Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammā Sambuddhassa

Waktu telah berlangsung lebih dari 2500 tahun lamanya sejak Buddha berada di dunia. Kita beruntung bahwa ajaran Beliau1 masih ada untuk membimbing kita. Hanya ada satu ajaran Buddha dan itu dapat ditemui dalam Sutta-Vinaya kumpulan tertua.2 Di AN 4.180,3 Buddha mengajari wewenang besar. Beliau memberi nasehat bahwa ajaran-ajaran yang sesuai dengan Sutta-Vinaya kumpulan tertua dapat diterima sebagai ajaran dari Buddha; bila tidak, mereka seharusnya ditolak. Merupakan suatu kewajiban dari setiap praktisi Buddhis yang baik untuk mempraktekkan ajaran-ajaran kumpulan tertua ini.

Di AN 7.21, sangat jelas bahwa Buddha berkeinginan apabila bhikkhu Sangha4 menerusi pelatihan Sutta-Vinaya kumpulan tertua dengan perubahan sedikit mungkin. “Para bhikkhu, selama kalian tidak menyatakan apa yang tidak dinyatakan, tidak menolak apa yang dinyatakan, tetapi menyesuaikan diri dalam pelatihan yang dinyatakan (dari moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan), sepanjang itu keberhasilan diharapkan bagi para bhikkhu, bukan kemunduran.”

Sejarah dari negara-negara Buddhis telah menunjukkan bahwa ajaran Buddhis mundur ketika para bhikkhu menjadi lalai, korup, dan mengabaikan Sutta-Vinaya. Ini menyebabkan umat awam kehilangan rasa hormat pada para bhikkhu. Sebaliknya, ketika para bhikkhu mempraktekkan kehidupan suci dengan sepenuhnya mengandalkan Sutta-Vinaya, hal itu menyebabkan meningkatnya kepercayaan dari komunitas umat awam dan berkembangnya ajaran Buddhis. Komunitas awam mendukung para bhikkhu dalam kehidupan suci mereka. Jadi, sangat penting apabila mereka memahami Vinaya kebhikkhuan sampai batas tertentu karena mereka mengambil peranan penting dalam membantu para bhikkhu untuk menjalankan peraturan kedisplinan.

Seorang bhikkhu Theravāda memiliki 227 peraturan (Sīla) dalam Pāṭimokkha sementara seorang bhikkhu Mahayana pada dasarnya memiliki peraturan yang sama dengan tambahan bagian minor yang berhubungan dengan sikap hormat pada stupa, yang menjadikannya 250 peraturan secara keseluruhan.5 Seorang bhikkhu juga melaksanakan peraturan dalam buku-buku lain dari Vinaya Piṭaka. Seorang Sāmaṇera atau calon bhikkhu hanya melaksanakan sepuluh peraturan. Dewasa ini, seorang biarawati (rahib perempuan) Theravāda mengambil delapan peraturan yang tidak melarangnya untuk memiliki uang, atau di beberapa negara, sepuluh peraturan yang melarangnya untuk memiliki uang.

Peraturan kedisiplinan dari seorang bhikkhu dikelompokkan menjadi delapan bagian : (i) Pārājika, (ii) Sanghādisesa, (iii) Aniyata, (iv) Nissaggiya-pācittiya, (v) Pācittiya, (vi) Pāṭidesanīya (vii) Sekhiya, dan (viii) Adhikaraṇa-samatha. Kesemua delapan kelompok peraturan kedisiplinan tersebut pada dasarnya sama untuk mazhab Theravāda dan Mahayana, dengan pengecualian pada bagian Pācittiya dan Sekhiya. Seorang bhikkhu Theravāda memiliki 92 Pācittiya dan 75 Sekhiya, sementara seorang bhikkhu Mahayana memiliki 906 Pācittiya dan 100 Sekhiya.

Pelanggaran Pārājika dan Sanghādisesa, dua yang pertama merupakan pelanggaran berat sementara yang lainnya bersifat ringan, yang dapat ditebus dengan pengakuan kepada bhikkhu yang lainnya. Hanya peraturan-peraturan penting yang berhubungan dengan umat awam yang akan disebutkan di bawah.7

Ada empat Pārājika atau peraturan yang menyebabkan seorang bhikkhu terkalahkan. Jika seorang bhikkhu melanggar salah satu dari peraturan-peraturan ini, secara otomatis dia “dikalahkan” dalam kehidupan suci dan pada saat itu juga dia lepas dari status seorang bhikkhu. Dia tidak diizinkan untuk menjadi bhikkhu lagi sepanjang hidupnya. Niat/kehendak adalah faktor yang penting dalam 4 kasus ini untuk sebuah pelanggaran.

Peraturan 1: Larangan terhadap hubungan seksual. Oleh sebab itu, ide tentang bhikkhu yang memiliki istri sangat bertentangan dalam ajaran Buddha.

Peraturan 2: Larangan untuk mencuri barang apapun dengan jumlah nilai yang besar, sekarang sering diterjemahkan kira-kira lebih dari US$20.

Peraturan 3: Larangan untuk membunuh manusia.

Peraturan 4: Larangan dalam mengutarakan secara tidak benar bahwa seseorang telah mencapai kekuatan supranormal tertentu, yakni jhāna (meditasi penyerapan), kekuatan adi duniawi, atau pencapaian salah satu tingkat Ariya.

Ketiga-belas Sanghādidesa di sini adalah peraturan yang membutuhkan pertemuan formal dari Sangha. Jika seorang bhikkhu melanggar salah satu peraturan darinya, dia harus menjalani masa percobaan atau disiplin yang sesudah itu, apabila dia menunjukkan penyesalan dirinya, dia dapat diterima kembali oleh Sangha yang tidak kurang dari 20 bhikkhu.

Peraturan 2: Larangan melakukan kontak fisik dengan seorang wanita dengan niat penuh gairah. Karena peraturan inilah maka seorang bhikkhu menghindari kontak fisik dengan seorang wanita, terutama ketika makanan, minuman atau apapun diberikan secara langsung kepada seorang bhikkhu.

Peraturan 3: Berhubungan dengan ucapan cabul kepada seorang wanita, dengan niat penuh gairah.

Peraturan 5: Melarang seorang bhikkhu untuk bertindak sebagai perantara dalam hubungan pria dan wanita. Hubungan yang intim adalah salah satu penyebab yang mengikat kita pada lingkaran kelahiran yang berulang-ulang. Maka seorang bhikkhu tidak diizinkan untuk melangsungkan upacara pernikahan.

Peraturan 13: Berhubungan dengan “Sikap layaknya perumah-tangga” dan “Berkelakuan buruk”. Seorang bhikkhu “bersikap layaknya perumah-tangga” jika dia terus menerus berasosiasi secara berlebihan dengan umat awam dan berkelakuan seperti seorang umat awam. “Kelakuan buruk” adalah kelakuan yang melampaui tindak-tanduk seorang bhikkhu yang terkendali – bermain-main dengan wanita, menyenangi permainan, berkelakuan secara bodoh, bernyanyi, menari, dll.

Ini adalah dua peraturan yang tidak pasti dimana seorang bhikkhu dituduh melakukan pelanggaran dengan seorang wanita di tempat yang tertutup atau tersembunyi oleh seorang umat awam. Dikatakan tidak pasti karena hasil akhirnya tergantung pada pengakuan bhikkhu yang bersangkutan apakah dia melanggarnya atau tidak. Penuduhan tidak dapat diberlakukan kecuali terdapat cukup bukti. Oleh sebab itu, tidak pantas untuk seorang bhikkhu bersama sendirian dengan seorang wanita, terutama di tempat yang tertutup atau tersembunyi.

Ada tiga puluh peraturan yang memerlukan “pengakuan dengan cara melepaskan.” Sebagian besar berhubungan dengan kepemilikan dari barang-barang yang tidak diperbolehkan atau diperoleh dengan cara yang tidak diperbolehkan. Bhikkhu tersebut harus melepaskan barangnya dan kemudian mengakui pelanggarannya kepada bhikkhu yang lain.

Peraturan 6, 7, dan 8: “Pavāraṇā” atau undangan. Pada umumnya, dengan beberapa pengecualian, seorang bhikkhu tidak boleh meminta sesuatu dari seorang umat awam kecuali sanak keluarganya atau umat awam telah memberinya undangan. Undangan yang diberikan umat awam kepada seorang bhikkhu dalam hal kebutuhan boleh dilakukan secara lisan atau tertulis, terbatas pada jenis barang, jumlah, harga atau waktu. Misalnya, “Bhante, selama anda tinggal di sini, jika ada kebutuhan yang anda butuhkan, beritahukan saya dan saya bergembira untuk memenuhi kebutuhan anda.”

Peraturan 12 dan 13: Barang-barang mewah. Sang Buddha senantiasa mengajari siswa-siswanya untuk merasa puas dan memiliki sedikit keinginan, menekankan bahwa barang-barang yang tergolong mewah dilarang untuk seorang bhikkhu. Peraturan 18: Uang. Seorang bhikkhu tidak diperbolehkan untuk menerima uang karena dia seharusnya telah melepaskan semua kepemilikan duniawi. Tidak ada pelanggaran bagi seorang bhikkhu untuk menangani uang atau barang-barang berharga untuk disimpan apabila umat awam ketinggalan atau sembarang menaruhnya di Vihāra atau di rumah mereka sendiri.

Alasan utama Sang Buddha melarang seorang bhikkhu untuk memiliki uang disebutkan dalam SN 42.10 dimana Sang Buddha berkata, “… kepada siapapun uang diperbolehkan, maka kepada dirinya juga lima jenis kesenangan indera diperbolehkan; kepada siapapun lima jenis kesenangan indera diperbolehkan, maka kalian dapat memastikan dia tidak bersikap seperti seorang bhikkhu…” Jika umat awam ingin mempersembahkan uang untuk keberlangsungan Vihāra, mereka sebaiknya langsung memasukkannya ke dalam kotak/buku dana, atau ke dalam rekening bank Vihāra, dll..

Ada keizinan (pengecualian) dalam buku Vinaya, yang disebut keizinan (pengecualian) Meṇḍaka, bagi seorang pendukung umat awam untuk mempersembahkan uang sebagai bentuk dukungan pada bhikkhu. Uang ini dapat diberikan kepada umat awam yang menangani dana, atau memasukkannya ke dalam kotak/buku dana, dll., dan kemudian bhikkhunya harus diberitahu tentang hal itu. Karena seorang bhikkhu tidak diizinkan untuk menerima uang secara pribadi, uang yang diberikan sebagai bentuk dukungan pada bhikhu tidak menjadi milik bhikkhu tertentu dan oleh sebab itu, tidak dapat dibawa pergi oleh bhikkhu tertentu, bahkan jika dia lepas jubah.

Yayasan Sangha (Sangha Foundation) adalah cara yang ideal dan praktis zaman sekarang dalam menerima dan mengelola penerimaan uang dan barang-barang untuk kebutuhan Sangha. Badan pengawas terdiri dari bhikkhu dan umat awam. Tetapi, tanah dan bangunan Vihāra sepenuhnya menjadi milik Sangha menurut Vinaya, tepatnya sepenuhnya dimiliki8 dan diurus oleh Sangha, yakni pengawasnya lebih di utamakan anggota Sangha. Umat awam yang dapat diandalkan ditunjuk untuk menangani rekening bank dan urusan keuangan.

Peraturan 19: Melarang seorang bhikkhu dari urusan jual beli.

Peraturan 20: Saling tukar-menukar. Seorang bhikkhu tidak diperbolehkan tukar-menukar secara langsung dengan umat awam tetapi seorang pendukung umat awam diperbolehkan tukar-menukar barang-barang yang diperbolehkan untuk kebutuhan bhikkhu.

Peraturan 23: Jika seorang bhikkhu dipersembahkan lima jenis obat-obatan atau kebutuhan tujuh hari, dia boleh menyimpan dan memakainya untuk tujuh hari. Benda-benda ini adalah ghee (mentega cair), mentega,9 minyak (dari hewan, ikan, dan sayuran), madu, dan gula (semua jenis). Lima jenis obat-obatan ini boleh dikonsumsi oleh bhikkhu tersebut kapanpun saja, petang maupun malam harinya.

Sebelum melewati subuh hari ketujuh, bhikkhu tersebut diharuskan menyerahkannya kepada seseorang yang belum diupasampadā penuh, yakni seorang umat awam, sāmaṇera atau “biarawati”. Jika orang tersebut mempersembahkannya kembali kepada bhikkhu tersebut, maka dia boleh menggunakannya lagi untuk tujuh hari berikutnya.

Batas tujuh hari ditentukan untuk menghalangi seorang bhikkhu dari penyimpanan sejumlah barang-barang yang berlebihan.

Peraturan 28: Kathina. Ini dirayakan setelah berakhirnya tiga bulan musim hujan tiap tahunnya (vassa) dari komunitas bhikkhu setempat dan periode satu bulan ini merupakan waktu yang sangat populer bagi umat awam untuk mempersembahkan jubah kepada para bhikkhu.

Ada sembilan puluh dua Pācittiya (peraturan yang membutuhkan pengakuan).

Peraturan 5: Melarang seorang bhikkhu untuk tidur di penginapan yang sama dengan seorang umat awam pria atau sāmaṇera (calon bhikkhu) lebih dari tiga malam secara berturut-turut.

Peraturan 6: Melarang seorang bhikkhu untuk berbaring di penginapan yang sama dengan seorang wanita, bahkan seorang gadis kecil. Oleh sebab itu, jika seorang bhikkhu diundang untuk tinggal bersama umat awam, lebih dikehendaki apabila dia diberikan ruangan yang dapat dikunci untuk dirinya.

Peraturan 7: Melarang seorang bhikkhu untuk berbicara lebih dari enam kalimat Dhamma kepada seorang wanita kecuali di hadapan seorang pria atau anak laki-laki yang memahami topik pembicaraan. Sebagai intinya, peraturan ini membatasi seorang bhikkhu untuk berbicara seperlunya saja kepada wanita secara sendirian.

Peraturan 8: Melarang seorang bhikkhu untuk berbicara tentang pencapaian supranormal dirinya kepada seseorang yang belum diupasampadā penuh. Pencapaian supranormal berarti pencapaian Jhāna (meditasi penyerapan), kekuatan adi duniawi, atau tingkat kesucian Ariya (seorang yang Mulia).

Peraturan 9: Melarang seorang bhikkhu dalam mengungkapkan pelanggaran/kesalahan berat (yakni Pārājika atau Sanghādisesa) bhikkhu lain kepada seseorang yang belum diupasampadā penuh, terkecuali Sangha memberinya wewenang.

Peraturan 10: Seorang bhikkhu tidak boleh menggali tanah yang mengandung kehidupan – ulat, serangga, dan sebagainya… diizinkan bagi seorang bhikkhu untuk memberi petunjuk kepada seseorang yang belum diupasampadā penuh untuk menggali tanah, misalnya, “Kita memerlukan lubang sampah”. Tidak masalah bagi seorang bhikkhu untuk menggali permukaan yang sebagian besar batu, kerikil, atau pasir, dan timbunan tanah apapun atau tanah liat yang lembab kurang dari empat bulan lamanya.

Peraturan 11: Seorang bhikkhu juga tidak diperbolehkan untuk merusak tanaman, termasuk rumput, bunga, buah-buahan, dan seterusnya. Peraturan ini ditetapkan supaya tidak melukai perasaan orang-orang yang menganggap tumbuhan memiliki nyawa.

Ketika seorang bhikkhu dipersembahkan buah-buahan segar, tauge, akar umbi, atau bagian tanaman lainnya dengan kehidupan di dalamnya, pendonor awam seharusnya membuang bijinya atau secara simbolis “membuatnya dapat dimakan” dengan memotongnya dengan pisau, merusaknya dengan kuku atau api, kecuali bhikkhu tersebut dapat dengan mudah mengeluarkan bijinya.

Peraturan ke 10 dan 11 melarang seorang bhikkhu untuk terlibat dalam urusan pertanian, membuatnya bergantungan pada dukungan umat awam. Ini juga menunjukkan bahwa umat awam harus membantu memelihara Vihāra, yakni memotong rumput atau semak belukar, tanaman atau memindahkan pohon-pohon apabila diperlukan, dan seterusnya.

Peraturan 37 dan 38: Makan pada waktu yang tepat. Waktu makan yang tepat bagi seorang bhikkhu adalah dalam periode antara subuh10 sampai dengan waktu matahari mencapai elevasi tertinggi, sering disebut “tengah hari” tetapi di Malaysia dan Singapura, waktunya adalah sekitar jam 1.15 petang.

Dalam selang waktu ini, seorang bhikkhu boleh menerima makanannya yang kemudian harus dikonsumsi dalam periode tersebut. Dia tidak diperbolehkan untuk menyimpan makanan yang tidak habis dimakan untuk keesokan harinya terkecuali pada saat dilanda kelaparan. Seseorang yang belum diupasampadā penuh boleh melakukannya.

Seorang bhikkhu diperbolehkan untuk mengkonsumsi jenis obat-obatan berikut kapanpun saja:

(i) Kebutuhan seumur hidup: obat-obatan farmasi, pil vitamin, buah obat-obatan (mis buah pala, buah zaitun), daun obat-obatan (jamu), akar obat-obatan (mis ginseng, jahe), garam, sari tumbuhan (mis marmite), miso (petis kacang kedelai), cokelat, kopi, teh.

Ada sedikit perbedaan di antara negara-negara Buddhis dalam hal apa yang diperbolehkan. Seorang bhikkhu boleh menyimpan obat-obatan ini sepanjang hidupnya tanpa perlu untuk dipersembahkan kembali.

(ii) Lima jenis obat-obatan: Rujuklah pada bagian Nissagiya-Pācittiya, peraturan 23.

(iii) Sari jus buah setelah ditapis, termasuk jus tebu. Jika seorang bhikkhu tidak sehat dia juga diperbolehkan untuk minum sop bubur setelah ditapis, sop buncis setelah ditapis, sop daging setelah ditapis.

Peraturan 40: Melarang seorang bhikkhu untuk mengkonsumsi makanan yang belum dipersembahkan. Maka, merupakan suatu keharusan secara tradisi agar makanan diserahkan secara formal oleh seorang donatur ke tangan seorang bhikkhu atau ke dalam mangkuknya.

Peraturan 44 dan 45: Melarang seorang bhikkhu untuk duduk sendirian dengan seorang wanita di tempat yang tertutup atau tersembunyi – serupa dengan peraturan aniyata.

Peraturan 48 – 50: Melarang seorang bhikkhu untuk pergi melihat pendirian daerah militer, pertempuran, pengaturan pertempuran atau peninjauan resimen, tanpa suatu alasan yang layak, misalnya ketika memberikan kotbah Dhamma, mengunjungi sanak keluarga yang sakit, dan seterusnya.

Peraturan 51: Larangan terhadap minuman beralkohol, yakni jika warna, bau atau rasa dari alkohol nyata. Bersamaan dengan peraturan ini, obat bius yang menyebabkan kelalaian dan kecanduan juga dilarang.

Peraturan 65: Seorang kandidat untuk upasampadā penuh sebagai seorang bhikkhu harus berusia 20 tahun atau lebih.

Dewasa ini, nampaknya tidak ada suatu batas usia muda yang tetap untuk diterima sebagai seorang sāmaṇera (seharusnya berusia 15 tahun) sepanjang anak laki-laki tersebut dapat mencuci, makan dan menjaga diri sendiri. Juga nampaknya tidak ada suatu batas usia lanjut untuk memasuki Sangha, sepanjang kandidatnya tidak lemah berkenaan dengan usianya dan memenuhi persyaratan umum lainnya.

Peraturan 67: Melarang seorang bhikkhu dari bepergian untuk suatu perjalanan (keluar dari kota) dengan seorang wanita dengan suatu kesepakatan yang disetujui terlebih dahulu, terkecuali ada bahaya.

Peraturan 74 dan 75: Melarang seorang bhikkhu untuk bertindak dengan jalan kekerasan terhadap bhikkhu yang lain.

Peraturan 84: Seorang bhikkhu tidak seharusnya mengambil barang-barang yang sembarangan ditaruh atau ditinggalkan bahkan untuk menyimpannya, terkecuali di dalam bangunan Vihāra atau di rumah yang dikunjungi bhikkhu tersebut.

Peraturan 87: Melarang seorang bhikkhu dari pemakaian perabotan tinggi dan besar (tempat tidur, sofa, kursi, dan sebagainya.) karena mereka dianggap sebagai mewah dan tidak sesuai untuk seorang bhikhu.

Ada saat-saat tertentu ketika seorang bhikkhu boleh menggunakan kursi yang tinggi dan besar di Vihāra, misalnya ketika sedang berkotbah Dhamma. Seorang bhikkhu juga boleh duduk di perabotan tinggi dan besar ketika mengunjungi rumah seorang umat awam.

Peraturan 88: Melarang perabotan yang dilapisi oleh katun, karena mereka dianggap terlalu mewah untuk seorang bhikkhu. Pokok dari peraturan ini adalah bahwa para bhikkhu tidak boleh menggunakan perabotan yang mewah dan berlebihan, tetapi dewasa ini katun tidak masuk dalam kategori ini.

Ada empat peraturan yang membutuhkan pengakuan.

Peraturan 4: Jika sejumlah bhikkhu hidup di area hutan yang terpencil dimana terdapat laporan tentang perampokkan dan penyerangan terhadap orang yang bepergian, para bhikkhu diharuskan untuk memberitahukan tentang bahaya tersebut kepada umat awam yang berkeinginan untuk mengunjungi mereka.

Ada tujuh puluh lima Sekhiya atau Peraturan Pelatihan, yang sebagian besar membicarakan tentang kelakuan dari seorang bhikkhu.

Peraturan 57 – 72: Mengajarkan Dhamma pada umat awam. Jika seorang umat awam tidak memiliki sikap hormat, seorang bhikkhu tidak seharusnya mengajarinya Dhamma, misalnya umat awam tersebut duduk di tempat duduk yang lebih tinggi, berbaring atau memakai topi.

Ada tujuh peraturan dalam menyelesaikan proses legal yang hanya berhubungan dengan bhikkhu.

Informasi lainnya yang bermanfaat bagi umat awam:

Ketika seseorang memasuki Vihāra, biasanya memberi hormat terlebih dahulu kepada rupang Buddha, bila ada, dan kemudian kepada komunitas para bhikkhu. Ketika hendak pergi, seseorang memberi hormat kepada para bhikkhu, dan kemudian kepada rupang Buddha. Ketika seseorang memberi hormat kepada para bhikkhu, cukuplah untuk memberi hormat pada kepala Vihāra saja, untuk mewakili komunitas para bhikkhu.

Di Vihāra, memberi hormat biasanya berarti melakukan sujud lima-titik11 tiga kali. Di tempat terbuka, cukup untuk ber “añjali”, yakni menyatukan kedua telapak tangan untuk memberi hormat.

Makan daging diperbolehkan bagi seorang bhikkhu apabila dia tidak (i) melihatnya, (ii) mendengarnya, atau (iii) mencurigai bahwa binatang tersebut secara khusus dibunuh untuk dirinya. Buddha menolak permintaan untuk menetapkan peraturan bahwa bhikkhu harus menjadi vegetarian.12 Pācittiya peraturan 39 melarang seorang bhikkhu untuk meminta hidangan mewah kecuali untuk berbagai alasan kesehatan yang dapat diterima, atau pendonor adalah sanak keluarga, atau suatu undangan telah dilakukan. Di sisi lain, seorang bhikkhu dinasehati oleh Buddha untuk meninggalkan residen tersebut apabila zat/intisari makanannya tidak mencukupi.

Terkecuali pada saat kelaparan, seorang bhikkhu tidak diperbolehkan untuk memasak, walaupun diizinkan untuk memanasinya kembali. Tetapi, seorang sāmaṇera diperbolehkan untuk memasak.

Seorang bhikkhu tidak diperbolehkan untuk makan bersama, dari baki atau mangkuk makanan yang sama, dengan siapapun juga kecuali para bhikkhu yang melatih Dhamma-Vinaya yang sama dengan dirinya.

Seorang bhikkhu tidak diperbolehkan untuk mempraktekkan ilmu membaca garis tangan dan meramal nasib; untuk meramal cuaca, gangguan-gangguan, wabah; menginterpretasikan tanda-tanda dan petanda lainnya; untuk menentukan apakah lokasi untuk bangunan yang diusulkan memiliki keberuntungannya atau tidak; mempraktekkan ilmu gaib; bertindak sebagai dokter, terkecuali kepada sanak keluarga dan kenalan dekat.

Penjelasan yang lebih merinci diberikan di beberapa Sutta Dīgha Nikāya, misalnya Sāmaññaphala Sutta dan Ambaṭṭha Sutta.

Masing-masing negara memiliki cara yang berbeda-beda dalam memberi salam pada seorang bhikkhu, tetapi pada zaman Buddha, para bhikkhu biasanya dipanggil Bhante, yang berarti “Yang Mulia”, oleh umat awam. Buddha memanggil siswanya dengan sebutan Bhikkhu, tetapi tidak sopan bagi seorang umat awam untuk memanggil seorang bhikkhu dengan kata ini. Biarawati yang menjalani delapan peraturan atau sepuluh peraturan Sīla dapat dipanggil Saudari, dan calon bhikkhu yang menjalani sepuluh peraturan Sīla dapat dipanggil Sāmaṇera oleh umat awam.

Seseorang harus berpakaian yang sopan ketika memasuki Vihāra. Pakaian tidak boleh yang terbuka atau memancing/mengundang.

Buddha menginstruksikan bhikkhu pengikutnya untuk tidak berhubungan dengan bhikkhu yang mengikuti Dhamma-Vinaya yang berbeda. Berhubungan di sini berarti makan bersama dari baki atau mangkuk makanan yang sama, tidur dalam atap yang sama, membaca pāṭimokkha bersama atau melakukan rutinitas formal dari Sangha (Sanghakamma) bersama-sama. Bhikkhu Theravāda dan Mahayana mengikuti Dhamma-Vinaya yang berbeda karena buku-buku mereka, terutama buku-buku Dhamma (yakni Sutta atau kotbah), adalah berbeda dan bahkan tidak jarang berkontradiksi. Pelatihan mereka, terutama Vinaya, pada umumnya juga cukup berbeda.

Senioritas dari seorang bhikkhu dihitung berdasarkan jumlah “vassa” (musim hujan) yang telah dijalani. Penyusunan tempat duduk bagi para bhikkhu dilakukan sesuai dengan senioritas mereka, dengan para bhikkhu yang senior di sisi kanan. Ketika seorang bhikkhu lepas jubah, dia kehilangan seluruh masa “vassa” nya. Apakah dia dapat ditahbiskan kembali atau tidak, tergantung pada apakah seorang pemberi Sīla (Guru) bersedia untuk mengtahbiskan dia. Ketika seorang bhikkhu ditahbiskan kembali di tradisi lain, misalnya Mahayana ke Theravāda, atau bahkan Theravāda ke Theravāda, dia kehilangan seluruh masa “vassa” sebelumnya karena dia harus lepas jubah untuk ditahbiskan kembali.

Di Mahāvagga, Bab 1, dikatakan bahwa seorang bhikkhu yang baru (kurang dari lima vassa) harus hidup bergantungan pada (nissaya) seorang bhikkhu senior yang mampu dan berpengalaman (sekurangnya sepuluh vassa) sehingga dia dapat berlatih di bawah guru ini. Pengecualian diberikan ketika bhikkhu baru berkeinginan untuk berjuang sendirian di dalam hutan dan tidak sedang menerima bimbingan; ketika dia sakit dan tidak sedang menerima bimbingan; ketika dia sedang merawat seorang bhikkhu yang sakit dan tidak sedang menerima bimbingan; ketika dia pergi ke jalan besar dan tidak sedang menerima bimbingan. Tetapi, jika seorang bhikkhu terus-terusan tidak berpengalaman, tidak mampu, dia perlu untuk hidup dalam ketergantungan sepanjang hidupnya.

Di Mahāvagga, Bab 2, dikatakan bahwa seorang bhikkhu yang tidak berpengalaman dan tidak tahu tidak diperbolehkan untuk mengunjungi tempat-tempat jauh tanpa ditemani oleh seorang bhikkhu yang mampu dan berpengalaman. Juga dinyatakan disini bahwa seorang bhikkhu yang mampu dan berpengalaman, pada dasarnya mahir dalam Dhamma-Vinaya, bijaksana, bersungguh-sungguh, cermat, berkeinginan untuk berlatih diri, seseorang yang kepadanya tradisi telah diturunkan.

Di AN 3.129 Sang Buddha berkata: “Para bhikkhu, ada tiga hal ini yang bersinar terang yang dapat dilihat oleh semua orang, yang tidak tersembunyi. Apakah yang tiga itu? Cahaya bulan yang bersinar yang dapat dilihat oleh semua orang ; tidak tersembunyi. Cahaya dari matahari juga sedemikian. Dhamma-Vinaya dari seorang Tathagata bersinar untuk dapat dilihat oleh semua orang, tidak tersembunyi.”

Tetapi, di Vinaya Piṭaka (Mahāvagga, Bab 2), para bhikkhu tidak diperbolehkan untuk membaca peraturan kedisiplinan bhikkhu (Pāṭimokkha) di hadapan umat awam. Ini kemungkinan menunjukkan bahwa umat awam tidak didorong untuk mengetahui terlalu banyak tentang peraturan kesidiplinan bhikkhu karena mereka bisa mengkritik berlebihan tentang para bhikkhu, dan ini merupakan kamma tak bajik.

Di AN 3.85, dinyatakan bahwa bahkan Ariya dapat melakukan pelanggaran terhadap peraturan minor, dan di DN 16, Buddha mengizinkan penghapusan peraturan minor walaupun mereka tidak disebutkan secara jelas.

Di AN 6.54, Buddha berkata bahwa seseorang menggali sebuah lubang yang besar untuk dirinya sendiri ketika dia mencaci seorang bhikkhu Buddhis yang memiliki pandangan benar. Dengan demikian, umat awam harus berhati-hati untuk tidak mengkritik para bhikkhu secara berlebihan ketika pemahaman Dhamma-Vinaya mereka tidak luas maupun mendalam.

Di MN 142, Buddha berkata bahwa pemberian yang diberikan kepada orang biasa yang tidak bermoral bisa menghasilkan pahala ribuan kali. Pemberian yang diberikan kepada orang biasa yang bermoral bisa menghasilkan pahala ratusan ribu kali. Pemberian kepada petapa sekte luar yang terbebas dari nafsu terhadap kesenangan indera (yakni seseorang yang telah mencapai jhāna, suatu keadaan mental yang cemerlang) bisa menghasilkan pahala beratus-ratus ribu kali. Pemberian kepada seorang Ariya tidak terhitung, tidak terukur.

Kemudian Buddha berkata, “Di masa depan, Ananda, akan ada anggota dari suatu kelompok (yakni para bhikkhu) yang berleher-kuning, tidak bermoral, berkarakter jahat. Orang-orang akan memberikan pemberian kepada orang-orang yang tidak bermoral ini atas nama Sangha. Bahkan dengan itu, Saya katakan, persembahan yang diberikan kepada Sangha adalah tidak terhitung, tidak terukur. Dan saya katakan tidak memungkinkan, pemberian yang diberikan secara individu menghasilkan pahala yang lebih besar dari persembahan yang diberikan kepada Sangha.”

Dengan demikian, umat awam didorong untuk mendukung para bhikkhu atau Vihāra untuk kebaikan Sangha, daripada hanya mendukung beberapa bhikkhu pilihan. Kapanpun mereka bisa, umat awam harus membantu para bhikkhu dalam menjalankan Sīla mereka, misalnya dengan menyediakan transportasi bagi para bhikkhu; membantu memelihara tanah Vihāra; menanyakan apa yang perlu dilakukan untuk Vihāra; dan sebagainya.

Jika mereka melihat seorang bhikkhu yang tidak melatih Vinaya dengan baik, mereka dapat memberikan kritik yang membangun pada bhikkhu tersebut atau mendiskusikan hal ini dengan bhikkhu tersebut, daripada berucap yang tidak baik di belakangnya. Tidak mudah bagi seorang bhikkhu untuk menemukan kebahagiaan dalam jubah (SN 38.16). Umat awam harus memberikan bukan hanya dukungan material kepada seorang bhikkhu tetapi juga dukungan moral dan semangat kepadanya untuk terus melatih kehidupan suci “semurni dan sekilat kulit kerang.”

“Para bhikkhu, kehidupan suci ini tidak dijalankan untuk menipu atau mengesankan orang. Tidak berhubungan dengan pengumpulan, keuntungan dan ketenaran. Tidak berhubungan dengan ramainya gossip, tidak juga dengan ide “biarlah orang-orang mengenalku sebagai ini dan itu!” Tetapi, para bhikkhu, kehidupan suci ini dijalankan dengan tujuan pengendalian-diri, dengan tujuan pelepasan, dengan tujuan ketidak-terikatan dari nafsu, dengan tujuan membuatnya berhenti.” ~ ANGUTTARA NIKĀYA 4.3.25

“Para bhikkhu, ketiga jenis orang ini muncul di dunia, muncul dengan membawa manfaat bagi orang banyak, dengan belas kasih kepada dunia, untuk kebaikan, untuk manfaat, untuk kebahagiaan dewa dan umat manusia. Apakah yang tiga itu? Di sini, para bhikkhu, Yang Terberkahi muncul di dunia, Arahat, Yang sepenuhnya Tercerahkan.. Selanjutnya, para bhikkhu, pengikut dari Yang Terberkahi, siswa Arahat…. Kemudian lagi, para bhikkhu, pengikut dari Yang Terberkahi, seorang pelajar, yang menempuh Sang Jalan, yang telah banyak mendengar (kotbah-kotbah), yang menuruti peraturan kelakuan baik….” ~ ITIVUTTAKA 3.4.5

Ciram Tiṭṭhatu Saddhammo


Catatan Kaki
  1. Ajaran Buddha disebut Dhamma-Vinaya. Di AN 4.180, Dhamma merujuk pada Sutta (kotbah) dan mereka dapat ditemui dalam Nikāya ajaran tertua (Kumpulan kotbah) – lihat catatan kaki no.2. Vinaya hanya merujuk pada disiplin kebhikkhuan dari bhikkhu dan bhikkhuni. Pentingnya Sutta-Vinaya tidak dapat diremehkan dan hal ini didiskusikan dalam buku “Kebebasan Sempurna : Pentingnya Sutta-Vinaya” oleh pengarang. [Kunjungi www.vbgnet.org atau www.patria.or.id untuk referensi bacaan dalam bahasa Indonesia]
  2. Sutta tertua dari Buddha dapat ditemui dalam Nikāya-Nikāya: Dīgha Nikāya (DN), Majjhima Nikāya (MN), Saṃyutta Nikāya (SN), Anguttara Nikāya (AN) dan ke-enam buku dari Khuddaka Nikāya.
  3. Nomor Sutta di sini mengikuti buku Pāli Text Society.
  4. Di MN 142, Sangha merujuk pada komunitas bhikkhu atau bhikkhuni. Dalam tradisi Theravāda, komunitas bhikkhuni tidak ada dewasa ini. Komunitas bhikkhuni yang terdahulu memiliki lebih dari 300 peraturan.
  5. Bhikkhuni Mahayana melaksanakan semua 250 peraturan bhikkhu Mahayana dengan tambahan 98 peraturan.
  6. Peraturan yang tidak tercantum adalah peraturan ke 23 dan 82.
  7. Nomor dari peraturan yang disebutkan merujuk pada Pāṭimokkha Theravāda. Nomor yang sama di Pāṭimokkha Mahayana bisa ditemui berbeda dalam beberapa kasus.
  8. Perhatikan bahwa seorang bhikkhu tidak memiliki sesuatu yang menjadi milik Sangha. Kepemilikan Sangha berarti kepemilikan Sangha saat sekarang dan masa depan sampai selama-lamanya, dan para bhikkhu hanyalah pengawas bagi Sangha.
  9. Kata Pālinya adalah “navanitam” atau “nonitam”. Sesuatu yang nampaknya terbuat dari dadih yang menghasilkan ghee. Keju dibuat dari dadih dan mentega menghasilkan ghee. Dua-duanya biasa digunakan di Thailand.
  10. Menurut Kitab Komentar, ini adalah ketika ufuk timur mulai menjadi terang.
  11. Membungkuk di lantai dengan dahi, dua telapak tangan, dan dua siku menyentuh tanah.
  12. Cullavagga, Bab 7.