Sering muncul pertanyaan baik dari kalangan umat Buddha sendiri maupun dari umat lain, “Apakah umat Buddha mengucapkan syukur ?” atau “Kepada siapa / apa dan bagaimana cara umat Buddha bersyukur ?”.

Umat Buddha diajarkan untuk “Melihat segala sesuatu apa adanya”. Melihat makanan sebagai makanan, bukan pemuas nafsu. Sehingga menghargai makanan apapun. Melihat rumah sebagai tempat berteduh, bukan gengsi. Melihat pakaian sebagai penutup badan, bukan sebagai alat utk pamer-pameran atau tujuan lain. Melihat semua kondisi dengan netral, tidak menolak dan tidak perlu melekat. Bekerja dan melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya dan sepenuh hati. Sehingga siapapun yg mampu “Melihat segala sesuatu apa adanya”, maka hidup ini akan menjadi sangat indah dan lentur. Singkatnya umat Buddha diajarkan bersyukur melalui sikap dan perbuatan.

Mengapa bersyukur tidak cukup dan bukan hanya dari ucapan saja, melainkan harus dari tindakan nyata ? Karena kalau ada orang mengucapkan syukur sebelum makan tetapi mengomentari makanannya tidak enak, tidak suka, tidak menghabiskan makanan atau membuangnya ke tempat sampah. Itu namanya : “Jaka Sembung ke Tukang Cukur, Tidak nyambung dan Bukan Bersyukur”. Mungkin ada org yg tidak setuju, namun saya lebih suka bersyukur dengan cara berusaha sepenuh hati “menikmati” makanan apapun yg telah disiapkan untukku.

Dalam suatu seminar, Gede Prama pernah menceritakan suatu lelucon. Katanya : ada seorang teman yg sangat menyukai kecantikan Paramita Rusady. Temannya itu punya kebiasaan mengucapkan “Paramita” setiap ketemu wanita yg menarik perhatiannya. Ketemu wanita cantik di mall, dia bilang “Wah, Paramita”. Melihat wanita seksi, dia juga bilang “Paramita”. Disini “Paramita”, disana “Paramita”, dimana-mana dia kok seolah bertemu terus dengan “Paramita”. Tetapi ketika bertemu dengan istri, dia berkata “Parah Banget”.

Itu adalah cerita ttg penyakit manusia, yg lebih menghargai apa yg BELUM dia miliki daripada apa yg TELAH dia miliki. Ketika belum punya istri/suami, kita berharap punya. Ketika sudah punya, kita mulai memberi perhatian terhadap hal lain. Ketika sudah memiliki motor, kita melirik mobil. Ketika punya mobil, kita berpikir ttg rumah. Ketika punya rumah, kita berharap punya entah apa lagi. Ada orang yg punya suami, namun ingin bercerai. Ada yg merasa tetap kurang bahagia meskipun berhasil dikarir, karena belum punya pacar katanya. Ada lagi orang yg punya keluarga bahagia, namun masih kurang lengkap karena belum punya anak. dsb dsb. Sebagai manusia “Normal”, semuanya baik dan boleh-boleh saja. Tetapi tidak ada salahnya juga sekali-kali kita renungkan, Mengapa hidup kita selalu berkejar-kejaran? Mengapa setiap satu harapan kita terpenuhi, kita masih saja belum bisa bahagia selamanya? Mengapa kita selalu menganggap hidup ini belum sempurna? Apa sebenarnya yg kita butuhkan ? Untuk apa kita terus meraih apa yg belum kita miliki ? dan Mengapa kalau bisa, kita ingin memiliki segalanya ?

Sebagian manusia sadar dan mulai berpikir diakhir usianya, apa sih sebenarnya yg mereka butuhkan?. Mengapa sepanjang hidupnya merasa kurang puas dan kurang bahagia ? Terkadang rasa meyesal pun datang diakhir usianya. Tetapi ada sebagian lagi manusia yg disebut memprihatikan, karena menghabiskan sepanjang usianya hanya untuk berkejar-kejaran saja tanpa sempat sekalipun berhenti sejenak berpikir kemana arah dan tujuan akhir yg sebenarnya ingin dia tuju ?

Kembali ke cara bersyukur. Bagi yg mempunyai kepercayaan yg berbeda, silahkan menggunakan cara masing-masing. Namun demikianlah cara bersyukur yang saya pahami dari ajaran Buddha Gotama.