Sebuah cerita di buku koleksi saya, mengandung pelajaran berharga.

Suatu ketika hiduplah seorang nenek yang setiap hari bersedih hati dan murung. Dia memiliki dua anak, yang satu berjualan es dan lainnya berjualan payung. Jika cuaca baik, si nenek memikirkan anaknya yang berjualan payung pasti tidak laku. Begitu cuaca hujan maka yang terpikir olehnya anak yang berjualan es pasti tidak laku. Apapun cuaca setiap hari, dia bersedih hati.

Andaikan nenek tersebut menyikapi dengan cara berbeda, pasti hasilnya berbeda. Saat cuaca baik, yang dipikirkan anaknya yang berjualan es pasti akan laku. Jika cuaca hujan, arahkan pikiran ke anak yang berjualan payung pasti akan laris. Apapun cuaca setiap hari, dia akan bergembira.

Mudah bagi kita mengecam nenek tersebut kenapa tidak berpikir dengan cara kedua yang lebih positif. Yakinkah kita jika berada di posisi sang nenek, tidak akan terperangkap dalam cara berpikir negatif pertama ?.

Ingat … penonton selalu lebih ’ahli’ daripada atlet profesional yang sedang berlaga. Mudah kita mencela pemain olah raga yang kita tonton, kenapa begini dan tidak begitu, kenapa mengoper ke pemain ini dan tidak ke pemain itu. Kita lebih jago dari yang ditonton. Bisakah kita melakukannya dengan lebih baik seandainya kita menjadi yang ditonton ? Saya percaya jawaban jujur adalah TIDAK. Menjadi hakim lebih mudah dibanding tertuduh atau terdakwa.

Begitu juga dalam kehidupan nyata. Laiknya penonton ahli yang sama sekali tidak ahli di lapangan olah raga, demikian pula kita adalah penonton ahli yang sama sekali tidak ahli di kehidupan nyata. Gampang kita melabel orang lain dengan bodoh, malas, jahat, tidak baik, curang, egois, kikir, dan lain-lain, tanpa sadar diri kita tidak lebih baik.

Dalam Dhammapada bait 50, Sang Buddha mengatakan, ”Seseorang hendaknya tidak memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain, apa yang diperbuat dan tidak diperbuat orang lain, melainkan terlebih dahulu memperhatikan apa yang diperbuat dan tidak diperbuat oleh diri sendiri”.

Marilah kita menjadi ’penonton ahli’ yang benar-benar ’ahli’.