan berbagai macam pengaruh “Barat” yang disebarkan melalui media massa seperti buku dan majalah, televisi, kaset video dan film, mengakibatkan munculnya pandangan yang keliru terhadap cinta, seks, dan pernikahan. Kebajikan dan nilai moral “Timur” kuno terkikis sedikit demi sedikit menghadapi pengaruh-pengaruh ini. Beragam perilaku yang dahulu tidak pernah terdengar atau yang tidak pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya, telah menjadi hal yang umum di dalam masyarakat dewasa ini. Apakah pengaruh “Barat” benar-benar bertanggung jawab atas hal ini; atau haruskah orangtua disalahkan atas perilaku salah anak-anak mereka, karena tidak menuntun dan mengawasi mereka?

Di dalam buku ini, dijelaskan bahwa kebanyakan program televisi dan film itu tidaklah menunjukkan cara berpikir dan bertindak yang sesungguhnya dari kebanyakan orang baik-baik di Barat, dan bahwa sebenarnya terdapat banyak “mayoritas diam” dari pasangan Barat yang baik-baik yang sangat religius dan “konservatif” terhadap cinta, seks, serta pernikahan sebagaimana halnya dengan pasangan “Timur”. Jika orang-orang muda kita hendak mengikuti Barat, mereka disarankan untuk mengikuti “mayoritas diam” ini, yang sebenarnya tidak berbeda dengan beberapa tetangga baik-baik mereka yang tinggal di sebelah.

Kehidupan modern dipenuhi dengan berbagai macam ketegangan dan tekanan. Tak diragukan, kerap kali ketegangan dan tekanan inilah yang menimbulkan masalah dalam banyak kehidupan pernikahan. Jika suatu analisis yang memadai dilakukan terhadap akar permasalahan-permasalahan sosial seperti seks di luar pernikahan, hamil muda, pernikahan tak bahagia dan perceraian, pelecehan seksual terhadap anak dan pertengkaran suami istri, kita menemukan bahwa hal ini terutama bersumber dari keegoisan dan kurangnya kesabaran, toleransi dan pengertian bersama. Dalam Sigalovada Sutta, Sang Buddha memberikan nasehat baik tentang bagaimana menjaga kedamaian dan keharmonisan di dalam rumah antara suami dan istri guna membentuk kehidupan pernikahan yang bahagia. Tanggung jawab orangtua terhadap anaknya dan kewajiban anak terhadap orangtuanya juga dengan jelas disebutkan dalam Sutta sebagai panduan yang bermanfaat untuk mencapai rumah tangga bahagia. Di dalam buku ini, Y.M. K. Sri Dhammananda menekankan poin penting bahwa pernikahan adalah kerja sama antara dua individu dan bahwa kerja sama ini tumbuh dan berkembang ketika individu yang terlibat di dalamnya dapat berkembang. Dalam sudut pandang ajaran Buddha, pernikahan berarti saling memahami dan menghormati keyakinan dan keleluasaan pribadi satu sama lain. Saat ini merupakan saat yang paling tepat untuk menerbitkan buku seperti ini yang memberikan para pengikut ajaran Buddha, khususnya para pemuda, pemahaman yang jelas terhadap hal-hal penting dalam hidup seperti cinta, seks dan pernikahan, yang tidak hanya akan membantu mereka membentuk kehidupan pernikahan yang bahagia, namun juga membantu mereka dalam menjalani kehidupan yang damai dan bahagia.

Mewakili ‘Buddhist Missionary Society’, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada anggota-anggota kami atas segala bantuan dan layanan yang diberikan guna mempersiapkan buku ini. Terima kasih sebesarnya juga kami sampaikan kepada: Mr. Vijaya Samarawickrama selaku editor; Mr. Teh Thean Choo, Miss Quah Pin Pin dan Mrs. Chong Hong Choo atas bantuannya yang berharga; dan Mr. Paw Oo Theti dari Burma atas desain sampulnya.

Tan Teik Beng
JSM, SMS, KMN, PKT
Wakil Presiden, Buddhist Missionary Society
Mantan Direktur, Departemen Pendidikan, Selangor
20 Desember 1986

Dari sudut pandang ajaran Buddha, pernikahan bukanlah sesuatu yang suci ataupun tidak suci. Ajaran Buddha tidak menganggap pernikahan sebagai suatu kewajiban religius maupun sebagai suatu hal yang sakral yang ditakdirkan di surga. Seorang kritikus berkata, ketika beberapa orang percaya bahwa pernikahan telah direncanakan di surga, beberapa orang lainnya berkata bahwa pernikahan dicatat pula di neraka. Pernikahan pada dasarnya merupakan hak pribadi dan sosial, bukan suatu kewajiban. Seorang lelaki maupun perempuan memiliki kebebasan memilih untuk menikah atau tetap hidup sendiri. Hal ini tidak berarti kalau ajaran Buddha menentang pernikahan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan berkata bahwa pernikahan adalah hal yang buruk dan tidak ada ajaran agama apapun yang menentang pernikahan.

Umumnya makhluk hidup lahir di dunia sebagai akibat kehidupan seks. Khusus di antara umat manusia, institusi pernikahan telah muncul sehingga masyarakat dapat menjamin kelangsungan hidup umat manusia dan juga memastikan anak-anak mereka akan dirawat dan dibesarkan. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa anak-anak dilahirkan melalui kenikmatan seks haruslah menjadi tanggung jawab pasangan yang terlibat di dalamnya, setidaknya hingga anak-anak mereka dewasa. Dan pernikahan memastikan kalau tanggung jawab ini dijaga dan dijalankan.

Suatu kelompok masyarakat tumbuh melalui sebuah jaringan hubungan yang saling berkaitan dan bergantungan. Setiap hubungan merupakan suatu komitmen sepenuh hati untuk saling mendukung dan melindungi satu sama lainnya dalam sebuah kelompok atau komunitas. Pernikahan memainkan bagian yang sangat penting dalam jaringan hubungan yang kuat dalam memberikan dukungan dan lindungan. Suatu pernikahan yang baik mesti tumbuh dan berkembang secara bertahap berlandaskan pengertian dan bukan nafsu sesaat, dari kesetiaan sejati dan bukan hanya kenikmatan semata. Institusi pernikahan memberikan dasar yang baik bagi perkembangan kebudayaan, penyatuan yang membahagiakan bagi dua orang individu untuk terus dipupuk, dan agar terhindar dari kesepian, kemerosotan dan ketakutan. Dalam pernikahan, setiap pasangan mengembangkan peranan yang saling melengkapi, memberikan kekuatan dan dukungan moral satu sama lainnya, saling menunjukkan penghargaan terhadap kemampuan pasangannya dalam merawat dan menjaga keutuhan keluarga. Tidak boleh ada pemikiran bahwa lelaki atau perempuan yang lebih tinggi derajatnya – setiap orang melengkapi pasangannya, pernikahan merupakan sebuah kerjasama dalam kesetaraan, kelembutan, kemurahhatian, kedamaian dan dedikasi.

Dalam ajaran Buddha, seseorang dapat menemukan semua bimbingan yang diperlukan yang dapat membantu dalam membentuk suatu pernikahan yang bahagia. Seseorang tidak boleh mengabaikan nasehat yang diberikan oleh Sang Guru yang Tercerahkan jika ia benar-benar ingin membentuk sebuah keluarga bahagia. Dalam khotbahnya, Sang Buddha memberikan berbagai macam nasehat bagi pasangan yang telah menikah dan bagi mereka yang hendak menikah. Sang Buddha berkata, “Jika seorang pria dapat menemukan seorang istri yang cocok dan memahami, dan seorang wanita dapat menemukan seorang suami yang cocok dan memahami; sesungguhnya mereka berdua sangatlah beruntung.”

Terdapat berbagai jenis cinta, dan biasanya hal ini dibedakan sebagai rasa cinta ibu, rasa cinta saudara, cinta nafsu, cinta emosional, cinta seksual, cinta dengan ego, cinta tanpa ego, dan cinta universal.

Jika manusia hanya memupuk cinta ego dan jasmaniah mereka terhadap yang lainnya, maka jenis cinta seperti itu tidak dapat bertahan lama. Dalam hubungan cinta yang sejati, seseorang tidak semestinya bertanya seberapa banyak yang dapat diperolehnya, namun seberapa banyak yang dapat diberikannya.

Ketika kecantikan, kejelitaan dan kemudaan telah memudar, seorang suami yang hanya melihat cinta dari aspek jasmani dapat berpikir untuk memiliki wanita muda lagi. Jenis cinta begini adalah jenis cinta binatang atau nafsu. Jika seorang pria benar-benar mengembangkan cinta sebagai suatu ekspresi dari perhatian manusia terhadap makhluk lainnya, ia tidak akan hanya memperhatikan kecantikan luar dan fisik dari pasangannya.

Kecantikan dan kejelitaan pasangannya semestinya berada di dalam hati dan pikirannya, bukan pada tampak luarnya. Demikian pula, seorang istri yang mengikuti ajaran Buddha tidak akan pernah mengabaikan suaminya meskipun suaminya itu telah menjadi tua, miskin atau sakit.

“Saya punya kekhawatiran bahwa gadis modern dewasa ini ingin menjadi Juliet, untuk memiliki selusin Romeo. Ia suka petualangan…. Gadis modern mengenakan pakaian bukan lagi untuk melindungi tubuhnya dari angin, hujan dan terik matahari, tetapi untuk menarik perhatian. Ia memoles diri dengan dandanan dan agar terlihat menarik.”

-Gandhi

Seks itu sendiri sesungguhnya tidaklah “jahat”, meskipun pesona serta pikatan terhadapnya memang mengganggu ketenangan pikiran, dan karenanya tidaklah mendukung perkembangan spiritual.

Dalam situasi yang ideal, seks merupakan puncak kepuasan fisik dari hubungan emosional yang mendalam, di mana kedua pasangan saling memberi dan menerima secara sama. Gambaran cinta yang digambarkan oleh kelompok komersial melalui media massa yang kita sebut budaya “barat”Istilah “Barat” saat ini bisa diganti dengan kata “modern”, karena kehidupan masyarakat Timur jaman sekarang sebenarnya kian tidak terlalu beda jauh dengan Barat – ed. bukanlah merupakan cinta “nyata”. Ketika seekor hewan ingin melakukan hubungan seks, ia akan menunjukkan “cintanya”, namun setelah menikmati hubungan seks, ia akan segera melupakan cintanya. Bagi hewan, seks hanyalah merupakan sekedar dorongan naluri buat mempertahankan kelangsungan jenisnya. Namun seorang manusia memiliki lebih banyak hal yang dapat diberikan dalam konsep cinta. Tugas dan kewajiban merupakan unsur-unsur penting untuk mempertahankan kesatuan, keharmonisan dan saling pengertian dalam suatu hubungan antar manusia.

Seks bukanlah merupakan unsur paling penting bagi kebahagiaan kehidupan pernikahan. Mereka yang telah menjadi budak seks hanya akan menghancurkan cinta dan harkat kemanusiaan dalam pernikahan. Namun terpisah dari hal itu, seorang wanita sendiri musti berhenti menganggap kalau dirinya merupakan objek bagi nafsu berahi seorang pria. Jalan pemecahannya sesungguhnya lebih terletak pada di pihak wanita ketimbang di pihak si pria. Ia harus menolak untuk mendandani dirinya semata untuk menggairahkan laki-laki, meskipun andaikata laki-laki tersebut adalah suaminya. Jika ia ingin menjadi pasangan yang setara dengan seorang pria, ia harus berbusana sedemikian sehingga punya martabat, dan ia bukan menjadi suatu simbol seks. –Pernikahan untuk kepuasan nafsu seksual bukanlah merupakan suatu pernikahan. Itu berahi belaka. (Gandhi)

Cinta dapat jadi merupakan produk dari seks, namun sebaliknya juga demikian: seks merupakan suatu ekspresi dari cinta. Dalam kehidupan pernikahan bahagia yang ideal, baik cinta maupun seks tidak dapat dipisahkan.

Kita dapat mempelajari ajaran Sang Buddha berkaitan dengan perasaan yang dimiliki oleh pria dan wanita satu sama lainnya. Sang Buddha berkata bahwa beliau tidak pernah melihat objek lainnya di dunia ini yang dapat menarik perhatian seorang pria lebih daripada gambaran seorang wanita. Begitu pula hal utama yang menarik seorang wanita tak lain adalah gambaran seorang pria. Hal ini berarti secara alamiah, wanita dan pria saling memberikan kenikmatan duniawi. Mereka tidak dapat memperoleh kebahagiaan sejenis ini dari objek lainnya. Ketika kita mengamati dengan seksama, kita menyadari bahwa di antara semua hal yang memberikan kenikmatan, tidak ada objek lainnya yang dapat memuaskan seluruh lima indera manusia pada saat bersamaan selain gambaran pria dan wanita.

Orang Yunani kuno paham benar tentang hal ini ketika mereka mengatakan bahwa pada awalnya pria dan wanita itu adalah satu. Mereka kemudian terpisah. Kedua bagian yang terpisah itu lalu terusmenerus saling berusaha mencari satu sama lainnya untuk bersatu kembali sebagai pria dan wanita.

Orang muda pada dasarnya senang menuruti kenikmatan duniawi yang dapat meliputi hal-hal yang baik maupun yang buruk. Hal-hal baik, seperti kesenangan terhadap musik, puisi, tarian, makanan enak, pakaian dan hal-hal serupa lainnya memang tidak mencelakakan bagi tubuh. Cuma hal-hal itu mengalihkan perhatian kita dalam melihat perubahan serta ketidakpastian hidup dan karenanya menghambat kita dalam memahami sifat sejati dari diri ini.

Indera dan perasaan orang-orang muda sangatlah segar dan tajam; mereka sangat berhasrat untuk memuaskan seluruh kelima indera. Hampir setiap hari, mereka merencana dan mencari cara serta langkah untuk mengalami beberapa bentuk kenikmatan. Sejalan dengan sifat alamiah hidup ini, seseorang tidak akan pernah dapat puas dengan kenikmatan apapun yang dirasakannya dan akibatnya kecanduan hanya akan menciptakan lebih banyak kecemasan dan kegelisahan.

Ketika kita berpikir mendalam tentang hal ini, kita bisa memahami bahwa hidup sebenarnya bukanlah apa-apa selain sebuah mimpi. Pada akhirnya, apa yang kita peroleh dari kemelekatan terhadap hidup ini? Hanya lebih banyak kegelisahan, kekecewaan dan frustasi. Barangkali kita memang menikmati beberapa saat yang menyenangkan, namun pada akhirnya, kita harus berusaha mencari tahu apa sih tujuan hidup kita sesungguhnya?

Ketika seseorang tak lagi dahaga akan kenikmatan sensual dan tidak mencari kenyamanan fisik bersama dengan orang lain, maka kebutuhan untuk menikah tidak timbul. Penderitaan dan kenikmatan duniawi keduanya merupakan hasil kedahagaan, kemelekatan dan emosi. Apabila kita malah berusaha untuk mengontrol dan menekan emosi kita dengan menerapkan cara-cara tak realistis, kita akan menciptakan kekacauan dalam pikiran dan tubuh fisik kita. Oleh karena itu, kita harus tahu bagaimana cara menangani dan mengendalikan hasrat manusiawi kita. Tanpa menciderai atau menyalahgunakan hasrat ini, kita dapat menjinakkan keinginan kita dengan pemahaman yang tepat.

John J. Robinson dalam bukunya ‘Of Suchness’ memberikan nasehat berikut mengenai cinta, seks dan kehidupan pernikahan. “Waspada dan berhati-hatilah; memang lebih gampang menikah dibandingkan tidak menikah. Jika Anda mendapatkan pasangan yang tepat, sangatlah membahagiakan; tetapi jika tidak, maka Anda hidup dalam neraka yang terus lengket dengan Anda dua puluh empat jam penuh setiap harinya, ini bisa menjadi satu hal paling pahit dalam hidup. Hidup memang sungguh aneh. Entah bagaimana, ketika Anda menemukan orang yang tepat, hati Anda akan tahu. Hal tersebut bukanlah rasa tergila-gila semata. Akan tetapi hasrat hawa nafsu yang kuat bisa mendorong seorang yang masih muda untuk bertindak tanpa pikir panjang, dan seseorang tidak boleh terlalu mempercayai perasaannya. Memang benar jika seseorang minum dan mabuk; seorang pelacur paling jelek dalam sebuah bar yang gelap pun dapat terlihat seperti dewi Venus, dan pesonanya dapat begitu tidak tertahankan. Sesungguhnya, cinta lebih daripada sekedar seks; namun merupakan fondasi biologis antara seorang pria dan wanita; cinta dan seks saling berkaitan dan berhubungan.”

Hampir setiap hari kita mendengar orang-orang mengeluhkan pernikahan mereka. Sangatlah jarang kita mendengarkan cerita mengenai pernikahan yang bahagia. Anak muda yang membaca novel-novel dan menonton film-film romantis seringkali menganggap bahwa pernikahan itu isinya kesenangan belaka. Sayangnya, pernikahan ternyata tidaklah semanis yang kita duga. Pernikahan dan masalah saling berkaitan dan mereka harus ingat bahwa ketika menikah, mereka akan berhadapan dengan masalah-masalah dan tanggung jawab yang tidak pernah mereka perkirakan atau hadapi sebelumnya.

Orang kerap kali berpikir bahwa sudah merupakan kewajiban bagi mereka untuk menikah dan bahwa pernikahan merupakan kejadian yang sangat penting dalam hidup mereka. Akan tetapi, untuk menjamin suatu pernikahan yang sukses, pasangan tersebut harus mengharmonisasi hidup mereka dengan memperkecil perbedaan-perbedaan apapun yang mungkin mereka miliki di antara mereka. Masalah-masalah pernikahan membuat orang yang sinis berkata bahwa suatu kehidupan pernikahan yang damai hanya bisa dicapai jika pasangan tersebut adalah perempuan buta dan seorang laki-laki tuli, karena istri yang buta tidak dapat melihat kesalahan yang dilakukan oleh suaminya dan suami yang tuli tidak dapat mendengar omelan-omelan istrinya.

Salah satu penyebab utama dalam masalah pernikahan adalah kecurigaan dan ketidakpercayaan. Pernikahan adalah suatu berkah, namun banyak orang yang menjadikannya sebagai kutukan karena kurangnya pengertian.

Baik sang suami maupun istri haruslah memperlihatkan rasa percaya satu sama lainnya dan berusaha untuk tidak punya rahasia di antara mereka berdua. Rahasia menciptakan kecurigaaan, kecurigaan menimbulkan rasa cemburu, rasa cemburu membangkitkan kemarahan, kemarahan menyebabkan permusuhan dan permusuhan dapat berakibat pada perpisahan, bunuh diri atau bahkan pembunuhan.

Jika pasangan itu dapat saling berbagi kepahitan dan kebahagiaan dalam keseharian hidup mereka, mereka dapat saling menghibur dan mengurangi beban mereka. Karenanya, sang istri maupun sang suami mestinya janganlah mengharap akan terus memperoleh kebahagiaan semata. Bakal ada begitu banyak pengalaman yang menyakitkan, menyedihkan yang harus mereka hadapi. Mereka musti memiliki keteguhan hati yang kuat untuk mengurangi beban dan kesalahpahaman mereka. Membicarakan permasalahan bersama akan memberikan keyakinan untuk hidup bersama dengan pengertian yang lebih baik bagi mereka.

Pria dan wanita perlu saling menghibur ketika menghadapi masalah dan rintangan. Rasa tak aman dan kegelisahan akan menghilang dan hidup akan lebih bermakna, bahagia dan menarik jika ada seseorang yang bersedia untuk berbagi menanggung beban dengan yang lain.

Ketika dua orang saling jatuh cinta, mereka cenderung untuk memperlihatkan hal terbaik dalam sikap dan karakter mereka satu sama lainnya dengan maksud memberikan kesan yang baik dari diri mereka. Cinta dikatakan buta dan karenanya orang yang sedang jatuh cinta cenderung lupa sama sekali dengan sisi buruk dari pasangannya.

Dalam prakteknya, setiap orang akan berusaha untuk menunjukkan kualitas-kualitas luhur dirinya terhadap pasangannya, dan karena sangat terpikat pada cinta, mereka cenderung menerima satu sama lainnya begitu saja. Setiap pasangan tidak akan membuka sisi buruk dirinya karena takut akan kehilangan pasangannya. Setiap kekurangan pribadinya dengan hati-hati disembunyikan di bawah karpet, dengan kata lain, agar tidak membahayakan kesempatan mereka untuk mendapatkan yang lainnya. Orang yang sedang jatuh cinta juga cenderung untuk mengabaikan kekurangan pasangannya dengan pemikiran bahwa mereka akan bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut nanti setelah menikah, atau bahwa mereka dapat hidup dengan kekurangan ini, bahwa “cinta dapat menaklukkan segala hal.”

Namun demikian, setelah menikah, ketika rasa romantisme awal telah memudar, sifat asli dari watak masing-masing akan terungkap. Kemudian, yang sangat menimbulkan kekecewaan di kedua belah pihak, kabut rahasia yang selama ini telah menyembunyikan perasaan terdalam dari setiap pasangan tersingkap dan menunjukkan sifat sebenarnya dari kedua pasangan. Saat itulah kekecewaan mulai timbul.

Cinta itu sendiri tidak hidup hanya dari udara dan sinar matahari semata. Dunia saat ini adalah dunia materialistis dan untuk memenuhi kebutuhan materi Anda, perencanaan dan pengeluaran keuangan yang tepat sangat dibutuhkan. Tanpanya, tidak ada keluarga yang dapat hidup dengan nyaman. Keadaan seperti demikian dengan tepat dinyatakan dalam pepatah berikut “ketika kemiskinan mengetuk pintu, cinta terbang melayang melalui jendela.” Hal ini tidak berarti seseorang mestilah kaya raya untuk menikah. Namun demikian, jika seseorang telah mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup yang diperoleh dari pekerjaan yang terjamin dan perencanaan matang, maka akan banyak kecemasan yang tidak perlu dapat disingkirkan dari pernikahan tersebut.

Ketidaknyamanan dari kemiskinan dapat dicegah jika terdapat pemahaman yang menyeluruh di antara kedua pasangan. Kedua pasangan harus memahami nilai kepuasan. Keduanya harus menyikapi semua permasalahan sebagai “masalah kita” dan berbagi segala masa di “atas” dan “bawah” dalam semangat sejati dari persahabatan seumur hidup.

Dalam Angutiara Nikaya terdapat beberapa nasehat berharga yang diberikan oleh Sang Buddha kepada gadis-gadis muda sebelum pernikahan mereka. Menyadari bahwa dapat muncul berbagai kesulitan dengan mertua baru mereka, para gadis dianjurkan untuk memberi segala penghormatan kepada ibu dan ayah mertua mereka, melayani sepenuh cinta sebagaimana terhadap orangtua kandung mereka sendiri. Mereka diharapkan agar dapat menghormati dan menghargai kerabat dan sahabat suami, dengan demikian akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan bahagia dalam rumah baru mereka.

Mereka juga dianjurkan untuk mempelajari dan memahami sifat alamiah suami mereka, mengetahui kegiatan, karakter dan temperamen suami, dan agar dapat berguna dan bekerja sama setiap saat dalam rumah baru mereka. Mereka harus sopan, baik dan berhati-hati terhadap pendapatan suami mereka dan mengetahui bahwa seluruh pengeluaran rumah tangga dilakukan dengan tepat. Nasehat-nasehat yang diberikan oleh Sang Buddha lebih dari dua puluh lima abad yang lalu masih tetap berlaku bahkan hingga pada masa kini.

Dalam pandangan mengenai apa yang telah dikatakan tentang “kelahiran dan penderitaan,” beberapa orang telah mengritik ajaran Buddha dengan mengatakan bahwa ajaran Buddha menentang hidup berumah tangga. Mereka salah. Sang Buddha tidak pernah berbicara dalam menentang hidup berumah tangga. Namun demikian, beliau menunjukkan segala permasalahan, kesulitan dan kekhawatiran yang akan dihadapi oleh setiap orang ketika mereka mengambil tanggung jawab pernikahan. Hanya karena beliau memperingatkan seseorang akan permasalahan dalam pernikahan tidaklah berarti bahwa sang Buddha tidak menyetujui pernikahan.

Tindakan menikah sendiri menyiratkan bahwa seseorang masih terikat pada dunia ragawi dan karena indera perasaan kita dipengaruhi oleh ketamakan, kemelekatan dan emosi manusia, merupakan hal yang alami bahwa permasalahan-permasalahan akan timbul. Hal ini terjadi ketika kita harus mempertimbangkan kebutuhan orang lain dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh orang lain itu.

Penyelidikan mendalam terhadap hakekat sifat diri sendiri sangatlah penting untuk membantu kita dalam memahami asal mula permasalahan, kekhawatiran, kesengsaraan kita dan bagaimana cara untuk mengatasinya. Di sini, bimbingan spiritual sangat penting untuk mempertahankan hidup yang damai. Namun demikian, seorang manusia tidak seharusnya menjadi budak ajaran agama apapun. Manusia bukanlah untuk agama, agama-lah yang untuk manusia. Hal itu berarti manusia harus tahu bagaimana cara untuk memanfaatkan agama bagi kehidupan yang lebih baik dan kebahagiaannya dengan cara yang benar. Kalau hanya mengikuti sumpah, aturan atau perintah agama tertentu dengan keyakinan membuta atau malah dengan paksaan, menyangka bahwa sudah merupakan kewajiban kita untuk melaksanakannya – ini semua tidak akan mengembangkan pemahaman yang benar. Salah satu faktor penting dalam ajaran Buddha adalah bahwa sang Buddha tidak memberikan hukum atau perintah religius apapun. Sang Buddha adalah seorang guru yang unik yang memberikan sejumlah datiar disiplin standar etika untuk bisa kita pakai sendiri dalam menjalani hidup kita masing-masing. Mereka yang mengikuti standar etika tersebut melaksanakannya dengan sukarela, bukan sebagai hukum agama yang wajib. Semuanya tergantung pada diri kita sendiri untuk mengikuti nasehat yang diberikan sesuai dengan pemahaman dan pengalaman kita berkait dengan apa yang baik bagi diri kita dan bagi orang lain. Melalui latihan dan praktek, kita akan belajar untuk mengikuti nasehat-nasehat tersebut yang akan memberikan kita kedamaian dan kebahagiaan semata.

Orang memang harus berusaha memahami hakekat sifat kehidupan duniawi ini. Dengan mengetahui bahwa Anda akan menghadapi berbagai macam permasalahan, Anda akan mampu memperkuat batin Anda dan lebih siap dalam menghadapi permasalahan yang mungkin muncul jika Anda menikah. Ajaran agama sangatlah penting dalam membantu Anda untuk memecahkan masalah-masalah Anda. Apapun yang Anda pelajari mengenai dasar-dasar ajaran agama ketika Anda masih muda dapat diterapkan untuk mencegah kesalahpahaman, kekecewaan dan tekanan. Pada saat yang bersamaan, kualitas-kualitas baik tertentu seperti kesabaran dan pengertian yang kita pelajari melalui ajaran agama merupakan modal penting guna membantu kita dalam menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia.

Umumnya, karena kurangnya pengertian bersama-lah banyak pasangan suami istri yang menjalani kehidupan yang tidak membahagiakan. Akibatnya anak-anak mereka yang tidak bersalah juga akan mengalami penderitaan. Lebih baik mengetahui bagaimana cara untuk mengatasi masalah Anda guna menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia. Ajaran agama dapat membantu Anda dalam hal ini.

Salah satu perhatian utama di antara mereka yang tidak termasuk dalam ajaran agama semitik adalah masalah pergantian agama sebelum pernikahan. Sementara ajaran Buddha dan Hindu tidak pernah menuntut bahwa pasangan yang akan menikah haruslah memiliki agama yang sama sebelum pernikahan, banyak agama lainnya yang cenderung untuk mengambil keuntungan dari toleransi ini.

Pernikahan, berbeda dengan kebanyakan yang dikatakan dalam novel-novel romantis, tidak berarti penyatuan total dan mutlak dari dua orang hingga pada tingkatan di mana setiap pasangannya kehilangan identitasnya masing-masing. Ketika suatu ajaran agama menuntut bahwa kedua pasangan harus memiliki label agama yang sama, ajaran tersebut mengingkari hak dasar manusia sebagai seorang individu untuk mempercayai apa yang ia inginkan. Masyarakat melalui sejarah telah membuktikan bahwa “Kebersamaan dalam Perbedaan” tidak hanya mungkin tetapi justru perlu. Melalui perbedaan timbul rasa penghormatan dan pengertian yang lebih baik. Hal ini juga harus diterapkan dalam pernikahan. Banyak contoh nyata di dunia ini di mana sang suami dan sang istri tetap mempertahankan keyakinannya masing-masing dan tetap mampu mempertahankan kehidupan pernikahan bahagia mereka tanpa harus saling bertentangan.

Ajaran Buddha tidak menentang adanya ajaran agama lainnya meskipun dalam satu rumah yang sama. Sayangnya sikap mulia ini dimanfaatkan oleh penganut fanatik ajaran tertentu yang berusaha mengubah keyakinan orang lain dengan cara apapun.

Penganut ajaran Buddha yang pandai harus waspada terhadap tipu daya ini. Tidak ada manusia cerdas yang punya hormat pada dirinya sendiri yang benar-benar memahami apa yang ia yakini berdasarkan pendiriannya sendiri akan mengubah keyakinannya hanya untuk memuaskan tuntutan penganut ajaran lainnya. Penganut ajaran Buddha tidak menuntut pasangannya untuk menganut ajaran Buddha. Demikian pula mereka seharusnya tidak menyerah atas keyakinan mereka sendiri.

Ketika orang-orang muda jatuh cinta, mereka siap untuk berkorban besar apa saja pokoknya asal mereka bisa menikah. Namun setelah beberapa tahun berjalan, ketika tugas yang sebenarnya dalam membangun rumah tangga yang sukses dimulai, frustasi mulai timbul. Ketika seorang pasangan yang merelakan keyakinan mendalamnya demi “cinta” mulai merasa menyesal telah melakukannya, maka kesalahpahaman yang tidak perlu pun bermunculan. Hal ini menimbulkan ketegangan-ketegangan tambahan dalam suatu periode saat terjadi kejenuhan dalam pernikahan. Akan timbul pertengkaran-pertengkaran. Dan biasanya, salah satu sebab utama dari pertengkaran-pertengkaran ini adalah pertanyaan mengenai ajaran agama mana yang mesti diikuti oleh anak-anak mereka. Oleh karenanya, sangatlah penting untuk diketahui seseorang bahwa jika suatu proses ganti agama dilakukan, hal tersebut haruslah didasarkan pada pemahaman yang benar dan tidak semata-mata demi kesenangan yang lain ataupun paksaan. Ajaran Buddha tetap mempertahankan kebebasan seseorang dalam memilih keyakinannya. Prinsip dasar ini mestilah dihormati oleh semuanya.

Tidak ada ritual atau prosedur Buddhis tertentu untuk melangsungkan suatu pernikahan. Ajaran Buddha mengakui tradisi dan budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat dalam negara yang berbeda-beda. Karenanya, upacara-upacara ritual Buddhis dapat berbeda di antara negara yang satu dengan negara lainnya.

Dalam praktek umum, suatu upacara religius untuk pemberkahan dan untuk memberikan nasehat bagi pasangan pengantin biasanya dilaksanakan baik di sebuah vihara atau di rumah untuk memberikan arti yang lebih besar dalam pernikahan. Dewasa ini, di banyak negara, selain upacara pemberkahan, yayasan keagamaan juga diberi wewenang untuk melangsungkan upacara dan mendatiarkan pernikahan bersamaan dengan dikeluarkannya sertifikat pernikahan resmi.

Akhirnya, hal terpenting adalah bahwa pasangan tersebut haruslah sepenuh hati dalam maksud mereka untuk membina hubungan bersama dan saling memahami satu sama lainnya tidak hanya pada saat-saat bahagia namun juga di saat mereka menghadapi permasalahan-permasalahan.

Di masa lalu, tidak ada hal-hal seperti pendatiaran resmi pernikahan. Seorang pria dan wanita secara bersama ditentukan sebagai suami dan istri dan setelahnya mereka hidup bersama. Pernikahan mereka diberitahukan di hadapan masyarakat, dan perpisahan jarang sekali terjadi. Hal terpenting adalah bahwa mereka mengembangkan cinta sejati mereka dan menghormati tanggung jawab bersama mereka.

Pendatiaran resmi pernikahan penting dewasa ini untuk menjamin keamanan dan untuk melindungi harta dan anak-anak. Atas dasar rasa tidak aman ini, sepasang pengantin melangsungkan pernikahan resmi untuk memastikan bahwa mereka dibatasi secara hukum untuk tidak melalaikan tugas mereka dan untuk tidak menyakiti satu sama lainnya. Saat ini, beberapa pasangan bahkan menyusun sebuah perjanjian resmi tentang apa yang akan terjadi terhadap harta bersama mereka jika mereka bercerai.

Berdasarkan ajaran Buddha, dalam sebuah pernikahan, sang suami dapat mengharapkan kualitas-kualitas berikut dari sang istri:

  • Cinta kasih
  • Perhatian
  • Kewajiban keluarga
  • Kesetiaan
  • Mengasuh anak
  • Berhemat
  • Menyediakan makanan
  • Untuk menenangkan sang suami ketika ia marah
  • Ramah dalam segala hal

Sebaliknya, harapan sang istri dari suami adalah sebagai berikut:

  • Kelembutan hati
  • Rasa hormat
  • Keramahan
  • Rasa aman
  • Keadilan
  • Kesetiaan
  • Kejujuran
  • Sahabat baik
  • Dukungan moral

Di samping faktor-faktor emosional dan sensual, pasangan tersebut harus mengatasi kondisi hidup sehari-hari, keuangan keluarga dan kewajiban sosial. Karenanya, perundingan bersama antara suami dan istri dalam segala permasalahan keluarga akan membantu dalam menciptakan suasana nyaman dan pemahaman dalam menyelesaikan segala persoalan yang dapat timbul.

Dalam nasehatnya kepada para wanita mengenai peranan mereka dalam kehidupan rumah tangga, sang Buddha menyadari bahwa kedamaian dan keharmonisan dalam sebuah rumah tergantung sepenuhnya kepada para wanita. Nasehat-nasehatnya realistis dan praktis saat beliau menjelaskan sejumlah karakteristik yang baik yang seorang wanita mesti ataupun tidak kembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai kesempatan, sang Buddha menasehati bahwa seorang istri haruslah:

  • Tidak menyimpan pikiran buruk terhadap suaminya
  • Tidak menjadi kejam, kasar atau terlalu dominan
  • Tidak menjadi tukang boros namun haruslah berhemat dan hidup sesuai kemampuannya
  • Menjaga dan melindungi pendapatan dan harta benda suaminya yang diperoleh dengan susah payah
  • Selalu berhati-hati dan murni dalam pikiran dan tindakannya
  • Harus setia dan tidak menyimpan pikiran-pikiran kotor
  • Menjaga ucapan dan sopan dalam tindakan
  • Baik hati, tekun dan bekerja keras
  • Bijaksana dan memberikan kasih sayang kepada suaminya, dan tindakannya semestinya seperti cinta kasih seorang ibu yang selalu melindungi putra tunggalnya
  • Rendah hati dan menghormati
  • Tenang, seimbang dan memahami – melayani tidak hanya sebagai seorang istri namun juga sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang pemberi nasehat saat dibutuhkan

Pada masa kehidupan sang Buddha, guru-guru spiritual lain juga membicarakan tentang tugas dan kewajiban seorang istri terhadap suaminya – khususnya menekankan pada tugas seorang istri dalam melahirkan seorang penerus keturunan bagi suaminya, memberi pelayanan sepenuhnya dan memberikan kebahagiaan suami istri.

Beberapa masyarakat sangat memberikan perhatian mengenai kehadiran seorang anak laki-laki dalam keluarga. Mereka percaya bahwa seorang putra sangatlah penting dalam mempersiapkan upacara kematian mereka sehingga kehidupan mereka setelah kematian akan menjadi baik. Kegagalan untuk memperoleh seorang putra dari istri pertama, memberi kebebasan bagi seorang pria untuk memiliki istri lainnya untuk dapat memperoleh seorang putra. Ajaran Buddha tidak menyetujui kepercayaan ini.

Berdasarkan apa yang sang Buddha ajarkan mengenai hukum Karma, seseorang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri begitu pula dengan akibat-akibatnya. Yang terlahir adalah seorang putra atau putri bukanlah ditentukan oleh si ayah ataupun ibu melainkan pada karma anak itu sendiri. Dan kesejahteraan seorang ayah maupun seorang kakek tidak tergantung pada tindakan anak maupun cucunya. Setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Jadi, tidaklah benar bagi seorang pria untuk menyalahkan istrinya atau merasa kurang ketika ia tidak memiliki anak laki-laki. Ajaran cerdas dan luhur seperti inilah yang akan membantu memperbaiki pandangan banyak orang dan juga membantu mengurangi kegelisahan para wanita yang tidak bisa menghasilkan seorang putra untuk menjalankan “tatacara para leluhur.”

Walaupun tugas-tugas seorang istri terhadap suaminya tercantum dalam aturan-aturan disiplin Konfusius, namun tugas-tugas dan kewajiban seorang suami terhadap istrinya tidak ditekankan di dalamnya. Namun dalam Sigalovada Sutta, sang Buddha dengan jelas memberitahukan tugas-tugas seorang suami terhadap istrinya dan begitu pula sebaliknya.

Sang Buddha, dalam jawabannya atas pertanyaan seorang perumah tangga mengenai bagaimana seorang suami harus berlaku terhadap istrinya menyatakan bahwa seorang suami haruslah selalu menghormati dan menghargai istrinya, dengan selalu setia pada istrinya, dengan memberikan istrinya hak yang dibutuhkan untuk mengatur urusan rumah tangga dan dengan memberikan istrinya perhiasan-perhiasan yang sesuai. Nasehat ini, yang diberikan lebih dari dua puluh lima abad yang lalu, masih dapat diterima hingga sekarang. Mengetahui sifat psikologis seorang pria yang cenderung menganggap dirinya lebih tinggi derajatnya, sang Buddha membuat sebuah perubahan yang nyata dan meningkatkan kedudukan seorang wanita dengan suatu nasehat sederhana bahwa seorang suami haruslah menghormati dan menghargai istrinya. Seorang suami haruslah setia pada istrinya, yang berarti seorang suami harus memenuhi dan mempertahankan kewajiban-kewajiban pernikahannya terhadap istrinya sehingga dapat menyokong keutuhan rumah tangga dalam setiap makna katanya. Sang suami, menjadi sang pencari natiah, kerap kali akan jauh dari rumah, karenanya ia harus mempercayakan tugas-tugas domestik atau rumah tangga kepada istrinya yang harus dianggap sebagai sang penjaga yang membagi kebutuhan rumah tangga serta mengatur ekonomi rumah. Pemberian perhiasan-perhiasan yang sesuai kepada istrinya haruslah menjadi simbol dari cinta kasih, perhatian dan kasih sayang sang suami kepada istrinya. Praktek simbolis ini telah dijalankan sejak zaman dahulu dalam masyarakat Buddhis. Sayangnya, praktek-praktek ini terancam menghilang oleh pengaruh kebudayaan modern.

Di masa lalu, karena struktur sosial dalam banyak komunitas masyarakat berbeda dari apa yang kita jumpai sekarang, seorang suami dan istri saling tergantung satu sama lainnya. Terdapat pemahaman bersama, dan hubungannya stabil karena setiap pasangan mengetahui dengan tepat apa peranannya masing-masing dalam hubungan kerja sama tersebut. “Cinta” yang oleh beberapa pasangan suami istri coba tunjukkan dengan berangkulan di depan khalayak ramai tidak berarti menunjukkan cinta sejati atau saling pengertian. Di masa lalu, meskipun pasangan suami istri tidak menunjukkan cinta atau perasaan terdalam mereka di depan khalayak ramai, mereka memiliki suatu pemahaman yang mendalam dan rasa penghormatan yang sama antara satu dengan yang lainnya.

Adat-adat kuno yang dimiliki oleh masyarakat di beberapa negara bahwa sang istri harus mengorbankan dirinya setelah kematian suaminya dan juga adat yang melarang seorang janda untuk menikah kembali adalah asing bagi ajaran Buddha. Ajaran Buddha tidak menganggap seorang istri lebih rendah derajatnya dibandingkan sang suami.

Beberapa wanita merasa bahwa tugas untuk mengasuh keluarga bagi mereka merupakan hal yang merendahkan dan kuno. Memang benar bahwa di masa lampau para wanita telah diperlakukan dengan sangat buruk, namun hal ini lebih disebabkan oleh kekelirutahuan para pria ketimbang kekurangan dari konsep bahwa wanita bertugas mengasuh anak-anaknya.

Para wanita telah berjuang selama bertahun-tahun untuk memperoleh kesetaraan dengan para pria dalam bidang pendidikan, pekerjaan, politik dan kesempatan-kesempatan lainnya. Sekarang mereka memiliki kesetaraan dengan pria hingga tingkat tertinggi. Laki-laki cenderung lebih agresif dalam sifat alamiahnya dan perempuan cenderung lebih emosional. Dalam rumah tangga, terutama di Timur, laki-laki lebih dominan sebagai kepala keluarga sementara perempuan cenderung bertahan sebagai pasangan yang pasif. Tolong dicatat, “pasif” di sini tidak berarti “lemah.” Pasif lebih berarti kualitas positif dari “kelembutan” dan “kehalusan.” Jika seorang pria dan wanita mempertahankan sikap maskulin dan feminin mereka yang alamiah dan mengenali kekuatan mereka masing-masing, maka, sikap tersebut dapat berkontribusi baik terhadap pemahaman bersama yang menyenangkan di antara mereka.

Gandhi berkata:

“Saya percaya tentang pendidikan yang layak bagi wanita. Namun saya juga percaya bahwa wanita tidak akan memberikan kontribusinya kepada dunia dengan cuma meniru atau berlomba dengan pria. Wanita dapat saja berlomba, namun ia tidak akan mencapai puncak tertinggi dari kapasitaspenuhnya kalau hanya dengan meniru pria. Ia mestinya dapat melengkapi pria.”

Dasar dari seluruh komunitas masyarakat adalah hubungan yang rumit antara orangtua dan anak-anaknya. Tugas seorang ibu adalah untuk mencintai, merawat dan melindungi anak-anaknya, bahkan dengan pengorbanan sebesar apapun. Inilah cinta tanpa mementingkan diri sendiri yang diajarkan oleh sang Buddha. Ia dapat dilatih, dirawat dan mulia dan tanpa mementingkan diri sendiri. Umat Buddha diajarkan bahwa orangtua harus merawat anak-anaknya seperti bumi yang merawat semua tanaman dan makhluk hidup di dalamnya.

Orangtua bertanggung jawab atas kesejahteraan dan tumbuh kembang anak-anaknya. Jika sang anak tumbuh menjadi warga masyarakat yang kuat, sehat dan berguna, ini merupakan hasil dari usaha orangtuanya. Jika sang anak tumbuh menjadi penjahat, orangtua harus memikul tanggung jawab itu. Seseorang tidak sepatutnya menyalahkan orang lain atau masyarakat jika anak-anaknya tersesat. Merupakan tugas orangtua untuk menuntun anak-anaknya dalam jalan yang benar.

Seorang anak, dalam usia tumbuh kembangnya yang paling dominan, memerlukan cinta kasih, asuhan dan perhatian yang tepat dari orangtuanya. Tanpa cinta dan bimbingan orangtua, sang anak akan terhalangi dan menemukan bahwa dunia ini merupakan tempat yang seram untuk hidup. Namun demikian, memperlihatkan cinta kasih, asuhan dan perhatian orangtua tidak berarti menuruti seluruh keinginan sang anak, baik beralasan maupun tidak. Terlalu memanjakan akan merusak sang anak. Sang ibu, dalam memberikan cinta dan perhatiannya, juga harus tegas dan keras dalam menangani kemarahan tuntutan sang anak. Menjadi tegas dan keras tidak berarti berlaku kasar terhadap sang anak. Tunjukkan cintamu, namun tertibkan dengan tangan yang disiplin – sang anak akan mengerti.

Sayangnya, di antara para orangtua sekarang, cinta orangtua terus berkurang. Kebutuhan mendesak untuk peningkatan materi, pergerakan kebebasan dan aspirasi kesetaraan telah menyebabkan banyak ibu ikut-ikutan suaminya, menghabiskan waktu kerja mereka di kantor-kantor atau toko-toko, daripada berdiam di rumah merawat anak-anaknya. Sang anak, ditinggal untuk diasuh oleh kerabat atau pelayan, menjadi kacau atas ketiadaan cinta dan perhatian ibu. Sang ibu, merasa bersalah atas kurangnya perhatian darinya, berusaha untuk menenangkan sang anak dengan memberikan segala macam permintaan dari sang anak. Tindakan seperti demikian dapat merusak sang anak. Memberikan sang anak berbagai macam mainan modern seperti mainan tank, senjata mesin, pistol, pedang dan perlengkapan lainnya seperti itu sebagai penenang bukanlah hal yang baik secara psikologis.

Melengkapi sang anak dengan mainan-mainan seperti itu bukanlah pengganti cinta dan kasih sayang ibu. Tanpa kasih sayang dan bimbingan orangtua, tidaklah mengejutkan bila sang anak kemudian tumbuh menjadi tidak baik. Lalu, siapakah yang patut disalahkan jika sang anak tumbuh menjadi tidak patuh? Sang orangtua tentunya! Ibu yang bekerja, terutama setelah hari kerja yang sibuk seharian di kantor lalu diikuti dengan berbagai pekerjaan rumah tangga, sulit menemukan waktu bagi anaknya yang rindu akan kasih dan perhatian sang ibu.

Orangtua yang tidak memiliki waktu bagi anak-anaknya semestinya tidak mengeluh ketika anak-anak ini juga tidak memiliki waktu bagi mereka di saat mereka telah tua nantinya. Orangtua yang menyatakan bahwa mereka telah menghabiskan banyak uang bagi anak-anaknya namun terlalu sibuk semestinya tidak mengeluh ketika anak-anak mereka yang “sibuk” juga akan meninggalkan mereka di sebuah Panti Jompo yang mahal.

Banyak wanita yang bekerja saat ini sehingga keluarganya dapat menikmati keuntungan materi yang berlebih. Mereka harus mempertimbangkan dengan serius nasehat Gandhi bagi para pria agar mencari kebebasan dari keserakahan ketimbang kebebasan dari kebutuhan. Tentu saja, mengingat posisi ekonomi saat ini kita tidak dapat menyangkal bahwa beberapa ibu terpaksa turut bekerja. Dalam kasus seperti demikian, sang ayah dan ibu harus memberikan pengorbanan yang lebih besar atas waktu mereka untuk mengganti waktu yang hilang bagi anak-anaknya saat mereka pergi bekerja. Jika kedua orangtua menghabiskan waktu luang mereka di rumah bersama dengan anak-anak mereka, akan timbul pemahaman yang lebih baik antara orangtua dan anak-anak mereka.

Dalam khotbah-khotbahnya, sang Buddha telah memberikan tugas dan fungsi-fungsi utama tertentu sebagai panduan penting bagi orangtua untuk dilaksanakan. Salah satu dari panduan utama tersebut adalah, melalui ajaran, latihan dan tindakan, mengarahkan sang anak agar jauh dari hal-hal yang tidak baik dan melalui bujukan yang tepat, membimbing anak-anak mereka untuk melakukan segala hal yang baik bagi keluarganya, bagi masyarakatnya dan bagi negaranya. Sehubungan dengan hal ini, orangtua harus melatih perhatian besar dalam menangani anak-anak mereka. Ini bukan apa yang orangtua akui namun lebih menyangkut apa yang benar-benar mereka lakukan, yang diserap oleh sang anak tanpa sadar dan penuh kasih. Hal yang diterima oleh sang anak atas dunia ini dibentuk dengan meniru kebiasaan orangtuanya. Ini berlaku bahwa yang baik berakibat baik dan yang buruk berakibat buruk. Orangtua yang menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak mereka secara halus akan menurunkan karakter mereka kepada anak-anaknya.

Merupakan tugas orangtua untuk memperhatikan kesejahteraan anak-anak mereka. Sesungguhnya orangtua yang bertanggung jawab dan penuh kasih mestinya akan memanggul tanggung jawab tersebut dengan senang hati. Untuk mengarahkan sang anak pada jalan yang benar, pertama orangtua harus memberikan contoh dan menjalankan hidup yang ideal. Hampir mustahil untuk mengharapkan anak yang baik dari orangtua yang tidak baik. Di samping kecenderungan Karma yang diteruskan sang anak dari kelahiran-kelahiran sebelumnya, mereka tanpa kecuali juga menerima keburukan dan kebaikan dari orangtua. Orangtua yang bertanggung jawab harus mengambil setiap tindakan pencegahan agar tidak menurunkan kecenderungan buruk terhadap anak-anak mereka.

Berdasarkan Sigalovada Sutta, terdapat lima tugas yang mesti dijalankan oleh orangtua:

  • Tugas pertama adalah untuk melarang sang anak melakukan perbuatan buruk

    • Rumah adalah sekolah pertama, dan orangtua adalah guru-guru pertama. Anak-anak biasanya menerima pelajaran dasar mengenai baik dan buruk dari orangtua mereka. Orangtua yang ceroboh secara langsung maupun tidak langsung menanamkan pengetahuan dasar dalam berbohong, menipu, tidak jujur, menghujat, membalas dendam, tidak tahu malu dan tidak takut akan perbuatan jahat dan perbuatan tidak bermoral lainnya kepada anak-anak mereka selama masa kanak-kanaknya.
    • Orangtua mesti menunjukkan tingkah laku yang patut dicontoh dan tidak menurunkan perbuatan buruk seperti di atas ke dalam pola pikiran anak-anak mereka.
  • Tugas kedua adalah untuk mengajak mereka melakukan perbuatan baik

    • Orangtua adalah guru di rumah; guru adalah orangtua di sekolah. Baik orangtua maupun guru bertanggung jawab atas masa depan sang anak kelak, yang akan menjadi sebagaimana mereka diajarkan. Mereka, dan mereka akan jadi, apa yang diajarkan orang dewasa. Mereka duduk di atas pangkuan orang dewasa selama masa emas mereka. Mereka menerima apa yang diberikan orang dewasa.
    • Mereka mengikuti jejak orang dewasa. Mereka dipengaruhi oleh pemikiran, ucapan dan perbuatan orang dewasa. Oleh karenanya merupakan tugas orangtua untuk menciptakan kondisi yang paling sesuai baik di rumah maupun di sekolah.
    • Kesederhanaan, kepatuhan, kerja sama, kesatuan, keberanian, pengorbanan diri, kejujuran, terus terang, pelayanan, percaya diri, kebaikan, hemat, kepuasan, sikap baik, semangat religius dan nilai-nilai kebajikan lainnya harus ditanamkan dalam pikiran remaja mereka tahap demi tahap. Bibit yang seperti demikian ditanam akan tumbuh menjadi pohon buah yang ranum.
  • Tugas ketiga adalah untuk memberikan sang anak pendidikan yang baik

    • Pendidikan yang baik adalah warisan terbaik yang dapat orangtua wariskan kepada anak-anaknya. Tidak ada harta yang lebih berharga lainnya. Inilah berkah terbaik yang dapat orangtua anugerahkan kepada anak-anaknya.
    • Pendidikan harus ditanamkan kepada mereka, lebih dini lebih baik, dalam kondisi yang religius. Hal ini akan memberikan pengaruh jangka panjang dalam hidup mereka.
  • Tugas keempat adalah untuk melihat mereka menikah dengan pasangan yang tepat

    • Pernikahan merupakan upacara yang sakral yang berpengaruh seumur hidup; penyatuan ini mestinya jangan menjadi suatu hal yang mudah bubar. Karenanya, pernikahan harus dilihat dari berbagai sudut pandang dan dalam seluruh aspeknya terhadap kepuasan semua pihak sebelum pernikahan dilangsungkan.
    • Menurut budaya Buddhis, tugas mendahului hak. Biarlah kedua pihak tidak mengalah, namun gunakan kebijaksanaan mereka dan capailah keputusan yang terbaik. Jika tidak, akan timbul saling mengutuk dan penolakan-penolakan lainnya. Dan lebih sering lagi hal ini juga diturunkan kepada anak-anak mereka.
  • Tugas terakhir adalah untuk mewariskan pada anak-anak mereka, pada saat yang tepat, warisan mereka

    • Orangtua tidak hanya mencintai dan merawat anak-anak mereka selama anak-anaknya masih berada dalam pengawasan mereka, namun mereka juga membuat persiapan bagi kenyamanan dan kebahagiaan masa depan anak-anaknya. Mereka menabung harta dengan susah payah dan dengan sukarela mewariskannya kepada anak-anak mereka.

Ajaran Buddha merupakan ajaran cinta kasih, dan orangtua tidak boleh lupa untuk memperlihatkan kepada anak-anaknya seperti demikian. Sang Buddha mengajarkan Dhamma atas dasar cinta kasih pada dunia. Orangtua harus melaksanakan “Empat Kediaman Luhur Pikiran” yang diajarkan oleh sang Buddha dalam membesarkan anak-anak mereka. Keempat Kediaman tersebut adalah:

Metta – cinta kasih atau kehendak baik

Karuna – kasih sayang

Mudita – kesenangan simpati

Upekkha – keseimbangan atau “pikiran yang tenang”

Keempat Kediaman Luhur ini, jika dilatih dengan baik akan membantu orangtua tetap tenang dalam menghadapi masa-masa sulit saat membesarkan anak.

Inilah cara yang benar atau ideal dalam bertingkah laku terhadap makhluk hidup. Keempat sikap pikiran ini memberikan kerangka pikiran bagi segala situasi yang muncul dari hubungan sosial. Mereka merupakan pemecah kebekuan yang baik bagi ketegangan, pencipta kedamaian yang baik dalam konflik sosial, obat yang baik bagi luka yang diderita dalam usaha bertahan hidup; penyeimbang bagi jurang sosial, pembangun komunitas yang harmonis, alarm bagi kebajikan yang telah lama tertidur, penghidup kebahagiaan dan harapan yang telah lama dibuang, penyokong bagi persaudaraan manusia melawan dorongan egoisme.

Mungkin tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh pasangan suami istri adalah cara membesarkan anak yang baik. Ini merupakan aspek lain yang membedakan kita dari binatang. Saat seekor binatang merawat anaknya dengan pengorbanan yang besar, orangtua manusia memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yakni membentuk watak anaknya. Sang Buddha telah berkata bahwa tantangan terbesar manusia adalah untuk mengendalikan pikirannya. Bahkan sejak seorang anak dilahirkan, dari balita menuju remaja hingga dewasa, orangtua bertanggung jawab penuh dalam perkembangan pikiran sang anak. Baik seorang pribadi manusia menjadi seorang warga masyarakat yang baik atau tidak sepenuhnya tergantung pada tingkatan yang mana pikirannya telah berkembang. Dalam ajaran Buddha, orangtua yang baik dapat melatih empat kebajikan luhur untuk menopangnya dan untuk menyelesaikan frustasi yang besar yang sangat berkaitan dengan hubungan orangtua.

Ketika seorang anak masih balita, tidak dapat menjelaskan keinginannya, cukup sering ia ekspresikan dengan marah dan menangis. Orangtua yang melaksanakan kebajikan pertama yakni cinta kasih dapat mempertahankan ketenangan dalam dirinya untuk terus mencintai anak-anaknya di saat-saat yang paling sulit. Seorang anak yang menerima pengaruh cinta kasih ini akan dengan sendirinya belajar untuk memancarkannya pada orang lain secara spontan.

Saat anak beranjak remaja, orangtua harus melatih Karuna atau kasih sayang terhadapnya. Masa remaja merupakan masa yang sangat sulit bagi anak-anak. Mereka mulai beranjak dewasa dan karenanya cenderung memberontak, dengan sejumlah besar kemarahan dan frustasi diarahkan pada orangtua mereka. Dengan memberikan kasih sayang, orangtua akan mengerti bahwa pemberontakan ini merupakan bagian alami dalam masa pertumbuhan anak dan bahwa sang anak tidak bermaksud untuk benar-benar melukai orangtuanya. Seorang anak yang telah menerima cinta kasih dan kasih sayang akan dengan sendirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak mengarahkan kebencian dalam dirinya sendiri, sang anak hanya akan memancarkan cinta kasih dan kasih sayang kepada orang lain.

Sesaat sebelum beranjak dewasa, seorang anak mungkin akan mendapatkan beberapa keberhasilan dalam ujian dan kegiatan-kegiatan lainnya di luar rumah. Inilah saatnya bagi orangtua untuk melatih kebahagiaan simpatik. Terlalu banyak orangtua dalam masyarakat modern yang menggunakan anak-anaknya untuk bersaing dengan kerabat-kerabatnya. Mereka menginginkan anaknya melakukan yang terbaik atas dasar ego; semuanya ini karena mereka ingin orang lain berpikiran yang baik tentang mereka. Dengan melatih kebahagiaan simpatik, orangtua akan turut gembira dalam keberhasilan dan kebahagiaan anak-anaknya tanpa maksud tersembunyi.

Mereka bahagia hanya karena anak-anaknya bahagia! Seorang anak yang telah diberikan pengaruh kebahagiaan simpatik ini akan dengan sendirinya menjadi seorang pribadi yang tidak iri dengan orang lain dan tidak terlalu bersaing dengan berlebihan. Pribadi seperti demikian tidak akan memiliki ruangan dalam hatinya untuk egoisme, keserakahan maupun kebencian.

Salah satu hal yang paling menyedihkan dalam masyarakat modern adalah kurangnya cinta kasih orangtua yang diderita oleh anak-anak di negara-negara maju. Ketika sepasang kekasih menikah, mereka biasanya berencana untuk memiliki sejumlah anak. Dan ketika sang anak lahir, orangtua secara moral wajib untuk merawatnya dengan segenap kemampuan mereka. Orangtua bertanggung jawab tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan materi sang anak saja; namun aspek spiritual dan psikologis juga sangatlah penting.

Pemenuhan kenyamanan materi merupakan hal kedua terpenting jika dibandingkan dengan pemenuhan cinta kasih dan perhatian orangtua. Kita mengenal banyak orangtua dari keluarga yang kurang mampu yang telah membesarkan anak-anak mereka dengan baik dan penuh cinta kasih. Sebaliknya, banyak keluarga kaya raya yang telah memenuhi segala kenyamanan materi bagi anak-anaknya namun telah melupakan cinta kasih orangtua pada anak-anaknya. Anak-anak seperti demikian hanya akan tumbuh tanpa disertai perkembangan psikologis dan moral yang memadai.

Seorang ibu harus mempertimbangkan masak-masak apakah ia akan tetap berkarir sebagai ibu pekerja atau menjadi seorang ibu rumah tangga yang memberikan segala kasih sayang dan perhatian demi tumbuh kembang anaknya. (Anehnya, beberapa ibu modern juga dilatih untuk memegang senjata dan senjata mematikan lainnya saat mereka harus mengemong anak-anaknya dan melatih mereka untuk menjadi masyarakat yang baik dan taat pada hukum.)

Tren dan sikap modern dari ibu-ibu pekerja terhadap anak-anak mereka juga cenderung mengikis sikap-sikap saleh yang diharapkan dapat ditunjukkan oleh anak-anak kepada orangtua mereka. Penggantian pemberian ASI (air susu ibu) dengan botol susu juga dapat menjadi faktor lain yang telah berpengaruh dalam pengikisan kasih sayang antara ibu dan anak. Ketika seorang ibu menyusui anaknya dan menggendong anak-anaknya dalam pangkuannya, kasih sayang antara ibu dan anak akan lebih besar dan pengaruh yang dimiliki sang ibu demi tumbuh kembang anaknya, akan lebih nyata. Dalam lingkungan seperti itu, sikap saleh anak, keutuhan keluarga dan kepatuhan anak akan terus terpupuk. Cara tradisional ini adalah demi kebaikan dan kesejahteraan sang anak. Semuanya kembali pada sang orangtua, terutama sang ibu, untuk melakukannya. Sang ibu bertanggung jawab dalam tumbuh kembang anaknya apakah menjadi baik atau sebaliknya. Ibu dapat mengurangi kenakalan remaja!

Banyak orangtua yang berusaha tetap mengawasi anak-anak mereka yang telah menikah. Mereka tidak memberikan kebebasan terhadap anak-anaknya dan cenderung untuk ikut campur dalam kehidupan pasangan suami istri muda. Ketika orangtua berusaha untuk mengendalikan anak mereka yang telah menikah dan menginginkan anak mereka untuk mengikuti jalan kehidupan mereka dengan sama persis, hal ini akan menimbulkan banyak kesalahpahaman antara dua generasi dan demikian pula ketidaknyamanan antara kedua pasangan. Orangtua mungkin melakukannya dalam niat yang baik berdasarkan pada cinta dan kemelekatan mereka dengan anak-anaknya, namun dengan melakukan hal seperti itu, mereka mengundang lebih banyak masalah ke dalam diri mereka dan anak-anaknya.

Orangtua harus mengizinkan anak-anak mereka untuk memikul tanggung jawab atas kehidupan dan keluarga mereka sendiri. Sebagai contoh: jika beberapa benih ditanam di bawah sebuah pohon, tanaman dapat tumbuh setelah beberapa saat. Namun jika Anda ingin agar tanaman-tanaman itu tumbuh dengan subur dan independen, Anda harus menanam benihnya di lapangan terbuka agar dapat tumbuh terpisah, sehingga mereka tidak terhalangi oleh bayangan sang pohon induk. Orangtua semestinya tidak mengabaikan kebijakan kuno yang didasarkan pada nasehat yang diberikan oleh guru-guru spiritual, orang-orang bijak dan para tetua yang telah mengembangkan pengetahuan dunia melalui kehidupan mereka sendiri.

Perceraian merupakan isu kontroversial di antara para pengikut berbagai ajaran agama yang berbeda. Beberapa orang percaya bahwa pernikahan telah diatur dalam surga, sehingga tidaklah benar untuk mengakui suatu perceraian. Namun, jika seorang suami dan istri benar-benar tidak dapat hidup bersama, daripada menjalani hidup yang menyedihkan dan menutupi lebih banyak kecemburuan, kemarahan dan kebencian, mereka semestinya memiliki kebebasan untuk berpisah dan hidup dengan damai.

Bagaimanapun juga, perpisahan sepasang suami istri harus dilakukan dalam kondisi saling memahami dengan mengambil solusi-solusi yang rasional dan tidak dengan menciptakan lebih banyak kebencian. Jika sepasang suami istri memiliki anak, mereka harus berusaha untuk membuat perceraian tidak menyebabkan trauma mendalam bagi sang anak dan membantu mereka untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru. Dan sangatlah penting untuk memastikan bahwa masa depan dan kesejahteraan anak-anak mereka akan dipenuhi. Bukanlah sikap manusiawi jika sepasang suami istri meninggalkan anak-anak mereka dan membiarkan mereka menjalani kehidupan yang menyedihkan.

Dalam agama Buddha, tidak ada hukum yang menyatakan bahwa seorang suami dan istri tidak boleh berpisah jika mereka tidak dapat hidup bersama dengan harmonis. Tetapi, jika orang-orang mengikuti nasehat yang diberikan sang Buddha untuk memenuhi tugas mereka satu sama lainnya, maka, kejadian yang tidak diinginkan seperti perceraian atau perpisahan tidak akan pernah terjadi.

Di masa lalu, di mana nilai-nilai religius sangat dihormati, terdapat usaha yang lebih besar dari sepasang suami istri – di Timur sebagaimana pula di Barat – untuk mencapai suatu pemahaman bersama untuk menciptakan hubungan bahagia berdasarkan pada rasa saling menghormati, cinta, dan penghargaan satu sama lainnya. Para pasangan suami istri mengembangkan dan menjadikan pernikahan mereka sebagai hal yang istimewa yang mereka hargai dalam hati mereka. Kasus-kasus perceraian sangatlah jarang dijumpai, dan dianggap memalukan karena hal itu menunjukkan keegoisan salah satu pihak atau yang lainnya.

Merupakan kenyataan bahwa hingga saat ini kasus-kasus perceraian masih jarang dijumpai di dalam negara-negara Buddhis. Hal ini terutama dikarenakan para pasangan suami istri mempertimbangkan tugas dan kewajibannya satu sama lainnya, dan juga pada dasarnya perceraian tidak diterima oleh komunitas masyarakat secara keseluruhan. Dalam banyak kasus, ketika pasangan suami istri dalam permasalahan, para tetua masyarakat biasanya berkumpul dan memainkan peranan penting dalam penyelesaian masalah tersebut.

Sayangnya, dalam masyarakat modern saat ini, perceraian telah menjadi hal yang lazim. Di beberapa negara hal ini bahkan menjadi suatu tren kebiasaan. Daripada melihat perceraian sebagai suatu hal yang memalukan atau suatu kegagalan dalam menjalani hidup mereka, beberapa pasangan muda kelihatannya bangga akan perceraian itu. Penyebab utama kegagalan pernikahan dalam masyarakat modern adalah penyalahgunaan dan terlalu banyak kebebasan serta sikap individualisme pasangan masing-masing. Harus ada batasan dalam kehidupan pribadi mereka, atau baik sang suami maupun sang istri akan tersasar dengan mudah.

Atas pertanyaan apakah seorang umat Buddha dapat memiliki lebih dari satu istri, jawaban yang langsung tidak terdapat dalam ajaran Buddha, karena seperti yang disebutkan sebelumnya, sang Buddha tidak menetapkan hukum religius apapun berkaitan dengan kehidupan rumah tangga walaupun beliau telah memberikan nasehat berharga tentang bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga yang terpuji.

Tradisi, budaya dan cara pandang kehidupan yang diakui oleh sebagian besar masyarakat dalam suatu negara juga harus diperhatikan ketika kita melaksanakan suatu hal yang berkaitan dengan kehidupan kita. Beberapa ajaran agama menyatakan bahwa seorang pria hanya dapat memiliki seorang istri sedangkan yang lain menyatakan bahwa seorang pria dapat memiliki lebih dari satu istri.

Walaupun sang Buddha tidak menyebutkan apapun berkaitan dengan jumlah istri yang dapat dimiliki oleh seorang pria, beliau secara jelas menyatakan dalam ajaran-ajarannya bahwa saat seorang pria yang telah menikah pergi ke wanita lainnya yang tidak berada dalam ikatan pernikahan, hal tersebut dapat menjadi sebab bagi keruntuhannya sendiri dan ia akan menghadapi berbagai permasalahan dan rintangan lainnya.

Ajaran sang Buddha hanyalah untuk menjelaskan suatu kondisi dan akibat-akibatnya. Orang-orang dapat berpikir sendiri mana yang baik dan mana yang buruk. Sang Buddha tidak menetapkan aturan-aturan tentang jumlah istri yang sepatutnya dimiliki atau tidak dimiliki oleh seorang pria di mana orang terpaksa untuk mengikutinya. Bagaimanapun juga, jika hukum dalam suatu negara menetapkan bahwa pernikahan haruslah monogami, maka hukum tersebut mesti dipatuhi, karena sang Buddha telah menjelaskan bagi pengikut ajarannya untuk menghormati hukum dalam suatu negara, jika hukum tersebut bermanfaat bagi semua orang.

Beberapa ajaran agama tidaklah mendukung program keluarga berencana. Mereka berkata bahwa hal tersebut bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ajaran Buddha tidak mencampuri pilihan pribadi ini. Manusia memiliki kebebasan untuk mengikuti metode apapun untuk mencegah pembuahan. Menurut ajaran Buddha, kondisi fisik dan mental tertentu haruslah ada agar pembuahan terjadi. Saat salah satu di antara kondisi ini tidak terpenuhi (seperti saat program keluarga berencana dilaksanakan), tidak ada pembuahan yang terjadi, oleh karenanya suatu bentuk kehidupan tidak menjadi makhluk hidup. Namun setelah pembuahan, aborsi TIDAK diterima dalam ajaran Buddha karena hal ini berarti mengambil suatu bentuk kehidupan yang telah ada dalam bentuk fetus.

Beberapa orang sangat tertarik dengan sikap religius atau moral suatu ajaran berkaitan dengan bayi tabung. Jika seorang wanita tidak mampu untuk mengandung dengan cara yang normal, dan jika ia sangat ingin memiliki seorang bayi dengan menggunakan metode kesehatan modern, tidak ada bagian dalam ajaran Buddha yang menyatakan bahwa hal tersebut tidak bermoral atau tidak religius. Agama harus memberikan penghargaan terhadap tingkat inteligensi manusia dan untuk menerima penemuan-penemuan medis baru jika penemuan tersebut tidak berbahaya dan bermanfaat bagi umat manusia. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, selama kondisinya benar, pembuahan dapat dibenarkan untuk terjadi, baik secara alami maupun buatan.

Seks sebelum menikah merupakan suatu permasalahan yang banyak diperbincangkan dalam masyarakat modern. Banyak pemuda pemudi yang ingin mengetahui pendapat mengenai persoalan yang sensitif ini. Beberapa orang beragama mengatakan bahwa hal tersebut dapat dianggap sebagai perzinahan, sementara yang lain berkata hal tersebut tidak bermoral dan tidak dapat dibenarkan.

Di masa lalu, pemuda dan pemudi tidak diizinkan oleh orangtuanya masing-masing untuk berkeliaran dengan bebas hingga mereka menikah. Pernikahan mereka juga direncanakan dan diatur oleh sang orangtua. Tentu saja, hal ini menyebabkan ketidakbahagiaan dalam beberapa kasus di mana orangtua memilih pasangan untuk anaknya hanya berdasarkan uang, status sosial, kewajiban keluarga dan hal yang berkaitan lainnya. Namun umumnya, sebagian besar orangtua berusaha sangat keras untuk memilih pasangan yang sesuai bagi anak-anaknya.

Saat ini, pemuda pemudi memiliki kebebasan untuk pergi dan mencari pasangan mereka sendiri. Mereka memiliki banyak kebebasan dan kemandirian dalam hidup mereka. Hal ini bukanlah hal yang buruk, namun hanya saja beberapa di antara mereka terlalu muda dan belum dewasa untuk melihat perbedaan antara ketertarikan seksual dan kecocokan yang sebenarnya. Itulah mengapa permasalahan seks sebelum menikah timbul.

Terlalu banyak kelalaian dalam permasalahan yang berkaitan dengan seks juga menimbulkan berbagai permasalahan sosial dalam masyarakat modern. Bagian yang menyedihkannya adalah beberapa bagian masyarakat tidak memperlihatkan sikap toleransi terhadap seorang ibu yang tidak menikah, anak haram dan orang yang bercerai sementara mereka cukup toleran terhadap seks bebas. Sebagai akibatnya, para orang muda dihukum oleh masyarakat yang sama yang mendukung percampuran seks bebas. Mereka menjadi orang buangan dan menanggung rasa malu dan penghinaan yang besar. Banyak gadis muda yang telah menjadi korban atas kebebasan mereka sendiri dan telah menghancurkan masa depan mereka dengan melanggar tradisi kuno yang dijunjung tinggi baik di Timur maupun di Barat.

Seks sebelum menikah merupakan perkembangan modern yang telah muncul sebagai akibat dari kebebasan sosial yang berlebihan di antara pemuda pemudi dewasa ini. Meskipun ajaran Buddha tidak memegang pandangan yang kuat tentang menerima atau menolak tindakan tersebut, diajarkan bahwa seluruh umat Buddha, terutama bagi mereka yang berlainan jenis kelamin yang jatuh cinta dan bermaksud untuk menikah, mestilah mengikuti konsep tradisional kuno bahwa mereka harus mempertahankan kesucian hingga tanggal pernikahan. Pikiran manusia tidaklah stabil dan terus berubah, sebagai akibatnya tindakan tercela atau tidak bijaksana apapun dapat menyebabkan penderitaan yang tidak sepatutnya bagi salah satu pihak jika pernikahan resmi tidak berlangsung sebagaimana yang diharapkan. Harus diingat bahwa bentuk kegemaran seksual apapun sebelum upacara pernikahan yang benar dilangsungkan bakal dicela oleh para tetua yang merupakan pelindung bagi para pemuda pemudi.

Umat awam diarahkan dalam ajaran Buddha untuk menghindari tindakan asusila. Hal itu berarti, jika seseorang ingin mengalami seks, ia harus melakukannya tanpa menimbulkan kekerasan apapun atau dengan menggunakan paksaan, ancaman atau menimbulkan ketakutan apapun. Kehidupan seks yang pantas yang menghargai pasangan yang lainnya tidaklah bertentangan dengan ajaran ini; ajaran Buddha menerima kenyataan bahwa seks merupakan suatu kebutuhan wajar bagi mereka yang belum siap meninggalkan kehidupan duniawi. Menurut ajaran Buddha, mereka yang terlibat dalam seks dengan seseorang yang telah menikah, yang telah bertunangan dengan orang lain, dan juga dengan mereka yang masih berada di bawah lindungan orangtua atau wali mereka dikatakan bersalah atas tindakan asusila, karena di situ terjadi perpecahan dalam norma sosial, di mana pihak ketiga mengalami penderitaan sebagai akibat dari keegoisan dari salah satu atau pasangan lainnya.

Sang Buddha juga menjelaskan akibat-akibat yang akan dihadapi oleh seorang pria dewasa jika ia menikah tanpa mempertimbangkan kesesuaian umur dengan pasangannya. Menurut sang Buddha, tindakan seksual yang tidak bertanggung jawab dapat menjadi penyebab berbagai keruntuhan seseorang dalam banyak segi kehidupan. Semua negara di dunia telah dengan jelas menetapkan hukum berkaitan dengan penyalahgunaan seksual. Kembali di sini, ajaran Buddha mendukung bahwa seseorang harus menghormati dan mematuhi hukum dalam suatu negara jika hukum tersebut ditetapkan demi kebaikan umum.

Tulisan berikut diambil dari sebuah buku karya seorang penulis ternama Jepang, Dr. Nikkyo Niwano. Dalam bukunya The Richer Life, Dr. Niwano menuliskan hal yang berkaitan dengan cinta dan pernikahan, baik dari sudut pandang Timur maupun Barat.

“Di negara-negara Barat, pernikahan atas dasar cinta romantis kerap kali dianggap sebagai hal yang alami dan terkadang sesuatu yang ideal. Di Asia, pada tahun-tahun belakangan ini, jumlah pasangan muda yang mengabaikan pernikahan tradisional yang telah direncanakan dan memilih pasangan atas dasar romantisme telah berkembang pesat. Namun dalam beberapa kasus, pernikahan romantis mengarah pada perpisahan dan ketidakbahagiaan dalam waktu yang singkat, sementara pernikahan yang telah direncanakan kerap kali menghasilkan pasangan yang hidup dan tinggal bersama dalam kepuasan dan kebahagiaan.

Di samping pesona emosionalnya, semua pernikahan romantis bukan berarti bisa disebut sebagai tidak berhasil. Cinta romantis adalah seperti api besar dari sebuah kebakaran hutan yang menjalar dan membakar segalanya, namun hanya dapat bertahan dalam jangka waktu sebentar. Cinta yang matang antara seorang pria dan istrinya membakar dengan lembut dan perlahan seperti api yang hangat dari batubara. Tentu saja, cinta yang berkobar-kobar dapat – dan idealnya – menjadi tenang, menjadi api abadi dari cinta dewasa. Namun terlalu sering kobaran api cinta romantis cepatlah padam, tidak meninggalkan apa-apa kecuali abu, yang merupakan fondasi yang goyah bagi suatu kehidupan rumah tangga agar berhasil!”

“Para pemuda yang jatuh cinta tidak memikirkan apa-apa kecuali emosi mereka. Mereka menyorot diri mereka hanya pada sebatas perasaan sesaat. Semua yang mereka pikir dan lakukan adalah sebatas romantis, tidak menimbang mengenai hubungan nyata yang harus benar-benar mereka jalani setelah menikah. Jika seseorang cukup beruntung untuk mendapatkan pasangan yang sesuai, yang memiliki pendapat dan pandangan yang sama mengenai kehidupan, yang dapat saling berbagi, yang dapat saling menikmati hubungan keluarga yang harmonis di kedua belah pihak dan yang secara finansial aman bahkan setelah hasrat yang pertama telah memudar, mereka tetap akan memiliki dasar bagi kehidupan bersama yang baik. Jika mereka kurang beruntung, mereka dapat menghadapi kegagalan pernikahan.”

“Ketika masa kencan, citra emosi, dansa, dan pesta telah berlalu, pasangan muda yang baru menikah akan hidup bersama, berbagi makanan, dan saling membuka satu sama lainnya tentang kekurangan serta kelebihan masing-masing. Mereka harus menghabiskan lebih dari setengah kehidupan mereka bersama setiap harinya; jenis kehidupan ini menciptakan tuntutan yang jelas berbeda dari ketika masa kencan dan cinta pertama.

“Hubungan keluarga menjadi sangat penting dalam kehidupan berumah tangga. Merupakan hal yang penting untuk memikirkan tentang kepribadian dari sang ibu dan ayah dari pasangan yang akan kita nikahi. Para pemuda pemudi terkadang berpikir bahwa kekuatan cinta mereka akan memungkinkan mereka untuk tinggal harmonis bersama dengan mertua yang paling cerewet dan menyusahkan sekalipun; namun hal tersebut tidak selalu benar. Singkatnya, romantisme merupakan permasalahan batasan waktu dan tidak dapat berakar pada kenyataannya dan harus diatur untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja dan lingkungan guna mengikat pasangan tersebut bersama dalam kesetiaan sepanjang hayat. Kedua jenis cinta tersebut adalah berbeda. Kalau kita keliru mencampuradukkan satu dengan yang lain mengundang permasalahan yang gawat.”

“Memberikan pemikiran yang serius, tenang dan realistik bagi pasangan yang akan melangsungkan pernikahan, mengurangi kemungkinan gagal. Untuk mencegah romantisme memudar setelah pernikahan, pemahaman bersama di antara kedua pasangan sangat dibutuhkan. Namun persentase pernikahan yang berhasil di antara pasangan muda yang setuju memilih pasangannya sesuai dengan pendapat orangtua mereka adalah lebih tinggi. Untuk hidup dengan damai, sangatlah penting untuk menyadari perbedaan antara cinta romantis dan cinta dalam pernikahan.”

Hidup selibat adalah melepaskan diri dari kenikmatan aktifitas seksual. Beberapa kritikus ajaran Buddha mengatakan bahwa ajaran sang Buddha menentang hukum alam dan mereka menyatakan bahwa kehidupan seks merupakan hal alamiah dan karenanya diperlukan.

Ajaran Buddha tidak menentang seks, seks merupakan kenikmatan seksual yang alamiah dan sangat berpengaruh dalam kehidupan duniawi. Seseorang dapat bertanya, jika demikian mengapa sang Buddha menetapkan hidup selibat sebagai satu prinsip etika? Apakah hal tersebut adil dan tidak bertentangan dengan hukum alam? Sesungguhnya, praktek hidup selibat demi perkembangan spiritual bukanlah suatu aturan ajaran yang baru di zaman kehidupan sang Buddha. Semua ajaran agama yang ada di India pada masa itu juga telah memperkenalkan praktek ini. Bahkan hingga saat ini, beberapa penganut ajaran lain, seperti Hindu dan Katholik juga melaksanakan praktek ini sebagai suatu sumpah.

Umat Buddha yang telah meninggalkan kehidupan duniawi secara sukarela melaksanakan prinsip etika ini karena mereka menyadari sepenuhnya kewajiban serta rintangan yang menghadang jika seseorang menjalankan kehidupan berumah tangga. Kehidupan rumah tangga dapat mempengaruhi atau membatasi perkembangan spiritual saat kecanduan akan sex dan kemelekatan menguasai pikiran dan godaan mencemari kedamaian dan kemurnian pikiran.

Orang-orang cenderung bertanya, ”Jika sang Buddha tidak menentang kehidupan berumah tangga, mengapa kemudian beliau menganjurkan hidup selibat sebagai salah satu prinsip etika untuk dijalankan dan mengapa beliau menganjurkan orang untuk menghindari seks dan meninggalkan kehidupan duniawi?”

Seseorang harus mengerti bahwa hidup selibat bukanlah suatu kewajiban dalam ajaran Buddha. Tidaklah diwajibkan untuk meninggalkan kehidupan duniawi secara total untuk menjalankan ajaran Buddha. Anda dapat menyesuaikan cara hidup Anda sesuai dengan pemahaman Anda dengan berlatih melaksanakan dasar-dasar dan kualitas ajaran tertentu. Anda dapat mengembangkan prinsip dasar ajaran Anda sesuai dengan kehidupan seorang umat awam. Bagaimanapun juga, saat Anda telah berkembang dan memperoleh kebijaksanaan yang lebih tinggi dan menyadari bahwa cara hidup seorang umat awam tidaklah kondusif bagi pencapaian tertinggi bagi nilai spiritual dan kemurnian pikiran, Anda dapat memilih untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan lebih berkonsentrasi pada perkembangan spiritual.

Sang Buddha menganjurkan hidup selibat karena seks dan pernikahan tidak kondusif bagi kedamaian mutlak dan kemurnian pikiran, dan meninggalkan kehidupan duniawi adalah penting jika seseorang berharap dapat mencapai perkembangan spiritual dan kesempurnaan pada tingkatan yang tertinggi. Namun keinginan untuk hidup selibat ini mestilah datang dengan alami, dan tidak boleh ada paksaan. Hidup selibat harus dijalankan dengan pemahaman sepenuhnya terhadap hakekat khayali dari diri, terhadap hakekat tidak bisa benar-benar memuaskannya dari semua kenikmatan inderawi.

Sang Buddha mengalami kehidupan duniawi sebagai seorang pangeran, seorang suami dan seorang ayah sebelum beliau meninggalkan kehidupan duniawi; dan beliau mengetahui apa yang diperlukan dalam kehidupan berumah tangga. Orang-orang dapat mempertanyakan peninggalan kehidupan duniawi sang Buddha dengan mengatakan bahwa beliau egois dan kejam dan hal tersebut tidaklah adil baginya untuk meninggalkan istri dan anaknya. Pada kenyataannya, sang Buddha tidak meninggalkan keluarganya tanpa rasa tanggung jawab.

Beliau tidak pernah memiliki kesalahpahaman dengan istrinya. Beliau juga memiliki cinta kasih dan kemelekatan terhadap istri dan anaknya sebagaimana yang dimiliki seorang pria normal, bahkan mungkin lebih besar. Perbedaannya adalah bahwa cintanya tidak hanya cinta fisik dan egoistis; beliau memiliki keberanian dan pemahaman untuk menanggalkan cinta emosional dan egois tersebut demi kebaikan. Pengorbanannya sangatlah mulia karena beliau mengesampingkan kebutuhan dan keinginan pribadi beliau demi kebaikan seluruh umat manusia sepanjang masa.

Tujuan utama dari peninggalan kehidupan duniawi beliau tidaklah hanya untuk kebahagiaan, kedamaian atau keselamatan beliau sendiri namun demi seluruh umat manusia. Jika beliau tetap tinggal di dalam istana kerajaan, pelayanannya akan terbatas hanya pada keluarga atau kerajaannya saja. Itulah mengapa beliau memutuskan untuk meninggalkan seluruhnya guna mempertahankan kedamaian dan kemurnian untuk mencapai Penerangan Sempurna dan selanjutnya untuk mencerahkan orang lain yang menderita dalam kebodohan-batin.

Salah satu tugas pertama sang Buddha setelah pencapaian Penerangan Sempurna beliau adalah untuk kembali ke kerajaannya untuk mencerahkan anggota keluarganya. Dan sesungguhnya, saat anaknya yang masih belia, Rahula bertanya kepada sang Buddha mengenai warisannya, sang Buddha mengatakan bahwa Rahula diwariskan kekayaan terbesar, yakni permata Dhamma. Dalam cara ini, sang Buddha melayani keluarganya, dan beliau membuka jalan bagi keselamatan, kedamaian dan kebahagiaan mereka. Oleh karenanya, tidak ada seorangpun yang dapat mengatakan bahwa sang Buddha adalah seorang ayah yang kejam dan egois. Beliau sesungguhnya lebih penuh kasih sayang dan memiliki pengorbanan diri yang besar dibandingkan dengan yang lainnya. Dengan tingkat perkembangan batinnya yang tinggi, sang Buddha mengetahui bahwa pernikahan merupakan masa yang sementara sedangkan pencapaian Penerangan Sempurna akan abadi sepanjang masa dan demi kebaikan seluruh umat manusia.

Fakta penting lainnya adalah bahwa sang Buddha mengetahui bahwa istri dan anaknya tidak akan kelaparan atas ketidak-hadirannya. Semasa kehidupan sang Buddha merupakan hal yang lazim dan terhormat bagi seorang pria muda untuk meninggalkan kehidupan sebagai seorang perumah tangga. Anggota keluarga lainnya akan dengan senang hati menjaga tanggungannya. Saat beliau mencapai Penerangan Sempurna, beliau dapat memberikan mereka sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh ayah yang lain – kebebasan dari budak kemelekatan.

Pernikahan merupakan hubungan kerjasama antara dua individu dan hubungan kerjasama ini tumbuh dan berkembang jika ia mengizinkan individu yang terlibat di dalamnya berkembang. Banyak pernikahan yang gagal karena seorang pasangan berusaha untuk ”menelan” yang lainnya atau saat seorang pasangan menuntut kebebasan seluas-luasnya. Berdasarkan ajaran Buddha, pernikahan berarti saling memahami dan menghormati keyakinan dan privasi masing-masing. Suatu pernikahan yang sukses adalah selalu dua jalan: ”tidak lurus, tidak rata” – jalannya tidaklah mudah namun selalu merupakan jalan bersama.

Orang muda di negara ini dan di tempat-tempat lainnya terkadang berpikir bahwa ”pandangan kuno” tidaklah sesuai dengan masyarakat modern. Mereka harus diingatkan bahwa terdapat beberapa kebenaran abadi yang tidak akan pernah lekang dimakan oleh zaman. Apa yang berlaku di zaman kehidupan sang Buddha masih tetap berlaku hingga saat ini.

Pandangan modern yang kita terima melalui program televisi yang sangat berlebihan tidak mewakili cara hidup kebanyakan orang di Barat dalam berpikir atau bertindak. Terdapat ”mayoritas diam” yang besar dari pasangan yang baik yang sangat religius dan ”konservatif” terhadap pernikahan sebagaimana dengan pasangan di Timur. Mereka tidak bertindak dalam cara sebagaimana media massa menggambarkan mereka. Tidak semua pasangan di Barat berakhir pada perceraian atau aborsi setelah pertengkaran atau perselisihan pertama mereka.

Orang bersusila di seluruh dunia adalah sama; mereka tidak egois dan sangat memperhatikan orang-orang yang mereka cintai. Mereka melakukan pengorbanan yang sangat banyak dan mengembangkan cinta dan pengertian untuk memastikan pernikahan yang bahagia dan stabil. Jadi, jika Anda ingin mengikuti cara Barat meniru ”mayoritas diam”: mereka tidaklah berbeda dengan tetangga baik yang tinggal di sebelah rumah Anda.

Orang muda juga harus mendengarkan para tetua mereka karena pemahaman mereka sendiri terhadap kehidupan berumah tangga belumlah matang. Mereka tidak semestinya mengambil keputusan terburu-buru sehubungan dengan, pernikahan dan perceraian. Mereka harus memiliki banyak kesabaran, toleransi dan pengertian bersama. Jika tidak, kehidupan mereka dapat menjadi sangat kacau dan menyedihkan. Kesabaran, toleransi dan saling pengertian merupakan hal yang penting untuk dipahami dan dijalankan oleh semua orang dalam pernikahan.

Suatu perasaan aman dan kenyamanan muncul dari pemahaman bersama yang merupakan KUNCI dari sebuah KEHIDUPAN RUMAH TANGGA BAHAGIA.

Dalam kisah Jataka – Sonadanda, sang Bodhisatia menyanyikan kebajikan seorang ibu dalam syair berikut ini:

Baik, penuh kasih sayang, tempat perlindungan kita adalah ia yang telah menyusui kita. Seorang ibu adalah jalan menuju surga, dan Anda adalah yang paling dicintainya. Beliau merawat dan membesarkan kita dengan penuh perhatian; berharap memperoleh berkah baik adalah ia, Seorang ibu adalah jalan menuju surga, dan Anda adalah yang paling dicintainya. Berdoa mengharapkan seorang anak beliau berlutut di setiap tempat suci sebelumnya. Musim yang berubah diamati dan dipelajari dengan ilmu perbintangan yang akurat. Selama masa kehamilan beliau merasakan bahwa kasih sayangnya bertambah besar, Dan segera bayi yang belum sadar menjadi sahabat tercinta yang diketahuinya. Hartanya selama setahun atau kurang yang dijaganya dengan perhatian penuh, Kemudian melahirkan bayinya dan semenjak saat itu nama sebagai seorang ibu akan dipikulnya. Dengan ASI dan lagu pengantar tidur beliau menenangkan anaknya yang resah, Memeluk anaknya dalam lengannya yang hangat dan nyaman penderitaan beliau akan dimulai. Mengawasi anaknya, yang tidak berdaya, agar terhindar dari angin ataupun suara ribut, Perawat sang anak beliau dikatakan, untuk mendidik anaknya. Apa yang menggerakkan sang ayah dan ibu yang telah beliau katakan padanya ”Mungkin,” Beliau berpikir, ”Suatu hari, anakku tercinta, semuanya dapat pergi kepada Anda.” ”Lakukan ini atau itu, anakku tersayang,” sang ibu yang khawatir berseru, Dan saat sang anak telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa, beliau masih mengeluh dan meratap, Sang anak pergi dengan nekad untuk melihat istri tetangga di malam hari, Beliau mengomel dan marah, ”Mengapa sang anak tidak pulang ketika hari masih terang?” Jika seseorang yang dibesarkan dengan kecemasan berlebihan ibunya telah lalai, Bermain dengan kesalahannya, petaka apa, saya berdoa, yang dapat diharapkannya? Mereka yang terlalu mencintai harta, dikatakan, harta mereka akan segera lenyap Seseorang yang mengabaikan ibunya akan segera menyesali dengan harga yang dibayarnya. Mereka yang terlalu mencintai harta, dikatakan, harta mereka akan segera lenyap. Seseorang yang mengabaikan ayahnya akan segera menyesali dengan harga yang dibayarnya. Pemberian hadiah, ucapan penuh cinta kasih, jasa baik lainnya bersama dengan harapan Dalam pikiran tak berbeda yang tenang ditunjukkan dalam waktu dan tempat – Nilai-nilai kebajikan ini terhadap dunia seperti as pada roda kereta tempur. Kekurangan ini, tetap nama seorang ibu terhadap sang anak akan melekat. Sang ibu sebagaimana pula sang ayah harus diperlakukan dengan penuh rasa hormat, Para bijaksana memuji mereka yang memiliki nilai-nilai kebajikan ini. Karenanya orangtua sepantasnya memperoleh semua pujaan, memiliki tempat tertinggi sendiri, Oleh para bijaksana kuno Brahma dikatakan. Begitu besar kemasyuran mereka. Orangtua yang baik sepantasnya memperoleh seluruh penghormatan yang baik dari anaknya, Ia yang bijaksana akan menghormati mereka dengan melayani mereka dengan baik dan benar. Ia harus menyediakan makanan dan minuman bagi mereka, kebutuhan tempat tidur dan pakaian, Harus memandikan dan meminyaki mereka dengan minyak dan begitu pula dengan mencuci kaki mereka. Pelayanan-pelayanan anak seperti demikian dipuji oleh para bijaksana Di dunia ini, dan di surga setelah meninggal dunia kebahagiaannya melimpah.

-Terjemahan Jataka Vol. V halaman 173, 174

Elemen terpenting dalam pembaharuan Buddhis selalu merupakan kode etik sosial dan moralitasnya. Kode etik moralitas tersebut sendiri merupakan salah satu di antara yang terbaik yang pernah diketahui dalam sejarah dunia. Pada titik ini semua penghargaan dari pihak yang bertentangan atau yang sama setuju; para filsuf yang ada, pembabar ajaran agama, ahli metafisika, para pengkritik yang ada, namun di mana dapat kita temukan inkarnasi cinta seperti demikian, cinta yang tidak mengetahui perbedaan kasta dan kepercayaan atau warna kulit, sebuah cinta yang melimpah bahkan hingga batas kemanusiaan, yang merangkul seluruh makhluk dunia dalam pelukannya, sebuah cinta yang diwujudkan dalam ajaran universal ”Maitri” dan ”Ahimsa.”

-Prof. Max Muller, seorang sarjana Buddhis Jerman

Moralitas Buddhis didasarkan pada kebebasan, yakni, pada perkembangan individu. Oleh karenanya hal tersebut relatif. Sesungguhnya tidak ada dasar-dasar etik apapun jika ada tekanan atau tujuan yang diberikan orang lain di luar diri kita sendiri.

-Anagarika B. Govinda, seorang sarjana Buddhis Jerman

Dalam ajaran Buddha tidak ada moralitas yang tulen tanpa pengetahuan, dan tidak ada pengetahuan yang tulen tanpa moralitas; keduanya menyatu bagaikan panas dan cahaya dalam api. Apa yang merupakan ”Bodhi” tidak hanya merupakan inteligensi, pencerahan, namun rasa kemanusiaan. Pemahaman terhadap moralitas sepenuhnya merupakan intisari dari ”Bodhi.”

-Bhikkhu Dhammapala, seorang sarjana Buddhis Belanda