Salah satu kebiasaan saya adalah sering ke toilet. Bukan sakit perut atau diabetes mellitus, tetapi untuk pipis alias buang air kecil.

Kebiasaan ini sudah cukup lama. Bukan meniru kebiasaan orang lain, tetapi dari pemahaman, pikiran, dan ucapan baik saya, bahwa sering minum air putih, baik untuk kesehatan.

Jika mau enak dan tidak repot, saya hanya perlu minum air putih seadanya jika haus. Selain tidak perlu bolak-balik toilet, yang jaraknya tidak bisa dikata dekat, juga jika atasan memanggil, saya selalu siap di tempat. Tetapi konsekuensinya, saya mungkin terserang sakit ginjal, kencing batu, kekurangan cairan tubuh, dan lain-lain.

Kesadaran saya dari pemahaman, pikiran, dan ucapan baik tentang sering minum air putih, berhasil jadi pemenang. Untuk memperkuat, saya tambahkan alasan bahwa dengan harus ke toilet, saya bisa mengistirahatkan mata sehingga tidak terus-menerus memelototi komputer. Selain itu saya bisa meningkatkan relasi dan kontak sosial dengan menyapa teman sekantor yang berpapasan sewaktu menuju atau kembali dari toilet.

Banyak teman kerja yang ingin tahu dan bertanya kenapa saya cukup sering ke toilet. Karena sudah mempersenjatai diri dengan penjelasan yang lengkap dan logis, alhasil bukan hanya mereka dapat menerima alasan saya, malahan beberapa mengikuti kebiasaan tersebut.

Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari. Selain tersedia banyak kesempatan berbuat baik melalui tindakan-tindakan kecil yang mudah dan murah, banyak juga yang memerlukan modal dan pengorbanan dari kita, baik uang maupun harta benda lainnya, tenaga, pikiran, dan waktu. Apalagi jika lingkungan buddhis sekitar kita masih terbatas kebiasaan-kebiasaan untuk berbuat baik. Kita bisa terpengaruh dan tidak berani tampil beda.

Karenanya diperlukan kesadaran akan Hukum Karma dimana semua perbuatan baik akan menghasilkan buah yang baik. Kita akan mau dan mampu melakukan berbagai perbuatan baik, tidak hanya yang mudah dan murah, tetapi juga yang mahal dan memerlukan banyak pengorbanan, walaupun itu harus menerobos kebiasaan lingkungan kita.

Contohnya menjadi Dhammaduta. Di banyak daerah, jumlah Dhammaduta sangat terbatas. Kebanyakan masyarakat buddhis menganggap profesi ini ’menakutkan’ secara mental, dan memerlukan pengorbanan tidak hanya waktu, tenaga, dan pikiran, tetapi juga materi yang tidak sedikit.

Jika kita berani memelopori menjadi Dhammaduta, akan ada umat yang bersemangat dan termotivasi untuk mencontoh, sehingga mereka bisa berkiprah berbuat baik yang lebih besar. Seperti kata pepatah, ”Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”. Tidak hanya kita berhak memanen hasil perbuatan baik kita sendiri, tetapi mendapat buah karma baik tambahan dari memotivasi orang lain untuk berbuat baik.