Dalam satu perjalanan pulang di malam hari, saya mendengarkan seorang konsultan keluarga di radio bercerita tentang kliennya memutuskan untuk bercerai. Alasannya terdengar sangat sederhana. Sang suami dan istri berbeda cara mengeluarkan odol dari tube-nya. Yang satu memencet rapi dari bawah, sedangkan yang lain sembarangan, semaunya.

Saya terperangah mendengarnya. Tidak terlalu bombastiskah si konsultan ? Tapi sulit dipercaya seorang public speaker menyampaikan kisah yang dibuat-buat.

Sisa perjalanan saya diisi dengan perenungan. Mungkin benar perceraian pasangan itu karena perbedaan dalam ’pencet-memencet’ pasta gigi. Tetapi pasti bukan karena satu dua kali mereka saling tegur dan saling mencuekkan. Barangkali puluhan, ratusan atau ribuan kali. Karena mungkin tidak saling gubris, kedongkolan itu membukit di dalam hati masing-masing.

Perkara odol ini barangkali ditambah dengan ’ketidaksepakatan-ketidaksepakatan’ kecil lain dalam kehidupan rumah tangga mereka. Alhasil menggumpal, mengeras, akhirnya bermuara kepada keputusan untuk ’bubar’.

Bermula dari hal kecil, apabila tidak diselesaikan secara cepat dan memuaskan, menjadi beban dalam pikiran, akhirnya membuahkan bencana.

Dalam kehidupan jaman sekarang yang serba cepat, tuntutan keluarga dan sosial yang besar, himpitan ekonomi yang makin menyesakkan, dibutuhkan kekayaan mental untuk mampu bersikap sabar terhadap orang lain, situasi dan kondisi yang dihadapi sehari-hari. Sumbu emosi harus dipanjangkan. Toleransi harus dipraktekkan, tidak menjadi slogan semata.

Yang tersulit adalah sabar terhadap pasangan, anak, anggota keluarga dan orang-orang lain yang kita kenal dengan baik, dibanding orang lainnya yang sesekali berinteraksi dengan kita. Kelompok pertama karena sudah dikenal, kadang kita tidak lagi merasa perlu menjaga perasaan mereka. Toleransi sabar kita kepada mereka lebih kecil dibanding kepada orang lain.

Dalam Dhammapada bait 184, Sang Buddha mengatakan, ”Kesabaran adalah bentuk pengendalian diri yang terbaik. Nibbana itulah yang paling tinggi, ujar para Buddha. Karenanya bukanlah seorang pertapa, ia yang menyakiti dan menganiaya orang lain.”.

Kesabaran tidak dapat diberikan atau dihadiahkan. Kesabaran perlu dimengerti tujuannya, dipraktekkan, dirasakan manfaatnya sehingga bisa menjadi spontanitas kita dalam menjalani kehidupan. Niscaya petaka-petaka kecil maupun besar termasuk perceraian, akan jauh dari kita.