Salah satu dari tiga peringatan besar hari Waisak adalah kelahiran Buddha Gautama sebagai Pangeran Siddharta pada sekitar 2.500 tahun yang lampau. Dengan kata lain, merayakan Waisak adalah cara kita memperingati kelahiran Buddha Gautama. Lalu, bagaimanakah kita sebagai umat Buddhis harus bersikap dalam memperingati hari kelahiran kita sendiri?

Dalam masyarakat negara kita, perayaan hari kelahiran (ultah) bagi anak-anak Sekolah Dasar ke bawah umumnya diadakan di Mc D, Kentucky ataupun di sekolah bersama dengan orang tua dan teman-teman sekelasnya. Tetapi semakin beranjak dewasa, semakin mengecil partisipasi orang tua dalam perayaan ultah para putra-putri mereka. Bahkan mungkin tak sedikit putra-putri remaja ataupun dewasa yang merasa merayakan ultah bersama orang tua sudah tak sesuai dengan perkembangan jaman. Inilah fenomena dalam masyarakat kita yang berpandangan bahwa ultah adalah hari kebahagiaan bagi yang merayakannya, tak ada hubungan sedikitpun dengan orang tua.

Dalam buku “Zuo Ren Yu Zuo Shi” karya Lu Qin, Tiongkok, dikatakan bahwa orang Jepang menyebut ultah sebagai “Hari Penderitaan Ibu”. Di hari ultahnya, anak memberi hormat dan mengundang ibu mereka untuk makan bersama. Lebih dari itu, menurut hasil survey, setiap mahasiswa Jepang mengetahui tanggal kelahiran ayah dan ibu mereka.

Sedang di Tiongkok, sejak jaman dahulu telah mengenal ultah sebagai “Hari Penderitaan Ibu dan Kecemasan Ayah”. Hari kelahiran anak merupakan puncak penderitaan bagi ibu selama menjalani proses kelahiran dan kecemasan bagi ayah yang menunggu kelahiran.

Adakah pandangan serupa dalam Buddhisme? ‘Fo Shuo Fu Mu En Zhong Nan Bao Jing (Sutra Sang Buddha Membabarkan Budi Kebaikan Orang Tua yang Dalam dan Sulit Terbalaskan, di Indonesia diterjemahkan juga sebagai Sutra Bakti Seorang Anak)’ telah menjelaskannya secara gamblang. Dalam Sutra yang diterjemahkan oleh Kumarajiva dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Mandarin ini, dijelaskan betapa besarnya penderitaan dan kasih sayang orang tua, khususnya ibu, terhadap putera-puterinya. Berikut adalah sedikit kutipan dari Sutra tersebut.

[… Pada bulan pertama kehamilan, hidup janin tidaklah menentu seperti embun yang menempel pada rumput, pagi hari terbentuk, tetapi akan menguap pada tengah hari.

Pada bulan kedua, janin bagaikan susu kental. Pada bulan ketiga, janin bagaikan darah yang mengental. Pada bulan keempat, janin mulai berwujud seperti manusia. Selama bulan kelima dalam kandungan, kelima anggota badan anak (kepala, dua tangan, dua kaki) mulai terbentuk. …

Kelahiran itu akan seperti sayatan seribu pisau atau seperti ribuan pedang tajam menikam jantungnya. …

Selain beratnya penderitaan dalam melahirkan anak macam itu, masih ada 10 budi kebaikan yang diperbuat oleh ibu kepada anaknya:

Pertama, budi kebaikan melindungi dan menjaga anak selama dalam kandungan; Kedua, budi kebaikan menanggung kesakitan selama proses kelahiran anak; Ketiga, budi kebaikan melupakan semua kesakitan setelah anak terlahir; Keempat, budi kebaikan menelan kepahitan bagi diri sendiri dan memberi yang manis bagi anaknya; Kelima, budi kebaikan menghindarkan anak dari tempat yang basah dan menempatkannya di tempat yang kering; Keenam, budi kebaikan menyusui, merawat dan mendidik anak; Ketujuh, budi kebaikan membersihkan yang kotor; Kedelapan, budi kebaikan memikirkan anak bila bepergian jauh; Kesembilan, budi kebaikan perhatian yang mendalam; Kesepuluh, budi kebaikan kasih sayang yang sejati. …

Bila ada seseorang yang dalam masa bala kelaparan mempersembahkan tubuhnya sebagai makanan bagi kedua orang tuanya, meskipun tubuhnya terpotong dan hancur bagaikan menjadi butiran debu dan ini berlangsung selama ratusan ribu kalpa, masih tetap tak dapat membalas budi kebaikan kebaikan orang tua. …] Sebuah Sutra yang luar biasa. Pelukisan proses kehamilan yang menakjubkan mengingat di masa itu belum dikenal ilmu dan perangkat kedokteran yang canggih. Pun, dari kutipan Sutra di atas dapat diketahui bahwa Buddhisme sangat menekankan akan pentingnya bakti anak terhadap orang tua. Selain Sutra di atas, masih banyak lagi Sutra (Sanskrit) ataupun Sutta (Pali) yang menekankan pentingnya bakti anak terhadap orang tua.

Dalam Sigalovada Suttanta (Pali Kanon, dalam Mandarin disebut sebagai Liu Fang Li Cing) dituliskan sebagai berikut:

[ … Dalam lima cara seorang anak memperlakukan orang tuanya sebagai arah timur:

  1. merawat orang tua,
  2. membantu menyelesaikan tugas-tugas di rumah,
  3. menjaga martabat keluarga,
  4. memelihara warisan,
  5. dengan tulus bersembahyang bagi almarhum orang tua … ]

Demikian pula dapat kita simak kutipan mengenai bakti dari beberapa Sutra berikut:

Sutra Kesabaran – Ren Ru Cing: “Tiada kebajikan yang lebih tinggi daripada berbakti, sedang kejahatan yang tertinggi adalah tidak berbakti.”

Mo Luo Mo Cing: “Permata yang ditumpuk tinggi dari permukaan tanah di bumi hingga mencapai 28 tingkat Alam Dewa, semua itu masih tak sebanding dengan penghormatan dan perawatan terhadap orang tua.”

Mahasannipata Sutra – Ta Ci Cing: “Saat Buddha tak muncul di dunia, perlakuan yang baik terhadap orang tua adalah seperti layaknya menghormati Buddha.”

Ekottarikagama Sutra – Ceng I A Han Cing: “Pahala kebajikan berbakti dan merawat orang tua adalah sederajat dengan pahala kebajikan Bodhisattva calon Buddha.”

Ta Ci Cing: Buddha berkata, “Bukan hanya saat ini saja memuji kebajikan berbakti, melainkan selalu memujinya selama kalpa yang tak terhingga.”

Sin Ti Kuan Cing: “Karena budi kebaikan ayah dan ibu sehingga setiap putera-puteri memperoleh kebahagiaan. Budi kebaikan ayah setinggi gunung, budi kebaikan ibu sedalam lautan.”

Sin Ti Kuan Cing: “Apa yang disebut paling kaya dan paling miskin di dunia ini? Ibu masih hidup, inilah yang disebut kaya, ibu telah meninggal, inilah yang disebut miskin; ibu masih hidup dinamakan tengah hari, ibu meninggal dinamakan matahari terbenam; ibu masih hidup dinamakan seterang rembulan, ibu meninggal dinamakan malam yang gelap. Karena itulah, kalian harus rajin berlatih diri untuk berbakti dan merawat orang tua. Orang yang demikian ini, pahala kebajikan yang diperolehnya tiada berbeda dengan pahala menghormati Buddha.”

Pu Shi Yi Kuang Cing: “Makanan dan permata belum cukup membalas budi kebaikan orang tua. Dapat mengarah-kan mereka menuju Dharma yang benar, itulah balas budi kepada kedua orang tua.”

Selain beberapa kutipan Sutra (Sutta) di atas yang menekankan pentingnya bakti, dalam syair Pelimpahan Jasa (Mahayana) juga terdapat satu kalimat yang menegaskan “membalas empat budi kebaikan besar”. Apakah gerangan empat budi kebaikan besar itu? Tak lain adalah budi orang tua (rumah tangga), makhluk hidup (masyarakat), pemimpin negara (negara), Tri Ratna (ajaran). Di sini terlihat bahwa budi kebaikan orang tua merupakan satu dari empat budi kebaikan besar.

Dari beberapa uraian di atas, dapat kita ketahui bahwa Buddha Dharma sangat menekankan pentingnya bakti, maka itu sudah selayaknya kita sebagai siswa Sang Buddha meletakkan bakti sebagai landasan kehidupan kita. Sebagai anak yang berbakti, kita harus mengerti (Zhi En) dan berterima kasih (Gan En) serta berusaha membalas budi kebaikan orang tua (Bao En). Bagaimanakah bentuk balas budi itu? Sejak kecil kita telah diajarkan banyak mengenai bakti, kali ini kita coba membahasnya dalam sudut pandang yang berbeda yang berkaitan dengan hari kelahiran.

Ingatlah hari kelahiran orang tua dan berikan ucapan “Happy Birthday” pada mereka di hari super special itu. Lewati hari spesial itu bersama-sama orang tua. Bila kondisi tak memungkinkan untuk bertemu, setidaknya sampaikan ucapan happy birthday melalui media telepon.

Lewati hari spesial diri kita sendiri bersama dengan orang tua. Renungkan penderitaan ibu sewaktu mengandung dan melahirkan kita, serta kasih sayang dan perjuangan orang tua dalam membesarkan kita. Gunakan pula telepon untuk menyampaikan rasa terima kasih kita pada orang tua bila kondisi tak memungkinkan untuk bersama-sama pada hari itu.

Selain merupakan hari penderitaan dan kecemasan orang tua, ultah kita juga merupakan “Hari Kebahagiaan” bagi orang tua. Kelahiran kita adalah kebahagiaan orang tua, karena itu, tidakkah kita harus berupaya agar orang tua menjadi semakin berbahagia? Mari kita jadikan ultah sebagai momen yang membahagiakan orang tua.

Ultah orang tua dan kita sendiri seyogianya diisi dengan berbuat kebajikan, seperti: berdana bagi mereka yang membutuhkan, tak menyakiti makhluk lain, menunjang pengembangan Dharma dan kegiatan kebajikan semacamnya.Seperti yang tercantum dalam Dhammapada :

Jangan berbuat jahat Lakukan kebajikan Sucikan hati dan pikiran Inilah ajaran para Buddha

Inilah ajaran yang merupakan dasar dari semua kebahagiaan sejati. Kenapa kita tidak mengisi ultah dengan menanam benih kebahagiaan melaksanakan ajaran mulia para Buddha?

Untuk jelasnya, mari kita simak Anguttara Nikaya (II, iv,2) seperti berikut di bawah ini.

[ … Membalas Budi Orang Tua Kunyatakan, O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu? Ibu dan ayah.

Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana – bahkan perbuatan itupun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orang tuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orang tua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.

Tetapi, O para bhikkhu, seseorang yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam moralitas; yang mendorong orang tuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya bodoh batinnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan – orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan. ]

Lima poin di atas merupakan bentuk balas budi yang kita lakukan semasa orang tua masih hidup, bagaimana pula kita harus membalas budi orang tua yang sudah meninggal? Pada peringatan hari ultah almarhum orang tua dan ultah kita, lakukan perenungan akan budi kebaikan yang tak terhingga dari orang tua pada kita, dengan menjaga perbuatan kita agar tidak berbuat jahat, mengembangkan kebajikan, menyucikan pikiran serta melakukan pelimpahan jasa bagi almarhum orang tua tercinta.


Memang benar, bakti adalah suatu hal mulia yang harus diamalkan dan dilaksanakan setiap saat, bukan hanya berlaku khusus pada hari ultah kita saja. Tetapi, tak sedikit dari kita yang acap kali lupa akan hal satu ini. Maka dari itu, ultah adalah satu momen tepat sebagai pengingat bagi kita akan pentingnya pengamalan BAKTI.

Sekarang, tahukah kita akan makna ultah yang sesungguhnya?

Adakah orang-orang di sekitar kita juga memahami makna ultah ini?

Dan, sudahkah kita bertekad untuk memberitahukan makna ultah ini pada setiap orang?

… . Terima kasih Mama … … . Terima kasih Papa …

Majalah Sinar Dharma edisi 05 : Waisak 2548 BE / 2004