Saya memiliki beberapa buku Napoleon Hill. Dia dikenal sebagai “Bapak Kekayaan” karena tulisan-tulisan dan pembicaraannya mengenai kekayaan dan kesuksesan, memberi pengaruh tidak hanya di Amerika melainkan seluruh dunia.

Hill adalah penasihat tiga presiden Amerika Serikat, yaitu Howard Taft, Woodrow Wilson, dan Franklin D. Roosevelt. Dia sangat percaya kepada Hukum Karma walaupun Hill bukan seorang buddhis. Dia pernah mengatakan :

“Jika kita merasa belum cukup dengan apa-apa yang sudah kita terima sampai saat ini, sangat mungkin kita belum cukup memberi kepada orang lain”.

Bukankah ini merupakan penerimaan dan pengakuan terhadap Hukum Karma ? Untuk ‘berhak menerima yang lebih’, terlebih dahulu kita harus ‘memberi yang lebih’ pula kepada orang atau makhluk lain. Oleh karena itu jika kita merasa masih kurang dan berharap yang lebih dalam kehidupan ini, maka lebih banyaklah memberi dan berbagi.

Praktek ’memberi’ yang dikatakan oleh Napoleon Hill, tidak hanya berupa perbuatan melalui badan jasmani saja. Melainkan sesuai dengan Ajaran Buddha, perbuatan baik bisa dilakukan melalui pikiran, ucapan maupun badan jasmani.

Ketika kita merasakan sesuatu yang indah, baik, bagus, harum, nyaman, nikmat melalui salah satu atau lebih saluran indera kita, kemudian berharap atau bisa memberitahukan kepada orang atau makhluk lain sehingga mereka ikut merasakannya, berarti kita sudah ’memberi’ kebaikan melalui pikiran.

Praktek empat brahma vihara (metta = cinta kasih, karuna = belas kasihan, mudita = simpati, ikut bergembira terhadap kebahagiaan orang lain, upekkha = pikiran dan batin yang seimbang terhadap berbagai fenomena kehidupan) juga merupakan praktek ’memberi’ melalui pikiran.

Membaca paritta, memberi nasehat yang baik, memberi pujian yang tulus, mengajar Dhamma merupakan beberapa contoh ’memberi’ lewat ucapan.

Sedangkan ’memberi’ melalui badan jasmani lebih nyata terlihat, misalnya sewaktu kita menyumbang tenaga, harta, memberi senyum yang tulus, memperlihatkan keramahtamahan, dan banyak lagi bentuk-bentuk ’memberi’ melalui badan jasmani lainnya.

Ternyata tidak sulit berbuat baik menurut Ajaran Buddha. Janganlah kita sebagai buddhis kalah dalam menyakini dan mempraktekkan Hukum Karma dibanding orang yang bukan buddhis.