Saat jam istirahat, seorang rekan kerja menghampiriku dan mencari tahu apa yang sedang aku lakukan. Sekilas melihat judul di atas, diapun tersipu-sipu dan berkata, “Yulia, kamu sedang menulis artikel romance kah?” Hahaha…. Dia mungkin tak paham kalau saya sedang menulis artikel Dhamma… Nah, ini adalah pemisalan sederhana dari suatu pernyataan yang kadang-kala ditafsir secara berbeda. Begitu pula, dewasa ini telah muncul beraneka ragam tafsiran terhadap ajaran Buddha. Ketika Beliau mengajarkan tentang kekosongan dan tak ada hal apapun yang pantas dilekati dari sesuatu yang kosong/tak berisi, kita bimbang akan makna sesungguhnya sehingga beralih ke hal-hal lain yang lebih menjanjikan.

Apa saja yang diajarkan Buddha? Pokok mana yang menjadi ciri khas ajaran Buddha? Ketika seseorang bertanya, beberapa dari kita dapat dengan senang hati memberikan suatu jawaban, karena kita dapat berkata kalau kita bukan lagi umat Buddhis KTP, lebih tepatnya, sudah di Visuddhi, lengkap dengan nama Buddhisnya pula. Haha… Sehingga jawaban kita sudah pasti ok. Ajaran Buddha sangat khusus, kita tidak hanya diajarkan tentang pedoman hidup yang mendasar seperti berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan, tetapi lebih dari itu. Jadi apa yang menjadi saran anda apabila pertanyaan diatas ditujukan pada diri anda? Saya kira masing-masing dari anda mempunyai berbagai saran yang bagus. Secara individual, saya menyarankan dua patah kata sebagai pokok yang harus kita perhatikan yakni “Tanpa Kemelekatan”. Kemelekatan pada apa? Kemelekatan pada “Aku(I am)”.

Dalam artikel Upasaka & Upasika Ariya, saya banyak mengulas kutipan-kutipan dari Sutta sehingga bahasan tentang “diri” merupakan topik yang sangat berat. Dalam sharing kali ini, saya akan menyertakan beberapa contoh kejadian sehingga hal-hal yang berkaitan dengan “Aku” dapat dipahami dengan lebih baik. Buku-buku (kumpulan kotbah Buddha) menyediakan pengetahuan yang kita butuhkan dan merupakan kewajiban setiap praktisi Buddhis yang baik untuk memahami apa yang pernah disampaikan oleh Tathagata untuk kebaikan dirinya sendiri maupun orang banyak. Tetapi jangan berhenti sampai di sana. Bila demikian, kita dapat menjadi seorang ahli teori, ahli debat, ahli filsafat, atau psikolog ajaran Buddha saja.

Kembali pada pembahasan tentang “Kemelekatan”. Bagaimana kemelekatan (clinging) dapat menimbulkan dukkha? Karena kita menginginkan sesuatu (craving)… yang timbul oleh suatu perasaan tertentu… akibat kontak (contact) indera dengan objeknya, yakni mata dengan bentuk yang dilihat, telinga dengan bunyi yang didengar dstnya… Contoh sederhana untuk penjelasan di atas, seorang anak kecil dibawa jalan-jalan oleh ibunya ke pasar, dia melihat mobil mainan yang bagus (contact), timbullah perasaan senang (feeling), karena menyenangi mainan itu, dia pun menginginkannya (craving), sedemikian kuat dia menginginkannya, sehingga dia tak mampu terlepas dari mainan itu (clinging), dan apabila dia tak dapat memilikinya, timbullah dukkha bagi dirinya. Demikianlah caranya saya memahami rangkaian hukum sebab musabab (Paticca Sampuppada) bahwa sesuatu yang timbul dikarenakan oleh sesuatu hal yang lainnya. Anda harus bijak mengenali suatu metode yang paling cocok untuk diri anda sendiri dalam mengatasi masalah-masalah anda.

Kita diajari untuk tidak memandang bentuk, bunyi, bau, cita-rasa, sentuhan, dan objek-objek pikiran sebagai “Aku”, atau juga “Diriku” dan “Milikku”. Kita dikelilingi oleh berbagai macam bentuk, berbagai macam bunyi, berbagai macam bau dll… yang dapat kita lekati. Dan apabila kita tidak cukup waspada, hal-hal itu dapat membawa dukkha bagi kita. Misalnya di kantor, ketika anda harus berhadapan dengan rekan kerja yang tak bersimpati dengan anda, atau ketika anda dimarahi pelanggan dsbnya… seketika itu juga perasaan sedih dan kecewa muncul. Bahkan sesampainya di rumah, kita masih saja berkomat-kamit tentang perlakukan yang tak menyenangkan itu. Haha… Pernahkah anda diprasangkai melakukan sesuatu hal yang tidak pernah anda lakukan?

Menjadi seorang pegawai baru, tidak mengherankan apabila orang-orang tak dapat sepenuhnya mempercayai diri anda. Ketika itu, seorang rekan kerja kehilangan sejumlah uang yang disimpannya dalam laci. Orang-orang mulai berbisik di antara mereka dan sesekali memandang ke arah anda. Bila anda adalah orang yang diprasangkai, bagaimana anda akan bertindak? Mengundurkan diri keesokan harinya, menangis di toilet, atau mengganti uang yang hilang dengan uang anda sendiri? Hahaha… Saya tidak melakukan yang manapun juga, kecuali merenungi Dhamma. Merenungi kembali ucapan Tathagata seperti merenungi kembali nasehat seorang ayah pada anaknya, yang dapat memberinya suatu kelegaan hati. Terlebih terhadap suatu kejahatan yang tidak anda lakukan, bagaimana mungkin hati anda dapat terganggu?

Di dalam satu Sutta Buddha berkata pada Malunkyaputta seperti berikut : ‘Terhadap apa yang dilihat, hanyalah apa yang dilihat, terhadap apa yang didengar, hanyalah apa yang didengar, dstnya… Ketika Buddha mengatakan hal di atas, Beliau menginginkan kita untuk menjaga keseimbangan hati kita, dari berbagai perasaan yang timbul… terhadap bentuk/bunyi… yang tidak kita senangi, kita membencinya; sebaliknya terhadap bentuk/bunyi… yang kita senangi, kita ingin menggenggamnya (to hold) dan tak ingin melepaskannya.

Tapi kita harus jeli memahami pernyataan Buddha. Misalnya ketika dimarahi atasan, kita tak boleh menganggap omelan atasan sebagai omong kosong belaka (bunyi hanyalah bunyi) dan mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali, kalau yang ini memang pantas untuk dimarahi. Haha… atau ketika kita dinasehati sesuatu hal yang baik, kita harus memberi perhatian. Intinya, maksud dari pernyataan Beliau adalah untuk menjaga hati kita. Atau ketika Beliau menasehati kita untuk bersifat jenuh (revulsion) pada indera dan objeknya… kiranya bukan maksud Beliau supaya kita tidak boleh melihat, tidak boleh mendengar, tidak boleh mencicipi dsbnya… tetapi berhati-hati terhadap keinginan (lust and desire) yang timbul dari hasil kontak.

Kiranya setiap orang pernah dimarahi atau ditegur dalam kantor. Terlebih ketika anda masih baru dalam pekerjaan anda sehingga masih sering berbuat kesalahan-kesalahan. Saya juga mengalaminya, sampai kesekian kalinya, ketika ditegur lagi, saya hanya bisa tersenyum saja. Sampai-sampai senior saya tak dapat bertahan dan berkata, “Yulia, saya sedang marah sama kamu, kenapa kamu tersenyum sama saya. Saya jadi tak bisa marah-marah sama kamu.” Hahaha…. Jadi ketika pihak yang satu memberi sinyal kemarahan (energi api), anda membalasnya dengan sinyal keheningan (energi air), sehingga air dapat memadamkan api, dan dia pun tak sanggup marah-marah untuk waktu yang lama. Haha…

Masalah-masalah ada di seputar kita dan kita diajak untuk mengenalinya sehingga kita dapat mengatasinya dengan cara yang lebih baik. Di kantor, ada dukkha seorang pegawai, di rumah ada dukkha orang rumahan, di organisasi juga ada dukkha berorganisasi. Tapi karena kita tak mampu mengenalinya, kita merasakan kalau dukkha yang kita alami lebih menyakitkan dari dukkha yang dialami siapapun juga sehingga dunia seakan-akan telah runtuh bagi kita. Bagaimana kita dapat memastikan kalau mereka yang barusan kehilangan orang-orang yang dicintai tidak lebih menyakitkan dari diri kita? Atau mereka yang gagal berinvestasi di Lehman tidak lebih menyedihkan sehingga untuk terus hidup pun harus berhutang kemana-mana? Atau juga mereka yang mengidap suatu penyakit akut tertentu? Dll? Sejak bekerja di Rumah Sakit, saya banyak melihat dukkha pasien dan cucuran air mata, ketika mereka diberitahu positip mengidap penyakit kanker dll. Jadi ketika kita mengetahui bahwa bukan diri kita saja yang memiliki masalah-masalah, tapi setiap orang juga memilikinya, di saat itu kita telah memahami Kesunyataan Mulia yang Pertama tentang dukkha. Kita memahami adanya dukkha (there is suffering) dan tidak lagi menjadikan dukkha itu sebagai dukkha pribadi (this is my suffering). Ada perbedaan besar di antara keduanya. Apabila anda masih kurang memahami, saya dapat menjelaskannya lewat cerita Kisagotami yang populer ini. Kisagotami yang mengalami kematian anak satu-satunya mengunjungi Buddha dan memohon kepada Beliau untuk menghidupkannya kembali. Namun Buddha memberinya syarat untuk mendapatkan biji dari rumah yang belum pernah sekalipun mengalami kematian. Dan akhir cerita, dia tidak berhasil. Akan tetapi timbul kebijaksanaan dalam dirinya. Dia memahami ada dukkha di setiap rumah dan dukkha timbul dari apa yang dilekatinya.

Ada dua jenis dukkha yang diajarkan Buddha, yakni dukkha jasmani dan dukkha mental. Kita tak dapat berbuat banyak untuk mengatasi dukkha jasmani. Kita hanya dapat merawat jasmani ini semaksimal mungkin selama kita masih hidup, namun kita tak dapat memintanya untuk tidak menjadi tua, sakit dan mati. Ajaran Buddha bertujuan untuk mengatasi dukkha mental. Dukkha mental di sini bukan dukkha oleh suatu penyakit mental seperti hilang ingatan ataupun gila, namun oleh berbagai pandangan-pandangan salah yang kita genggam, yakni melekati apa yang sesungguhnya tidak menjadi milik kita sehingga bagi kebanyakan orang, tubuhnya sakit, batinnya juga ikut sakit.

Saya selalu berkata tentang ‘bukan milik kita’, frase ini mungkin cukup sulit untuk dipahami bagi sebagian orang, jadi saya akan menyertakan suatu perumpamaan yang sederhana untuk dapat memahami hubungan antara dukkha, anicca dan anatta dengan lebih jelas. Contoh, kita berharap apabila pasangan kita senantiasa nampak menarik bagi kita, tapi pada kenyataannya pasangan kita semakin hari semakin jelek, tua, bau, ompong, penyakitan, ngompol lagi sana-sini, haha… Inilah aniccanya (mengalami perubahan), ketika kita melihat perubahan pasangan kita, kita merindukan masa-masa di kala pasangan kita masih kelihatan menarik dan muda… Tapi hal itu tidak mungkin, sehingga kita merasa kecewa dan mengeluh… Inilah dukkhanya (menderita karena perubahan). Terhadap apa yang senantiasa berubah dan membawakan kita penderitaan, bagaimana kita dapat mengatakan kalau mereka milik kita? Karena apabila mereka benar-benar milik kita, mereka dapat menuruti keinginan kita untuk tidak menjadi jelek, tua, bau, ompong dsbnya… Inilah anatta (bukan milik kita).

Jadi karena melekati apa yang sesungguhnya tidak menjadi milik kita, tak jarang kita mengidap penyakit dukkha. Dalam keseharian kita, sebisanya kita berlatih untuk mengurangi kemelekatan , mulai dari hal-hal yang paling kecil. Misalnya saja, ketika bus/mobil kita macet di jalanan sehingga pada hari itu kita telat ke kantor. Bagi sebagian orang yang tak sabaran, walaupun kendaraannya tak bisa banyak bergerak, dia terus saja marah-marah, cakap kotor, terus saja melirik jam tangannya, dan tak henti-hentinya memencet bel. Kacau kan? Apabila kita memang tak dapat banyak berbuat, ya sudah, terima kenyataan kalau kita memang telat pada hari itu. Seberapa panjang kita mengomel, marah-marah, atau walaupun kita melirik jam tangan setiap sedetik sekalipun, kita memang telat. Tapi orang-orang tak dapat menerima dan menjadi gelisah berlebihan walaupun dia tak dapat banyak berbuat. Terhadap hal-hal kecil saja kita tak mampu mengurangi kemelekatan, sejauh mana kesiapan hati kita dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan yang lebih besar lainnya? Seberapa siap hati kita apabila kita didiagnosis positip mengidap kanker? Atau seberapa siap hati kita apabila pasangan kita suatu hari kelak meninggalkan kita? Atau seberapa siap hati kita apabila kita menjadi bangkrut suatu hari? Dan yang paling berat, seberapa siap hati kita saat-saat menjelang kematian nanti? Saya sering mendengar cerita dari para sahabat tentang sanak keluarga mereka yang tak sudi mati, walaupun tubuhnya sudah tak dapat lagi menopang hidupnya, tapi nafas tak mau putus. Apabila kita tak berlatih untuk mengurangi kemelekatan sedini mungkin, maka kita akan mengalami hal yang sama saat kematian nanti. Sedemikian kuat kita melekati tubuh kita sehingga kita tak mampu berpisah darinya, walaupun tubuh tersebut telah menjadi tua, berpenyakitan, kering dan tak lagi dapat menopang hidup kita. Hampir semua orang mencintai kehidupannya, tapi kita tak dapat mengelak untuk tidak mati dan hidup dalam keabadian (whatever is subject to origination is all subject to cessation). Jadi berlatihlah sedini mungkin, mulai dari masalah-masalah kecil di sekeliling kita.

Ketika kita telah memahami pandangan tentang diri maka secara otomatis kita terbebas dari keraguan pandangan. Kita memahami penyebab munculnya hal yang satu ke satu hal yang lain, kita memahami perubahan dan ketidak kekalan. Di saat keraguan telah ditinggalkan, di saat itu pula, kita tidak membutuhkan lagi peraturan-peraturan yang bersifat duniawi. Kita tidak perlu lagi tidur semalaman dalam peti mati untuk menepis kamma buruk, suatu trend baru yang sedang ngetop belakangan ini. Ada beragam jasa yang ditawarkan. Apabila anda ingin dibacakan paritta suci, biayanya lain lagi. Ini salah satu contoh bagaimana ajaran Buddha telah dikacaukan sedemikian rupa oleh segelintir orang yang mengaku sebagai pengikut Buddha. Teruk ya…..

Belakangan ini ramai orang menjadi trauma akibat krisis ekonomi sehingga jumlah pengunjung di kelenteng-kelenteng telah bertambah berkali-kali lipat dari yang biasanya. Dalam keputus-asaan, orang-orang mulai mencari bantuan dewa mereka. Seperti adik saya, kalau sudah mendekati masa ujian, dia akan bersembahyang ke kelenteng barengan teman-temannya. Sehingga saya harus menjelaskan pada dia, seandainya kamu meminta untuk jadi juara 1 di kelas, dan temanmu yang lain juga meminta hal yang sama. Kepada siapakah sang dewa harus memilih? Kepada kamu kah? Atau teman kamu? Bersembahyang ya bersembahyang dulu. Selanjutnya tergantung usaha dong, begitu jawabnya. Nah itulah kuncinya, usaha menjadi faktor penentunya, bukan yang lainnya. Tapi dia masih saja terus bersembahyang… Haha… Anda akan menjadi orang yang sangat berbahagia tatkala diri anda tidak lagi terikat dengan berbagai peraturan karena anda dapat menghemat biaya, tenaga dan waktu yang dapat anda gunakan untuk hal-hal lain.

Demikianlah hendaknya kita senantiasa merenungi ketidak-kekalan dari segala sesuatu, yang kosong dan tak berisi. Semakin sering kita merenungi, kemelekatan kita pada apa yang kita anggap sebagai “Aku” akan berkurang dengan sendirinya. Inspirasi Buddha dapat ditemui di Okkanti Samyutta. Di sana Beliau berkata bahwa siapapun yang senantiasa merenungi ketidak-kekalan dalam hidupnya, dengan kata lain, perenungan itu dilakukan secara intensif, maka dia tak dapat meninggal dunia tanpa matang dalam buah kesucian Sotapanna. Kembali di Sutta yang lain, Velama Sutta, Beliau mengatakan bahwa perenungan terhadap ketidak-kekalan (impermanence) yang sesingkat jentikan jari saja memberikan pahala yang sangat besar. Mengapa? Karena perenungan pada ketidak-kekalan dapat membawa seseorang pada akhir dari dukkha, maksimal 7 kali kelahiran lagi untuk mereka yang dapat memahaminya pada tingkat yang paling mendasar.

Kita dapat menilai perkembangan diri sendiri. Apabila kita masih saja seorang pemberang, pencemburu, pendendam, maka kita dapat pasti kalau kita belum memahami ajaran tanpa diri. Apabila kita masih belum terlatih dalam Sila, maka kita dapat pasti kalau kita belum lagi memahami ajaran tanpa diri. Kalau kita masih saja kikir, maka kita dapat pasti kalau kita belum juga memahami ajaran tanpa diri. Mereka yang telah mematahkan belenggu tentang diri tak dapat menjadi seorang pemberang, pencemburu, dan pendendam. Dan mereka yang mengasihi tak dapat melakukan pelanggaran Sila. Mereka yang terlatih dalam Sila, memahami manfaat-manfaat dari persembahan, dan tak dapat menjadi kikir. Demikian caranya kita dapat mengukur perkembangan diri kita sendiri.

Mari bersama-sama kita belajar melepas (letting go)… Bahkan Buddha pun berkata, “Dhamma hanya bertujuan sebagai rakit yang digunakan untuk menyeberang saja, terhadap Dhamma pun kalian tidak seharusnya melekat, terlebih terhadap hal-hal yang bukan Dhamma (sudah sepantasnya untuk dilepaskan).” Mudah-mudahan sharing ini tidak terlalu berat. Semoga bermanfaat…