Sampai beberapa tahun lalu, seakan ada yang mengganjal setiap kali saya berceramah mengenai dana. Bagaimana tidak ? Saya sering mengatakan, jika dalam dana kita terdapat sebanyak mungkin dari delapan sifat mulia, di antaranya ’dana sesuatu yang terbaik atau berharga’, maka dapat mempercepat masaknya buah kebajikan yang besar bagi pembuatnya. Contoh paling mudah adalah berdana darah, suatu komponen vital bagi kehidupan manusia.

Makin banyak dari kedelapan sifat mulia dana terpenuhi, maka kebajikan besar yang sudah dilakukan, akan berbuah segera.

Sayangnya saya memiliki ketakutan berdonor darah. Entah mengapa, yang ada dalam pikiran saya, donor darah itu sakit. Jangankan jarumnya sebesar dan selama itu disuntikkan, jarum suntik biasa saja sudah membuat keder. Terpaksa setiap kali ada donor darah, saya mencari alasan untuk menghindar. Mulai dari badan kurang sehat, tekanan darah terlalu tinggi, kurang istirahat sehingga takut pingsan, dan lain sebagainya.

Lama-kelamaan malu juga ke diri sendiri, koq belum konsisten antara pikiran-ucapan-perbuatan badan jasmani. Saya juga penganjur dan praktisi manajemen diri walaupun masih jauh dari ideal. Pikiran dan ucapan sudah klop mempromosikan baiknya berdonor darah, tetapi sewaktu harus melakukannya, berbagai alasan dikemukakan untuk menutupi rasa takut.

Saya mulai menganalisa. Kondisi tubuh saya mendukung. Tekanan darah umumnya normal, tidak ada penyakit bawaan yang berat, olah raga cukup rutin, makanan cukup seimbang. Jadi modalnya sudah menyakinkan untuk menjadi pendonor darah yang baik. Tapi mental saya masih ’jongkok’, belum berdiri apalagi berlari.

Akhirnya saya bertekad untuk menghadapi ketakutan tersebut. Perlu ’berdamai atau berkompomi’ dengan diri sendiri, sehingga didapat jalan keluar terbaik dan saya tidak kehilangan kesempatan berbuat baik yang besar.

Resiko buruk adalah bagian tangan yang disuntik sakit. Resiko terburuk adalah jatuh pingsan atau sakit. Andaikan hal itu terjadi, saya masih bisa menanggungnya. ”Toh, tidak sampai mati”, pikir saya. Apalagi jika sebelumnya saya menyiapkan diri dengan baik. Istirahat yang cukup, makan dulu sebelum dan setelah berdonor, tidak langsung bangun tiba-tiba setelah berdonor. Rasanya hal-hal itu sudah memadai untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan.

Pertama kali menjalaninya, rasa takut masih menyergap. Ternyata resiko terburuk tidak terjadi. Malah saya menjadi tenang karena sudah melakukan perbuatan baik dan mulia. Akhirnya berkelanjutan sampai sekarang, setiap tiga bulan saya tidak melewatkan kesempatan berdonor darah di vihara yang rutin saya kunjungi.

Pendekatan ini dapat kita gunakan dalam kehidupan terutama sewaktu menghadapi ketakutan atau masalah, yang jika tidak berani dihadapi, akan membuat diri kita tidak beranjak, alias jalan di tempat.