Sewaktu penulis masih kuliah di ITB, biasanya setiap kali penerimaan mahasiswa baru, KMB (Keluarga Mahasiswa Buddhis) ITB seringkali mengadakan mentoring mengenai Buddhisme. Mentoring biasanya mencakup sharing mengenai riwayat hidup Buddha Gautama dan ajaran-ajaran dasar Beliau. Penjelasan mengenai riwayat hidup Sang Buddha tersebut biasanya selalu ditekankan pada aspek-aspek keajaiban (miracles) baik ketika masa Pangeran Siddharta maupun setelah Beliau menjadi Buddha. Penulis merasa heran kenapa pembahasan selalu difokuskan pada keajaiban-keajaiban seperti ini (sebagai contoh: keajaiban ganda api dan air, berjalan tujuh langkah, dsb)? Memang, tidaklah salah untuk membahas hal ini. Tapi bukankah ada dua keajaiban dalam riwayat hidup Buddha yang lebih ajaib dan lebih indah untuk dibahas? Dua keajaiban ini adalah Kebijaksanaan dan Belas kasih (Wisdom and Compassion).

Sang Buddha sendiri telah mengajarkan pada kita bahwa Dhamma bukanlah agar kita memiliki keajaiban berjalan di atas air; Dhamma adalah untuk mengikis kualitas-kualitas mental negatif dalam diri kita. Dhamma is the miracle of education. Dhamma adalah suatu keajaiban pembelajaran bagi kita. Keajaiban Dhamma itu sendiri terletak pada kualitas pendidikannya, pada bagaimana Dhamma itu diterapkan dan dimanfaatkan bagi kebaikan diri kita dan semua makhluk.

Mereka yang semakin mendalami esensi dari Dhamma, hidupnya akan semakin simpel dan menyejukkan. Sederhana, tanpa pamrih, penuh semangat, namun memberikan kesejukan. Bacalah buku-buku Bhante Thich Nhat Hanh, Anda akan merasakan spirit yang begitu manusiawi dan menyentuh akar-akar spiritual kita. Ketika penulis mendengar ceramah Master Cheng Yen (pendiri Tzu Chi), penulis merasa begitu tersentuh, kata-kata Beliau terasa begitu lembut, sederhana, namun menggetarkan hati. Inilah “the real miracle” dari Buddha Dharma: kelembutan hati. Sebuah spirit dari welas asih dan kebijaksanaan.

Ketika masih menjadi pangeran, Buddha pun telah menunjukkan hati Beliau yang begitu lembut. Beliau memiliki belas kasih yang mendalam dan pandangan hidup yang penuh prinsip, sebagaimana tertuang dalam kisah berikut:

Suatu hari Pangeran Siddharta meninggalkan Rajagraha menuju sebuah kaki gunung tempat tinggal para petapa. Di tengah perjalanan, ia melihat debu berjatuhan dari gunung di tengah-tengah suara derap langkah hewan. Ketika mendekat, ia melihat ternyata kerumunan panjang itu adalah domba dan kambing yang sedang bergerak beriringan seperti sebarisan awan-awan. Hewan-hewan itu sedang diarahkan menuju kota. Di barisan belakang dari kerumunan itu, seekor anak domba berjalan tertatih-tatih dan pincang kesakitan, salah satu kakinya terluka dan berdarah. Pangeran Siddharta memperhatikan anak domba tersebut dan ibunya yang berjalan di depannya yang terus menerus melihat ke belakang, mengkhawatirkan anaknya yang masih kecil itu. Hati Pangeran Siddharta dipenuhi oleh rasa haru dan kasihan. Ia kemudian menggendong domba kecil yang kakinya terluka tersebut, dengan lembut merawatnya sambil berjalan di belakang mengikuti kerumunan hewan tersebut.

Ketika Pangeran Siddharta melihat si penggembala, ia bertanya, “Kemana kamu akan membawa kerumunan hewan ini? Bukankah biasanya mereka digiring pulang ketika hari menjelang senja?! Mengapa kamu menggiringnya di saat siang terik begini?” Si penggembala menjawab, “Raja akan mengadakan upacara pengorbanan besar-besaran hari ini, dan kami telah diperintahkan membawa seratus ekor domba dan seratus ekor kambing ke kota sebelum tengah hari.” Siddharta berkata, “Saya akan ikut denganmu.” Dia membawa domba kecil tersebut dengan kedua lengannya sepanjang jalan menuju kota. Berjalan di belakang kawanan domba, Siddharta akhirnya tiba di kota; kemudian ia pergi menuju istana tempat akan dilangsungkannya upacara pengorbanan.

Raja dan sekelompok pendeta pemuja api sedang menguncarkan ayat-ayat, ketika api yang besar bernyala-nyala di atas altar. Mereka akan segera membunuh kerumunan domba sebagai kurban, tapi ketika pemimpin dari pendeta pemuja api mengangkat pedangnya untuk menggorok leher domba pertama, Siddharta segera bergerak dan menghentikannya. Dengan sikap yang kalem dan penuh belas kasih, Siddharta berkata kepada Raja Bimbisara, “Yang Mulia, mohon jangan membiarkan para pendeta ini menghancurkan hidup hewan-hewan yang malang ini.” Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang sedang berdiri sebagai saksi peristiwa tersebut, “Semua makhluk hidup bergantung pada kehidupannya. Mengapa manusia mesti melakukan kekerasan yang brutal terhadap hewan-hewan yang baik hati ini? Penderitaan dari kelahiran, penuaan, penyakit dan kematian sendiri secara alamiah akan mengakhiri kehidupan mereka.” Siddharta melanjutkan, “Jika manusia mengharapkan kebaikan dan belas kasih, semestinya mereka juga menunjukkan kebaikan dan belas kasih, sebab sebagaimana Hukum Sebab Akibat, ia yang membunuh, akan dibunuh. Kalau kita mengharapkan kebahagiaan di masa depan, tidaklah semestinya kita menyakiti makhluk apapun. Sebab siapapun yang menyemai benih-benih kesengsaraan dan kesedihan, niscaya akan memanen buah yang sama.” Sikap dan ucapan Siddharta membawakan rasa sejuk dan hati yang damai serta penuh welas asih, juga terdengar lugas dan berwibawa. Ia berhasil sepenuhnya mengubah pandangan Raja dan para pendeta pemuja api sehingga upacara pengorbanan dibatalkan.

Raja Bimbisara kemudian meminta Siddharta tinggal di negerinya untuk mengajar para penduduk agar menjadi welas asih. Pangeran Siddharta sangat berterima kasih secara mendalam, namun karena ia belum mencapai tujuannya, Pencerahan Sempurna, ia dengan rendah hati menolak undangan tersebut dan pergi.”