easter-japanese

Ajaran Buddha sangat memperhatikan masalah psikologis seseorang. Hal ini dapat kita ketahui dari banyaknya ucapan-ucapan Sang Buddha yang berhubungan dengan psikologi (pengendalian pikiran, batin, dsb). Bahkan di dalam Dhammapada (Dharmapada), yang pertama kali disinggung adalah masalah pikiran manusia. Artinya bahwa ajaran Buddha begitu berminat besar dalam hal yang berhubungan dengan pikiran seseorang. Mengapa? Hal itu karena semua kejadian, sebab, dan tindakan manusia dimulai dari pikirannya sendiri. Ketika pikiran seseorang sulit untuk ia kendalikan, maka akibatnya tentu saja akan menjadi kurang baik bahkan mungkin tidak baik.

Salah satu sila (aturan) dalam ajaran Buddha yaitu sila ke-5 adalah berusaha untuk menghindari mengonsumsi makanan yang dapat melemahkan pikiran, termasuk mabuk-mabukan dan narkoba. Mengapa sila itu ada? Jelas sekali bahwa sila itu berhubungan dengan pikiran seseorang. Ketika seseorang makan makanan yang melemahkan pikirannya sehingga ia tidak bisa mengendalikan diri, maka ia menjadi tidak sadar akan perbuatannya (biasanya perbuatannya buruk).

Sila ke-5 dalam Pancasila-Buddhis jika tidak diikuti, akan mengkondisikan sesorang melanggar salah satu dari sila lainnya. Contohnya ketika seseorang menggunakan narkoba, pikiran sadarnya menjadi lebih lemah sehingga sulit untuk mengendalikan diri yang pada giliran selanjutnya akan membuat ia melakukan pelanggaran sila lainnya, mungkin perbuatan asusila, mencuri, melukai/membunuh, atau berbohong/menipu.

Seseorang yang menggunakan narkoba akan menjadi ketagihan sehingga bagaimana pun caranya ia akan berusaha untuk meneruskan menggunakan narkoba. Apalagi narkoba harganya tergolong mahal, sehingga si pengguna narkoba akan berusaha mencari cara mendapatkannya entah itu dengan mencuri uang, merampok, menipu atau cara-cara lainnya yang jelas melanggar sila lainnya dalam Pancasila-Buddhis.

Keburukan-keburukan dari menggunakan narkoba antara lain:

  • Memboroskan uang
  • Mudah menimbulkan pertengkaran atau perkelahian
  • Merusak kesehatan
  • Menjadi sumber noda (nama baik menjadi rusak)
  • Menyeret seseorang untuk melakukan perbuatan yang memalukan
  • Melemahkan daya pikir seseorang

Keburukan-keburukan tersebut sangat jelas dan akan dialami bagi pengguna narkoba (pecandu). Jika dibandingkan dengan minum-minuman keras, narkoba lebih berbahaya karena efeknya langsung ke syaraf manusia yang berhubungan dengan otak. Dan yang berbahaya dari penggunaan narkoba adalah efeknya yang pelan-pelan menghancurkan tubuh manusia karena membuat ketagihan.

Cara agar kita tidak menggunakan narkoba adalah jangan pernah mencobanya, walaupun hanya untuk coba-coba. Coba sadari dan pahami bahwa menggunakan narkoba sangat tidak bermanfaat bagi tubuh dan pikiran kita. Jangan terpengaruh lingkungan dan kendalikan diri sendiri. Jika berada pada lingkungan yang kurang baik, sebaiknya hindari interaksi yang sering dengan lingkungan tersebut karena bisa mempengaruhi pikiran. Cara lainnya adalah mengembangkan kebijaksanaan (pannya/prajna) dan cinta-kasih (metta/maitri). Kebijaksanaa dikembangkan agar kita dapat mengendalikan pikiran kita dan bertindak dengan pertimbangan. Kebijaksaan juga dikembangkan dengan memahami akibat-akibat buruk dari mengonsumsi narkoba. Sedangkan cinta kasih dikembangkan dengan cara merenungkan bahwa kita melaksanakan sila ke-5 agar tidak melukai orang-orang di sekitar kita (keluarga dan teman). Kita tahu bahwa ketika pikiran kita menjadi tidak bisa dikendalikan, kita akan melakukan kekerasan sehingga bisa mengakibatkan teman atau keluarga kita terluka. Walaupun bukan keluarga atau teman kita yang terluka, secara tidak langsung kita akan melukai perasaan mereka jika kita bertindak tanpa pengendalian diri.

Referensi:

  • Vajirananavarorasa. Pancasila dan Pancadhamma dalam agama Buddha. Sangha Theravada Indonesia.
  • Buku Dhammapada (Dharmapada)