Kebanyakan orang risih jika diberi label ’orang sabar’ karena berkonotasi sindiran negatif.

Dalam Dhammapada Bait 103 dan 104, Sang Buddha mengatakan :

”Meskipun seseorang dapat mengalahkan ribuan musuh dalam pertempuran, tapi sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat mengalahkan dirinya sendiri.”.

”Sesungguhnya, mengalahkan diri sendiri itu lebih baik daripada mengalahkan orang lain.”.

Sebenarnya ’orang sabar’ sama sekali bukan orang lemah, penakut, tidak punya keberanian atau tidak punya harga diri, melainkan seorang penakluk diri yang jauh lebih bernilai dibanding penakluk orang lain. Oleh karena itu jangan jengah ataupun malu jika melalui praktek kesabaran rutin, kita kemudian di’cap’ oleh orang-orang yang berinteraksi dengan kita sebagai ‘orang sabar’.

Suatu ketika Bhante Sariputta, murid terutama Sang Buddha dalam hal kebijaksanaan, dicaci maki secara kasar oleh seorang brahmana. Melihat bahwa kata-katanya tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap Sariputta, brahmana tersebut menjadi semakin marah dan berkata, “Tidak dengarkah Engkau apa yang kukatakan ?” teriak brahmana yang sedang murka itu. “Apa Kamu tidak ingin membalas hinaanku ?”.

Yang Ariya Sariputta tersenyum lembut kepada brahmana itu dan menjawab, “Teman, tentu saja saya mendengar suaramu yang keras dan jelas itu, tetapi karena aku tahu tak ada yang bermanfaat dalam kata-katamu, aku hanya mendengar getaran suara saja. Aku tidak mendengar kata-katanya, sehingga aku tidak terpengaruh oleh artinya”.

Seorang Pakar EQ di Indonesia memberikan contoh bahwa jika kita mengatakan ’Honga Bonga Monga’ atau ’Ai shiteru’ kepada orang lain, barangkali orang hanya tertegun sebentar kemudian berlalu tanpa ambil pusing. Kebanyakan kita tidak mengerti apa maksudnya. Tetapi jangan coba mengatakan kepada orang lain dengan kata-kata ’Bajingan kamu’, besar kemungkinan kita akan mendapat respon yang tidak menyenangkan.

Kedua contoh di atas mungkin bisa menjadi tip sederhana bagaimana kita bisa ’mencuekkan’ kalimat keras yang dilontarkan orang lain kepada kita. Jika kita menganggap tidak ada artinya kalimat-kalimat keras atau kritikan tidak berdasar yang dilontarkan kepada kita, maka lebih mudah kita memperlihatkan sabar dan tidak menanggapinya sehingga perselisihan bisa terhindarkan. Tentu tidak dalam setiap situasi dan kondisi EGP (’Emang Gue Pikirin’) dapat diterapkan. Harus bijaksana dalam menilai keadaan.

Yang pasti, percayalah bahwa kesabaran bukanlah pemberian dari luar diri dan tidak bisa diminta kepada para Dewa atau Makhluk Adi Kuasa lainnya. Kesabaran harus dilatih di dalam diri dan memerlukan proses serta kesadaran setiap saat untuk mempraktekkannya.