Karena sekarang saya lebih banyak ’disopirin’, banyak kesempatan untuk mengamati cara mengemudi orang lain.

Dalam salah satu tulisan, saya membagi sopir menjadi tiga jenis.

Sopir pertama selalu melihat spion kiri, kanan, dan kaca di tengah untuk memperhatikan situasi di belakang.

Sopir kedua selalu melihat jauh ke depan, ke arah yang dituju.

Sopir ketiga tahu tujuannya, sesekali melihat spion kiri, kanan dan tengah. Terpenting, dia memperhatikan sepenuhnya jalan di depan yang sedang dilalui.

Kita semua akan memilih sopir ketiga karena yakin bisa mencapai tujuan dengan selamat.

Kenyataannya banyak orang seperti sopir pertama dan kedua. Mereka mungkin sadar, tetapi tidak pernah berupaya sungguh-sungguh menjadi sopir ketiga.

Sopir pertama adalah orang yang terbenam pada masa lalunya, kurang memperhatikan saat sekarang, dan tidak punya tujuan hidup. Jika bisa waktu diputar kembali ke masa lalu.

Sopir kedua penuh ambisi untuk mencapai banyak hal dalam hidupnya di masa mendatang, kurang memperhatikan saat sekarang, dan sedikit sekali belajar dari pengalaman masa lalu. Jika bisa waktu diputar ke masa depan.

Sopir ketiga selalu memperhatikan saat sekarang, dari waktu ke waktu.

Jika kita berlaku layaknya sopir ketiga, sedikit demi sedikit hasil yang kita raih dari setiap aktivitas akan meningkat. Kita akan menjadi orang yang lebih baik dan berkualitas.

Sang Buddha mengatakan, “Mereka tak sedih pada masa lalu, tak mengejar yang belum datang, saat sekarang adalah cukup. Merindukan masa depan, menyesali masa lalu, orang dungu (yang melakukan hal seperti itu) akan merana seperti ilalang dibabat”.

Bukan berarti Ajaran Buddha melarang kita mengingat masa lalu ataupun merencanakan masa depan. Tetapi kita secara tepat meletakkan diri, pikiran dan perhatian kita kepada tiga horizon waktu (masa lalu, saat sekarang, masa depan). Gunakan masa lalu sebagai pengalaman, masa depan sebagai tuntunan, dan berikan totalitas kita kepada masa sekarang, maka masa depan akan menjadi masa sekarang dan selanjutnya bergerak menjadi masa lalu yang tidak pernah kita sesali karena sudah diisi dengan sebaik-baiknya.