“Para Bhikkhu, seandainya saja selama sejentikan jari seorang bhikkhu memancarkan bauh-pikir cinta kasih, mengembangkannya, memberikan perhatian kepadanya, maka orang seperti itu benar-benar dapat disebut seorang bhikkhu. Tak sia-sialah dia bermeditasi. Dia bertindak sesuai dengan ajaran Sang Guru (Buddha), dia mengikuti nasihat Sang Guru, makan makanan yang sepantasnya dia peroleh dari mengumpulkan dana makanan. Betapa lebih besarnya cinta kasih itu jika dia mengembangkannya”

(Anguttara Nikaya I, vi, 3-5)

Dari sutta (sutra) di atas, kita melihat bahwa betapa pentingnya cinta kasih yang seperti yang dikatakan Sang Buddha kepada para bhikkhu. Beliau mengatakan bahwa walupun dikembangkan selama sejentik jari (artinya pikiran berpikir dan merenung tentang cinta kasih walau sebentar saja), cinta kasih itu sangat bermanfaat dan benar-benar dapat disebut “bhikkhu”. Bhikkhu di sini bisa diartikan sebagai orang yang berlatih sesuai ajaran Buddha. Jadi pengembangan cinta kasih sangat dianjurkan bagi setiap orang.

Kalimat selanjutnya dikatakan “tak sia-sialah dia bermeditasi”. Sebelumnya kita perlu mencermati kalimat sebelumnya yang mengatakan “memberikan perhatian” dan “mengembangkan” cinta kasih. Tak sia-sia bermeditasi di sini karena ketika mengembangkan cinta kasih (dengan berpikir dan merenung atau meditasi cinta kasih) dengan perhatian yang selalu sadar dan terus dikembangkan pikiran cinta kasihnya.

Lalu diakhir kalimat dikatakan bahwa “betapa lebih besarnya cinta kasih itu jika dia mengembangkannya”. Artinya cinta kasih itu bukan hanya sekedar melatih pikiran cinta kasih, namun juga praktek cinta kasih secara nyata. Tentunya praktek itu dilaksanakan dengan morivasi dan pikiran cinta kasih.

Mengembangkan cinta kasih dimulai dari pikiran cinta kasih. Caranya bisa dimulai dari seringnya kita berpikir “semoga semua makhluk hidup berbahagia, semoga semua makhluk bebas dari penderitaan”. Kalimat itu hendaknya berulang-ulang kali kita pikirkan. Kemudian lebih lanjut kita dapat merenungkan cinta kasih. Biasanya di mulai dari diri sendiri. “Apakah saya mau bahagia? Bagaimana saya bisa bahagia? Membenci membuat saya menderita. Tanpa kebencian membuat hidup saya menjadi bahagia. Cinta kasih adalah tidak membenci. Saya ingin bahagia, begitu pula orang lain. Maka saya harus tidak membenci. Berarti saya harus mengembangkan cinta kasih ”

Cara termudah untuk melatih pikiran cinta kasih adalah dengan selalu berpikir dan merenungkan seperti contoh di atas. Tidak sulit. Hanya diperlukan beberapa menit sebelum tidur. Ketika pikiran dipenuhi cinta kasih, sebuah jalan menuju kebahagiaan sejati telah terbuka di depan mata.

Terjemahan dikutip dari buku “Petikan Anguttara Nikaya 1”, ed.1 cet. 1 2001, sutta no. 5 hal. 69, diterbitkan oleh Wisma Meditasi & Pelatihan DHAMMAGUNA, Klaten.