“Gemar tidur, suka berpelesir, tidak mau bekerja, bermalas – malasan dan maunya hanya uring – uringan, serampangan adalah muara kemerosotan”. KHUDDAKA NIKAYA, SUTTA NIPATA 304.

Dikorelasikan dengan ajaran luhur Sang Buddha, bisnis tidaklah bertentangan dengan Buddha Dharma “sejauh” tidak ada objek atau sasaran yang dirugikan. Dalam kitab suci ANGUTTARA NIKAYA III : 207, disabdakan Sang Buddha bahwa terdapat 5 (lima) macam perdagangan yang salah atau tidak pantas dilaksanakan, yang terdiri dari :

Satta vanijja : Berdagang alat senjata yang dimanfaatkan untuk mencelakakan atau memusnakan makhluk hidup.

“Semua orang gentar terhadap hukuman. Semua makhluk hidup takut menghadapi kematian. Setelah membandingkan diri sendiri dengan yang lain, seseorang hendaknya tidak membunuh sendiri atau menyuruh orang lain membunuh”. DANDA VAGGA X : 129

Satta vanijja : Berdagang makhluk hidup yang dimanfaatkan untuk dikonsumsi atau dibunuh. “Petani mengalirkan air menuju sawah, pemanah meluruskan anak panah, tukang kayu melengkungkan kayu; orang baik melatih diri sendiri”. DANDA VAGGA X : 145

Mamsa vanijja : Berdagang daging hasil dari pembunuhan makhluk hidup. “Semua makhluk hidup mendambakan kebahagiaan. Barang siapa yang mencari kebahagiaan bagi dirinya sendiri dengan menganiaya makhluk hidup lain maka setelah kematiannya, ia niscaya tidak akan memperoleh kebahagiaan”. DANDA VAGGA X : 131.

Majja vanijja : Berdagang minuman yang memabukkan, yang mana menyebabkan seseorang “lupa diri atau terlena” sehingga tidak mampu berbuat baik dan cenderung melakukan perbuatan – perbuatan tercela. “Barang siapa yang mencelakai orang lain yang tidak menganiaya, suci dan tidak bernoda bathin; kejahatan niscaya akan berbalik menimpa si bodoh itu bagaikan debu yang ditabur melawan arah angin”. PAPA VAGGA IX : 125

Visa vanijja : Berdagang racun yang dimanfaatkan menghancurkan kehidupan makhluk – makhluk hidup. “Janganlah meremehkan kejahatan walaupun kecil dengan mengatakan bahwa “Itu tidak akan memberikan akibat apa pun”. Ibarat tempayan yang dapat terpenuhi oleh air yang jatuh setetes demi setertes, demikian pula orang bodoh yang sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kejahatan” PAPA VAGGA IX : 121.

Dalam berbisnis yang benar itu, selain tidak menyebabkan “mati” nya makhluk – makhluk hidup tetapi juga tidak ada unsur penipuan atau kekecewaa. Contoh – contoh bisnis yang bertentangan dengan konsepsi Buddhis adalah :

Berdagang “sparpart” dengan “profit” di luar dari harga pasar, mis : sparepart A di pasaran berharga Rp 1.500.- / unit tetapi di jual Rp 5.000.-/ unit.

Sparepart A berkwalitas nomor 2 (dua) tetapi dikatakan berkwalitas nomor 1 (satu) dan dijual seharga sparepart berkwalitas nomor 1 (satu).

Menginformasikan bahwa harga – harga produk akan naik (realitanya tidak) sehingga konsumen membeli dalam jumlah yang banyak (membuat stok).

Mengatakan bahwa produk ini aman, baik penggunaan “shorterm maupun longterm” tetapi kenyataannya adalah sebaliknya.

Ingkar janji dan tidak mau melunasi hutang piutang.

Meng “akal” i produk yang sudah “expired date” yang seharusnya dimusnahkan tetapi dijual kembali.

Menjual produk yang seharusnya ada program “bonus atau discount” tetapi tidak diberikan “bonus atau discount” nya.

Memprovokasi dan menjelek – jelekkan produk pesaing dengan cara – cara illegal, mis. : membuat “statement” yang tidak benar bahwa produk pesaing sudah bangkrut, jelek mutunya dan lain sebagainya. “Sungguh menjijikkan jika kemasyhuran, keuntungan dan penghidupan diperoleh dengan menurunkan harkat kehidupan atau dengan berprilaku yang menyimpang dari dharma = kebenaran”. KHUDDAKA NIKAYA , JATAKA I : 537.

KESIMPULAN :

Bisnis tidaklah bertentangan dengan ajaran Sang Buddha “sejauh” tidak ada “objek” yang dirugikan atau menderita.

“Na nikatya dhanam hare : Janganlah mencari kekayaan dengan curang”. KHUDDAKA NIKAYA , JATAKA I : 603.

Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu – sabbe satta bhavantu sukhitata = semoga semua makhluk hidup terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia, sadhu,…sadhu,….sadhu,….