easter-japanese

01 Agustus 2007 saya pindah kerja dari Bekasi ke Thamrin - Jakarta. Tidak hanya paket kompensasi baru yang saya dapatkan tetapi juga lingkungan kerja, suasana, teman-teman dan rute perjalanan baru. Irama dan detak kehidupan saya berubah.

Jika berkendara sendiri dari Tangerang, walaupun jarak tempuh ke Thamrin lebih pendek dibanding ke Bekasi, tetapi waktu tempuh ternyata lebih lama. Alhasil, bersibukrialah saya mencari informasi dan mencoba berbagai alternatif angkutan guna menemukan moda yang tetap nyaman, aman, dan cepat (tentu saja kalau bisa juga lebih murah).

Feeder busway + busway, KA, tebengan, dan omprengan adalah beberapa yang sudah saya coba. Semuanya disopirin, tidak usah nyetir sendiri, lebih menjanjikan dibanding bercapek ria jalankan kendaraan sendiri. Lihat punya lihat, amati demi amati terhadap sesama penumpang berbagai moda angkutan tersebut, terlihat ada kesamaannya. Semuanya berjuang keras untuk masuk duluan guna memastikan dirinya mendapatkan tempat yang paling oke sepanjang perjalanan, yang bisa memakan waktu 1, 2 sampai 3 jam. Saling dorong, saling sikut, dan saling ganjal adalah pemandangan nyata yang terlihat kasat mata.

Demi sedikit kenyamanan dalam perjalanan yang tidak lebih dari 3 jam, semua orang (tanpa terkecuali diri saya sendiri) berupaya keras, bahkan sangat keras. Mengapa untuk mendapatkan kenyamanan (baca : buah karma baik) yang lebih lama dalam sisa hidup ini ataupun di kehidupan-kehidupan berikutnya, kita tidak berupaya keras melakukan banyak perbuatan baik dalam setiap kesempatan ? Mengapa kita tidak berjuang keras melatih diri dalam Sila, Dana dan Samadhi (ringkasan dari Dhammapada 183 dan Jalan Mulia Beruas Delapan) ? Banyak dari kita menghabiskan percuma waktu dan potensi diri, kemudian menyadari bahwa usia makin bertambah, selanjutnya menyesali diri kenapa tidak dari dulu menyiapkan ‘bekal diri’.

Berdasarkan Buddha Dhamma, banyak perbuatan baik lewat pikiran-ucapan-perbuatan yang dapat dilakukan setiap harinya. Mulai dari yang kecil sampai besar. Marilah kita berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memupuk diri dengan berbagai kebiasaan berbuat baik melalui ketiga jalur pikiran-ucapan-perbuatan.