“Diri sendiri yang terlatih dengan baik akan menjadi alat pengembang bagi seseorang”. SAMYUTTA NIKAYA, SAGATA VAGGA 665.

Kita selalu mendambakan kesuksesan tetapi adakalanya, tidak mampu menyadari bahwa kesuksesan itu, sesungguhnya berawal dari diri sendiri. Realitanya, apapun yang berhasil diraih adalah “murni” dari daya upaya diri sendiri. Dalam hal ini, : a) Bagi yang berdaya upaya “maksimal” maka hasilnya akan sangat baik atau memuaskan. b) Bagi yang berdaya upaya “alakadar” nya maka hasilnya adalah sekedarnya saja, yang mana bisa saja mencukupi atau tidak/kurang mencukupi. e) Bagi yang berdaya upaya “biasa-biasa” saja maka hasilnya adalah biasa biasa saja, yang tidak ada kelebihannya. d) Bagi yang berdaya upaya “asal asalan” maka hasilnya adalah asal asalan atau lebih cenderung rugi daripada untung. Didasarkan oleh ke empat jenis daya upaya ini maka akan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sukses tidaknya kehidupan ini, kitalah arsitekturnya. Selanjutnya, agar arah kesuksesan senantiasa progresif maka

1.- BERGEMBIRA DAN BERSYUKURLAH SELALU DENGAN PEKERJAAN YANG DIKERJAKAN. Kenyataannya, sering dijumpai orang orang yang “malu” dengan pekerjaannya. Alasannya adalah pekerjaan tersebut kurang “bonafide” atau “low standard” dan sebagai akibatnya, pekerjaan tersebut dikerjakan asal asalan dan hasilnya adalah tidak optimal atau tidak sesuai dengan standard. Sebenarnya, yang seharusnya dimalukan, hanyalah satu yaitu “hiri : malu berbuat jahat”, yang dampaknya pasti menyengsarakan orang lain, misalnya : menipu, merampok atau membunuh. Didasarkan oleh hal ini, hendaknya senantiasa bergembira dan bersyukur dengan pekerjaan yang dimiliki. Dengan adanya rasa gembira dan syukur ini maka 1a) Akan ada efisiensi. 1b) Produktivitas akan meningkat. 1c) Kebosanan akan sirna karena mampu “enjoy” dengan pekerjaan. 1d) Kwalitas produk semakin baik dan meningkat.

2.- MENYADARI BAHWA DIRI SENDIRI SANGATLAH BERPERANAN. Sering dijumpai orang orang yang selalu meremehkan atas kemampuan yang dimiliki. Di pikirannya, senantiasa tertanam bahwa orang orang yang tingkat pendidikannya tinggi, pasti akan lebih sukses dan tidak mungkin bisa ditandingi oleh orang orang yang tingkat pendidikannya rendah atau pas-pasan. Benarkah ? Kenyataannya, tidaklah selalu demikian. Kenyataannya, sering juga dijumpai orang orang yang tingkat pendidikannya tinggi tetapi kehidupannya, biasa biasa saja atau gagal. Oleh karena itu, tingkat pendidikan yang tinggi, tidaklah bisa dijadikan sebagai satu satunya pedoman, sukses tidaknya diri seseorang. Sukses tidaknya diri seseorang, umumnya ditentukan oleh “bisa” tidaknya diri seseorang : 2a.- Mengaplikasikan ilmu yang telah dimiliki. Maknanya, mahir diteori, mahir juga di praktek. Ibarat obat. Akan bermanfaat jika dimakan atau diminum. 2b.- Mengadaptasikan ilmu yang telah dikuasai. 2c.- Menangkap setiap “chance” atau “opportunity” yang muncul. Biasanya, kesempatan atau peluang yang baik, tidak akan muncul untuk yang kedua kalinya. Bagi yang kabur “goal” nya akan selalu menjadi “the loser” sedangkan yang jelas “goal” nya, akan selalu menjadi “the winner”. Umumnya, orang orang yang sukses, baik karir maupun bisnis adalah orang orang yang mampu membaca dan menangkap kesempatan atau peluang yang muncul. 2d.- Mengevaluasi diri. Kebanyakan, seseorang “baru” akan mau mengevaluasi diri jika telah gagal. Strategi ini, kuranglah baik. Karena pengevaluasian diri dikala gagal, hanya akan menemukan penyebab utama dari kegagalan sedangkan untuk pengembangan, tidaklah akan diketahui. Seyogianya, pengevaluasian dilaksanakan pada dua sisi, baik dikala gagal maupun sukses. Manfaatnya, selain memperbaiki salah tetapi juga meningkatkan kwalitas yang sudah baik sehingga daya saingnya semakin kompetitif.

3.- TENTUKAN TARGET PEKERJAAN DAN FOKUSKAN. Apapun yang akan dikerjakan jika “target” nya tidak jelas dan fokusnya tidak ter-arah maka hasilnya akan ngawur. Ibarat menjual Handphone. Segmen pasarnya haruslah jelas, misalnya : pengusaha, eksekutif, karyawan, mahasiswa atau umum. Setelah itu, fokuskan promosinya. Jika tidak maka Handphone tersebut akan stagnasi di etalase.

4.- JANGAN MENYESALI YANG TELAH BERLALU DAN MENCEMASI YANG BELUM DATANG. Menyesali yang telah berlalu, tidaklah akan bisa memberikan manfaat, disamping menurunkan kwalitas dan semangat hidup. Sedangkan mencemasi yang belum datang, juga tidak akan berguna karena segala sesuatunya, tidaklah pasti. Jadi, daripada menyesali yang telah berlalu dan mencemasi yang belum datang, alangkah bijaksananya jika kita senantiasa berbuat yang terbaik, disaat ini dan sekarang ini juga. Atau “Don’t Wait Till Tomorrow For What You Can Do Today !”.

5.- JADIKANLAH KEGAGALAN SEBAGAI CAMBUKAN. Yang namanya kegagalan, haruslah diterima dan kemudian dievaluasi serta dikoreksi untuk meraih yang terbaik dimasa mendatang. Dan tidaklah logis, pantas disedihkan ?

6.- TINGKATKAN POTENSI DAN KWALITAS DIRI. Peningkatan potensi dan kwalitas diri, selain dilalui proses pembelajaran, juga bisa diraih melalui pengevaluasian diri atas apa yang telah diperbuat. Setelah itu, harus ada keberanian diri untuk mau memperbaikinya.

7.- MILIKI TOLERANSI DAN SALING MENGHARGAI. Pemaksaan kehendak, dalam bentuk dan kondisi yang bagaimanapun juga, efeknya adalah destruktif. Karena, tidak seorangpun yang bersedia, senang, mau atau suka diperlakukan otoriter atau dikuasai total. Oleh karena itu, ketoleransianlah yang dibutuhkan agar hasil kerjasama bisa optimal.

KESIMPULAN : Sukses tidaknya kehidupan ini, kitalah arsitekturnya. “Jika seseorang memiliki sedikit pengetahuan tetapi kuat dalam kebajikan moral, orang lain hanya akan memuji kebajikan moralnya saja karena pengetahuannya tidaklah memadai. Jika seseorang memiliki banyak pengetahuan tetapi lemah dalam kebajikan moral, orang lain akan mencela tingkah lakunya walaupun pengetahuannya memadai. Tetapi jika seseorang memiliki banyak pengetahuan dan juga kuat dalam kebajikan moral, ia akan dipuji untuk keduanya; kebajikan moralnya dan pengetahuannya”. ANGGUTARA NIKAYA II : 8. Dan tidak kalah pentingnya, agar dampak kesuksesan senantiasa positif atau menimbulkan kebahagiaan, baik di kehidupan ini maupun mendatang maka “sila : moral” haruslah dirawat, dijaga, dibina dan dikembangkan dengan baik. Sabbe Satta Sabba Dukkha Pamuccantu – Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata : Semoga semua makhluk hidup terbebaskan dari derita & semoga semuanya senantiasa berbahagia, sadhu,…sadhu,…..sadhu,……