Melihat secara sekilas halaman-halaman katalog publikasi-publikasi dari Pāḷi Text Society, seharusnya sudah cukup untuk meyakinkan siapa saja bahwa terdapat jauh lebih banyak literatur Pāḷi klasik dibandingkan dengan Tipiṭaka itu sendiri. Tercampur aduk dengan Nikaya-Nikaya, teks-teks Vinaya, dan Abhidhamma yang sudah umum, terdapat sejumlah judul dengan nama Pāḷi yang panjang dan hampir tidak bisa diucapkan. Meskipun banyak pelajar Buddhisme barat yang mungkin tidak pernah bertemu dengan karya-karya ini (memang, sebagian besar karya-karya tersebut tidak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris), buku-buku ini telah sekian abad memainkan peranan yang sangat penting di dalam perkembangan pemikiran dan praktik Buddhis di Asia dan, pada akhirnya, di Barat. Pada kenyataannya, di beberapa negara, karya-karya ini sangat dihargai ibarat sutta-sutta itu sendiri. Namun, apakah buku-buku kuno tersebut, dan apa relevansi yang mereka miliki terhadap pelajar-pelajar Buddhisme di abad ke-21? Meskipun jawaban-jawaban lengkap atas pertanyaan-pertanyaan ini terletak di luar jangkauan kemampuan saya, saya berharap naskah pendek ini akan menyediakan peta jalan yang cukup untuk membantu mengarahkan pelajar yang tertarik ketika ia ingin mulai menjelajahi kumpulan yang besar dari literatur Buddhis yang penting ini.

Artikel ini terdiri dari dua bagian. Bagian Pendahuluan menyediakan latar belakang historis untuk teks-teks dan menawarkan beberapa pemikiran tentang mengapa teks-teks ini sangat berharga bagi tradisi Theravada. Bagian Panduan pada dasarnya adalah daftar isi yang dilengkapi dengan keterangan, yang mana saya banyak meminjam dari berbagai macam sumber untuk mendeskripsikan setiap teks.

Tipiṭaka (kitab suci Pāḷi) mengambil bentuk akhirnya pada Konsili Buddhis Ketiga (sekitar 250 SM) dan pertama kali dijadikan dalam bentuk tulisan pada suatu waktu di abad ke-1 SM. Tak lama setelahnya para bhikkhu-pelajar di Sri Lanka dan India bagian selatan mulai mengumpulkan pokok dari literatur sekunder: kitab-kitab komentar untuk Tipiṭaka itu sendiri, kronik-kronik historis, buku-buku pelajaran, tata bahasa Pāḷi, artikel-artikel yang dibuat oleh pelajar-pelajar terdidik di masa lalu, dan seterusnya. Sebagian besar dari teks-teks ini ditulis dalam bahasa Sinhala, bahasa Sri Lanka, namun karena bahasa Pāḷi – bukan bahasa Sinhala – merupakan lingua franca atau bahasa penghubung dari Theravada, hanya sebagian kecil pelajar-pelajar Buddhis di luar Sri Lanka yang dapat mempelajari teks-teks ini. Pada abad ke-5 Masehi, ketika bhikkhu India Buddhaghosa memulai tugas sulit menyusun kitab-kitab komentar Sinhala kuno dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Pāḷi, buku-buku ini baru untuk pertama kalinya menjadi dapat diakses oleh orang-orang yang tidak berbicara dengan bahasa Sinhala di seluruh dunia Buddhis. Kitab-kitab komentar ini (Atthakatha) memberikan penjelasan dan analisis terperinci secara teliti – frase-demi-frase dan kata-demi-kata – untuk bagian-bagian terkait yang ada di dalam Tipiṭaka.

Setelah Buddhaghosa, katalog literatur Pāḷi pasca-kitab suci terus berkembang dengan tambahan kitab-kitab komentar oleh Buddhadatta (abad ke-5) dan Dhammapala (abad ke-6), dan kitab-kitab sub-komentar (Tika) untuk beberapa Atthakatha Buddhagosa oleh Dhammapala. Selama jangka waktu ini, dan abad-abad selanjutnya, penulis-penulis lain menyiapkan terjemahan-terjemahan Pāḷi dari teks-teks Sinhala awal tambahan. Teks-teks ini meliputi mulai dari himne puitis dalam perayaan Buddha, kronik-kronik yang menelusuri milenium pertama sejarah Buddhis, sampai pada buku pelajaran Abhidhamma yang detail. Sebagian besar karya-karya pasca-kitab suci, termasuk kitab-kitab sub-komentar, diselesaikan pada abad ke-12.

Literatur Pāḷi pasca-kitab suci melengkapi Tipiṭaka dalam beberapa cara yang penting. Pertama, kronik-kronik dan kitab-kitab komentar memberikan sehelai benang kontinuitas waktu yang penting yang menghubungkan kita, via orang-orang dan peristiwa-peristiwa historis pada abad yang bersangkutan, dengan dunia Tipiṭaka dari India kuno. Sebuah Tipiṭaka tanpa adanya benang historis yang menyertainya akan selamanya menjadi sebuah anakronisme atau ketidakcocokan zaman yang terisolasi bagi kita, pesannya hilang dalam awan-awan mitos dan fabel, halaman-halamannya hanya berdebu di rak pajangan museum bersebelahan dengan mumi-mumi Mesir kuno. Teks-teks ini mengingatkan kita bahwa Dhamma bukanlah sebuah artefak melainkan sebuah praktik, dan bahwa kita merupakan bagian dari barisan panjang para pencari yang telah berjuang, melalui praktik yang sabar, untuk menjaga ajaran-ajaran ini tetap hidup.

Kedua, hampir semua yang kita ketahui hari ini tentang tahun-tahun awal Buddhisme datang kepada kita dari buku-buku pasca-kitab suci ini. Meskipun bukti arkeologis dari era itu sangatlah sedikit dan Tipiṭaka itu sendiri memuat hanya sedikit sekali bagian yang menggambarkan peristiwa-peristiwa yang mengikuti kematian Buddha,1 kitab-kitab komentar dan kronik-kronik memuat sebuah harta karun informasi historis yang dengannya kita dapat secara parsial merekonstruksi sejarah awal dari Buddhisme. Teks-teks ini menerangi sejumlah besar peristiwa-peristiwa dan tren-tren historis yang penting: bagaimana Tipiṭaka dapat menjadi dilestarikan secara lisan; kapan Tipiṭaka pertama kali dituliskan, dan mengapa dituliskan; bagaimana Tipiṭaka mendekati kepunahan; bagaimana ajaran-ajaran Buddha menyebar menyeberangi Asia selatan; bagaimana dan kapan berbagai aliran dan faksi di dalam Buddhisme muncul; dan seterusnya. Namun ini bukanlah sekadar kepedulian tanpa tujuan untuk hiburan para akademisi. Praktisi mana pun, dari abad mana pun, mendapatkan manfaat dari memahami bagaimana para Buddhis awal-awal hidup, bagaimana mereka meletakkan ajaran-ajaran Buddha ke dalam praktik, tantangan-tantangan apa yang mereka hadapi; kita belajar dari mereka yang telah melewati sebelumnya. Dan ada pelajaran-pelajaran lain yang bisa dipelajari dari sejarah. Sebagai contoh, mengetahui bahwa adalah perbuatan-perbuatan dari sejumlah kecil individu yang mencegah kepunahan Tipiṭaka2 mengingatkan kita bahwa pada akhirnya terserah individu seperti kita untuk menjaga ajaran-ajaran hari ini. Tanpa teks-teks pasca-kitab suci, pelajaran-pelajaran penting semacam ini – jika bukan Tipiṭaka itu sendiri – mungkin telah hilang selamanya ke dalam kabut waktu.

Ketiga, teks-teks ini – khususnya kitab-kitab komentar – membantu kita memahami sutta-sutta dan memberikan kita petunjuk-petunjuk mengenai konteks yang mungkin terlewati oleh kita apabila tidak ada teks-teks tersebut. Sebagai contoh, Sutta Satipatthana yang terkenal (MN 10) sekarang ini dikutip secara populer sebagai bukti bahwa semua yang dibutuhkan seseorang untuk mencapai Kebangunan adalah satu atau dua minggu praktik perhatian yang tanpa mengendur. Namun kitab komentar (Papañcasudani) mengusulkan sudut pandang lain. Kitab komentar tersebut menjelaskan bahwa pendengar Buddha untuk khotbah tersebut (warga desa Kammasadammam) sebelumnya telah mantap di dalam praktik perhatian dan moralitas. Mereka tidak datang ke praktik meditasi “dingin” namun sebaliknya, pada kenyataannya, warga desa tersebut secara tidak biasa telah siap sepenuhnya untuk menerima ajaran yang mendalam ini – sebuah poin yang tidak jelas terlihat dari teks sutta itu sendiri. Kitab komentar dengan cara ini mengingatkan kita bahwa ada beberapa fundamental atau dasar yang penting yang harus dikembangkan sebelum seseorang menjalankan praktik meditasi yang intensif.

Akhirnya, kitab-kitab komentar sering kali memuat cerita-cerita yang luar biasa untuk mengilustrasikan dan memperkuat poin-poin Dhamma yang dibuat di dalam sutta-sutta. Sebagai contoh, Dhp 114 mengambil makna yang jauh lebih kaya di dalam cahaya cerita latar belakang dari kitab komentar – perumpamaan terkenal dari Kisagotami dan biji wijen.3 Cerita-cerita komentar seperti yang satu ini (dan ada lebih banyak lagi) memberikan ajaran-ajaran Dhamma yang berharga dalam kebenaran mereka sendiri.

Seseorang mungkin sangat beralasan bertanya-tanya: bagaimana bisa sekumpulan teks yang ditulis seribu tahun setelah kematian Buddha dapat merepresentasikan ajaran-ajarannya secara andal? Bagaimana kita dapat yakin sekumpulan teks tersebut bukanlah sekadar karya-karya turunan, yang diwarnai dengan sejumlah tambahan-tambahan kultural yang tidak relevan? Pertama-tama, meskipun banyak dari teks-teks ini memang benar pertama kali ditulis dalam bahasa Pāḷi seribu tahun setelah Buddha, sebagian besar teks-teks versi Sinhala yang mana merupakan asal teks-teks tersebut, ditulis jauh sebelumnya dan telah diturunkan melalui tradisi lisan yang kuno dan andal. Namun (seseorang mungkin membantah) bukankah teks-teks awal tersebut harus dicurigai, karena mereka didasarkan hanya pada apa yang didengar dari orang lain? Mungkin saja, namun dengan argumen ini maka kita seharusnya menolak seluruh tradisi lisan – dan maka dari itu seluruh Tipiṭaka itu sendiri, yang sama-sama muncul dari sebuah tradisi lisan lama sesudah kematian Buddha. Tentu saja itu terlalu jauh menanggapinya.

Namun bagaimana dengan kualitas kelayakan dari para komentator itu sendiri: dapatkah kata-kata mereka dipercaya? Sebagai tambahan, selain menjalani kehidupan kebhikkhuan di dalam Dhamma, para penyusun kitab komentar memiliki kualitas kelayakan literer (yang berhubungan dengan tradisi tulis) yang tidak dapat diragukan: pengetahuan yang sangat mendetail dan menyeluruh dengan Tipiṭaka, penguasaan bahasa Pāḷi dan Sinhala, dan kepakaran dalam seni ilmu pembelajaran yang terperinci. Kita tidak memiliki alasan untuk meragukan baik kemampuan maupun ketulusan niat mereka.

Dan apa pengertian Dhamma yang mereka alami sendiri: apabila para komentator adalah para pelajar yang pertama dan terdepan, akankah mereka telah memiliki pengalaman meditatif yang cukup untuk menulis dengan otoritas pada subjek meditasi? Ini menjadi lebih problematik. Mungkin para komentator seperti Buddhaghosa memiliki cukup waktu (dan jasa kebajikan yang telah diakumulasikan) baik untuk menguasai meditasi dan untuk pengejaran-pengejaran ilmiah yang mengesankan; kita tidak pernah tahu. Namun perlu dicatat bahwa perbedaan yang paling signifikan antara Kitab Suci dan kitab-kitab komentarnya mengenai meditasi – khususnya, adalah hubungan antara meditasi konsentrasi dan pandangan terang.4 Pertanyaan tentang otoritas dari teks-teks pasca-kitab suci, dengan demikian, tetap menjadi sebuah titik kontroversi dalam Buddhisme Theravada.

Adalah penting untuk diingat bahwa fungsi tertinggi dari teks-teks pasca-kitab suci adalah – seperti Tipiṭaka itu sendiri – untuk membantu para murid dalam pencarian panjang untuk nibbana, tujuan tertinggi dari praktik Buddhis. Kekhawatiran tentang siapa yang menulis dan otoritasnya surut ketika teks-teks dikenakan sikap skeptis sehat yang sama dan pendekatan empiris yang seharusnya akrab bagi setiap murid dari sutta-sutta. Jika sebuah kitab komentar mengalirkan cahaya pada sudut gelap dari sebuah sutta atau membantu kita mengerti poin halus dari Vinaya atau Abhidhamma, atau jika kronik-kronik mengingatkan kita bahwa kita memegang sejarah masa depan Dhamma di tangan kita, maka sampai sejauh itu mereka membantu kita membersihkan jalan di depan. Dan jika teks-teks tersebut dapat melakukan bahkan sebanyak itu, maka – tidak peduli siapa yang menulis mereka dan dari mana mereka datang – teks-teks ini telah mendemonstrasikan sebuah otoritas yang tidak bisa dicela.5

Pada panduan berikut, saya telah menyusun judul-judul pasca-kitab suci paling populer berdasarkan tema dan berdasarkan tanggal (Masehi). Nama-nama penulis diikuti dengan tanggal penulisannya (jika diketahui). Penulis dari teks-teks ini semuanya adalah bhikkhu, namun untuk kepentingan keringkasan, saya tidak mencantumkan sebutan kehormatan “Y.M.” pada nama mereka. Setiap judul yang sifatnya bukan komentar diikuti dengan penjelasan singkat. Banyak dari deskripsi-deskripsi ini diambil secara verbatim atau kata demi kata dari sumber-sumber lain (lihat Sumber-Sumber, di bawah). Nomor-nomor halaman dari sumber-sumber ini diberikan dalam {kurawal}. Kebanyakan dari judul-judul ini telah diterbitkan oleh Pāḷi Text Society (PTS) dalam bahasa Pāḷi yang diromanisasi; beberapa di antaranya yang terjemahan dalam bahasa Inggrisnya telah tersedia ditandai dengan sebuah tanda belati (†), diikuti dengan penerjemah, tanggal penerjemahan, dan penerbit.

Untuk tujuan dari panduan ini, teks-teks pasca-kitab suci dapat dikelompokkan ke dalam kategori-kategori berikut:

  • Kitab-kitab Komentar dan Kitab-kitab Sub-Komentar
  • Teks-teks Kuasi-Kitab Suci
  • Kronik-Kronik dan Penjelasan-Penjelasan Historis
  • Kehidupan Buddha
  • Manual-Manual Abhidhamma
  • Lain-Lain
Teks Sumber Kitab Komentar(Atthakatha) Kitab Sub-komentar (Tika)
Vinaya Piṭaka Samantapasadika (Buddhaghosa; abad ke-5) Vajirabuddhi-tika(Vajirabuddhi; abad ke-11 sampai ke-12), Saratthadipani (Sariputta; abad ke-12), Vimativinodani (Mahakassapadari Cola; abad ke-12)
Patimokkha Kankhavitarani (Buddhaghosa; abad ke-5) Vinayatthamañjusa (Buddhanaga; abad ke-12)
Sutta Piṭaka
Dīgha Nikāya Sumangalavilasini (Buddhaghosa; abad ke-5) Dighanikaya-tika (Dhammapala; abad ke-6)
Majjhima Nikāya Papañcasudani (Buddhaghosa; abad ke-5) Majjhimanikaya-tika (Dhammapala; abad ke-6)
Saṃyutta Nikaya Saratthappakasini (Buddhaghosa; abad ke-5) Saṃyuttanikaya-tika (Dhammapala; abad ke-6)
Aṅguttara Nikāya Manorathapurani (Buddhaghosa; abad ke-5) Saratthamañjusa-tika (Sariputta; abad ke-12)
Khuddaka Nikaya
Khuddakapatha Paramatthajotika (I) (Buddhaghosa; abad ke-5) -
Dhammapada Dhammapada-atthakatha (Buddhaghosa; abad ke-5) ’’†(E.W. Burlingame, 1921, PTS) -
Udana Paramatthajotika (I) (Buddhaghosa; abad ke-5) -
Khuddakapatha Paramatthadipani (I) / Udana-atthakatha (Dhammapala; abad ke-6) -
Itivuttaka Paramatthadipani (II) / Itivuttaka-atthakatha (Dhammapala; abad ke-6) -
Suttanipata Paramatthajotika (II) / Suttanipata-atthakatha (Buddhaghosa; abad ke-5) -
Vimanavatthu Paramatthadipani (III) / Vimanavatthu-atthakatha (Dhammapala; abad ke-6) -
Petavatthu Paramatthadipani (IV) / Petavatthu-atthakatha (Dhammapala; abad ke-6) -
Theragatha Paramatthadipani (V) / Theragatha-atthakatha (Dhammapala; abad ke-6) -
Therigatha Paramatthadipani (VI) / Therigatha-atthakatha (Dhammapala; abad ke-6) -
Jataka Jatakatthavannana / Jataka-atthakatha (Buddhaghosa;; abad ke-5) †(berbagai penulis, 1895, PTS) -
Niddesa Sadhammapajotika (Upasena; abad ke-5) -
Patisambhidamagga Sadhammappakasini (Mahanama; abad ke-6) -
Apadana Visuddhajanavilasini (tidak diketahui) -
Buddhavamsa Madhuratthavilasini (Buddhadatta; abad ke-5) †(I.B. Horner, 1978, PTS) -
Cariyapitaka Paramatthadipani (VII) / Cariyapitaka-atthakatha (Dhammapala; abad ke-6) -
Nettipakarana, Petakopadesa, Milindapañha Tidak ada kitab komentar untuk buku-buku ini, yang muncul hanya di Tipiṭaka edisi bahasa Birma. Lihat Nettipakarana, Petakopadesa, dan Milindapañha, di bawah.
Abhidhamma Piṭaka
Dhammasangani Atthasalini (Buddhaghosa; abad ke-5) †(Pe Maung Tin, 1920, PTS) Linatthapada-vannana (Ananda Vanaratanatissa; abad ke-7 sampai ke-8)
Vibhanga Sammohavinodani (Buddhaghosa; abad ke-5) †(U Narada, 1962, PTS) -
Katthavatthu, Puggalapaññatti, Dhatukatha, Yamaka, Patthana Pañcappakaranatthakatha (Buddhaghosa; abad ke-5). Kitab komentar ini mencakup kelima buku. Terjemahan bahasa Inggris ada untuk porsi-porsi yang berkaitan dengan Katthavatthu †(B.C. Law, 1940, PTS), Dhatukatha †(U Narada, 1962, PTS), dan Patthana †(U Narada, 1969, PTS) -
  • Nettipakarana dan Petakopadesa (Mahakaccayana?; sekitar abad ke-1?). “Buku Pedoman” dan “Instruksi pada Piṭaka,” secara berurutan. Buku-buku ini adalah pendahuluan untuk ajaran-ajaran Buddhisme. Sumber materinya diambil langsung dari Sutta Piṭaka. {HPL hal. 100, 117-18} Kedua buku ini muncul di dalam Khuddaka Nikaya dari Tipiṭaka Birma (tetapi tidak di dalam Tipiṭaka Thai ataupun Sri Lanka). †(Ñanamoli, 1962 & 1964, PTS)
  • Milindapañha (penulis tidak diketahui; awal Masehi). “Pertanyaan-Pertanyaan Milinda.” Sebuah catatan tentang dialog-dialog antara Raja Milinda (Raja Yunani Baktria Menander, sekitar abad ke-2 SM, yang memerintah sebagian besar wilayah yang sekarang menjadi Afganistan) dengan bhikkhu senior Nagasena mengenai poin-poin inti doktrin Buddhis. {QKM hal. 4} Teks ini kemungkinan didasarkan pada sebuah karya bahasa Sanskerta yang disusun sekitar awal Masehi, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Pāḷi di Sri Lanka sebelum abad ke-4 Masehi; beberapa tambahan kemungkinan dibuat setelahnya. {PLL hal. 26 ¶20; HPL hal. 94}. Buku ini muncul di dalam Khuddaka Nikaya dari Tipiṭaka Birma (tetapi tidak di dalam Tipiṭaka Thai ataupun Sri Lanka). Pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Sinhala pada 1777. †(I.B. Horner, 1963, PTS)
  • Paritta (editor dan tanggal tidak diketahui). Koleksi kuno ini memuat materi yang dikutip langsung dari Tipiṭaka; dua puluh empat sutta pendek dan beberapa kutipan singkat, termasuk tiga perlindungan, aturan-aturan moralitas, sepuluh pertanyaan untuk bhikkhu baru, dan sebuah tinjauan ulang pada tiga puluh dua bagian tubuh. Di negara-negara Buddhis, bhikkhu-bhikkhu sering mengulang bagian-bagian dari Paritta selama pertemuan-pertemuan seremonial yang penting (hari-hari bulan-purnama yang khusus, upacara-upacara kremasi, pemberkahan-pemberkahan, peresmian-peresmian vihara baru, dll.). Teks-teks Paritta telah lama dianggap sebagai sesuatu yang memberikan kekuatan-kekuatan perlindungan yang spesial kepada mereka yang mendengar atau mengulangnya. †(banyak; lihat, sebagai contoh, Buku Perlindungan, oleh Piyadassi Thera, 1999, BPS)
  • Dipavamsa (penulis tidak diketahui; setelah abad ke-4). “Kronik Pulau.” Buku ini, buku pertama yang dikenal yang ditulis di (dan mengenai) Sri Lanka, merincikan awal sejarah Buddhis di pulau tersebut, dari kunjungan-kunjungan pertama yang legendaris dari Buddha sampai konversi pulau tersebut oleh Y.M. Mahinda (abad ke-3 SM). {HPL hal. 53}
  • Mahavamsa (Mahanama; abad ke-6). “Kronik Besar.” Sebuah sejarah tentang Sri Lanka dari kunjungan pertama Buddha sampai pergantian abad ke-4. Teks ini didasarkan pada Dipavamsa, namun memuat materi baru yang diambil dari Atthakatha (kitab-kitab komentar). {PLL hal. 36 ¶28} Teks ini telah lama berperan sebagai referensi utama bagi para sejarawan dan pelajar Buddhis. †(W. Geiger & Mabel H. Bode, 1912, PTS)
  • Culavamsa (berbagai penulis). “Kronik yang Lebih Kecil” Sebuah kelanjutan dari Mahavamsa, yang melanjutkan dari pergantian abad ke-4 sampai kejatuhan raja terakhir Sinhala Kandy (1815). {PLL hal. 44 ¶38} Kontributornya adalah: Dhammakitti (abad ke-12), seorang penulis anonim sebelum abad ke-18, Tibbotuvave Buddharakkhita (abad ke-18), dan Hiddakuve Sumangala (1877). Banyak sejarawan sekarang menganggap Culavamsa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Mahavamsa, pembedaan artifisial antara kedua Kronik telah diperkenalkan pada akhir abad ke-19 oleh pelajar bahasa Pāḷi terkemuka Wilhelm Geiger. {HPL hal. 81} †(Mrs. C. Mabel Rickmers, 1929, PTS)
  • Vamsatthappakasini (penulis tidak diketahui, abad ke-6). Kitab komentar dari Mahavamsa. Karena Mahavamsa itu sendiri adalah perluasan dari Dipavamsa yang lebih pendek, Vamsatthappakasini biasanya dianggap sebagai kitab sub-komentar (tika). {PLL hal. 42 ¶35}
  • Mahabodhivamsa (Upatissa; abad ke-11). Penjelasan tentang pohon bodhi yang suci dari Anuradhapura, Sri Lanka, sebagian besar adalah sebuah kompilasi materi dari teks-teks yang lebih tua, termasuk Mahavamsa. {PLL hal. 36-37 ¶29} Buku ini dihormati di Sri Lanka dan “telah melahirkan lebih dari lima puluh judul tambahan, baik dalam bahasa Pāḷi maupun Sinhala.” {HPL hal. 78} (Catatan: pohon bodhi di Anuradhapura terus menjadi tempat tujuan yang penting bagi jutaan peziarah Buddhis. Pohon raksasa ini dikatakan keturunan langsung dari potongan yang diambil dari pohon bodhi yang orisinal dimana Buddha memperoleh pencerahan, dan dibawa (sekitar 240 SM) oleh Y.M. Bhikkhuni Sanghamitta pada sebuah ekspedisi misionaris ke Anuradhapura.)
  • Thupavamsa (Vacissara; abad ke-12). Sebuah kronik tentang Mahathupa (Maha Stupa) di Anuradhapura, Sri Lanka. {HPL hal. 163} Karya ini “hanyalah sebuah kompilasi potongan-potongan dari Nidanakatha [bagian pengantar untuk Jatakatthavannana], Samantapasadika, dan Mahavamsa dengan tika-nya [Vamsatthappakasini].” {PLL hal. 41 ¶34}
  • Dathavamsa (Dhammakitti; abad ke-13). Sebuah puisi yang menceritakan sejarah awal Relik Gigi suci Buddha, sejak saat pemindahannya dari tumpukan kayu kremasi Buddha sampai pembangunan vihara pertama di Anuradhapura, Sri Lanka (abad ke-4). {HPL hal. 40-41} Karya ini didasarkan pada materi yang ditemukan di Mahavamsa bersamaan dengan tambahan-tambahan yang “kemungkinan diambil dari tradisi lokal Sailan.” {PLL hal. 41 ¶34} (Catatan: Relik Gigi – sekarang disimpan di Vihara Gigi yang Suci di Kandy, Sri Lanka – yang sampai saat ini masih menjadi tempat tujuan favorit bagi para peziarah.)
  • Samantakutavannana (Vedehathera; abad ke-13). “Deskripsi Puncak Adam.” Sebuah puisi dalam 796 bait yang mengisahkan cerita dari kehidupan Buddha dan legenda tentang tiga kunjungannya ke Sri Lanka, termasuk kunjungan ketiganya, yang mana dikatakan pada kunjungan tersebut ia meninggalkan jejak kaki kirinya di puncak yang sekarang kita kenal sebagai Puncak Adam. {PLL hal. 43 ¶36} (Catatan: Puncak Adam, di hutan-hutan sentral dari pulau, terus menjadi titik ziarah yang terkenal bagi umat-umat Buddha Sri Lanka.) †(A. Hazelwood, 1986, PTS)
  • Hatthavanagalla-viharavamsa (penulis tidak diketahui, abad ke-13). Kisah hidup, dalam bentuk prosa dan sajak, dari raja Buddhis Sirisanghabodhi (sekitar 247-249 Masehi) dari Anuradhapura, Sri Lanka. {HPL hal. 55} Pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Sinhala pada abad ke-14.
  • Saddhamma-sangaha (Dhammakitti Mahasami; Thai; abad ke-14). Garis besar sejarah literer dan eklesiologi Buddhisme, termasuk empat konsili pertama, penulisan pertama dari Tipiṭaka, dan penulisan Tika-Tika (kitab-kitab sub komentar). Sumber materi untuk buku ini berasal dari Tipiṭaka dan Atthakatha-Atthakatha. {HPL hal. 129-30}
  • Cha-kesadhatuvamsa (penulis Birma yang tidak diketahui). Sebuah sejarah singkat dari pembangunan enam stupa yang menyimpan relik-relik rambut yang diberikan secara pribadi oleh Buddha kepada enam arahat. {HPL hal. 36-37}
  • Gandhavamsa (penulis Birma yang tidak diketahui; abad ke-19?). Sebuah katalog komentator-komentator Buddhis kuno dan karya-karya mereka. {PLL hal. 48 ¶44.5}
  • Sasanavamsa (Paññasamin; Birma; abad ke-19). Sebuah sejarah Buddhisme di India sampai Konsili ketiga, dan kemudian di Sri Lanka dan negara-negara lainnya yang mana misi-misi Buddhis telah dikirim ke sana. Sumber teks-teks untuk karya ini termasuk Samantapasadika, Dipavamsa, Mahavamsa, dan kronik-kronik Birma. {PLL hal. 49 ¶44} †(B.C. Law, 1952, PTS)
  • Jinalankara (Buddharakkhita; abad ke-12). Puisi 278 sajak ini memberikan sebuah penjelasan tentang kehidupan Buddha sampai pencerahannya. {PLL hal. 41 ¶34.3}
  • Anagata-vamsa (Mahakassapa dari Cola; abad ke-12?). Cerita kehidupan dari Metteyya, Buddha selanjutnya, diceritakan di dalam sajak. {HPL hal. 9}
  • Jinacarita (Medhankara; abad ke-13). Sebuah penjelasan tentang kehidupan Buddha, diceritakan dalam puisi 472 sajak. {HPL hal. 64}
  • Pajjamadhu (Buddhapiya Dipankara; abad ke-13). Puisi 104 bait dalam pujian terhadap keindahan fisik dan kebijaksanaan Buddha. {PLL hal. 44}
  • Jinakalamali (Ratanapañña; Thai; abad ke-16). Penjelasan tentang kehidupan Buddha ini diawali dengan kelahirannya pada kehidupan lampaunya sebagai Raja India Sattutapa, dan berlanjut melalui kehidupan-kehidupan berikutnya sampai kelahiran terakhirnya sebagai Siddhattha Gotama. Penjelasan ini juga mencakup deskripsi-deskripsi kunjungan-kunjungan Buddha ke Sri Lanka, pendirian Buddhisme disana, dan kemunculan awal Buddhisme di Thailand. {HPL hal. 65} †(N.A. Jayawickrama, 1962, PTS)
  • Abhidhammavatara (Buddhadatta; abad ke-5). Sebuah ringkasan pengantar dari Abhidhamma. Abhidhammattha-sangaha akhirnya menggantikannya sebagai panduan terbaik untuk Abhidhamma. {HPL hal. 5-6}
  • Ruparupa-vibhaga (Buddhadatta; abad ke-5). Sebuah “manual singkat tentang Abhidhamma.” {HPL hal. 195}
  • Saccasankhepa (Culla-Dhammapala; India Selatan; abad ke-7). “Elemen-Elemen Kebenaran.” Sebuah “risalah singkat tentang Abhidhamma.” {HPL hal. 125; PLL hal. 34 ¶26}
  • Abhidhammattha-sangaha (Anuruddha; abad ke-10?). Sebuah ringkasan Abhidhamma, digunakan sampai hari ini sebagai sebuah teks pengantar ke Abhidhamma. †(S.Z. Aung dan Mrs. C.A.F. Rhys Davids, 1910, PTS; sebuah terjemahan bahasa Inggris modern yang sangat unggul untuk teks ini adalah A Comprehensive Manual of Abhidhamma oleh Bhikkhu Bodhi, 1993, BPS)
  • Namarupa-pariccheda (Anuruddha; abad ke-10?). Sebuah “pengantar untuk studi Abhidhamma,” dalam bentuk sajak. {HPL hal. 99}
  • Paramattha-vinicchaya (Anuruddha; abad ke-10?). Sebuah “teks Abhidhamma.” {HPL hal. 113}
  • Khemappakarana (Namarupa-samasa) (Khema; abad ke-10). Sebuah “manual pendek tentang Abhidhamma.” {HPL hal. 73}
  • Mohavicchedani (Mahakassapa dari Cola; abad ke-12). Sebuah manual tentang matika-matika (topik-topik) dari tujuh buku Abhidhamma. Salah satu dari karya-karya Pāḷi terakhir yang ditulis di India. {HPL hal. 97-98}
  • Namacaradipaka (Chappata; Birma, abad ke-15). Sebuah “karya tentang Abhidhamma.” {HPL hal. 193}
  • Vimuttimagga (Upatissa; abad ke-1). “Jalan Kebebasan.” Sebuah manual pendek yang meringkas jalan dari praktik Buddhis. Teks Pāḷi yang orisinal sudah lama diyakini telah hilang; oleh karena itu selama berabad-abad, pembahasan-pembahasan mengenai teks tersebut mengandalkan pada edisi bahasa Cina abad ke-5. Sebuah edisi bahasa Pāḷi diterbitkan pada tahun 1963. {HPL hal. 175-6} †(Ehara, Soma Thera, dan Kheminda Thera, 1967, BPS)
  • Visuddhimagga (Buddhaghosa; abad ke-5). “Jalan Pemurnian.” Sebuah manual penting tentang meditasi Buddhis, didasarkan pada Tipiṭaka Pāḷi dan kitab-kitab komentar kuno Sinhala. Ini adalah opus atau karya besar pertama milik Buddhaghosa, ditulis atas permintaan para tetua dari komunitas Mahavihara “dalam rangka menguji kemampuannya sebelum mempercayakan kepadanya tugas berat dan tanggung jawab penerjemahan kitab-kitab komentar Sinhal[a] ke bahasa Pāḷi.” {EHBC hal. 4} Penekanan Visuddhimagga pada praktik-praktik meditasi yang sedikit sekali disebutkan di dalam sutta-sutta (meditasi-meditasi kasina) mengobarkan kontroversi mengenai hubungan antara jhana dan vipassana yang masih berlangsung hingga hari ini. {BR hal.145} †(Pe Maung Tin, 1923-31, PTS; Ñanamoli Thera, 1956, BPS)
  • Vinayavinicchaya (Buddhadatta; abad ke-5). Sebuah ringkasan, dalam bentuk sajak, dari empat buku pertama dari Vinaya. {HPL hal. 177}
  • Uttaravinicchaya (Buddhadatta; abad ke-5). Sebuah ringkasan, dalam bentuk sajak, dari Parivara, buku kelima dan terakhir dari Vinaya. {HPL hal. 167; PLL hal. 33 ¶25}
  • Paramatthamañjusa (Dhammapala; abad ke-6). Kitab komentar tentang Visuddhimagga. Ini, yang paling awal dari semua tika, “menjelaskan secara detail referensi singkat yang ditemukan di dalam Visuddhimagga…[,] menyediakan sebuah gudang penyimpanan interpretasi-interpretasi tradisional” dari Dhamma, dan menyediakan pembahasan-pembahasan tentang tata bahasa Pāḷi. {HPL hal. 111-13}
  • Khuddasikkha (Dhammasiri; setelah abad ke-11) dan Mulasikkha (Mahasamin; setelah abad ke-11). Keduanya adalah ringkasan pendek tentang disiplin kebhikkhuan, dimaksudkan untuk dipelajari dengan hati. {PLL hal. 35 ¶27}
  • Upasaka-janalankara (Sihala Acariya Ananda Mahathera; abad ke-13). “Sebuah manual dalam bahasa Pāḷi yang membahas tentang ajaran-ajaran Buddha untuk umat awam.” {HPL hal. 168}
  • Sarasangaha (Siddhattha; abad ke-13). Sebuah “manual Dhamma” dalam prosa dan sajak. {HPL hal. 141}
  • Sandesakatha dan Sima-vivada-vinichaya-katha (keduanya ditulis oleh penulis Birma yang tidak diketahui; abad ke-19). Kedua karya ini “memberikan keterangan tambahan yang menarik tentang hubungan antara Sailan dengan Birma.” {PLL hal. 48 ¶44}
  • Pañcagatidipana (penulis dan tanggal tidak diketahui). Sebuah puisi 114 bait yang menggambarkan lima bentuk kelahiran kembali: di neraka, sebagai seekor binatang, sebagai sesosok hantu kelaparan (peta), sebagai seorang manusia, atau sebagai sesosok makhluk surgawi (dewa).{PLL hal. 45 ¶40}
  • Saddhammopayana (penulis dan tanggal tidak diketahui). Sebuah koleksi dari 629 sajak pendek dalam memuji Dhamma. {PLL hal. 46 ¶41}
  • Tela-katha-gatha (penulis dan tanggal tidak diketahui). “Sajak-Sajak Ketel-Minyak” Sebuah puisi yang 98 baitnya “dihubungkan ke seorang Thera [bhikkhu senior] yang dihukum dilempar ke dalam sebuah wadah berisi penuh dengan minyak mendidih. Ia telah secara salah dituduh memberikan bantuan secara tidak langsung dalam sebuah intrik permaisuri Raja Tissa… Minyak mendidih tersebut tidak dapat melukai Thera dan ia mengucapkan bait-bait” yang “membahas tentang kematian dan pemikiran tentang kematian, tentang kefanaan, tentang penderitaan, dan tentang ketidaknyataan jiwa, dll.” {PLL hal. 46 ¶41}

Catatan Kaki
  1. Sebagai contoh, DN 16, MN 108, dan Vinaya Cullavagga XI dan XII.
  2. Dalam dekade-dekade awal abad ke-1 SM di Sri Lanka – yang kemudian menjadi pusat ilmu pembelajaran Buddhis Theravada dan pelatihan kebhikkhuan – beberapa kekuatan yang bergabung yang mengancam keberlangsungan tradisi lisan kuno yang melalui tradisi lisan tersebut Tipiṭaka Pāḷi telah diturunkan dari satu generasi bhikkhu-bhikkhu ke generasi berikutnya. Sebuah pemberontakan melawan raja dan invasi-invasi dari India selatan memaksa banyak bhikkhu mengungsikan diri dari pulau. Pada saat yang sama, sebuah paceklik yang belum pernah terjadi sebelumnya menimpa pulau tersebut selama dua belas tahun. Kitab-kitab komentar menceritakan cerita-cerita heroik para bhikkhu yang, takut harta karun Tipiṭaka dapat selamanya hilang, melarikan diri ke pantai selatan yang relatif aman, di mana mereka bertahan hidup hanya dengan akar-akar dan dedaunan, mengulang teks-teks di antara mereka sendiri siang dan malam. Kelangsungan Tipiṭaka hanya tergantung pada seutas benang; bahkan pada satu titik hanya tersisa satu orang bhikkhu yang mampu mengulang Niddesa. {PLL hal. 76}
  3. Kitab komentar menceritakan bagaimana Kisagotami, yang hilang akal karena kematian putranya, menggendong mayatnya dari pintu ke pintu, dalam pencarian sebuah obat untuk penyakit anaknya. Akhirnya ia bertemu Buddha, yang berjanji memberikan obatnya jika ia mengambilkan sedikit biji moster dari sebuah rumah tangga yang belum pernah tersentuh kematian. Tidak mampu menemukan rumah tangga semacam itu, ia akhirnya kembali ke akal sehatnya, memahami ketidakterelakkan kematian, dan pada akhirnya mampu melepaskan mayat dan dukanya. (Cerita lengkap tentang kehidupan Kisagotami diceritakan kembali di dalam Great Disciples of the Buddha, Bhikkhu Bodhi, ed. (Boston: Wisdom Publications, 1997).)
  4. Lihat BR hal.145.
  5. Lihat “‘Ketika kamu mengetahui untuk dirimu sendiri…’; Autentisitas dari Sutta-Sutta Pāḷi,” oleh Bhikkhu Thanissaro.