Anak-anak saya senang bermain balon dengan cara ditepuk bergantian. Sebelum bermain, balon harus ditiup dulu. Inilah masalah yang ’menakutkan’ saya karena kadang balon meletus sewaktu ditiup.

Alhasil saya sering mencari alasan untuk menghindar bermain tepuk balon supaya terhindar dari kewajiban meniup balon. Banyak alasan yang dapat dikemukakan, capek pulang kerja, ada yang harus dikerjakan, sudah terlalu malam, dan sebagainya. Mudah ditebak, anak-anak kecewa dan saya tidak pernah berani menghadapi ketakutan saya.

Untung pemahaman, pengertian dan kesadaran saya menyeruak. Tidak baik membiarkan anak-anak sering kecewa. Saya juga harus berani menghadapi ketakutan dan tidak menghindar dari masalah.

Saya mulai menganalisa. Jika balon meletus sewaktu ditiup, resiko terburuk apa yang akan saya alami. Kaget ? Pasti. Paling-paling jantung berdetak lebih cepat. Jika pecahan balon kena muka, tangan atau bagian tubuh lainnya, paling-paling rasa pedas dan sakit sedikit. Harga balonpun tidak mahal sehingga bisa beli lagi dengan mudah. Jadi apa yang perlu terlalu ditakutkan ? Segala konsekuensi tersebut saya sanggup menerimanya. Toh saya tidak akan mati karenanya.

Berbekal kesadaran dan penerimaan atas resiko terburuk di atas, saya akhirnya menantang anak-anak, kapanpun, dimanapun mereka mau main tepuk balon dan saya harus meniup balon terlebih dahulu, siapa takut ?

Takut dan cemas merupakan perasaan atau pikiran negatif yang sering menghinggapi manusia normal di jaman yang serba cepat dan menuntut dewasa ini.

Takut dan cemas adalah setali tiga uang, seia-sekata dan biasanya muncul dalam bentuk berpasangan. Jika yang satu ada, yang lain ikutan hadir.

Salah satu cara efektif untuk mengobati ketakutan adalah hadapi ketakutan tersebut. Mulailah dengan menganalisa hasil terburuk yang mungkin diterima. Jika hasil terburuk itu masih dalam kesanggupan diri, tantanglah ketakutan tersebut. Biasanya ketakutan tidaklah semenakutkan yang dibayangkan atau diperkirakan.

Demikian juga dengan masalah. Tidak ada seorangpun manusia yang tidak punya masalah. Dalam takaran dan frekuensi kemunculan yang berbeda, masalah akan selalu ‘mendatangi’ atau ‘didatangi’ oleh setiap manusia. Banyak orang yang menghindar atau menunda masalah, yang mungkin saja menjadi pupus dengan berjalannya waktu. Akan tetapi dalam kebanyakan kasus, masalah yang terabaikan akan makin membesar dari waktu ke waktu, dan menggulung atau menenggelamkan orang tersebut.

Mulailah mengenali masalah kita. Siap untuk menerima kemungkinan atau akibat terjelek dari masalah tersebut. Mencari pertolongan jika kita tidak sanggup menghadapinya sendiri. Kemudian mulai hadapi dan pecahkan. Dengan menghadapi satu masalah ke lain masalah, proses pendewasaan dan pematangan diripun berjalan secara alami dan konstruktif.