Suatu hari Raja Zhao mengunjungi Chan Master Zhaozhou yang telah mendekati usia 100 tahun. Saat itu Master Zhaozhou sedang beristirahat di atas dipan. Sambil berbaring beliau berkata, “Raja! Saya sekarang sudah berusia lanjut, meski Raja datang khusus untuk mengunjungi saya, namun tubuh saya benar-benar lemah sehingga tidak mampu menyambut kedatangan Raja. Mohon dimaklumi.” Alih-alih marah, Raja justru semakin menghormati Zhaozhou.

Keesokan harinya, Raja mengirim seorang jendral untuk mengantar hadiah bagi Zhaozhou. Mendengar kedatangan sang jendral, Zhaozhou segera bangun dan menyambutnya di depan pintu.

Para murid bingung dengan kelakuan Zhaozhou ini.

Zhaozhou kemudian menjelaskan, “Kalian tidak tahu, cara penyambutan saya ada tiga tingkatan. Bagi orang golongan kelas atas, saya dengan ‘wajah sebenarnya’ menyambutnya di atas dipan; orang kelas dua, saya menyambutnya dengan penuh hormat di ruang tamu; untuk orang kelas tiga, saya memakai cara orang awam dengan menyambutnya di depan pintu.”

Inilah Chan, menghadapi orang dan menangani masalah dengan cara yang sangat bijaksana dan efektif, meski kadang kala sulit dipahami oleh orang awam.

Jangan bilang orang awam, bahkan bhiksu pun tidak semuanya memahami metode Zhaozhou. Kisah berikut di bawah ini merupakan contoh klasik yang umum terjadi di sekitar kita.

Zeng Guofan, seorang pejabat tinggi kerajaan di masa Dinasti Qing, datang mengunjungi sebuah vihara. Karena tampil dengan sekadarnya, bhiksu vihara menganggapnya sebagai umat biasa, sebab itu menyambutnya dengan ucapan sekadarnya: “Duduk”, “Teh”.

Ketika datang kedua kalinya, ia mengenakan pakaian yang indah. Bhiksu vihara menyambutnya dengan agak hormat: “Mari duduk”, “Rebus teh”.

Ketiga kalinya, semua orang tahu kalau ia adalah seorang pejabat tinggi, karena itu dengan sangat hormat menyambutnya dengan ucapan: “Mari silahkan duduk”, “Rebus Teh Pilihan”.

Melihat kesempatan yang sangat langka ini, bhiksu vihara memohon Zeng Guofang untuk meninggalkan kenang-kenangan dalam bentuk tulisan tangan. Zeng segera menulis:

“Duduk, Mari Duduk, Mari Silahkan Duduk.” “Teh, Rebus Teh, Rebus Teh Pilihan.”

Bhiksu vihara merasa malu, ingin rasanya berlari menyembunyikan diri.