Pendidikan memegang peranan yang sangat fundamental bagi pengembangan berbagai ilmu, termasuk pengembangan ajaran Buddha. Pendidikan erat kaitannya dengan kurikulum dan tidak dapat dipisahkan. Hubungan kurikulum dan pendidikan adalah hubungan antara isi dan tujuan pendidikan.

Banyak sekali definisi kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Namun, secara garis besar kurikulum mempunyai dua arti. Arti pertama kurikulum mencakup pengertian yang sempit, yaitu: seperangkat mata pelajaran (materi) yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Arti yang ke dua mempunyai pengertian yang lebih luas, yaitu: segala metode, cara, atau sistem pembelajaran yang diterapkan pada lembaga pendidikan, termasuk materi atau mata pelajaran yang diajarkan dan tempat pelaksanaan pendidikan. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pengertian kurikulum dalam arti luas.

Pendidikan mempunyai arti proses pengubahan sikap atau tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam arti singkat adalah proses atau cara dalam mendidik. Sedangkan kata “buddhis” menurut KBBI artinya penganut buddhisme (ajaran Buddha Gautama). Jadi pendidikan buddhis dapat diartikan sebagai suatu proses atau cara mendidik yang berlandaskan pemahaman terhadap ajaran Buddha. Selanjutnya, dalam tulisan ini pengertian pendidikan buddhis mengacu pada arti tersebut.

Menurut Bhiksu Chin Kung, tujuan dari pendidikan buddhis adalah untuk mencapai kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang dimaksud diukur dari sejauh mana tingkat delusi seseorang. Semakin seseorang menyadari dan memahami realitas kehidupan, maka tingkat kebijaksanaanya semakin tinggi pula.

Kurikulum pendidikan buddhis berarti segala metode, cara, atau sistem dalam suatu proses mendidik yang berlandaskan pemahaman terhadap ajaran Buddha dalam suatu lembaga pendidikan. Dari pengertian kurikulum dan pendidikan, dapat dilihat kaitannya, yaitu kurikulum dapat dipandang sebagai alat (metode) dan pendidikan dapat dipandang sebagai tujuan. Berarti kurikulum buddhis dapat dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan buddhis, atau kurikulum buddhis dapat dipandang sebagai alat bagi proses pembelajaran yang berlandaskan ajaran Buddha.

Materi kurikulum pendidikan buddhis yang dimaksud mencakup mata pelajaran atau mata kuliah yang dipelajari oleh siswa/mahasiswa. Penulis akan membahas hal-hal yang fundamental yang diperlukan dalam menyusun materi kurikulum buddhis. Landasan materi kurikulum buddhis tentunya harus berdasarkan ajaran Buddha atau interpretasinya.

Materi kurikulum untuk siswa sekolah dasar adalah poin penting yang sangat perlu diperhatikan. Berdasar faktor psikologis, pola berpikir dan tindakan seseorang yang telah dewasa sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kanak-kanaknya. Oleh sebab itu, dalam merancang materi belajar bagi siswa sekolah dasar perlu diperhatikan faktor psikologis mereka. Materi buddhisme yang sangat penting bagi anak-anak usia sekolah dasar adalah materi yang realistis, bukan teori-teori buddhisme yang rumit. Materi untuk anak-anak sekolah dasar seharusnya sederhana dengan banyak contoh nyata dalam kehidupan.

Beda halnya dengan materi yang diajarkan pada siswa menengah atau mahasiswa. Materi dapat lebih bersifat teoritis, dari konsep-konsep dasar ajaran Buddha sampai konsep ajaran Buddha yang lebih rumit seperti Abhidhamma/Abhidharma.

Sebagai dasar, materi penting yang perlu diajarkan adalah:

  • Brahmavihara atau catur paramita, yang meliputi cinta kasih (metta/maitri), belas kasih/welas asih/kasih sayang (karuna), turut-berbahagia (mudita), keseimbangan-batin (upekkha/upeksha). Dalam materi ini, penekanan terutama pada konsep cinta kasih dan welas asih. Terutama untuk siswa sekolah dasar, konsep ini memegang peranan yang sangat penting bagi pembentukan karakter mereka, sehingga akan membentuk karakter yang berbudi ketika dewasa. Untuk tingkat yang lebih lanjut pengembangannya adalah pengajaran tentang etika atau moralitas buddhis, seperti contoh sila dan dana.
  • Kamma atau karma, yaitu hukum sebab-akibat. Konsep ini penting untuk mengajarkan seorang siswa/anak berpikir logis dan realistis. Dalam menjelaskan tentang hukum sebab-akibat ini, poin penting yang tidak boleh terlupakan adalah bahwa hakikat segala sesuatu adalah saling-keterkaitan yang mempunyai hubungan sebab-akibat. Konsep saling-keterkaitan artinya adalah bahwa segala sesuatu dipengaruhi dan mempengaruhi. Tak lupa konsep ehipassiko juga diberikan dengan pemahaman yang benar, yaitu jangan percaya apa pun sebelum dibuktikan bahwa hal tersebut benar. Bukan menolak mentah-mentah suatu konsep yang belum terbukti, namun menyimpan konsep tersebut untuk diselidiki lebih lanjut.

Dua materi di atas mewakili dua aspek dalam pikiran (mental) manusia, yaitu logis dan psikologis. Dua aspek tersebut sangat penting dalam pendidikan buddhis sehingga akan menciptakan keseimbangan atau keharmonisan kehidupan.

Materi kurikulum seperti yang disebutkan di atas sudah ada dalam kurikulum agama Buddha saat ini. Namun, ada materi yang sangat penting yang kurang disadari oleh para pendidik buddhisme, yaitu tentang ekologi buddhis. Ekologi buddhis mengajarkan manusia agar menghargai lingkungan tempat hidup dan sumber kehidupan manusia. Materi tentang lingkungan, menurut penulis sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Efek dari kehancuran lingkungan akan menghantam kembali kepada manusia dan mungkin menghancurkan kehidupan di bumi. Materi ekologi buddhis (lingkungan) dapat diajarkan sejak dini kepada siswa sekolah dasar dengan contoh nyata, yaitu buang sampah pada tempatnya. Bagi tingkat lanjut diberikan pemahaman bahwa sangat penting untuk menghargai lingkungan dengan menyadari tindakan sehari-hari yang tidak merusak lingkungan.

Untuk memberikan materi pendidikan, diperlukan cara. Cara inilah yang dinamakan metode pendidikan. Terkait dengan materi pendidikan buddhis, maka metodenya dinamakan metode pendidikan buddhis. Metode pendidikan buddhis didefinisikan sebagai suatu cara atau sistem yang digunakan untuk pelaksanaan pendidikan buddhis, sehingga diharapkan tujuan pendidikan buddhis tercapai. Metode pendidikan juga termasuk dalam kurikulum pendidikan buddhis dalam arti luas. Dalam pelaksanaan pendidikan, banyak metode pendidikan yang dapat digunakan. Metode yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pendidikan buddhis antara lain:

Metode ini mengharapkan siswa/anak belajar sendiri dan mencari materi sendiri melalui alat-alat pendukung pembelajaran buddhisme. Metode ini tepat jika diterapkan bagi siswa menengah atas dan mahasiswa.

Metode satu arah ini efektif bagi siswa/anak yang baru mengenal buddhisme. Metode ini cocok bagi siswa dasar terutama masih kanak-kanak.

Metode ini bisa dimanfaatkan dari siswa sekolah dasar sampai lanjut (mahasiswa atau orang tua). Metode ini lebih efektif untuk siswa sekolah menengah dan mahasiswa. Metode ini adalah metode yang sangat efektif bagi proses pembelajaran karena para peserta bisa menambah wawasan dan bertukar pengalaman. Metode pendidikan buddhis yang paling sering digunakan dalam pembelajaran adalah metode ceramah (satu arah). Untuk siswa menengah dan lanjutan, metode diskusi sangat efektif dan diharapkan digunakan sesering mungkin.

Untuk mendukung terlaksananya metode pendidikan, diperlukan sesuatu yang disebut alat pendukung. Alat pendukung dimanfaatkan dalam proses pendidikan, termasuk pendidikan buddhis. Alat-alat pendukung tersebut dapat dikategorikan dalam 2 golongan, antara lain:

Manusia, terdiri dari: orang tua, para pemuka agama/pendidik. Peranan orang tua, para pendidik sangat besar dalam mendukung metode pendidikan buddhis. Orang tua dan para pendidik akan dijadikan teladan bagi para siswa.

Benda, terdiri dari: buku, kaset, cd, internet, dan media pembelajaran lainnya. Dengan majunya kecanggihan teknologi, kecenderungan alat pendukung metode pendidikan akan bergeser ke media internet. Segala informasi dapat diakses melalui internet, sehingga informasi negatif pun dengan sangat mudah didapat melalui internet. Oleh sebab itu, pengembangan pendidikan buddhis yang akan datang harus memperhatikan segi yang satu ini, sehingga hal yang kurang baik dapat dihindari.

Sebagai alat, kurikulum pendidikan buddhis dilaksanakan oleh lembaga pendidikan. Biasanya materi kurikulum diberikan ketika pelajaran agama Buddha di sekolah atau di wihara. Bagi sebagian siswa, wihara merupakan tempat pembelajaran. Namun sayangnya masih banyak wihara yang belum memanfaatkan tempatnya sebagai tempat pembelajaran buddhisme. Untuk mendukung wihara sebagai tempat pendidikan buddhis, diperlukan tenaga pendidik yang mendukung. Tenaga pendidik bisa berupa bhikkhu/bhiksu, guru agama Buddha atau siapa pun yang dianggap mampu. Tentunya para pendidik tersebut harus mampu memahami kurikulum pendidikan buddhis dan mampu mengembangkannya sesuai situasi dan kondisi. Saatnya bagi para pemuka buddhis mulai memanfaatkan wihara sebagai media pendidikan buddhis, selain sebagai tempat ritual.

Untuk mendukung wihara sebagai tempat pendidikan, diperlukan pengertian dan dukungan dari para orang tua dan juga metode pendidikan yang sesuai. Walaupun sudah ada orang tua yang mendukung pendidikan buddhis di wihara, namun masih terdapat banyak orang tua yang kurang peduli terhadap pendidikan buddhis anak-anaknya.

Tiga Metode pendidikan buddhis yang telah disebutkan sebelumnya dapat diterapkan di wihara. Metode ceramah biasanya paling banyak digunakan dalam pembelajaran buddhisme. Namun, jangan melupakan ke dua metode yang lain. Pada beberapa wihara, metode langsung (belajar sendiri) dapat diterapkan karena telah tersedianya alat pendukung seperti buku di perpustakaan. Metode diskusi biasanya jarang digunakan padahal metode ini yang paling efektif untuk menambah pengetahuan siswa. Diharapkan banyak wihara yang mulai aktif memanfaatkan metode diskusi sebagai salah satu metode pendidikan buddhis.

Oleh sebab itu diperlukan reformasi dalam organisasi wihara sehingga wihara bukan hanya sebagai tempat ritual, namun juga sebagai tempat pendidikan buddhis yang bisa menerapkan suatu kurikulum pendidikan buddhis yang baik, sehingga diharapkan generasi buddhis selanjutnya akan lebih baik dalam memahami ajaran Buddha dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu tempat yang sangat penting sebagai pusat dari segala pendidikan buddhis adalah keluarga. Keluarga adalah poin terpenting dalam pembentukan karakter.

Pendidikan dalam keluarga dapat dilihat sebagai suatu sistem yang dapat menerapkan poin penting kurikulum pendidikan buddhis seperti yang telah disebutkan, yaitu etika buddhis, sampai ekologi buddhis. Di dalam keluarga, tiga metode pendidikan buddhis bisa diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi. Untuk anak-anak (balita) sampai sekolah dasar kelas metode ceramah (satu arah) dapat dimanfaatkan, walaupun metode diskusi juga bisa.

Untuk itulah orang tua harus memahami hakikat ajaran Buddha sehingga bisa diajarkan kepada anak-anaknya. Materi yang perlu diajarkan sejak dini kepada anak-anak adalah konsep cinta-kasih dan bagaimana berpikir bijaksana. Tidak lupa ketika beranjak dewasa, anak-anak diberi pengertian yang jelas tentang hakikat dunia yang saling keterkaitan yang mempengaruhi dan dipengaruhi (sebab-akibat yang saling keterkaitan) dan bahwa segala sesuatu akan selalu berubah.

Para orang tua juga harus memberikan contoh yang baik, seperti membuang sampah pada tempatnya, mengajak anaknya ke wihara, mengajarkan sopan-santun, dan berbagai hal yang positif. Jangan sampai sebagai orang tua, memberikan contoh yang buruk, seperti membuang sampah lewat jendela mobil, malas ke wihara, dan sebagainya. Jadi, diharapkan dukungan orang tua terhadap pendidikan buddhis anak-anaknya untuk saat ini dan masa mendatang akan semakin baik.

Kurikulum pendidikan buddhis erat kaitannya dengan pendidikan buddhis. Kurikulum dapat dipandang sebagai proses, alat, atau metode dan pendidikan dapat dipandang sebagai hasil atau tujuan. Untuk mencapai tujuan pendidikan buddhis diperlukan dukungan dari kurikulum pendidikan buddhis yang baik. Kurikulum pendidikan buddhis meliputi materi kurikulum, metode pendidikan, alat pendukung metode, dan tempat pelaksanaan kurikulum (wihara dan keluarga).

Materi kurikulum yang baik mencakup dua aspek yaitu logis dan psikologis. Konsep cinta kasih dan kebijaksanaan merupakan konsep dasar yang perlu diberikan. Konsep kesalingterkaitan (sebab-akibat) sangat penting dipahami dan sebagai tambahan yang penting yang jangan sampai dilupakan adalah tentang lingkungan (ekologi buddhis).

Untuk memberikan materi kurikulum, diperlukan metode pendidikan. Metode yang dapat digunakan dalam pendidikan buddhis ada tiga yaitu: metode langsung (belajar sendiri), metode ceramah (satu arah), dan metode diskusi (dua arah).

Metode yang digunakan disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dan dalam pelaksanaannya, diperlukan alat pendukung antara lain orang tua, para pendidik termasuk pemuka agama dan media pembelajaran (buku, kaset, cd, internet).

Tempat pelaksanaan kurikulum pendidikan buddhis adalah di sekolah atau wihara dan sebagai pusat pendidikan buddhis adalah keluarga. Keluarga memegang peranan yang sangat fundamental dalam pembentukan karakteristik seorang anak. Oleh sebab itulah orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya.


Daftar Pustaka

  • Dakir, H. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Kung, Chin. 2006. Buddhisme Sebagai Sebuah Pendidikan. Jakarta: Dian Dharma.
  • Nasution, S. 1999. Asas-asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Nurgiyantoro, Burhan. 1988. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah (Sebuah Pengantar Teoritis dan pelaksanaan). Yogyakarta: BPFE.
  • Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka.