Sharing tentang Sotapanna ini agak panjang, karena saya mengutip dari berbagai Sutta yang saya anggap penting. Kiranya sharing ini lebih cocok untuk mereka yang berlatar Theravada Buddhism yang lebih terbiasa membaca Sutta-Vinaya Theravada. Boleh minum kopi sambil baca supaya ngak ngantuk (,“) Mudah-mudahan dapat membawakan manfaat.

Saya akan berbagi dalam 3 bagian, bagian pertama tentang faktor-faktor pendorong, bagian kedua tentang 3 belenggu rendah yang telah dipatahkan dan bagian ketiga tentang kualitas/karakter & berkah seorang Sotapanna.

Dhammapada 178:

“Ada yang lebih baik daripada kekuasaan mutlak atas bumi, daripada pergi ke surga, atau daripada memerintah seluruh dunia, yakni hasil kemuliaan dari seorang suci yang telah memenangkan arus (sotapatti-phala)” Dhamma ini hanya untuk mereka yang bijaksana bukan kepada mereka yang tanpa kebijaksanaan. Namun demikian, penembusan Dhamma bukanlah tidak memungkinkan. Walaupun kematangan batin masing-masing pribadi adalah berbeda dari yang satu dengan yang lain. Tetapi bila pencapaian itu belum memungkinkan dalam kehidupan ini, setidaknya kita telah memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pencapaian Ariya tingkat pertama ini.

Samyutta Nikaya 55.6.5 menjelaskan tentang 4 hal yang bila dikembangkan dan dilatih, menuntun pada pencapaian buah Pemasuk Arus yakni:

  • Bergaul dengan mereka yang bijaksana
  • Mendengarkan Dhamma yang asli
  • Perhatian/Pengamatan yang seksama
  • Praktek yang sesuai dengan Dhamma

Mari kita lihat dengan lebih mendetail tentang faktor-faktor yang mendorong pada pencapaian buah Pemasuk Arus di bawah ini.

Mereka yang bagaimana yang dapat dikatakan sebagai bijaksana, yang dapat mendorong pada kemajuan spiritual? Di Anguttara Nikaya 8.54, dijelaskan tentang persahabatan yang baik sebagai berikut:

Dan apakah persahabatan yang baik itu? Di sini, Byagghapajja, di desa atau kota mana pun perumah tangga itu tinggal, dia berteman dengan para perumah tangga dan putra putranya, baik muda atau tua yang matang dalam moralitas, mantap dalam keyakinan, kedermawanan, dan kebijaksanaan; dia bercakap-cakap dengan mereka dan berdiskusi dengan mereka. Dia berusaha menyamai berkenaan dengan pencapaian mereka dalam keyakinan, moralitas, kedermawanan, dan kebijaksanaan. Inilah yang disebut persahabatan yang baik.

Empat hal ini, Byagghapajja, membawa pada kesejahteraan dan kebahagiaan seorang perumah-tangga di dalam kehidupan sekarang ini dan kehidupan yang akan datang. Apakah yang empat itu? Pencapaian dalam keyakinan, moralitas, kedermawanan, dan kebijaksanaan.

Dan bagaimana seorang perumah-tangga mantap dalam keyakinan? Di sini, Byagghapajja, seorang perumah-tangga memiliki keyakinan; dia meletakkan keyakinannya pada pencerahan Sang Tathagata demikian : Karena itulah Bhagava, Beliau adalah Yang Mahasuci, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna Pengetahuan serta tindak tanduk-Nya, Sempurna menempuh jalan ke Nibbana, Pengetahu segenap alam, Pembimbing manusia yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, Yang sadar, Yang patut dimuliakan. Dengan cara inilah seorang perumah-tangga mantap dalam keyakinan.

Dan bagaimana seorang perumah-tangga mantap dalam moralitas? Di sini, Byagghapajja, seorang perumah tangga tidak menghancurkan kehidupan, tidak mencuri, tidak berperilaku seksual yang menyimpang, tidak berbicara yang tidak benar, tidak minum anggur, minuman keras dan apa pun lainnya yang bersifat meracuni yang menjadi landasan kelalaian. Dengan cara inilah seorang perumah-tangga mantap dalam moralitas.

Dan bagaimana seorang perumah-tangga mantap dalam dermawanan? Di sini, Byagghapajja, seorang perumah-tangga berdiam di rumah dengan pikiran yang bersih dari noda kekikiran, dia dermawan secara bebas, suka menolong, bergembira dalam berdana, orang yang senang beramal, senang berdana dan berbagi. Dengan cara inilah seorang perumah-tangga mantap dalam kedermawanan.

Dan bagaimana seorang perumah-tangga mantap dalam kebijaksanaan? Di sini, Byagghapajja, seorang perumah-tangga memiliki kebijaksanaan yang melihat ke dalam muncul dan lenyapnya fenomena, yang mulia dan menembus dan menuju pada musnahnya penderitaan secara total. Dengan cara inilah seorang perumah-tangga mantap dalam kebijaksanaan. Kemudian di Anguttara Nikaya 10.61:

Para bhikkhu, ketika hubungan dengan orang-orang yang bijak terjadi, mendengarkan Dhamma sejati pun terjadi. Ketika mendengarkan Dhamma sejati terjadi, keyakinan pun terjadi. Ketika keyakinan terjadi perhatian yang benar pun terjadi. Ketika perhatian yang benar terjadi, kewaspadaan dan pemahaman yang jernih pun terjadi. Ketika kewaspadaan dan pemahaman yang jernih terjadi, pengendalian indera pun terjadi. Ketika pengendalian indera terjadi, tiga cara perilaku yang baik pun terjadi. Ketika tiga cara perilaku yang baik terjadi, empat landasan kewaspadaan pun terjadi. Ketika empat landasan kewaspadaan terjadi, tujuh faktor pencerahan pun terjadi. Ketika tujuh faktor pencerahan terjadi, pembebasan oleh pengetahuan tertinggi pun terjadi. Itulah makanan bagi pembebasan oleh pengetahuan tertinggi, dan demikianlah pembebasan oleh pengetahuan tertinggi terjadi.

Kutipan Sutta diatas menjelaskan tentang pentingnya bergaul dengan mereka yang bijaksana/memiliki persahatan yang baik. Hal ini ditegaskan oleh Sang Buddha kepada Bhante Ananda di Samyutta Nikaya 3.2.8 bahwa sahabat yang baik (yang memahami Dhamma) merupakan keseluruhan daripada pelatihan dalam kehidupan suci.

Ref: Baca juga Majjhima Nikaya 110 tentang penjelasan Sang Buddha mengenai karakter manusia sejati dan yang bukan.

Dhammapada 162:

Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia, sungguh sulit kehidupan manusia, sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Dhamma yang asli, begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.

Di Digha Nikaya 16, Sang Buddha memberikan wewenang besar dalam menentukan apa yang merupakan pernyataan Beliau, yang berpedoman kepada Sutta-Vinaya:

Seorang bhikkhu mungkin berkata : “Di depan dan dari mulut Sang Bhagava sendiri saya mendengar dan menerima pernyataan : “Ini Dhamma, ini Vinaya, ini ajaran Guru.”

Para bhikkhu, kata-kata yang diungkapkan oleh bhikkhu itu seharusnya tidak diterima dengan pujian atau pun celaan. Tanpa pujian dan celaan semua kata dan ungkapan itu haruslah dimengerti dengan baik dan dibandingkan dengan Sutta dan Vinaya. Bila setelah dibandingkan, kata-kata dan ungkapan itu tidak sesuai dengan Sutta dan Vinaya, maka kamu sekalian dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya itu bukan ucapan Sang Bhagava dan telah disalahmengerti oleh bhikkhu itu. Kamu sekalian harus menolak pernyataan itu. Tetapi, jikalau kata-kata dan ungkapan itu sesuai dengan Sutta dan Vinaya, maka kamu sekalian dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya itu ucapan Sang Bhagava dan telah dimengerti dengan baik oleh bhikkhu itu. Ini harus diterima sebagai Mahapadesa pertama.

Seorang bhikkhu mungkin berkata : “Di tempat tertentu ada Sangha dengan para thera dan pemimpinnya. Di depan Sangha itu saya mendengar dan menerima pernyataan : “Ini Dhamma, ini Vinaya, ini ajaran Guru. ”

Para bhikkhu, kata-kata yang diungkapkan oleh bhikkhu itu seharusnya tidak diterima dengan pujian atau pun celaan …. Ini harus diterima sebagi Mahapadesa kedua.

Seorang bhikkhu mungkin berkata: “Di tempat tertentu ada banyak bhikkhu thera dalam Sangha yang telah banyak belajar, berkeyakinan sama dengan para pendahulu, banyak mengetahui Dhamma, Vinaya dan menguasai ikhtisar. Di depan para bhikkhu thera itu saya mendengar dan menerima pernyataan : “Ini Dhamma, ini Vinaya dan ini ajaran Guru. ”

Para bhikkhu, kata-kata yang diungkapkan oleh bhikkhu itu seharusnya tidak diterima dengan pujian atau pun celaan …. Ini harus diterima sebagai Mahapadesa ketiga.

Seorang bhikkhu mungkin berkata: “Di tempat tertentu ada seorang bhikkhu yang telah banyak belajar, berkeyakinan sama dengan para pendahulu, banyak mengetahui dhamma, vinaya dan menguasai iktisar. Di depan bhikkhu tsb saya mendengar dan menerima pernyataan: “Ini Dhamma, ini Vinaya dan ini ajaran Guru. ”

Para bhikkhu, kata-kata yang diungkapkan oleh bhikkhu itu seharusnya tidak diterima dengan pujian maupun celaan. Tanpa pujian dan celaan semua kata dan ungkapan itu haruslah dimengerti dengan baik dan dibandingkan dengan Sutta dan Vinaya. Bila setelah dibandingkan, kata-kata dan ungkapan itu tidak sesuai dengan Sutta dan Vinaya, maka kamu sekalian dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya itu bukan ucapan Sang Bhagava dan telah disalahmengerti oleh bhikkhu itu. Kamu sekalian harus menolak pernyataan itu. Tetapi, jikalau kata-kata dan ungkapan itu sesuai dengan Sutta dan Vinaya, maka kamu sekalian dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya itu ucapan Sang Bhagava dan telah dimengerti dengan baik oleh bhikkhu itu. Ini harus diterima sebagai Mahapadesa keempat. ”

Wewenang besar di atas juga dapat ditemui di Anguttara Nikaya 4.180. Secara spesifik Sang Buddha merujuk khotbah-khotbah Beliau sebagai Sutta-Sutta.

Sebagaimana Sang Buddha berkata pada Bhante Ananda bahwa diri-Nya adalah sahabat baik yang dapat menuntun para makhluk menuju pembebasan, dan seperti yang disebutkan Sang Buddha sendiri diatas, bahwa kita harus senantiasa berpedoman pada Sutta-Vinaya sebagai kata-kata Beliau yang diutamakan, maka Dhamma yang asli itu diwujudkan dalam Sutta dan Vinaya. Bagi perumah tangga: Sutta-Sutta kumpulan tertua dalam 4 Nikaya yakni Digha Nikaya, Majjhima Nikaya, Samyutta Nikaya dan Anguttara Nikaya serta beberapa buku bagian dari Khuddhaka Nikaya yang tidak bertentangan dengan 4 Nikaya di atas [Ref: Liberation – Relevance of Sutta Vinaya & Kisah sebuah Rakit Tua]. Intisari ajaran Sang Buddha dalam 4 Nikaya ini, bila dapat ditarik dan dipahami dengan baik, mampu membawa pada pembebasan.

Mengapa perlu mendengarkan Dhamma atau membaca Sutta? Anguttara Nikaya 5.202 menjelaskan lima manfaat dari mendengarkan Dhamma (membaca Sutta) yakni:

  • Mendengar/mengetahui apa yang belum pernah didengar/diketahui sebelumnya.
  • Memastikan apa yang sudah didengar/diketahui sebelumnya
  • Menghilangkan keraguan
  • Memperoleh pandangan benar
  • Batin menjadi tenang

Di Anguttara Nikaya 8.53 Sang Buddha menjelaskan pada Mahapajapati Gotami sbb:

“Bila, Gotami, engkau mengetahui hal-hal secara pasti: ‘Hal-hal ini menuju pada nafsu, bukan pada tanpa-nafsu; pada kemelekatan, bukan pada tanpa-kemelekatan; pada pengumpulan, bukan pada pelepasan; pada memiliki banyak keinginan, bukan pada memiliki sedikit keinginan; pada ketidakpuasan, bukan pada kepuasan; pada suka berkumpul, bukan pada kesendirian; pada kelambanan, bukan pada kebangkitan semangat; pada kehidupan yang mewah, bukan pada kesederhanaan’ – tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: “Ini bukanlah Dhamma; ini bukanlah Vinaya; ini bukanlah Ajaran Sang Guru.”

“Tetapi, Gotami, bila engkau mengetahui hal-hal secara pasti: ‘Hal-hal ini menuju pada tanpa-nafsu, bukan pada nafsu; pada tanpa-kemelekatan, bukan pada kemelekatan; pada pelepasan, bukan pada pengumpulan; pada memiliki sedikit keinginan, bukan pada memiliki banyak keinginan; pada kepuasan, bukan pada ketidakpuasan; pada kesendirian, bukan pada berkumpul; pada kebangkitan semangat, bukan pada kelambanan; pada kesederhanaan, bukan pada kehidupan mewah’ – tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: “Ini adalah Dhamma; ini adalah Vinaya; ini adalah Ajaran Sang Guru.”

Di Majjhima Nikaya 2 dijelaskan dengan sangat baik mengapa perhatian/pengamatan yang seksama itu diperlukan, perhatian yang tidak diarahkan dengan baik, melahirkan beberapa pandangan yang keliru tentang ‘diri’.

“Noda-noda apakah, para bhikkhu, yang harus ditinggalkan lewat melihat? Di sini, para bhikkhu, manusia biasa yang tidak jeli, yang tidak memiliki rasa hormat bagi manusia-manusia agung serta tidak terampil dan tidak disiplin di dalam Dhamma mereka, yang tidak memiliki rasa hormat terhadap manusia sejati serta tidak terampil dan tidak disiplin di dalam Dhamma mereka, tidak memahami hal-hal apa yang pantas diperhatikan dan hal-hal apa yang tidak pantas diperhatikan. Karena itu, dia memperhatikan hal-hal yang tidak pantas diperhatikan dan tidak memperhatikan hal-hal yang pantas diperhatikan.”

Apakah hal-hal yang tidak pantas diperhatikan namun dia perhatikan? Itulah hal-hal yang jika dia perhatikan kemudian noda-noda lobha yang tadinya belum muncul akan muncul di dalam dirinya sedangkan noda-noda lobha yang telah muncul akan meningkat, noda-noda dosa yang tadinya belum muncul akan muncul di dalam dirinya sedangkan noda-noda dosa yang telah muncul akan meningkat, noda-noda moha yang tadinya belum muncul akan muncul di dalam dirinya sedangkan noda-noda moha yang telah muncul akan meningkat. Inilah hal-hal yang tidak pantas diperhatikan namun dia perhatikan. Dan apakah hal-hal yang pantas diperhatikan namun tidak dia perhatikan? Itulah hal-hal yang jika dia perhatikan kemudian noda-noda lobha yang tadinya belum muncul tidak akan muncul di dalam dirinya sedangkan noda-noda lobha yang telah muncul akan ditinggalkan, noda-noda dosa yang belum muncul tidak akan muncul di dalam dirinya sedangkan noda-noda dosa yang telah muncul akan ditinggalkan, noda-noda moha yang belum muncul tidak akan muncul di dalam dirinya sedangkan noda-noda moha yang telah muncul akan ditinggalkan. Inilah hal-hal yang pantas diperhatikan namun tidak dia perhatikan. Dengan memperhatikan hal-hal yang tidak pantas diperhatikan dan dengan tidak memperhatikan hal-hal yang pantas diperhatikan, maka noda-noda yang tadinya belum muncul akan muncul di dalam dirinya sedangkan noda-noda yang telah muncul akan meningkat.

Demikianlah caranya dia memperhatikan dengan tidak bijaksana: ‘Apakah aku ada di masa lalu? Apakah aku tidak ada di masa lalu? Menjadi apakah aku di masa lalu? Bagaimanakah aku di masa lalu? Setelah menjadi apa, lalu aku menjadi apa di masa lalu? Apakah aku akan ada di masa mendatang? Apakah aku tidak ada di masa mendatang? Akan menjadi apakah aku di masa mendatang? Akan menjadi bagaimanakah aku di masa mendatang? Setelah menjadi apa, lalu aku akan menjadi apa di masa mendatang?’ Atau kalau tidak demikian, di dalam dirinya dia merasa bingung mengenai masa kini demikian: ‘Apakah aku ada sekarang? Apakah aku tidak ada sekarang? Apakah aku sekarang ini? Bagaimanakah aku sekarang ini? Dari mana asalnya makhluk ini? Ke manakah makhluk ini akan pergi?’

Ketika dia memperhatikan dengan tidak bijaksana dengan cara ini, salah satu dari enam pandangan pun muncul di dalam dirinya. Pandangan ‘diri ada untukku’ muncul di dalam dirinya sebagai benar dan mantap; atau pandangan ‘tidak ada diri yang ada untukku’ muncul di dalam dirinya sebagai benar dan mantap; atau pandangan ‘aku mempersepsikan diri dengan diri’ muncul di dalam dirinya sebagai benar dan mantap; atau pandangan ‘aku mempersepsikan bukan-diri dengan diri’ muncul di dalam dirinya sebagai benar dan mantap; atau pandangan ‘aku mempersepsikan diri dengan bukan-diri’ muncul di dalam dirinya sebagai benar dan mantap; atau kalau tidak demikian, dia memiliki beberapa pandangan seperti ini: ‘Diri milikku inilah yang berbicara dan merasa dan mengalami di sana sini akibat dari tindakan-tindakan baik dan buruk; tetapi diri milikku ini bersifat kekal, selalu ada, abadi, tidak terkena perubahan, dan akan bertahan sepanjang keabadian.’ Pandangan spekulatif ini, para bhikkhu, disebut semak-belukar pandangan, hutan-belantara pandangan, pemutar-balikan pandangan, kebimbangan pandangan, belenggu pandangan. Karena dicengkeram oleh belenggu pandangan-pandangan, manusia biasa yang tidak jeli tidak terbebas dari kelahiran, usia tua, dan kematian, dari kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan, dan keputusasaan; dia tidak terbebas dari penderitaan, demikian kukatakan.

Para bhikkhu, seorang siswa agung yang jeli, yang telah belajar dengan baik, yang memiliki rasa hormat bagi orang-orang suci serta terampil dan disiplin di dalam Dhamma mereka, yang memiliki rasa hormat bagi manusia sejati serta terampil dan disiplin di dalam Dhamma mereka, memahami hal-hal apa yang pantas diperhatikan dan memahami hal-hal apa yang tidak pantas diperhatikan. Karena itu, dia tidak memperhatikan hal-hal yang tidak pantas diperhatikan dan dia memperhatikan hal-hal yang pantas diperhatikan. Dengan demikian, noda-noda yang tadinya belum muncul tidak akan muncul di dalam dirinya sedangkan noda-noda yang telah muncul akan ditinggalkan.

Dia memperhatikan dengan bijaksana: ‘Inilah penderitaan’; dia memperhatikan dengan bijaksana; ‘Inilah asal mula penderitaan’; dia memperhatikan dengan bijaksana: ‘Inilah berhentinya penderitaan’; dia memperhatikan dengan bijaksana: ‘Inilah cara menuju berhentinya penderitaan’. Ketika dia memperhatikan dengan bijaksana seperti ini, tiga belenggu di dalam dirinya ditinggalkan: pandangan mengenai kepribadian, keraguan, serta kemelekatan terhadap peraturan dan ritual. Inilah yang disebut noda-noda yang harus ditinggalkan lewat melihat.

Di Samyutta Nikaya 22.122 Bhante Sariputta menjelaskan pada Bhante Kotthita tentang hal-hal yang harus diperhatikan dengan seksama oleh seorang bhikkhu yang baik, yakni memperhatikan dengan seksama lima kelompok kehidupan sebagai kotoran, alien, penyakit, tumor, kanker, yang tidak menyenangkan, yang tanpa inti. Bila seorang bhikkhu yang baik senantiasa merenungi hal diatas, adalah memungkinkan bagi dirinya untuk memperoleh buah pemasuk arus.

Praktek yang sesuai dengan Dhamma lazimnya merujuk pada pelatihan lima kemoralan(sila).

Mari kita lihat penjelasan di Anguttara Nikaya 10.206:

Ada, para bhikkhu, keberhasilan di dalam kehidupan yang disebabkan oleh keinginan yang bajik, yang memunculkan kebahagiaan, berakibat dalam kebahagiaan. Keberhasilan ini berunsur tiga dalam tindakan fisik, berunsur empat dalam tindakan ucapan dan berunsur tiga dalam tindakan mental.

Bagaimana keberhasilan di dalam kehidupan yang disebabkan keinginan bajik ini berunsur tiga dalam tindakan fisik? Ada orang yang tidak menghancurkan kehidupan, dengan kail dan senjata yang disingkirkan, dia berhati-hati dan baik hati serta berdiam dalam kasih sayang terhadap semua makhluk. Dia tidak mengambil apa yang tidak diberikan kepadanya dan tidak didorong oleh niat mencuri barang-barang milik orang lain, baik di desa maupun di hutan. Dia menghentikan perilaku seksual yang salah dan tidak melakukannya. Dia tidak melakukan hubungan seks dengan mereka yang berada di bawah perlindungan ayah, ibu, kakak… tidak pula dengan mereka yang bertunangan dengan kalungan bunga di lehernya. Demikianlah keberhasilan di dalam kehidupan itu berunsur tiga dalam tindakan fisik.

Dan bagaimana keberhasilan di dalam kehidupan berunsur empat dalam tindakan ucapan? Ada orang yang telah menghentikan ucapan yang tidak benar dan tidak melakukannya. Ketika dia berada di antara komunitasnya atau di kelompok lain, atau di antara sanak saudara, teman sekerja, di pengadilan negara, atau ketika dipanggil sebagai saksi dan diminta mengatakan apa yang diketahuinya, maka bila tahu, dia akan berkata, “Saya tahu”; dan bila tidak tahu, dia akan berkata, “Saya tidak tahu”; bila telah melihat, dia akan berkata, “Saya telah melihat”; dan bila tidak melihat, dia akan berkata, “Saya tidak melihat”. Dia tidak mengucapkan kebohongan yang disengaja, baik demi dirinya sendiri, demi orang lain, atau demi keuntungan materi. Dia telah menghentikan ucapan yang memecah belah dan tidak melakukannya. Apa yang sudah didengarnya di sini tidak akan dilaporkannya di tempat lain untuk menimbulkan konflik di sana; dan apa yang telah didengarnya di sana tidak akan dilaporkannya di sini untuk menimbulkan konflik di sini. Dengan demikian dia mempersatukan mereka yang sedang bermusuhan dan mendukung mereka yang bersatu. Kerukunan membuatnya senang, dia bergembira dan bersukacita dalam kerukunan, dan dia mengucapkan kata-kata yang menyebabkan kerukunan. Dia telah menghentikan ucapan yang kasar dan tidak melakukannya. Kata-katanya lembut, enak didengar, penuh kasih, menghangatkan hati, sopan, dapat diterima banyak orang, menyenangkan banyak orang. Dia telah menghentikan percakapan yang sia-sia dan tidak melakukannya. Dia berbicara pada saat yang tepat, sesuai fakta dan tentang hal-hal yang bermanfaat. Dia berbicara tentang Dhamma dan Vinaya dan berbicara dengan cara yang pantas disimak. Pembicaraannya bermanfaat, membantu, pantas dan penuh makna. Demikianlah keberhasilan di dalam kehidupan ini berunsur empat dalam tindakan ucapan.

Dan bagaimana keberhasilan di dalam kehidupan berunsur tiga dalam tindakan mental? Di sini ada orang yang bebas dari ketamakan; dia tidak iri terhadap kekayaan dan harta benda orang lain. Dia tidak berpikir, “O, apa yang dia miliki itu seharusnya kumiliki! ” Dia tidak memiliki niat jahat di hatinya. Dia memiliki pemikiran dan niat murni, seperti misalnya: “Semoga makhluk-makhluk ini bebas dari permusuhan, bebas dari kecemasan! Semoga mereka tidak terganggu dan hidup dengan bahagia! ” Dia memiliki pandangan benar dan perspektif yang tepat, seperti misalnya: “Ada nilai moral dalam pemberian, persembahan dan pengorbanan; ada buah atau akibat dari perbuatan baik atau jahat; ada dunia ini dan sekaligus dunia lain; ada kewajiban-kewajiban terhadap ibu dan ayah; ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan; ada petapa atau brahmana di dunia ini yang hidup dan berperilaku benar, yang dapat menjelaskan dunia ini dan dunia selanjutnya, setelah merealisasikannya melalui pengetahuan langsung mereka.”

Kesimpulan dari keseluruhan faktor-faktor diatas dapat dilihat di Majjhima Nikaya 75 berikut ini:

“Magandiya, bergaullah dengan mereka yang bijaksana. Ketika kamu bergaul dengan mereka yang bijaksana, kamu akan mendengarkan Dhamma yang asli. Ketika kamu mendengarkan Dhamma yang asli, kamu akan berlatih sesuai dengan Dhamma yang asli. Ketika kamu berlatih sesuai dengan Dhamma yang asli, kamu akan mengetahui dan melihat untuk dirimu sendiri sedemikian rupa: “Ini adalah penyakit, tumor, noda kekotoran; tetapi disinilah hal-hal tersebut lenyap tanpa sisa. Dengan lenyapnya kemelekatan, lenyaplah keberadaan, dengan lenyapnya keberadaan, lenyaplah kelahiran, usia tua dan kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan, dan keputusasaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan massa penderitaan ini.” Sekarang mari kita lihat secara lebih mendetail tentang tiga belenggu yang ditinggalkan oleh seorang Pemasuk Arus.

Tiga belenggu rendah tersebut adalah:

  • Pandangan mengenai kepribadian
  • Keraguan
  • Kemelekatan terhadap peraturan dan ritual

Pandangan mengenai kepribadian ini telah disentuh pada petikan Majjhima Nikaya 2 diatas dengan cukup baik dan jelas. Untuk pemahaman yang lebih tajam lagi, mari kita lihat beberapa petikan Sutta di bawah ini.

Majjhima Nikaya 44:

“Yang Mulia, ‘kepribadian, kepribadian’ dikatakan. Apakah yang disebut kepribadian oleh Yang Terberkahi?”

“Sahabat Visakha, lima kelompok yang dipengaruhi oleh kemelekatan inilah yang disebut kepribadian oleh Yang Terberkahi; yaitu kelompok bentuk materi (jasmani), perasaan, persepsi, kehendak dan kesadaran yang dipengaruhi oleh kemelekatan. Lima kelompok yang dipengaruhi oleh kemelekatan inilah yang disebut kepribadian oleh Yang Terberkahi.”

“Yang Mulia, bagaimana asal-mula terjadinya pandangan tentang kepribadian itu?”

“Di sini, sahabat Visakha, seorang biasa yang tidak jeli…..menganggap lima kelompok sebagai pribadi atau merupakan milik pribadi atau bersemayam/berada di dalam pribadi atau pribadi tersebut bersemayam/berada di dalam lima kelompok. Begitulah asal-mula terjadinya pandangan tentang kepribadian.”

“Yang Mulia, bagaimana pandangan tentang kepribadian tidak terjadi?“

“Di sini, sahabat Visakha, seorang mulia yang jeli…..tidak menganggap lima kelompok sebagai pribadi atau merupakan milik pribadi atau bersemayam/berada di dalam pribadi atau pribadi tersebut bersemayam/berada di dalam lima kelompok. Begitulah bagaimana pandangan tentang kepribadian tidak terjadi. ”

Samyutta Nikaya 25.1-10:

Bila seorang bhikkhu senantiasa merenungi dan memahami dengan kebijaksanaan landasan berunsur 6, bentuk, suara…sehubungan dengan landasan berunsur 6, kesadaran yang timbul…, kontak…, perasaan…, persepsi…, kehendak…, nafsu keinginan…, 4 elemen besar…, dan lima kelompok kehidupan sebagai tidak kekal, berubah, tanpa inti…maka ia tak dapat meninggal dunia tanpa mantap dalam buah Pemasuk Arus.

Seorang mulia yang telah menembus ke dalam Dhamma memahami bila hal-hal diatas adalah terkondisi, bukanlah tanpa kondisi. Dia memahami sedemikian: “Bila ini ada, itu akan menjadi; dengan munculnya ini, itu muncul. Yakni dengan avijja sebagai kondisi, sankhara terjadi;….. seterusnya sampai pada tua dan mati; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan, dan keputusasaan terjadi.

“Whatever is subject to origination is subject to cessation.” Demikianlah yang telah dipahami oleh seseorang yang telah menembusi Dhamma.

Keraguan timbul sejauh kita belum memiliki pandangan benar. Di Samyutta Nikaya 55.6.5 Sang Buddha bertanya pada Bhante Sariputta:

“Sariputta, arus(stream), arus dikatakan, apakah yang dimaksud dengan arus itu?” Bhante Sariputta menjawab, Jalan Ariya Berunsur Delapan adalah arus/jalan yang membawa pada pembebasan. Yang dimulai dari pandangan benar (right view), yang menuntun pada unsur lainnya.

Apakah pandangan benar itu? Memahami 4 Kebenaran Mulia adalah pandangan benar [Ref – Baca Majjhima Nikaya 9 ulasan tentang pandangan benar secara lengkap oleh Bhante Sariputta]. Di Samyutta Nikaya 13.1 disebutkan bila seorang Pemasuk Arus diberkati oleh pandangan benar.

Bagaimana caranya memperoleh pandangan benar? Di Majjhima Nikaya 43 disebutkan 2 kondisi bagi munculnya pandangan benar yakni mendengarkan Dhamma (yang asli) dan perhatian/pengamatan yang seksama. (Lihat sharing diatas)

Pandangan benar seorang Ariya ini adalah pemahaman yang menembus ke dalam Empat Kebenaran Mulia. Yang telah memotong dengan cukup pesat kebodohan batin (thanks to Andro for this awakening point). Demikianlah belenggu keraguan ini dipatahkan dengan lahirnya pandangan terang oleh dia yang telah memenangkan buah Pemasuk Arus.

Peraturan dan ritual ini merupakan hal yang biasa dilekati oleh orang biasa, yang bukan Ariya. Melekati berbagai jenis peraturan dan ritual yang dianggap sebagai jalan menuju pembebasan, atau sebagai harapan yang sebenarnya bertolak belakang dengan Dhamma. Beberapa di antaranya yakni: mandi di sungai sebagai bentuk pembersihan diri dari dosa, melakukan pengorbanan hewan kurban untuk persembahan, hidup telanjang, bersikap seperti hewan, ritual dan doa untuk terlahir di sorga, dll.

Kemelekatan terhadap hal-hal diatas dikatakan sebagai sia-sia, tidak mendatangkan manfaat dan yang tidak membebaskan. Jika kita memperhatikan dengan teliti orang-orang disekeliling kita, maka bolehlah diasumsikan, banyak orang memiliki jenis kemelekatan terhadap peraturan dan ritual, yang skalanya mungkin berbeda-beda, ada yang pantangnya luar biasa, ada yang medium, ada yang kecil-kecilan.

Seorang siswa Ariya tak mungkin lagi melekati hal-hal diatas atau menggantungkan dirinya pada peraturan dan ritual sebagai jalan keselamatan atau yang dapat membebaskan dirinya. Dengan kata lain, tidak menganggap adanya konsep juru selamat atau hal di luar Dhamma yang dapat menyelamatkan dirinya. Demikianlah belenggu rendah ketiga yang tidak membebaskan itu telah dipatahkan oleh seorang Pemasuk Arus.

Yang selanjutnya, bagian terakhir dari sharing ini…………….

Majjhima Nikaya 48 menjelaskan tentang hal-hal berikut:

“Dan bagaimana pandangan yang mulia dan membebaskan ini membawa orang yang mempraktekkan sesuai dengannya menuju hancurnya penderitaan sepenuhnya?”

“Di sini, seorang bhikkhu, yang pergi ke hutan atau ke akar pohon atau ke gubug yang kosong, mempertimbangkan demikian: Adakah obsesi yang belum-ditinggalkan padaku yang mungkin mengobsesi pikiranku sehingga aku tidak dapat mengetahui atau melihat segala sesuatu sebagaimana adanya? Jika seorang bhikkhu terobsesi oleh nafsu indera, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terobsesi oleh niat jahat, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terobsesi oleh kemalasan dan kelambanan, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terobsesi oleh kegelisahan dan penyesalan, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terobsesi oleh keraguan, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terserap di dalam spekulasi tentang dunia ini, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terserap di dalam spekulasi tentang dunia lain, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu suka bertengkar dan bercekcok dan terbenam di dalam perselisihan, saling menikan dengan belati ucapan, maka pikirannya terobsesi. ”

Dia memahami demikian: “Tidak ada obsesi yang belum-ditinggalkan padaku yang mungkin mengobsesi pikiranku sehingga aku tidak dapat mengetahui atau melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Pikiranku sudah disiapkan dengan baik untuk terjaga bagi kebenaran-kebenaran. Ini pengetahuan pertama yang dicapai oleh dia yang mulia, di atas duniawi, dan tidak dimiliki oleh orang biasa.”

Begitu juga, seorang siswa mulia mempertimbangkan demikian: Bila aku mengejar, mengembangkan, dan membina pandangan ini, apakah aku memperoleh ketenangan internal, apakah aku secara pribadi memperoleh keheningan?

Dia memahami demikian : “Bila aku mengejar, mengembangkan, dan membina pandangan ini, maka aku memperoleh ketenangan internal, aku secara pribadi memperoleh keheningan. Inilah pengetahuan kedua yang dicapai oleh dia yang mulia, di atas duniawi, dan tidak dimiliki oleh orang biasa.”

Begitu juga, seorang siswa mulia mempertimbangkan demikian: Adakah petapa atau brahmana lain di luar ajaran Sang Buddha yang memiliki pandangan seperti yang kumiliki?

Dia memahami demikian: “Tidak ada petapa atau brahmana lain di luar ajaran Sang Buddha yang memiliki pandangan seperti yang kumiliki. Inilah pengetahuan ketiga yang dicapai oleh dia yang mulia, di atas duniawi, dan tidak dimiliki oleh orang biasa.”

Begitu juga, seorang siswa mulia mempertimbangkan demikian: Apakah aku memiliki karakter manusia yang memiliki pandangan benar? Apakah karakter manusia yang memiliki pandangan benar itu? Inilah karakter manusia yang memiliki pandangan benar: walaupun dia mungkin melakukan suatu jenis pelanggaran yang sarana rehabilitasinya telah ditetapkan, tetap saja dia segera mengaku, mengungkapkan dan menyatakannya kepada Guru atau kepada teman-temannya yang bijaksana di dalam kehidupan suci, dan setelah melakukan hal itu, dia mengendalikan diri di masa depan. Sama seperti seorang anak kecil yang meniarap akan segera mundur ketika dia menaruh tangan atau kakinya pada batubara yang menyala, demikian pula karakter manusia yang memiliki pandangan benar.

Dia memahami demikian: “Aku memiliki karakter manusia yang memiliki pandangan benar. Inilah pengetahuan keempat yang dicapai oleh dia yang mulia, di atas duniawi, dan tidak dimiliki oleh orang biasa.”

Begitu juga, seorang siswa mulia mempertimbangkan demikian: Apakah aku memiliki karakter manusia yang memiliki pandangan benar? Apakah karakter manusia yang memiliki pandangan benar itu? Inilah karakter manusia yang memiliki pandangan benar: walaupun dia mungkin aktif di dalam berbagai macam urusan untuk teman-temannya di dalam kehidupan suci, namun dia memiliki kesungguhan untuk pelatihan di dalam moralitas yang lebih tinggi, pelatihan di dalam pikiran yang lebih tinggi, dan pelatihan di dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi. Sama seperti seekor sapi yang anaknya masih kecil ketika merumput akan mengamati anaknya, demikian pula karakter manusia yang memiliki pandangan benar.

Dia memahami demikian: “Aku memiliki karakter manusia yang memiliki pandangan benar. Inilah pengetahuan kelima yang dicapai oleh dia yang mulia, di atas duniawi, dan tidak dimiliki oleh orang biasa.”

Begitu juga, seorang siswa mulia mempertimbangkan demikian: Apakah aku memiliki kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar? Apakah kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar itu? Inilah kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar: ketika Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Tathagata sedang diajarkan, dia memperhatikannya, memberikan perhatian, menyimak dengan segenap pikirannya, mendengar Dhamma dengan telinga yang waspada.

Dia memahami demikian: “Aku memiliki kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar. Inilah pengetahuan keenam yang dicapai oleh dia yang mulia, di atas duniawi, dan tidak dimiliki oleh orang biasa.”

Begitu juga, seorang siswa mulia mempertimbangkan demikian: Apakah aku memiliki kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar? Apakah kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar itu? Inilah kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar: ketika Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Tathagata sedang diajarkan, dia memperoleh inspirasi di dalam maknanya, memperoleh inspirasi di dalam Dhamma, memperoleh kegembiraan yang terhubung dengan Dhamma.

Dia memahami demikian: “Aku memiliki kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar. Inilah pengetahuan ketujuh yang dicapai oleh dia yang mulia, di atas duniawi, dan tidak dimiliki oleh orang biasa.”

Ketika seorang siswa mulia demikian memiliki tujuh faktor, dia telah dengan baik memiliki karakter untuk realisasi buah pemasuk arus. Ketika seorang siswa mulia demikian memiliki tujuh faktor itu, dia memiliki buah Pemasuk Arus.

Samyutta Nikaya 55.1 menyebutkan tentang 4 kualitas yang ada pada diri seorang Pemasuk Arus yakni:

  • Keyakinan yang teguh terhadap Buddha
  • Keyakinan yang teguh terhadap Dhamma
  • Keyakinan yang teguh terhadap Sangha
  • Sila yang sempurna, tak ternoda, tak tercela, tak terputus.

Tetapi bila kita membaca lebih jauh lagi, Samyutta Nikaya 55.4.2 menjelaskan tentang 4 arus kebajikan yakni keyakinan yang teguh terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha dan Kemurahan hati.

“Seorang siswa Ariya berdiam di rumah dengan pikiran yang bersih dari noda kekikiran, dia dermawan secara bebas, suka menolong, bergembira dalam berdana, orang yang senang beramal, senang berdana dan berbagi.”

Dan di Samyutta Nikaya 55.4.3 arus kebajikan yang terakhir diganti dengan kebijaksanaan.

“Seorang siswa Ariya memiliki kebijaksanaan yang melihat ke dalam muncul dan lenyapnya fenomena, yang mulia dan menembus dan menuju pada musnahnya penderitaan secara total.”

Berdasarkan hal diatas, dapatlah disimpulkan seorang Pemasuk Arus mantap dalam hal-hal berikut:

  • Keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha
  • Sila yang sempurna
  • Kemurahan hati dan
  • Kebijaksanaan yang menembus ke dalam (lahirnya visi/mata Dhamma)

Anguttara Nikaya 3.85 menyebutkan bahwa seorang Sotapanna memiliki Sila yang sempurna:

“Para bhikkhu, lebih dari seratus lima puluh peraturan latihan yang harus diucapkan ulang setiap dua minggu, yang dilatih oleh para pria muda yang menginginkan tujuan. Semua peraturan itu tercakup di dalam tiga latihan ini. Apakah yang tiga itu? Latihan dalam moralitas yang lebih tinggi, latihan dalam pikiran yang lebih tinggi, dan latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi. Inilah tiga latihan yang merangkum lebih dari seratus lima puluh peraturan latihan itu”.

Di sini, O para bhikkhu, seorang bhikkhu adalah orang yang sepenuhnya terampil di dalam moralitas, tetapi hanya agak terampil di dalam konsentrasi dan kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan latihan minor, dan kemudian memperbaiki diri. Mengapa begitu? Karena, para bhikkhu, memang tidak dikatakan bahwa hal itu tidak mungkin baginya. Tetapi mengenai peraturan-peraturan latihan yang amat mendasar untuk kehidupan suci, yang sesuai dengan kehidupan suci, di situ moralitasnya stabil dan mantap, dan dia melatih diri dalam peraturan-peraturan latihan yang telah dia ambil. Dengan hancur leburnya tiga belenggu itu seluruhnya, dia menjadi Pemasuk-Arus, orang yang tidak lagi terkena kelahiran kembali di alam yang rendah, yang mantap keberuntungannya, dengan pencerahan sebagai tujuannya.

Seorang Pemasuk Arus paling banyak hanya akan dilahirkan tujuh kali lagi saja dan yang pasti menuju pada pencerahan. Bisa jadi Ia mencapai pencerahan pada kelahirannya yang kedua, ketiga, keempat dst, tapi yang pasti tak akan melebihi tujuh kali kelahiran. Dan telah menutup tiga gerbang di alam rendah yakni gerbang alam neraka, alam binatang dan alam peta. Seorang Pemasuk Arus yang sempurna dalam Sila, tidak mampu melakukan tindakan/pelanggaran Sila yang dapat menyebabkannya terlahir di tiga alam rendah tersebut. (thanks Andro for this awakening point) Jadi dulu bila saya sempat menyinggung tentang Ratu Malikka yang sempat dilahirkan di alam neraka, maka dapat dipastikan dirinya belum merealisasikan buah Pemasuk Arus.

Anguttara Nikaya 6.97:

“Para bhikkhu, ada enam berkah dalam merealisasikan buah pemenang-arus: Dia kokoh di dalam Dhamma yang baik. Dia tidak dapat jatuh kembali. Dia telah menentukan batas penderitaan. Dia memiliki pengetahuan yang tidak biasa. Dia telah mengerti sepenuhnya penyebab dan fenomena yang dimunculkan oleh sebab-sebab. ”

Sedemikianlah besarnya berkah bagi mereka yang telah memenangkan pandangan benar (right view), yang telah menembusi Dhamma, yang telah memperoleh mata Dhamma sehingga dikatakan mereka telah memotong dengan drastis massa penderitaan bagi dirinya, sebagaimana mereka hanya akan terlahir paling banyak tujuh kali lagi saja dan yang pasti menuju pada pencerahan – Samyutta Nikaya 13.1-11.

Samyutta Nikaya 55.3.27:

“Mereka yang telah memenangkan arus, tidak memiliki rasa takut ketika berhadapan dengan kematian.”

Samyutta Nikaya 55.3.30:

“Mereka yang telah memenangkan arus diberkati dengan umur panjang baik usia manusia maupun surgawi, kecantikan, kebahagiaan, ketenaran, kekuasaan baik kehidupan manusia maupun surgawi.”

Samyutta Nikaya 55.5.44:

“Mereka yang memiliki 4 hal yakni Keyakinan teguh terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha serta Sila yang sempurna dikatakan sebagai orang yang melimpah, sejahtera dan kaya.”

Sang Buddha memberikan nasehat kepada mereka yang telah memperoleh buah Pemasuk Arus untuk tidak lalai, dengan kata lain, masih ada yang harus dikerjakan, yakni mempraktekkan Samadhi untuk pembebasan akhir. (Samyutta Nikaya 55.40)

Mungkin saja terdapat berbagai kekurangan dalam sharing ini, tapi mudah-mudahan cukup jelas untuk dipahami. Baiklah, sharing yang cukup panjang ini saya akhiri sampai disini. Semoga Jaya dalam Dhamma..