Setiap kali harus mengucapkan ’terima kasih’ atas kebaikan dan pertolongan apapun yang diterima, saya teringat akan ’kasih terima’.

Bagaimanapun kondisi kita saat ini, umumnya kita lebih baik dibanding banyak makhluk lain yang lebih menderita. Walaupun kita sering mengeluh dan tidak puas dengan diri dan pencapaian kita, jika mau membuka panca indera dan pikiran secara obyektif, kita akan mengakui ’keberuntungan’ kita.

Artinya kita sedang menerima buah karma baik sampai saat ini. Sampai berapa lamakah ? Entahlah. Apakah kita hanya mau menikmati dan menghabiskan sendiri buah karma baik ini, yang berasal dari perbuatan-perbuatan baik kita di masa lampau, ataukah kita mau berbagi melalui banyak perbuatan baik kepada makhluk lain ?.

Melalui pemanfaatan waktu luang kita untuk berbuat lebih banyak kepada keluarga, teman, kenalan, vihara, maupun orang lain yang membutuhkan, dikenal maupun tidak, berarti kita sudah memanfaatkan buah karma baik kita (dalam bentuk waktu luang) dengan baik. Demikian pula pikiran, pengetahuan, ketrampilan, tenaga, harta benda dapat dimanfaatkan tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga dikontribusikan guna membuat orang lain terbantu.

Dengan berbagi apa-apa yang kita miliki saat ini, baik fisik maupun non fisik, kita sudah menanam benih subur, yang akan berbuah melimpah di masa mendatang sesuai berlakunya Hukum Karma.

Norma umum jika kita menerima sesuatu atau kebaikan dari orang lain, kita mengucapkan ‘terima kasih’. Tertanam dalam benak kita urutannya, ‘terima’ dulu, baru ‘kasih’ (memberi). Jadi kita terbiasa untuk menerima dulu, dan jika ingat, barulah memberi kepada orang lain.

Yang lebih tepat seharusnya ‘kasih terima’. Sesuai dengan Hukum Karma, setelah kita memberi (berbuat), barulah kita akan menerima hasilnya. Keputusan ada di tangan kita, apakah ingin menghabiskan sendiri buah karma baik saat ini ataukah ‘menyisihkannya’ sebagian untuk makhluk lain yang membutuhkan, sehingga kita dapat menikmati buah karma baik yang berkelanjutan.

Mudah-mudahan pengertian dan pemahaman kita mengenai Hukum Karma bisa mendorong kita untuk selalu mempraktekkan ‘kasih terima’.