‘Tendang bola sembunyi kaki’ adalah pelintiran kreasi saya dari peribahasa populer ‘Lempar batu sembunyi tangan’. Arti keduanya sama persis yaitu tidak berani mengakui perbuatan sendiri.

Peribahasa pelintiran ini terbukti banyak gunanya untuk menarik perhatian orang yang mendengar. Sewaktu berceramah, mengajar sekolah minggu buddhis, berbincang-bincang dengan teman, peribahasa ini menjadi obat mujarab untuk mencairkan suasana.

Tentu saya tidak bermaksud menganjurkan orang lain untuk mempraktekkan peribahasa pelintiran saya tersebut dalam kehidupan seharí-hari. Banyak orang tidak berani bertanggung jawab terhadap perbuatannya, malahan kalau bisa melemparkan tanggung jawabnya kepada orang lain alias mencari ‘kambing hitam’. Walaupun seseorang bisa lepas dari akibat langsung perbuatannya, tetapi yakinlah bahwa Hukum Karma tidak akan luput mengantarkan buah perbuatannya, entah kapan cepat atau lambat.

Secara ringkas, Hukum Karma mengandung tiga inti sari berikut yaitu, ada perbuatan baik dan perbuatan tidak baik, setiap perbuatan akan menghasilkan akibat, dan akibat itu akan diterima oleh pembuat perbuatan.

Bagi kita yang menjadi korban ’tendang bola sembunyi kaki’, daripada menghabiskan waktu untuk menginvestigasi siapa yang ’menendang bola’, ada respon yang lebih positif dalam menyikapinya. Serahkan kepada Hukum Karma untuk mengirimkan buah yang tepat di waktu yang tepat kepada penendang tersebut.

Percayalah bahwa dalam kehidupan ini, akan banyak ’bola-bola yang ditendang’ kepada kita tanpa ketahuan penendangnya. Dengan menerima dan menyakini Hukum Karma, akan lebih mudah bagi kita menerima ’bola-bola’ yang datang. Daripada bersibuk ria mencari penendangnya atau menangisi bagian tubuh yang sakit terbentur ’bola’, lebih baik pakai ’bola’ tersebut untuk bermain atau malah dijual sehingga dapat mendatangkan ’untung’ bagi kita. Artinya terimalah perbuatan jahat orang lain yang tidak dapat kita hindari. Gunakan perbuatan jahat yang kita terima ini untuk merenung bahwa itulah buah perbuatan buruk yang pernah kita lakukan. Jangan kita melakukan perbuatan buruk sejenis kepada orang lain, yang akan berbuah tidak menyenangkan bagi kita nantinya.

Marilah kita menerima ’tendang bola sembunyi kaki’ dengan lapang dada dan mampu merespon secara tepat.