Rata-rata seminggu sekali saya berceramah di vihara atau cetiya di Tangerang, Jakarta, Depok dan Bogor.

’Profesi’ Dhammaduta saya dimulai sejak masih kuliah di Bogor belasan tahun yang lalu. Tetapi waktu itu hanya sesekali dan dalam lingkungan terbatas. Baru enam tahun belakangan ini, saya terlibat aktif. Awalnya bisa berbulan-bulan baru saya mendapat satu ’panggilan’ untuk berceramah. Dengan berjalannya waktu, undangan ’pentas’ makin sering saya terima terutama dua tahun belakangan ini.

Di mulai sewaktu saya membuat analisa diri S-W (Strengths = kekuatan, Weaknesses = kelemahan/keterbatasan). Saya menemukan banyak keterbatasan dalam diri saya. Tidak berkelimpahan dalam hal materi sehingga terbatas bisa memberikan dana uang/harta. Fisik biasa-biasa saja sehingga terbatas untuk menyumbangkan banyak tenaga. Kemampuan intelegensi juga tidak sangat menonjol sehingga terbatas pula dalam menyumbangkan ide-ide kreatif untuk memajukan Buddha Dhamma.

Dengan banyak keterbatasan tersebut, saya berpikir adakah cara untuk memanfaatkan potensi diri sehingga bisa memupuk karma baik secepat mungkin dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Teringatlah saya akan kata-kata Sang Buddha, yang akhirnya memotivasi saya untuk berkecimpung di dunia ke-Dhammaduta-an. ”Sabba Danang Dhamma Danang Jinati”, yang berarti ”di antara berbagai pemberian/dana, maka dana Dhamma adalah dana yang paling tinggi nilainya”. Berbekal pengalaman saya menjadi guru privat anak SMP dan SMA sewaktu masih kuliah, dan mengajar sebagai dosen akhirnya saya memutuskan untuk aktif menjadi Dhammaduta.

Gugup, grogi, takut dan beraneka ragam ketidakenakan menggelayut di awal-awal masa ke-Dhammaduta-an saya. Sebelum, sewaktu dan setelah memberikan ceramah, saya dilanda kecemasan. Topik apa yang mau dibawakan, bagaimana cara menyiapkan topik tersebut, apakah akan menarik perhatian umat, apakah cara menyampaikan dan isi materi tersebut menarik, bagaimana komentar umat setelah mendengarkan, apakah pengurus vihara/cetiya akan kembali mengundang, dan banyak lagi pertanyaan lainnya.

Tetapi saya memegang teguh prinsip, apabila suatu perbuatan dilandasi oleh niat yang baik, dilakukan dengan cara yang baik, sangat mungkin menghasilkan hasil yang baik pula. Sepanjang saya memiliki niat baik untuk menyampaikan ceramah, bersungguh-sungguh dalam menyiapkan materi, membawakan dengan sebaik-baiknya, terbuka menerima masukan dan kritikan membangun, terus menerus memperbaiki ketrampilan berceramah, maka apapun hasilnya, maju terus pantang mundur.

Anda tentu boleh memiliki cara dan pendekatan yang berbeda untuk mengisi waktu dan menggunakan potensi diri sebaik-baiknya, sehingga bisa memupuk perbuatan baik sebagai bekal bagi sisa kehidupan ini dan kehidupan-kehidupan selanjutnya. Andalah yang bisa mengenali kekuatan dan keterbatasan diri sendiri. Anda yang harus memutuskan jalan mana yang akan dipilih menuju tujuan Anda dan cara melewati jalan tersebut.