Terinspirasi oleh cerita dalam sebuah buku, saya sering menyelipkan kisah refleksi yang sudah dimodifikasi berikut ini dalam berbagai ceramah.

Tersebutlah seorang tua yang sudah di ujung usianya, menunggu datangnya maut menjemput.

Dia teringat kembali sewaktu masih anak-anak. Saat itu dia ingin bisa mengubah dan mengatur dunia.

Begitu menginjak remaja, dia berpikir ulang bahwa ternyata mengatur dunia itu sangat sulit karena begitu banyak negara, begitu luas dan begitu beraneka ragam penduduk setiap negara. ”Ah … jauh lebih mudah mengatur satu negara saja”, gumannya.

Dengan bertambah usianya menjadi dewasa, dia menyadari bahwa mengatur dan memiliki kekuasaan dalam satu negara juga tidak mudah. Banyak kompleksitas yang harus dihadapi. Berbagai suku dan agama, masalah ekonomi, politik, keamanan dan lain-lainnya akan menuntut banyak perhatian darinya. Akan melelahkan segala sesuatu bagi dirinya. ”Wah … kalo demikian, cukuplah bagiku mengatur lingkungan masyarakat saja”, demikian pikirnya.

Namun seiring dengan bertambahnya usia menjadi tua, dia kembali merasa bahwa lingkup satu lingkungan masyarakatpun terdiri dari banyak rumah dan keluarga sehingga cukup ruwet untuk mengatur dan mengubahnya. Oleh karena itu kemudian dia berpikir bahwa keluarganyalah yang seharusnya mematuhi apa yang dikatakan dan diinginkannya. Keluarga memiliki kaitan langsung dengan dirinya sehingga dia mempunyai kekuasaan (power) untuk membuat pasangan dan anggota keluarga mematuhinya.

Tetapi sekarang dimana dia sudah sangat tua dan di ujung kehidupannya, dia seakan tersadar bahwa jikalau dari dulu, semenjak masih anak-anak sampai menjadi remaja, dewasa, dan tua, bukannya mengatur dan mengharapkan orang lain yang berubah, tetapi dialah yang mulai mengatur dan merubah dirinya sendiri, dengan cara mempraktekkan hal-hal baik dan menghindari hal-hal tidak baik sebanyak mungkin, maka tidak akan ada penyesalan di usia senjanya.

Jangan berpikir mengubah keluarga, orang lain, dan lingkungan sebelum kita memastikan bahwa kita telah mengubah diri sendiri dan menjadi contoh yang baik dengan mempraktekkan hal-hal baik dan menghindari hal-hal yang tidak baik terlebih dahulu.

Selamat menjadi ’manusia baru’ mulai dari sekarang sehingga bisa terhindar dari sesal di usia senja.