… sebelum ucapan yang tidak layak itu keluar, kita adalah tuan dari ucapan itu; setelah ucapan itu keluar, kita adalah budak dari ucapan itu …

Bukit yang biasanya lengang itu kini penuh dipadati ratusan orang. Ya, ratusan orang pendekar dari 12 perguruan kungfu di wilayah Henan memenuhi puncak bukit itu. Mereka datang dengan membawa senjata lengkap beserta atribut perguruan masing-masing. Tak ada senyum tawa di wajah para pendekar itu. Nuansa ketegangan sangat terasa di pagi hari yang sangat sejuk. Tampaknya ini bukan pertemuan ramah tamah, para penduduk di kaki bukit sejak sehari sebelumnya sudah menyingkir jauh-jauh dari ajang marah-marah ini.

Henan terkenal akan Gunung Songshan-nya, sedang Gunung Songshan terkenal akan kungfu Shaolin-nya. Ke-12 perguruan itu sebenarnya secara tidak langsung memiliki hubungan dengan Vihara Shaolin. Para pendiri perguruan itu kesemuanya adalah mantan murid perumah tangga kungfu Shaolin. Namun ironisnya, ke-12 perguruan itu kini terbagi dalam dua kubu berdiri saling berhadapan dengan bersenjata lengkap. Apa gerangan yang terjadi?

Kubu Liugen (Enam Landasan), yakni Yan (Mata), Er (Telinga), Bi (Hidung), She (Lidah), Shen (Jasmani), dan Yi (Pikiran), berdiri di sisi utara bukit, sedang di sisi selatan adalah kubu Liuchen (Enam Obyek) yang terdiri dari Se (Bentuk), Sheng (Suara), Xiang (Bau), Wei (Rasa), Chu (Sentuhan), dan Fa (Kesan-Kesan Pikiran). Wajah-wajah tegang tampak menghiasi kedua kubu.

Sida Jiekong (Empat Unsur Besar Semua Kosong), yang merupakan pemimpin kubu Liugen sekaligus ketua Perguruan Yi, melangkah keluar dari barisan dan berhadapan langsung dengan Liu Fannao (Enam Kegelapan Batin), wakil dari kubu Liuchen yang juga adalah ketua Perguruan Se.

“Sekarang bagaimana kita harus mengakhiri semua ini? Satu lawan satu? Atau pertempuran masal?” Sida Jiekong bertanya dengan nada yang datar, ya, sangat datar dalam kondisi yang sangat menegangkan itu.

“Kami siap melayani dalam bentuk apapun. Atau semua ini berakhir dengan permintaan maaf dari kubu kalian,” Liu Fannao menjawab dengan tidak kalah datarnya.

“Bentuk barisan Liudao (Enam Alam) dan ucapkan selamat tinggal pada mereka.” Sida Jiekong berjalan mundur sambil menghunus pedang panjangnya. Liu Fannao pun tak mau kalah, ia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi. Kubu Liuchen serentak merapat membentuk barisan Liushi (Enam Waktu). Masing-masing kubu menantikan aba-aba penyerangan. Waktu-waktu menegangkan yang menentukan mati hidupnya ke-12 perguruan itu berlalu detik demi detik.

Saat itulah terdengar sebuah ucapan yang sangat lembut dan lebih datar daripada ucapan Sida Jiekong dan Liu Fannao. “Tak dinyana para pendekar tempaan Vihara Shaolin harus saling bunuh satu sama lain.” Entah sejak kapan di tengah dua kubu telah berdiri seorang pemuda tampan berjubah putih dengan sebatang toya panjang di tangannya. “Siapa kau?” Sida Jiekong dan Liu Fannao bertanya dalam waktu bersamaan.

“Aku tidak tahu apa penyebab kalian demikian antusiasnya ingin saling membunuh, tapi sebagai seorang yang mengerti aturan dunia rimba hijau, kita tak bisa mengakhiri semua ini dengan hanya sekedar berbincang-bincang. Dua orang Lao Qianbei (generasi tua), bila aku kalah di tangan kalian berdua, aku tidak akan ikut campur urusan kalian. Tetapi bila kalian tak dapat mengalahkan diriku, urusan kalian ini tampaknya harus menjadi urusanku.”

“Anak muda, jangan sombong kau,” Sida Jiekong menyambuti usulan pemuda itu dengan suara yang tetap datar. “Hm, memang demikianlah sifat anak muda zaman sekarang,” Liu Fannao menimpali dengan suara dengusan hidung.

“Dua orang Lao Qianbei, bukan Wu Wo (Tiada Aku) sengaja menyombongkan diri, tapi memang hanya dengan cara inilah semua ini baru bisa diakhiri demi kebaikan semua pihak.”

“Apa, Wu Wo?” “Wu Wo pendekar muda murid Bhiksu Wu Zhuo, tokoh legendaris kungfu Shaolin?” Sida Jiekong dan Liu Fannao saling bersahutan.

“Hm, kalau memang benar kau adalah Wu Wo, penyelesaian yang kau ajukan patut kami pertimbangkan,” Sida Jiekong akhirnya mengambil keputusan. “Biar pedangku ini lebih dulu merasakan kelihaian toyamu.”

“Liu Fannao, kalau memang tulang tuaku ini tak mampu menaklukkan gelombang Sungai Changjiang yang muda ini, silahkan kau ikut maju bergabung denganku,” usai berucap Sida Jiekong melangkah maju menghampiri Wu Wo.

Tetua Sida Jiekong bukan nama kosong, serangannya bervariasi dan selalu menuju titik mematikan. Namun toya Wu Wo serasa memiliki daya magnet, di mana pedang panjang itu menusuk, di situ pulalah toyanya menghadang. Hidup ini Wu Chang (anicca – tidak abadi, selalu berubah), demikian pula tubuh tua Sida Jiekong juga harus mengikuti hukum alam, staminanya tak mampu menandingi tubuh muda Wu Wo.

Saat pedang itu lepas dari tangan tua Sida Jiekong karena lecutan toya Wu Wo, tombak Liu Fannao menusuk ulu hati Wu Wo. Toya melawan tombak, sebuah pertarungan yang menarik dan sepadan. Tetapi tak perlu berlangsung lama, tombak Liu Fannao juga harus mengakui kelihaian toya Wu Wo yang lentur dan hidup.

“Benar-benar bagaikan gelombang Sungai Changjiang, yang di belakang mendorong yang di depan. Kami dua tulang tua ini sungguh-sungguh takluk luar dalam terhadapmu anak muda. Betapa beruntungnya Bhiksu Tua Wu Zhuo dapat memiliki murid seperti dirimu ini,” demikian ucap Shida Jiekong dengan tulus.

“Lao Qianbei, bukan maksud Wu Wo yang ingusan ini ingin ikut campur, tapi kalau boleh tahu apa penyebab pertikaian ini?”

“Ini bermula dari peristiwa tiga bulan lampau yang terjadi di kaki bukit ini,” jawab Shida Jiekong.

Tiga bulan yang lampau, seorang pemuda murid Perguruan Se yang baru saja pulang dari berdagang, ditabrak seorang kakek di depan sebuah losmen di kaki bukit yang merupakan basis wilayah Perguruan Yi. Buntalan berisi sisa barang dagangannya berceceran di jalan. Kakek itu membantu memungutinya, lalu berlalu begitu saja.

Peristiwa kecil itu semestinya tak berlanjut kalau saja rekan pemuda itu tidak nyeletuk, “Hm, boleh juga, setelah menabrak membantu memungut.” Kalau ucapan itu berhenti sampai di situ, maka berakhirlah semua persoalan. Tak dinyana masih ditambahkan dengan sebuah kalimat penutup, “Sayang sekali, tua-tua tidak tahu aturan. Tanpa minta maaf langsung mau pergi begitu saja.” Celetukan ini menghentikan langkah kaki kakek itu yang tak lain tak bukan adalah Sida Jiekong.

Seorang lelaki setengah baya yang kebetulan menjadi penonton ikut nimbrung, “Ya, kan namanya juga tidak sengaja, pun sudah dibantu pungut satu per satu, sudahlah tidak perlu diperpanjang lagi.” Kalau ucapan itu berhenti sampai di situ, maka berakhirlah semua persoalan. Tak dinyana masih ada kalimat penutupnya, “Ah, anak muda zaman sekarang memang semua begitu, tidak tahu aturan.”

Seorang gadis yang ikut mengerubung segera menyahut, “Paman, jangan bilang begitu dong, tidak semua anak muda itu tidak tahu aturan.” Gadis ini berpenampilan rapi bersih, ucapannya juga sangat halus dan sopan, benar-benar seorang gadis muda yang tahu aturan. Tapi tak disangka ia juga tak dapat menahan diri untuk tidak menambahkan kalimat penutup. “Paman tampak berwajah ramah, tapi wajah tak sepadan dengan ucapan, wajah ramah ucapan busuk.”

Dalam kondisi itu, tidak mungkin tidak ada yang menegur gadis itu. Seorang wanita setengah baya menasehatinya, “Kamu gadis cilik mana boleh bicara seperti itu dengan orang yang lebih tua. Apa dengan orang tuamu juga berkata begitu?” Teguran ini demikian menyentuh perasaan gadis itu. Kalau saja ucapan itu berakhir sampai di situ, maka semua orang akan bubar dan melanjutkan urusan mereka sendiri-sendiri. Tapi coba dengar kalimat penutupnya. “Lihat tampangmu, pasti selalu melawan orang tua!”

Tak perlu dijelaskan lagi, terjadilah keributan yang luar biasa. Semua saling memaki. Saat itulah pemuda yang tertabrak, yang dari awal berdiam diri, akhirnya berkata, “Ya sudah, ya sudah. Urusan kecil jangan dibesar-besarkan!” Kalau si punya urusan sudah berkata jangan dibesar-besarkan, maka boleh dibilang segala keributan pasti akan berakhir. Tapi, lagi-lagi sebuah kalimat penutup merusak semuanya. “Kalau tahu orang-orang di wilayah Perguruan Yi itu mau menangnya sendiri, ya mending tidak lewat sini.”

Akhirnya bukan lagi mulut yang bertempur, melainkan tangan dan kaki yang berbicara, bahkan senjata pun ikut terhunus. Demikianlah peristiwa tiga bulan lalu itu kemudian berlanjut di puncak bukit pada hari itu.

“Tak heran kalau Guru Buddha mengajarkan kita semua untuk selalu menjaga setiap perbuatan, ucapan, dan pikiran kita. Kalau tidak, hm, terjadilah kekacauan yang tak seharusnya.” Wu Wo menatap kedua kubu dengan pancaran lembut penuh cinta kasih dan welas asih. “Jangan lupa, dalam Dhammapada ada terucap: ‘Janganlah berbicara kasar kepada siapapun, karena mereka yang mendapat perlakuan demikian akan membalas dengan cara yang sama. Sungguh menyakitkan ucapan kasar itu, yang pada gilirannya akan melukaimu.’

Dalam syair yang lain, Dhammapada juga mengatakan: ‘Seorang bhiksu yang mengendalikan lidahnya, yang berbicara dengan bijaksana dan tidak sombong, yang dapat menerangkan Dharma beserta artinya, maka akan kedengaran indah ucapannya itu.’ Demikian pula kita sebagai umat awam harus berperilaku. Jadi kenapa tidak kita akhiri semua ini yang ternyata cuma dipicu oleh hal kecil tak bermanfaat dalam bentuk ucapan kalimat penutup yang tak layak?”

Tanpa menunggu aba-aba, kedua kubu yang sebelumnya berhadapan untuk saling membasmi itu kini berpelukan erat. Benar-benar sebuah kalimat penutup yang indah dari Wu Wo.