Suatu ketika, saya bercerita kepada seorang bapak tentang fatalnya akibat Pandangan Salah. Entah mengerti entah tidak, beliau hanya mendengarkan saja. Very well, very good alias tidak rewel, manggut-manggut. Saat saya minta sharingnya, “Apakah bapak punya pengalaman mengenai pandangan salah?”. Beliau berpikir sejenak dan tiba-tiba menjawab dengan serius : “Ada.”

Beliaupun bercerita, “Beberapa tahun lalu, saya bersama istri menghadiri acara pernikahan bawahan saya yg masih muda itu. Banyak teman-teman kantor diundang, sebagian lagi mungkin teman-teman atau saudaranya. Lalu ketika itu, setelah selesai antri mengambil makanan, saya pun mencari-cari dimana istri saya yg tadi mengantri ditempat lain. Ketika saya memandang keseluruh ruangan, tiba-tiba pandangan saya berhenti pada seorang gadis cantik yg masih muda. Benar-benar cantik sekali pikirku. Pandanganku seolah tidak ingin pergi dari pemandangan indah itu. Sampai akhirnya saya tersentak kaget oleh sapaan beberapa bawahan saya. Entah sejak kapan, mereka sudah berdiri disekeliling. Saya gagap dan bingung mesti jawab apa, ketika ada yg bertanya dengan tersenyum, lagi mandangi apa pak, sampai begitu seru. Saya jadi salah tingkah, ehmmm, selamat malam, ehmm..enggak.. lagi nyari ibu. Dalam hatiku, ah jadi malu, ini gara-gara “Pandangan yang Salah”. Kemudian mereka bilang, lah ibu dari tadi disini bersama kami. Aduh, kenapa jadi begini. Dan saat ku lihat istriku, dia membalas dengan tatapan…ah sudahlah … gara-gara Pandangan Yang Salah”

Saya tertawa dan berkata, “Wah, itu bukan Pandangan Yang Salah pak. Pandangannya sih sudah benar, saya juga pasti akan memandang kesana, cuma di Tempat Yang Salah (tempat yg banyak orang kenal sama bapak), dan Waktu Yang Salah (waktu istri ada disamping pula)”. Dan kami pun tertawa bersama…. hahahahaha….komplit deh..

Saya ingin menggali lebih dalam mengenai pandangan yg salah dan benar. Tetapi pandangan yang dimaksud disini bukanlah pandangan seperti cerita bapak tadi. Pandangan salah disini adalah mengenai sudut pandang, pemahaman, pengertian, keyakinan, persepsi, paradigma yang salah. Pandangan yang salah bisa membuat semua tindakan kita menjadi salah semuanya. Begitu fatalkan kalau pandangan kita salah ? Sepertinya iya. Misalnya saja, ketika kita mencari suatu tempat, maka pertama-tama kita akan menggunakan pandangan mata terlebih dahulu. Apabila pandangan mata berhenti pada tujuan yg sesuai dengan persepsi kita, maka semua usaha, waktu, tenaga kita habiskan utk bergerak kesana. Tetapi apabila ternyata pandangan kita salah, bukankah segala usaha, waktu dan tenaga kita menjadi salah semua ? menjadi sia-sia, tidak membawa manfaat dan tentunya juga rugi atas semua yg seharusnya bisa kita capai seandainya pandangan kita tidak keliru.

Oleh karena itu, hati-hatilah dalam meyakini suatu pandangan. Seorang kapten kapal harus sangat hati-hati dengan pandangan kedepannya / arah kapal, kalau tidak ingin terdampar. Kapten selalu berpegang pada alat bantu berupa kompas. Karena kompas bisa memberikan “kebenaran universal”. Arah utara yg ditunjukan oleh kompas selalu sama sejak ditemukan. Dipergunakan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun selalu sama. Pandangan yang kebenaran nya berubah pada waktu dan tempat yg berbeda bukanlah pandangan yg mengandung kebenaran yang sejati, benar pada waktu dulu tetapi salah pada waktu sekarang, berlaku pada satu bangsa tetapi tidak pada bangsa lain, atau benar pada suatu tempat, tetapi tidak bisa diterima ditempat lain. Kebenarannya pun disebut kebenaran relatif. Karena itu pintar saja tidak cukup untuk meyakini suatu pandangan, tetapi harus pintar-pintar agar tidak terpasung.

Pandangan seseorang sangat dipengaruhi oleh “data-data” di Neck Top nya (baca: otak). Stephen R. Covey pernah membuktikan paradigma seseorang sangat tergantung pada ingatan / simpanan pengetahuan kita dimasa lalu. Beliau membagi kelas menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama diberi foto-foto dan cerita tentang gadis-gadis muda. Kelompok kedua “dicekokin” dengan banyak sekali foto-foto dan cerita orang jompo / nenek-nenek. Masing-masing kelompok tidak tau kalau foto-foto yg mereka amati adalah berbeda dengan kelompok lainnya. Setelah setengah jam, foto-foto dikumpulkan kembali. Lalu satu kelas ini dibagikan gambar yg sama. Gambar yg bisa dilihat dari 2 cara pandang. Anda pernah melihat gambar yg bisa terlihat sebagai kuda dan bisa juga terlihat sebagai kodok misalnya ? Nah, gambar ini yg bisa terlihat sebagai wanita muda yg cantik dan juga sebagai nenek-nenek. Hasilnya, kelompok pertama memberikan persepsi wanita muda dan kelompok kedua melihatnya sebagai gambar nenek-nenek. Apa sebabnya ? Karena sebelumnya pikiran mereka sudah terisi pengalaman dan pengetahuan dengan objek tadi. Dan pikiran pun cenderung memberi persepsi berdasarkan pengalaman masa lalu tadi.

Kita semua selalu berpikir dan bereaksi terhadap masalah apapun dengan cara yg hampir sama dan menggunakan semua pengetahuan yg pernah diisi diotak kita. Kita cenderung membanding-bandingkan apa yg ada dikepala kita dengan informasi yg masuk. Yang jadi masalah, apabila pengetahuan itu sudah lama tersimpan dipikiran, yang diajarkan dan sudah kita yakini kebenarannya sejak kecil. Pengetahuan seperti itu sudah tersimpan dipikiran bawah sadar kita. Pengetahuan seperti ini, tidak gampang dihapuskan, harus dengan usaha yg tidak biasa. Meskipun logika kita mengatakan keyakinan yg ada dalam pikiran bawah sadar tadi adalah salah, kita tetap tidak akan melakukan perintah dari logika. Kalaupun dilakukan, akan timbul suatu perasaan aneh atau tidak nyaman sampai pelakunya sendiri pun tidak mengerti apa penyebab munculnya perasaan itu.

Oleh karena salah satu faktor yg sangat berpengaruh terhadap pandangan kita adalah pengetahuan masa lalu, maka hati-hatilah mengisi pengetahuan dipikiran kita. Umat Buddha selalu diajarkan untuk memberi label “Perlu Diuji Kembali” pada semua pengetahuan kita untuk memberi kesempatan kebenaran sejati masuk sewaktu-waktu. Kita juga diajarkan untuk menerima suatu kebenaran yg baru diketahui dengan cara proposional/bijaksana. Jangan langsung disimpan dan diyakini ataupun ditolak begitu saja. Biarkan label “Perlu Diuji Kembali” menempel di pengetahuan kita sampai saatnya terbukti benar. Tetapi ini bukanlah berarti semua informasi yg berlabel “Perlu Diuji Kembali” ini tidak layak dipergunakan /dipercayai, melainkan selama tidak ada yang lebih unggul, maka informasi ini boleh dianggap paling benar dan tidak menutup kemungkinan utk mengganti label menjadi “Pandangan Salah” diwaktu yg lain.

Dari banyak masalah yg kita hadapi, kelihatannya kebijaksanaan pribadi masing-masing memang sangat diuji. Selalu dan selalu Sang Buddha mengajarkan murid nya utk mengembangkan kebijaksanaan. Tidak salah apabila Guru Agung kita diberi gelar Raja Para Bijaksana. Karena beliau sendiri pun selalu mengggunakan kebijaksanaan. Orang bijaksana tidak mungkin berpandangan salah, sebaliknya orang berpandangan salah pastilah bukan orang bijaksana. Sudah hukum alam, hanya orang bijaksanalah yg “berjodoh” bertemu dengan pandangan benar. Dan percayakah anda bahwa kebijaksanaan adalah pencapaian yg melalui proses dan usaha yg sungguh-sungguh, bukanlah hadiah ?

Orang yg masih memegang teguh pandangan salah, tidak mau mendengar dan mempertimbangkan pandangan lain, menandakan kwalitas kebijaksanaan nya yg masih rendah. Sang Buddha mampu mengajarkan orang yg rendah kecerdasannya dengan berbagai cara, namun beliau tidak mampu mengajarkan Dhamma kepada orang yg belum cukup kebijaksanaannya. Beliau hanya mengajarkan Dhamma dengan tingkat yang sesuai dengan tingkat kebijaksanaan masing-masing.

Demikianlah pandanganku, apakah ada pandangan ku salah ? Kalau begitu, mohon bagilah pandangan anda …..