Suatu ketika saya diundang ikut baca paritta peringatan satu tahun meninggalnya tetangga dalam kompleks tempat tinggal. Karena hadir dua pandita kenalan, saya hanya menjadi partisipan saja dalam peringatan tersebut.

Setelah acara, salah satu pandita bercerita kepada saya. Saat berusia 38 tahun (enam tahun lalu karena saat ini usianya 44 tahun), dia sakit berat, sama sekali tidak kuat berjalan dan tiap tengah malam kepalanya sakit sekali seakan ditusuk ribuan jarum.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Dokter menyakini pandita tersebut terserang pengapuran tulang. Apa lacur, berobat medis tidak kunjung sembuh. Diusulkanlah untuk konsultasi dengan ’orang pintar’ karena dicurigai ada yang ’ngerjain’ dari jauh. ’Orang pintar’ tersebut ’mendeteksi’ bahwa sakit itu ’kiriman’ dari rekan kerja sejawat yang tidak senang. Orang-orang sekitar berkomentar, kasihan jika pandita ini sampai meninggal, siapa yang akan menanggung keluarganya.

Dengan keyakinan teguh kepada Tiratana (Buddha, Dhamma, Sangha) dan semangat hidup yang kuat, pandita ini sambil berobat secara medis maupun non medis, selalu membaca paritta dan bermeditasi. Pancaran keyakinan dan semangatnya menguatkan keluarga sehingga aura kehidupan tetap bersinar dalam rumah. Dia yakin bahwa sakit yang dideritanya, apapun penyebabnya, adalah buah karma buruk yang pernah dilakukannya entah kapan. Dengan rajin membaca paritta dan bermeditasi, dia melakukan karma baik, dan terpenting, dia menjadi tenang sehingga bisa mengkondisikan karma baiknya berbuah dan penyakitnya sembuh.

Terbukti, setelah lama sakit dan menjalani kombinasi pengobatan, keteguhan dalam Tiratana membuahkan hasil kesembuhan secara menyakinkan.

Pandita ini dan keluarganya yang mayoritas buddhis, sama sekali tidak berniat untuk membalas orang yang dicurigai karena mereka tidak ingin menanam karma buruk baru. Biarlah Hukum Karma yang akan mengatur semuanya, demikian barangkali yang terpikir oleh mereka.

Orang yang dicurigai, sebulan setelah pandita itu sembuh, ternyata gantian sakit berat. Yang pasti bukan karena pandita tersebut ‘membalas’. Entah orang itu sedang menuai buah karma buruknya menjahati pandita itu, ataukah dari perbuatan buruknya yang lain, siapa yang tahu ?