Di jaman sekarang yang serba cepat, canggih, dan menonjolkan keegoan, cukup sulit menemukan sosok orang sabar yang mampu memperlihatkan kestabilan emosi dan perasaannya dalam berbagai situasi dan kondisi.

Tetapi ada seorang kenalan saya yang bisa diberi label ’penyabar’ karena selalu sabar dan tersenyum dalam banyak situasi dan kondisi. Entahlah jika di belakang saya ternyata berbeda.

Dalam Dhammapada Bait 184, Sang Buddha mengatakan, ”Kesabaran adalah praktek bertapa atau pengendalian diri yang terbaik. Nibbana (Nirwana) adalah yang tertinggi. Begitulah sabda Para Buddha. Dia yang masih menyakiti dan menganiaya orang lain sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).”.

Para bhikkhu, penceramah agama, guru-guru agama, dan orang-orang bijaksana bukanlah guru-guru kesabaran yang terbaik. Mereka hanya bisa mengajarkan, menganjurkan dan mengajak berpraktek kesabaran. Akan tetapi mereka bukanlah pelaku langsung yang aktif dalam pembinaan kesabaran kita.

Seharusnya orang-orang yang menyulitkan dan berbuat tidak baik kepada kitalah yang merupakan guru-guru terbaik dalam latihan kesabaran. Demikian pula situasi dan kondisi sehari-hari yang kurang menyenangkan dan tidak memuaskan kita sesungguhnya pemberi pelajaran kesabaran terandal bagi kita.

Kesabaran tidak memadai jika hanya dipelajari teorinya saja. Yang terutama dibutuhkan adalah praktek melalui latihan rutin dalam kehidupan kita setiap hari. Tanpa praktek langsung, kita hanya ‘bermain’ kesabaran dalam tataran pemikiran saja atau paling jauh sampai pada level ucapan, tetapi tidak melangkah sampai praktek secara fisik jasmani melalui perbuatan badan kita.

Sang Buddha pernah diundang oleh seorang brahmana untuk menerima dana di rumahnya. Bukannya menyambut dan melayani Beliau dengan baik, brahmana tersebut malah mencaci maki dan menghina Sang Bhagava dengan kata-kata yang paling kasar dan menyakitkan.

Setelah brahmana selesai dengan ‘semprotan’nya, Sang Buddha dengan lembut bertanya, “Apakah sering ada tamu datang ke rumahmu, brahmana ?”. “Ya”, jawab brahmana. “Apa yang engkau lakukan jika para tamu datang ?”. “Tentu aku sediakan jamuan besar untuk menyambut mereka”. “Bagaimana jika mereka tidak menyentuh atau menghabiskan jamuan tersebut ?”. “Dengan senang hati kami yang akan menghabiskannya.” Setelah percakapan ini, Sang Buddha menutup dengan kalimat, “Brahmana yang baik, engkau telah mengundang-Ku kemari untuk berdana dan menjamu-Ku dengan kata-kata kasar yang sama sekali tidak kuterima dan membekas dalam diriku. Jadi ambillah semuanya kembali untukmu”.

Seorang Buddha-pun masih menghadapi orang, situasi dan kondisi yang tidak menyenangkan, apalagi kita sebagai umat biasa. Dalam keseharian, akan banyak ketidakbaikan dan ketidakenakan menghampiri kita. Marilah kita mencontoh Sang Buddha dalam mempraktekkkan kesabaran walaupun tentu kualitas dan kemampuan kita bersabar kita masih jauh dari Junjungan kita tersebut.