Kita yang pernah dilahirkan, pasti punya ortu (= orang tua). Pengorbanan dan jasa ortu kepada anaknya tidak terhingga. Walaupun tidak luput dari kesalahan, kejelekan ortu sangatlah kecil dan tidak ada artinya. Ortu menjadi guru pertama yang membekali anak-anaknya sejak dalam kandungan.

Ortu yang baik tidak harus sempurna, yang tidak pernah marah atau salah kepada anak-anaknya. Ortu yang baik berusaha keras mendidik, mengajari, dan membekali anak-anaknya.

Dalam Anguttara Nikaya, Sutta Pitaka, Sang Buddha mengatakan :

“Seandainya seseorang memikul ibunya kemana-mana di satu bahu dan ayahnya di bahu lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun; dan seandainya dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan, serta membersihkan kotoran mereka – bahkan perbuatan itupun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat ortunya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka”

Sang Buddha melanjutkan, terdapat cara terbaik (tertinggi) untuk membalas jasa ortu yang masih hidup :

  • Membuat ortu menjadi menerima dan mengerti Hukum Karma serta memiliki keyakinan kepada Sang Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).
  • Membuat ortu menjadi lebih memiliki moralitas (sila) yang baik.
  • Membuat ortu menjadi lebih murah hati, penolong, welas asih.
  • Membuat ortu menjadi lebih memiliki kebijaksanaan (pañña).

Mereka yang telah menjalankan hal-hal di atas berarti telah berbuat cukup untuk ortunya. Anak seperti ini telah membalas budi ortunya dan bahkan lebih dari membalas budi atas apa yang telah ortunya lakukan pada mereka.

Tentu perlu pendekatan yang berbeda untuk ortu yang berbeda tergantung kepada situasi dan kondisi yang dihadapi. Seorang anak harus mampu mengenali cara terbaik untuk bisa membuat kedua ortunya yang masih hidup bisa maju dalam keempat hal di atas.

Kemudian, dalam Sigalovada Sutta, Sang Buddha mengatakan bahwa balas jasa tetap bisa dilakukan kepada ortu yang sudah meninggal. Seorang anak melakukan terlebih dahulu berbagai kebaikan, kemudian melimpahkannya kepada ortu yang telah meninggal dunia.