easter-japanese

Masing-masing orang mungkin berorganisasi dengan tujuan yang tidak sama. Ada orang yang berorganisasi dengan tujuan ‘Jadi Tenar’, ada yang berorganisasi dengan tujuan ‘Jadi Kaya’, ada yang dengan tujuan ‘Cari teman, Cari pasangan, Cari peluang, (Hokkien: Choi Khang Thau)’, ada yang dengan tujuan ‘Belajar mandiri dan percaya diri’, ada yang sekedar ikut-ikutan teman atau pasangannya tanpa tujuan yang pasti, yang lainnya dengan tujuan ‘Berbuat Bajik’.

Terlepas dari berbagai tujuan yang berbeda di atas, kita semua yang telah bergabung dalam satu organisasi tertentu (dalam hal ini organisasi Buddhis), ketika visi & misi serta tujuan daripada organisasi dihantarkan, maka boleh dikatakan kita memiliki 1 harapan mulia yang sama pada umumnya yakni ‘Mengembangkan Buddha-Dhamma’.

Saya teringat dengan khotbah Bhante Pannavaro pada hari terakhir munas di Yogya thn lalu, Bhante berkata dewasa ini ramai orang berbuat bajik untuk ketenaran dan nama baik (lebih menitik-beratkan pada apa yang bisa didapati daripada apa yang bisa diberikan). Kata-kata Bhante ini patut direnungkan. Menurutku, melakukan pengenalan organisasi lewat media massa atau media elektronik lainnya yang bertujuan memberikan informasi kepada masyarakat tentang keberadaan/kegiatan-kegiatan organisasi yang dapat memberikan manfaat bagi mereka adalah sah-sah saja. Orang-orang dapat memberikan penilaian yang baik sepanjang kita bekerja dengan usaha dibarengi niat yang tulus.

Tetapi kacaunya ada orang yang jika tidak ada namanya atau tidak ada nama organisasinya, maka ia segan membantu walaupun mungkin ia mampu dan punya waktu luang. Ia terikat dengan ekstrim dengan label seperti ‘Aku orang P, Dia orang W, Yang itu orang M, Yang lainnya D”. Membantu sampai melangkahi kewajiban dan tanggung jawab pihak lain yang bersifat internal tentunya tidak layak dan tidak disenangi. Tetapi, membantu secara eksternal misalnya dalam hal memberikan pelayanan, ikut bersih-bersih, berbagi info pada masyarakat luar, mengajak orang lain berdana untuk kegiatan yang dilakukan, dll tentunya tidak dicela.

Di Cetiya Mahasampatti binaan Ah Sen Rudi Hardjon, teman-teman Magabudhi, Patria dan Dayaka bekerja cukup harmonis. Peluncuran Buku Palivacana Ti-Bahasa merupakan karya atas kekompakkan mereka. Publikasi Buku Taman Budicipta, karya yang luar biasa lainnya juga berkat dukungan serta teamwork teman-teman dari CMS. Mengagumkan! Jika suatu acara tidak sesuai dikerjakan secara berbarengan, hendaknya yang lain memberikan dukungan moral atau bantuan yang bersifat eksternal diatas. Sikap tidak bersimpati, saling membandingkan atau saling menjatuhkan bukanlah sikap yang terpuji.

Kemudian, kita juga pernah atau sering mendengar bahwa di organisasi ini, di Vihara itu terdapat penyelewengan penggunaan dana oleh siapa dan siapa. Alamak! Di SN 17, Sang Buddha telah memperingati bahayanya perolehan, penghormatan dan ketenaran. Sutta ini mungkin menekankan pada pelatihan seorang bhikkhu. Tapi pesan ini sekaligus mengingatkan diri kita yang awam ini, dengan memiliki hal-hal diatas, jangan sampai melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan Dhamma. Karena sesungguhnya Dhamma itu bersifat melepaskan keterikatan.

Bhante Dhammavuddho juga pernah berpesan tentang bahaya dari ketenaran ini. Seorang bhikkhu yang maju dalam pelatihan, kesombongan tidak seharusnya bertambah dalam dirinya. Inilah pesan Bhante.

Tetapi harus juga diakui, ada sebagian kecil orang yang berorganisasi dengan sepenuh hati, tulus, tanpa pamrih, tak banyak mengharap untuk dirinya sendiri. Ko Toni, mantan ketua umum DPP Patria adalah sesosok pemimpin yang ketulusannya telah mengilhami banyak orang, bahkan Bhante Pannavaro pun memuji.

Sekarang mari kita teliti masalah-masalah yang kerap kali muncul dalam berorganisasi.

Di hari biasa, kita mungkin telah menghabiskan banyak waktu untuk keluarga, untuk pekerjaan, untuk hal-hal lain yang meletihkan dan menegangkan diri kita. Aktifitas organisasi diakhir pekan yang diharapkan dapat memberi nuansa baru dan kedamaian malah menjadi tambahan beban/dilemma bagi kebanyakan dari kita.

Misalnya, ketika beberapa dari teamwork kita tidak merasa berkepentingan sehingga sering tidak hadir/tidak ikut dalam rapat atau tidak muncul saat pelaksanaan suatu kegiatan, kita merasa tidak puas, jengkel, maupun tertekan. Ada perasaan bahwa kita ini kurang dihargai tetapi kita juga tidak bisa terlalu memaksa. Itulah masalahnya. Hendaknya dipahami, sebagaimana masing-masing dari kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab sendiri-sendiri yang harus dipenuhi maka sedapatnya kita memenuhi kewajiban dan tanggung jawab kita. Jangan sampai berpikiran”toh aku tidak digaji kok, memangnya dipecat? Ah, peduli amat, lagi senang yah kerjain, lagi bad mood, biarin sana”. Pikiran seperti ini tidak tepat. Terkecuali bila ada urusan yang mengharuskannya non-aktif dari organisasi seperti meninggal dunia, sakit parah, sekolah/kerja/pindah luar kota/negri.

Selanjutnya, kita juga sering berkata bahwa perbedaan pendapat adalah wajar, tetapi tidak jarang kita belum mampu memahami, bila pendapat kita tidak didengar maka timbul sakit hati, tersinggung dan tidak muncul-muncul lagi di Vihara atau dalam kegiatan organisasinya.

Johnny, ketuaku sering berbeda pendapat dan berselisih denganku, sampai-sampai jengkel satu sama lain. Hahaha. Tapi bila kita menyimpan kritikan/kejengkelan itu berlarut-larut dalam hati, siapa yang rugi? Aku berterima-kasih pada dirinya yang telah banyak membantuku. Sungguh!

Porsi kerja yang terlalu dibedakan juga merupakan hal yang membawa dilemma, ketika kita berpikiran ia bekerja terlalu sedikit, semua semuanya harus saya yang kerja, atau yang itu bahkan tidak bekerja, pintarnya cuma ngomong saja. Hehehe.

Beberapa waktu yang baru lewat, saya pernah berkata pada William Jotikaro bahwa mungkin saya telah merepotkan banyak orang dengan terjemahan buku Liberation. Rasanya agak kecewa dengan diri sendiri yang tidak bisa banyak membantu. Wil membalas “Bukankah Ms berkata kita adalah satu keluarga? Bukankah bagian dari keluarga semestinya saling membantu? Kita akan saling mendukung untuk buku-buku Dhamma yang berikutnya lagi.” Benar-benar balasan yang mengharukan hati.

Aku pernah berkata pada Ko Agus bahwa timku yg di Medan merasa ‘phai se’ dengan tim yang datang dari Jakarta yang selayaknya menjadi tamu pada kegiatan leadership break di Medan, sebaliknya harus membantu dalam persiapan beberapa hari menjelang acara bahkan sampai angkat-angkat kursi dan bersih-bersih. Ko Agus memang bijak, saya kagum kepadanya. Tidak diragukan jika posisi ketua umum yang baru, dipercayakan kepadanya.

Dalam organisasi, kita belajar menghargai orang lain, menerima nasehat dan mendengarkan pendapat tetapi juga tegas dengan apa yang bajik yang sesuai untuk dilakukan dengan apa yang tidak bajik yang sepantasnya dihindari. Kita juga belajar mengasihi sesama teman-teman seorganisasi. Apabila kita sanggup mengasihi teman-teman sendiri yang dekat dan yang kita kenal maka kasih ini dapat dikembangkan dengan lebih baik kepada mereka yang tidak kita kenal diluar sana. Ketika kita mengingat harapan mulia diatas, mengembangkan Buddha-Dhamma, membantu mereka yang membutuhkan, kasih itu menjadi kunci utama.

Kita juga menjadi teladan untuk mereka yang baru bergabung atau yang masih baru. Ketika mereka melihat manfaat-manfaat yang diperoleh, mereka terinspirasi dan ingin berkarya. Rety, yang barusan pulang dari pelatihan leadership di Jakarta, menyatakan kekagumannya, saking terinspirasinya, dia malah terharu. Hahaha…..

Sebagai bagian dari organisasi, saya mendorong rekan-rekan dalam organisasi untuk berkembang dan maju. Tetapi ada saatnya kita patut mengasihi diri sendiri dengan merenungi hal-hal seperti berikut: “Bila dulunya saya adalah orang yang penyabar, sekarang cepat emosi/mudah tersinggung/banyak yang tidak kusenangi”, “Bila dulunya saya lebih berbahagia, sekarang banyak tekanan bathin”, “Bila dulunya bisa tidur nyenyak, sekarang banyak pikiran, kacau, gelisah, khawatir”, “Bila dulunya jarang gosipin orang, sekarang siapapun digosipin, yang buruknya pula.”

Bila hal-hal diatas ada pada diri kita, maka kita patut bertanya pada diri kita, Apakah saya cocok menjadi bagian dari organisasi? Berorganisasi itu baik atau tidak, bermanfaat atau tidak adalah tergantung pada masing-masing orang yang menjalani. Organisasi itu adalah suatu sarana yang menjadi pilihan untuk mengembangkan diri. Ada orang yang cocok dan cepat maju dengan berorganisasi. Sebaliknya ada orang yang cocok dan cepat maju dengan pilihan lainnya yang juga terpuji.

Selamat berorganisasi!!!!! Semoga makna dan tujuan berorganisasi yang bajik ada pada diri anda.