“Bagi orang yang hidup dalam kelengahan, keinginan niscaya kian berkembang seperti tanaman menjalar Maluva. Orang semacam ini melompat dari satu kehidupan ke kehidupan lainya bagaikan kera yang doyan buah – buahan yang berloncatan di dalam hutan” TANHA VAGGA XXIV : 334.

Salah satu penyebab dari timbulnya derita adalah “upadana : kemelekatan”, yang menutup mata bathin seseorang sehingga tidak mampu membedakan perbuatan “apa” yang seharusnya diperbuat dan perbuatan “apa” pula yang seyogianya disirnakan.

Dikisahkan bahwa pada suatu waktu di sebuah desa di Sri Langka, tinggallah seorang wanita yang berlaku tidak pantas dengan adik laki – laki dari suaminya. Wanita ini lebih bernafsu kepada kekasih gelapnya daripada suami sahnya. Oleh karena itu, ia lalu menghasut kekasihnya untuk mengeyahkan kakaknya itu.

Laki – laki itu memprotes, ”Wanita ! Jangan pernah berkata seperti itu”. Tetapi setelah wanita itu mengulangi anjurannya itu tiga kali, Sang kekasih lalu menyerah dan bertanya, “Bagaimana caranya saya melakukan hal itu ?” Ia lalu menjawab, “Pergilah dengan membawa kapak dan tunggu dia di tepi sungai di dekat pohon semak yang besar. Saya akan mengajaknya kesana”.

Kemudian laki – laki itu tiba disana dan berbaring menunggu kakaknya sambil bersembunyi di balik semak – semak. Ketika sang suami kembali dari pekerjaanya di dalam hutan, sang istri bersikap seolah – olah ia menunjukkan rasa sayang dan cinta kepadanya dan sembari dengan kasih sayangnya menyisir rambut suaminya, ia berkata, “Rambutmu perlu dibersihkan, sudah kotor sekali. Mengapa kamu tidak pergi dan mencucinya di tepi sungai dekat pohon semak besar itu ?” Dengan berpikir gembira, “Istriku sangat lembut dengan kasih sayangnya padaku”, ia lalu pergi menuruti kata – kata istrinya ke tempat pencucian di tepi sungai. Ketika ia bersiap – siap mencuci rambutnya dengan membungkukkan kepalanya, saat itulah adiknya keluar dari tempat persembuyiannya dan dengan kejamnya, ia memenggal kepala kakaknya dengan kapak yang diabwanya. Dikarenakan oleh kemelekatannya yang kuat kepada istrinya, ia kemudian terlahir kembali sebagai seekor ular hijau.

Karena masih melekat kepada istrinya, sang ular menjatuhkan dirinya dari atap rumah ke diri wanita itu. Menyadari bahwa si ular itu pastilah bekas suaminya yang dulu, ia menyuruh orang membunuh dan membuang ular itu.

Bahkan setelah meninggal dari alam kehidupannya sebagai ular, kemelekatannya terhadap istriunya masih tetap kuat dan ia kemudian terlahir sebagai seekor anjing di rumah lamanya. Sebagai seekor anjing, ia masih melekat kepada bekas istrinya dan terus mengikuti kemana saja wanita itu pergi bahkan sampai ke hutan pun ia ikut. Orang – orang mengejeknya dengan mengatakan , “Wanita pemburu bersama anjingnya sedang keluar, entah menuju kemana dia !”. Si Wanita kembali menyuruh kekasihnya untuk membunuh anjing itu.

Karena kemelekatannya itu masih kuat dan tetap bertahan maka si anjing ini lalu terlahir kembali sebagai seekor anak sapi di rumah itu pula. Anak sapi ini juga selalu mengikutinya kemana pun ia pergi sehingga menjadi bahan tertawaan dan ejekan orang – orang, “Lihat si pengembala ini telah keluar. Entah di padang rumput yang mana sapinya akan merumput”. Kembali si wanita ini menyuruh kekasihnya membunuh anak sapi itu.

Lagi – lagi kemelekatannya yang masih kuat kepada istrinya itu menyebabkan ia terlahir kembali, kali ini di dalam rahimnya. Di alam / dunia manusia, dimana ia mendapatkan kembali kesadarannya, ia lahir dan dikaruniai dengan kemampuan mengingat kelahiran – kelahirannya yang lampau. Dengan menggunakan kemampuannya ini, ia meninjau empat kelahirannya yang lampau dan menjadi sangat sedih dan menderita ketika mengatahui bahwa mereka semua dibunuh oleh bekas istrinya, “Betapa ironisnya terlahir di rahim musuh semacam ini”, keluhnya. Ia tidak akan membiarkan ibunya, musuhnya ini menyentuhnya. Bilamana ibunya yang akan menggendongnya, si bayi menangi dengan sekeras – kerasnya.

Jadi kemudian, kakeknyalah yang harus mengambil alih tugas membesarkan anak ini. Ketika si anak telah berusia cukup dimana ia telah dapat berbicara, sang kakek menanyakannya, “Oh, cucuku sayang, mengapa engkau menangis bila ibumu hendak menggendongmu ?” “Wanita ini bukanlah ibu bagi saya. Dia adalah musuhku yang telah membunuhku selama empat kali kelahiran berturut – turut”. Berkata demikian, ia menceritakan kembali kepada kakeknya kisah dari kehidupan – kehidupannya yang lampau. Demi mendengarkan kisah sedih ini, si orang tua menangis sambil memeluk si anak dan berkata, “Ayo, cucuku yang malang, mari kita pergi dari sini. Tiada gunanya lagi kita tinggal disini”. Mereka lalu pergi dan tinggal di Vihara dimana keduanya lalu menerima “upasampada : pentahbisan sebagai bhikkhu” dan pada saatnya melalui latihan meditasi yang cukup, mereka mampu mencapai tingkat Arahatta Magga dan Phala = menjadi orang suci.

KESIMPULAN :

Dalam kehidupan ini, tidaklah logis atau pantas melekati apapun juga, baik yang dicintai maupun yang dimusuhi. “Janganlah melekat pada apa yang dicintai ataupun yang tidak dicintai. Perpisahan dengan apa yang dicintai adalah suatu penderitaan. Perjumpaan dengan apa yang tidak dicintai juga merupakan penderitaan. Karena perpisahan dengan apa yang dicintai adalah suatu penderitaan, janganlah mencintai apapun. Tiada lagi ikatan bathin bagi mereka yang terbebas dari kecinatan dan ketidakcintaan”. PIYA VAGGA XVI : 210 – 211. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu – sabbe satta bhavantu sukhitata = semoga semua makhluk hidup terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia, sadhu,…sadhu,….sadhu,….