Pengalaman pertama biasanya membawa sensasi tertentu bagi yang mengalaminya, bisa enak maupun tidak enak.

Pertama kali saya mencoba berangkat kerja menggunakan jasa KA, timbul pikiran kuatir terlambat, salah jadwal, salah masuk peron dan sebagainya.

Beruntung begitu turun dari angkutan umum yang membawa saya ke stasiun KA, ada orang “baik-baik”, berpakaian rapi laiknya karyawan, bertampang normal (alias tidak menyeramkan) ikut turun dari angkutan dan menuju stasiun KA. Sambil merendengi orang tersebut, saya menyapa dan bertanya mau kemana dan naik KA jam berapa. Jawaban yang diberikan seadanya, tiada kesan ingin mengenal siapa yang bertanya, malah dia berjalan lebih cepat. Penasaran saya rendengi kembali dan bertanya bukankah jadwal KA sejenis ada lagi lainnya. Setelah menjawab singkat, dia kembali berjalan tergesa. Akhirnya saya mengalah dan tidak berupaya “mengejar”nya lagi.

Dalam perjalanan, saya merenungi pengalaman yang baru terjadi. Muncul jawaban yang paling masuk akal. Aha … ! Orang tadi pasti curiga kepada saya. Barangkali dia tidak ingin menjadi korban kejahatan dari orang yang tidak dikenal di perjalanan walaupun seharusnya saya pasti terlihat sebagai orang “baik-baik”. Wah … berhasil sekali para penjahat membentuk image masyarakat bahwa penjahat bisa lebih mentereng dan keren daripada korbannya, pikir saya sambil tersenyum mesem. Atau barangkali tampang dan penampilan saya sedemikian “rusak” sehingga orang tersebut curiga ?.

Jika dia sedikit berani dan menjawab lebih baik pertanyaan saya, atau memberikan info tambahan lain, bukankah dia bisa menanam karma baik ? Sebagai buddhis, kita tidak dibatasi hanya berbuat baik kepada sesama buddhis, melainkan kepada semua makhluk tanpa kecuali, buddhis maupun non buddhis, yang dikenal maupun tidak, yang jauh maupun dekat, yang terlihat maupun tidak terlihat. Metta (cinta kasih), Karuna (belas kasihan), dan Mudita (simpati dan ikut berbahagia atas kebahagiaan orang lain) merupakan appamanna (pikiran luhur yang dipancarkan tanpa batas kepada semua makhluk).

Marilah kita memupuk diri kita dengan banyak perbuatan baik kecil yang kesempatannya terbuka luas setiap hari jika kita jeli mengenalinya.