Dalam rangka memprospek saya, seorang teman meminjamkan sebuah kaset MLM. Pembicaranya menyampaikan cerita menarik yang dapat menjadi bahan renungan kita.

Ada dua orang Bos yang saling ‘berlomba’ menonjolkan kebodohan sopirnya. Bos A kemudian memanggil sopirnya, “Sono, tolong beli mobil BMW seri terbaru dengan uang Rp 100 ribu ini”. “Baik Tuan”, dengan cepat Sono berlalu.

Bos B menukas, ”Itu sih belum apa-apa. Lihat nih aku panggil sopirku”. “Sunu, tolong cek apakah Bapak (Bos B) ada di rumah saat ini”. “Segera Tuan”, sahut Sunu lantas berlalu.

Kedua sopir kemudian bertemu di jalan. Sono berkata, “Ampun deh Bosku sangat tolol. Bayangkan dia memberi uang Rp 100 ribu untuk membeli BMW seri terbaru. Mana mungkin ? Masa Bos tidak tahu kalau hari ini Minggu. Mana ada show room yang buka ?”.

“Benar juga. Tapi dengar dulu ceritaku. Masa Bosku minta tolong aku untuk mengecek apakah dia yang saat ini bersama Bosmu di sini, ada di rumah saat ini ? Kan Bosku punya HP, kenapa dia tidak langsung telpon ke rumah ?”.

Kita mungkin tersenyum lebar membaca cerita di atas. Dalam dunia nyata, sulit menemukan orang sebodoh Sono dan Sunu.

Tetapi sebenarnya kita sangat dekat dengan orang-orang ‘bodoh’ yang teriak ‘bodoh’ sebagaimana halnya kedua sopir yang mengatakan kedua Bos mereka bodoh tanpa mereka mengerti bahwa sebenarnya mereka ‘lebih bodoh’. Tanpa bertendensi apapun, jangan-jangan kita termasuk kelompok ‘bodoh teriak bodoh’ ini.

Banyak orang terbiasa mencela orang lain terutama karena kesalahan dan kekurangan orang lain tersebut. Tidak jarang celaan itu muncul dari pikiran iri, dengki, takut kalah, dan lain-lain penyakit pikiran yang banyak menghinggapi orang jaman sekarang. Padahal setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada keterbatasan dalam diri setiap orang. Tidak ada yang sempurna segala-galanya. Apakah kita memiliki hak untuk mengatakan orang lain bodoh, selalu salah, jelek, dan lain-lain yang tidak baik ? Bukankah kita sendiri pasti pernah melakukan kesalahan dan ‘kebodohan’ sewaktu kita belum ‘sepintar’ saat ini ?.

Jangan kita terperosok ke dalam kelompok ‘bodoh teriak bodoh’, yang mudah memberi klaim atau label (terutama ‘bodoh’) kepada orang lain.