Semalam saya mendengar suatu kisah nyata. Ada seorang suami yg akhir-akhir ini jarang pulang rumah. Istri dan anak-anaknya mulai merasa kehilangan dan merasakan perubahan sikap ini. Akhirnya Istri bersama dengan mertuanya (ibu suaminya) mencari tau kemana perginya sang suami / anaknya pada saat tidak pulang. Setelah diselidiki, ternyata sang suami berselingkuh dengan seorang wanita yg bekerja satu kantor, dengan wanita yg dianggap “lebih bagus” daripada wanita yg ada dirumah.

Apa yg akan anda lakukan apabila anda adalah sang istri ? apakah minta cerai ? apakah anda menasehati suami dan menerimanya kembali ? atau anda diamkan saja, pura-pura tidak tahu, daripada diceraikan sehingga menambah masalah dan beban hidup ? Atau yg lainnya ?

Sang istri ini memilih menasehati sang suami, memaafkan dan menerima suaminya kembali. Dan sang suami ternyata menyambut baik sikap sang istri. Sang suami memang lebih memilih keluarganya daripada TTM (teman tapi mesra) nya ini. Mungkin baginya selingkuh hanyalah sekedar iseng-iseng saja. Sang istri dan suami akhirnya mampu berkumpul kembali tanpa mengungkit-ungkit masa lalu.

Sepertinya masalah tersebut sederhana sekali penyelesaiannya. Hanya cukup tidak berbuat lagi, memaafkan dan menerima apa adanya. Tetapi apakah benar masalah mereka telah selesai disitu ? Ternyata belum. Setelah beberapa lama kemudian wanita TTM tersebut menuntut pertanggungjawaban sang suami. Akibat hubungan gelap itu, wanita tersebut mengaku telah Hamil. Langsung saja hilang ceria yg baru saja mereka nikmati kembali.

Kembali muncul pertanyaan, apa yg akan anda lakukan apabila anda adalah sang istri ? apakah meminta utk menggugurkan kandungan ? apakah membayar ganti rugi dan meminta wanita itu pergi ? apakah merelakan suami berpoligami ria ? atau anda minta cerai dan pergi dari mereka semua ? Atau apa ada yg punya ide lain .. ? Sepertinya tidak ada pilihan yg enak di telan. Tidak ada pilihan yg terbaik. Ternyata masalahnya tidak sesederhana yg kita pikir.

Nah… saya tidak membahas lebih lanjut bagaimana pilihan dan nasib keluarga ini. Bukan pula sedang melakukan pooling utk mendapatkan solusi atas masalah tersebut. Apalagi menggosipkan masalah orang lain atau menertawakan kebodohan orang lain. Tetapi sebaliknya ingin mengajak kita semua merenung, belajar dan memetik manfaat dari cerita nyata ini.

Apakah sharing cerita diatas bisa bermanfaat ? Mungkin saja, siapa tau. Karena bukan cuma mereka yg bisa mengalami, tetapi anda dan saya pun sangat mungkin tergelincir dalam masalah rumit seperti ini. Memang sih.. enak dan nikmat .. owe juga kepengen. Tetapi kalau ujung-ujung begitu…wah owe mikir dulu ah…bingung juga nich…. Buat yg sedang ber-TTM ria, renungkanlah lebih jauh akibatnya sebelum semuanya bertambah sulit. Buat yg belum ber-TTM, mungkin akan berpikir panjang setelah merenungkan cerita diatas. Daripada TTM, lebih baik TTT (teman tetap teman) saja. Iseng-iseng berhadiah siapa juga mau, tapi iseng-iseng bermasalah ? apakah kita semua juga mau ? Saya tidak tau berapa banyak orang yg mau.  🙂

Tapi mari kita lihat dari sisi yg lain lagi. Dari sisi seorang anak hasil dari “modal yg kita tanamkan” . Mereka adalah akibat dari perbuatan kita. Mereka tidak tau apa-apa tetapi semata-mata menjadi konsekwensi dari perbuatan kita. Jangan buat mereka menjadi korban kebodohan kita. Anak-anak itu tidak memilih utk lahir. Mereka tidak bisa memilih siapa orang tuanya dan bagaimana kisah orang tuanya bekerjasama melakukan “produksi”. Tetapi meskipun demikian, apabila mereka sudah terlahir, mereka mampu mencintai orangtuanya. Mereka mampu memberi senyuman tulus yg membuat orang tuanya bahagia. Kita juga tahu anak-anak kecil masih sangat polos. Mereka selalu ikhlas menerima siapapun orang tuanya. Apakah orang tuanya kulit hitam atau kulit putih, jelek atau enak dipandang, kaya ataupun miskin, berprilaku kasar ataupun sopan, terpelajar ataupun buta huruf, koruptor atau jujur dsb. Oleh karenanya sayangilah mereka. Berilah catatan biografi mereka yg dapat dibanggakan. Jangan mewariskan mereka cerita hitam bagaimana mereka terlahir akibat kebodohon papa dan mamanya. Singkatnya, siapapun,termasuk anda dan saya tidak ingin terlahir dengan kisah perselingkuhan. Selain itu, kita semua ingin dicintai dan diterima kehadirannya.

Dikaitkan kembali dengan cerita diatas, apapun pilihannya, Apakah digugurkan atau papa berpoligami atau papa menikahi mama tetapi menceraikan mama dari anak yg lain. Atau apapun pilihan yg lainnya, mungkin menjadi pilihan yg baik buat papa atau mama atau yg lain, tetapi sama sekali bukan pilihan yg fair buat anak. Karena apapun pilihannya, anak tetap harus ikut bertanggungjawab seumur hidupnya atas tingkah laku orang tuanya.

Terakhir utk renungan kita, hidup adalah pilihan. Tetapi kita tidak bisa memilih semua yg kita inginkan. Tentukan pilihan kita dan tinggalkan sisanya. Atau kita tidak pernah menjadi orang yg bahagia karena tidak puas dengan apa yg telah kita pilih sebelumnya. Lakukan pemilihan selagi pilihan yg baik masih bisa dipilih. Jangan menunggu sampai ketika yang tertinggal hanyalah pilihan yg pahit-pahit saja.

So… apakah anda memilih TTM atau TTT ? hidup anda tergantung apa yg anda pilih. Have a nice day…