Di tulisan sebelumnya saya menceritakan seorang nenek yang setiap hari bersedih hati memikirkan dua anaknya yang berjualan es dan payung. Jika cuaca baik, si nenek memikirkan anaknya yang berjualan payung pasti tidak laku. Begitu cuaca hujan maka yang terpikir olehnya anak yang berjualan es pasti tidak laku. Apapun cuaca setiap hari, dia bersedih hati.

Kenapa si nenek tidak memandang sisi positifnya ? Saat cuaca baik, pikirkan anak yang berjualan es pasti akan laku. Begitu cuaca hujan, pikirkan anak yang berjualan payung pasti akan laris. Apapun cuaca setiap hari, dia akan bergembira.

Yang terjadi adalah kita sering terjebak pemikiran negatif ala sang nenek. Alih-alih melihat sisi positif dari setiap kejadian, kita hanya terpaku pada sisi negatif sehingga sulit menerimanya.

Ada baiknya meniru orang yang selalu berkata ’untung’ walaupun sedang ’buntung’. Seburuk apapun situasi, kondisi, dan orang yang dihadapi, selalu ada pelajaran atau hikmah yang bisa dipetik. Benar petuah orang bijak, ”Semua kejadian yang dialami, yang baik ataupun buruk, pasti ada hikmahnya”. Lebih baik mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman buruk sehingga bisa terhindar dari ’lubang’ yang sama di kemudian hari, daripada menekurinya tanpa putus.

Lagi pula kejadian buruk merupakan buah dari karma buruk yang pernah dilakukan entah kapan. Berarti ’hutang’ kita sudah berkurang. Inilah hikmah lain yang bisa membesarkan hati sehingga kita tabah menghadapi situasi dan kondisi jelek dalam kehidupan.

Dua ribu lima ratus tahun lampau, Sang Buddha sudah mengajarkan Attha Loka Dhamma, yaitu delapan faktor atau fenomena kehidupan, meliputi untung-rugi, nama baik-nama buruk, pujian-celaan, kebahagiaan-penderitaan. Tidak ada manusia yang selalu mendapatkan empat faktor baik dan selalu terhindar dari empat faktor tidak baik. Kedelapan faktor akan dialami silih berganti sepanjang kehidupan manusia.

Dengan kesadaran di atas bukankah kita akan lebih mudah menerima segala sesuatu dalam kehidupan ini sebagai jalinan karma masing-masing ? Jika pikiran positif selalu disetel terutama sewaktu ’dijajal’ oleh ketidakenakan, kehidupan akan lebih mudah dijalani.