“Orang malas, yang tidak rajin berusaha, yang tidak mau berjuang pada waktunya ia harus berjuang, pada saat masih muda. Orang yang kaku, yang lemah yang tidak berani mengambil keputusan, orang yang demikian tidak akan dapat mencapai jalan kebijaksanaan”. “Magga Vagga XX : 280”

Satu hal yang selalu menjadi dambaan setiap orang adalah adanya perubahan ke arah yang lebih baik, dalam arti kata bahwa hari ini dan keesokan harinya haruslah lebih baik dibandingkan hari sebelumnya. Semasa sekolah, hari ini bisa saja masih ditingkatan SD tapi keesokan harinya haruslah SLTP, SMU dan kuliah. Singkatnya dikatakan bahwa hari ini adalah siswa, keesokan harinya adalah sarjana dengan sejumlah embel embel dari yang SE, MBA, SH, Ir, sampai ke Prof. DR. segala macam. Dan di bidang karir, hari ini bisa saja sebagai salesman maka keesokan harinya haruslah menjadi supervisor, manager dan sampai ke komisaris.

Untuk bisa tampil atau meraih yang lebih baik hari hari sebelumnya, inilah dikenal dengan sebutan kemajuan. Yah, kemajuan merupakan dambaan setiap orang. Setiap orang selalu bercita-cita atau berambisi untuk meraih yang terbaik dalam kehidupan ini. Yang terbaik di dalam kehidupan ini. Yang terbaik akan tergapai dengan mudah dan sesuai dengan keinginan hanyalah dengan satu cara yaitu dicapainya kemajuan. Rasanya alangkah ironisnya jika ada orang yang menolak untuk mencapai kemajuan.

Kemajuan dalam materi juga merupakan salah satu sarana untuk meraih kemajuan bathin. Tanpa adanya kemajuan materi, rasanya akan sulit untuk meraih kemajuan bathin. Kita ambil contoh yang nyata misalnya dikala kelaparan, uang sepersen tidak dijumpai, dikala sakit tidak sekepingpun uang tersisa, dikala kedinginan tidak sesenpun uang yang ada untuk membeli sejumlah kayu bakar dan seterusnya. Apakah di kondisi yang serba memprihatinkan ini ada kemungkinan untuk mengkreasi perbuatan baik…? Untuk mikirin diri sendiri saja tidak sanggup apalagi mikirin orang lain. Seandainya masih mampu mikirin orang lain maka persentasenya akan minimal sekali. Selain kemajuan materi yang cukup berperan di dalam hidup ini, kemajuan bathin juga tidak kalah vitalnya.

Kemajuan materi yang berhasil diraih tanpa diiringi oleh kemajuan bathin akan membuat orang menjadi sangat sensitif. Tertimpa musibah sedikit saja, dia akan sangat mudah sekali mengalami depresi, frstasi dan emosi yang meluap-luap. Di media masaa sering kita dengar dimana-mana sejumlah orang-orang yang berlebihan dari segi materi, tega nian mengakhiri hidpnya karena tidak sanggup menghadapi tekanan-tekanan yang datangnya silih berganti.

Kita ambil contoh misalnya dengan penyanyi kondang Elvis Presley yang diketemukan meninggal dunia karena kelebihan obat “over dosis” dari segi materi yang dimiliki rasanya tidak perlu diragukan lagi, tapi mengapa dia mengakhiri hidupnya…? Kunci jawabannya cuma satu yaitu kemajuan materi yang dimiliki tidaklah diimbangi dengan kemajuan bathin yang dicapai. Kemajuan materi dan bathin bisa digambarkan bagaikan seorang akrobat yang lagi mendemonstrasikan kemahirannya berjalan di atas seutas tali. Pada kondisi ini, sang akrobat dituntut untuk memiliki keseimbangan tubh agar tidak terjatuh. Demikian pula halnya dengan kemajuan materi yang tidak diimbangi dengan kemajuan bathin akan mempermudah kita terjerumus/terjatuh ke liang dukkha : derita Oleh Sang Buddha, guru junjungan para dewa dan umat manusia, kita telah dibekali bagaimana caranya untuk meningkatkan kemajuan bathin.

Cara tersebut dikenal dengan sebutan “Cattari Vuddhiyani : 4 kebenaran menuju kemajuan” yang terdiri dari :

A. Sappurisasamseva : Selalu bergaul dengan orang yang bijaksana, mulia dan terpuji silanya, baik dalam pikiran, ucapan maupun tindakan jasmani. Di dalam pergaulan sehari-hari tanpa disadari, si A yang dulunya ramah tamah, berubah total menjadi seorang yang emosional serta pemarah. Si B yang dulunya suka menolong orang lain, jadi judes dan cuek terhadap siapapun juga. Si C yang alim dan pendiam, sekarang ini menjadi brutal dan senang ke diskotik menghamburkan sejumlah materi. Mengapakah semua kondisi ini bisa terjadi…? Tak lain dan tak bukan karena masih diliputi oleh “moha : kebodohan”. Orang yang diliputi oleh kebodohan akan menjadi sasaran yang paling empuk untuk dikibulin, dibohongi dan dicelakai untuk melalukan perbuatan-perbuatan yang tercela. Jadi kekotoran bathin yang pertama sekali harus dibersihkan adalah kebodohan.

Kebodohan juga merupakan pintu utama menuju kehancuran dan kesengsaraan yang tiada habisnya. Di dalam sabda NYA, Sang Buddha selalu menekankan bahwa tiada manfaatnya sama sekali yang dapat diperoleh dengan selalu berdekatan dengan orang bodoh selain daripada derita yang berkepanjangan. Untuk itu bergaullah selalu dengan orang yang bijaksana agar terhindar sedini mungkin dari kesulitan yang tidak diharapkan.

Selanjutnya Sang Buddha pun menegaskan bahwa bertemu dengan orang yang menunjukkan harta karun, yang suka menunjukkan jalan kebenaran. Karena itu hendaknyalah selalu bergaul dengan orang yang bijaksana. Sungguh baik dan tak akan rugi bergaul dengan orang bijak bestari. Orang bijaksana tidak akan pernah menganjurkan untuk melakukan perbuatan yang sia-sia atau menyebabkan orang lain terlelap di lautan derita. Bergaul dengan orang bijaksana diibaratkan berdampingan dengan seorang “bodyguard” yang akan selalu melindungi dan menjaga kita dari serangan-serangan yang tidak diharapkan. Tapi bergaul dengan orang bodoh bisa diibaratkan bertetangga dengan orang yang suka main apai dan dikala rumahnya terbakar maka rumah kitapun ikut ludes menjadi arang. Dan oleh karena itu Sang Buddha selalu menyarankan kepada kita semua untuk selalu menghindari orang bodoh agar terlepas dari jeratan derita.

B. Saddhammassavana : Selalu mendengarkan ajaran-ajaran orang bijaksana Di dalam sabda NYA, Sang Buddha menyatakan : “Biarlah ia memberi nasehat, petunjuk dan mencegah siapa saja yang berbuat jahat. Bahwasannya orang yang suka memberi nasehat disenangi oleh orang-orang baik namun tidak disenangi oleh orang-orang jahat”. Di dalam pergaulan sehari-hari, seandainya di kala kita salah ada yang mencoba memuji maka inilah musuh yang seharusnya disingkirkan. Contohnya : dikarenakan ribut dikelas kita ditegur oleh guru tapi kita tidak mau menerima teguran ini dan berusaha beragumentasi seakan-akan kitalah yang benar. Akhirnya karena kesal dan jengkel guru memberikan sanksi agar kita sadar atas kesalahan yang telah diperbuat. Ternyata tindakan kita ini dipuji oleh seorang teman dengan menyatakan bahwa kita temasuk murid yang hebat karena berani beragumentasi dengan guru. Tipe teman yang begini adalah orang bodoh yang sudah seharusnya disingkirkan sejauh-jauhnya.

Orang bodoh akan berdaya upaya agar kita terlena dan terbuai dengan kesalahan-kesalahan yang diperbuat. Dan orang bodoh akan lebih bahagia dan bangga seandainya berhasil memperdaya mangsanya masuk ke dalam jeratannya. Tapi orang bijaksana akan melakukan hal yang sebaliknya. Jadi bisa disimpulkan bahwa orang bodoh itu ibarat tumor ganas yang apabila dibiarkan terus menerus akan menyebabkan dia menjadi kanker yang sifatnya membunuh.

Di sini perlu direnungkan bahwa tidak semua pujian itu bernada simpati dan adakalanya bermotifkan kecemburuan. Oleh karena itu, rasanya sudah saatnya kita menyadari dan menyaring seketat mungkin setiap ungkapan yang ditujukan kepada diri kita. Di kala dipuji sadarilah sedini mungkin, apa maksud dan tujuannya…? “Pannajivim jivitamahu settham : hidup dengan kebijaksanaan adalah yang terluhur” demikianlah yang telah ditegaskan oleh Sang Buddha.

C. Yonisomanasikara : selalu merenungkan/mengerti serta menganalisa mengenai hal yang baik dan buruk. Banyak dijumpai kegagalan dan kehancuran yang tak sepantasnya terjadi dikarenakan kita menilai seseorang dari penampilan fisik (luar) semata-mata. Dikarenakan kerapiannya berpakaian, kita langsung menyimpulkan bahwa dia seorang yang terpelajar tapi ngak tahunya seorang narapidana kelas berat. Dan sering juga dijumpai orang yang seharusnya menjadi panutan misalnya guru, agamawan atau sesepuh yang sampai tega nian melakukan perbuatan yang tak sepantasnya dilakukan.

Jadi sebagai orang yang mendambakan kemajuan bathin, dalam arti kata memiliki kebijaksanaan, hendaknya kita memiliki penganalisaan yang lebih mendalam atau akurat sebelum menilai, apakah itu baik atau buruk…! Jangan hanya melihat penampilan luar yang mempesonakan, tanpa membuat pertimbangan yang lebih mendalam kita langsung memberikan penilaian yang sifatnya spontanitas. Selanjutnya Sang Buddhapun menyatakan : “Naatthi panna ajhayino : tidak ada kebijaksanaan dalam diri orang yang tidak cermat”.

D. Dhammanudhammapatipatti : selalu mempraktekkan kebenaran sesuai dengan kebenaran yang telah diselidiki. Dharma (kebenaran) bisa diibaratkan dengan senjata yang sangat canggih untuk membasmi kejahatan. Dikala terjadi pertempuran di dalam mempertahankan tanah air dari serangan musuh, senjata termuktahir adalah merupakan sarana yang sangat vital ntuk meraih kemenangan. Senjata termuktahir tersebut akan sangat bermanfaat hanya jika dipakai dengan semaksimal mungkin dan bukan dipajang dietalase untuk mengusir musuh. Demikian juga halnya dengan Dharma (kebenaran), ajaran NYA, Sang Buddha jika tanpa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, sampai kapanpun yang namanya kebahagiaanitu akan jauh keberadaannya.

Kita ambil contoh misalnya dengan “dana” dimana maksud dan tujuan dari pelaksanaan sifat luhur ini adalah untuk mengurangi keserakahan dan kemelekatan tapi tidak pernah dilaksanakan, akankah terbebas dari belenggu keserakahan…? Akankah meraih/merasakan kebahagiaan yang bebas dari jerat kemelekatan…? Jadi Dharma, ajaran NYA Sang Buddha bisa diibaratkan dengan senjata yang tercanggih untuk menghalau/memberantas “kilesa : kekotoran bathin” dan akan berdaya guna jika di praktekkan. “Dhamme thito paralokam na bhaye : apabila teguh dalam Dharma, tidak lah perlu takut dunia mendatang” demikianlah yang telah disabdakan oleh Sang Buddha.

Kesimpulan :

Kemajuan merupakan dambaan setiap orang dan siapapun tidak berkenan mengalami kemunduran di dalam kehidupan ini. Kemajuan yang bisa diraih di dalam kehidupan ini pada dasarnya terbagi dua bagian besar yaitu :

a) kemajuan materi b) kemajan bathin.

Kemajuan materi yang diraih dengan daya upaya yang benar dimana tidak mengakibatkan penderitaan bagi makhluk lain adalah hal yang selalu dianjurkan oleh Sang Buddha. Tetapi kemajuan materi yang berhasil diraih hendaknya juga diiringi dengan kemajuan bathin.

Kemajuan materi yang tanpa di dampingi oleh kemajuan bathin hanya akan menimbulkan derita yang berkepanjangan. Di kala tertimpa musibah atau kemalangan, dia akan sulit menerima kenyataan ini. Tapi kalau kemajuan materi seiring dengan kemajuan bathin maka segala “sukkha dan dukkha” akan bisa dinikmati dan dirasakan dengan pengertian benar, yang namanya kecewa, frustasi dan patah semangat tidak akan pernah dijumpai.

Oleh Sang Buddha kita telah diajarkan 4 metode untuk meraih kemajuan bathin yaitu dengan dimilikinya “cattari vuddhiyani : 4 kebenaran menuju kemajuan” yang terdiri dari :

a) Sappurisasamseva : selalu bergaul dengan orang bijaksana dengan menghindari orang bodoh yang senantiasa menganjurkan untuk bertindak negatif. b) Saddhammassavana : selalu mendengarkan ajaran-ajaran orang bijaksana. Jangan mau dipengaruhi oleh orang bodoh untuk melanggar sila demi keuntungan diri sendiri atau orang lain. c) Yonisomanasikara : selalu merenung/mengerti serta menganalisa mengenai hal baik dan buruk. Jangan menilai sesuatu itu dari kulit luarnya saja. d) Dhammanudhammapatipati : selalu mempraktekkan kebenaran sesuai dengan kebenaran yang telah diselidiki.

Semoga dengan dimilikinya kemajuan materi dan bathin ini, hendaknya Jalur kehidupan yang terjalani bisa bermanfaat serta berdampak positif demi kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan semua makhluk. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu – Sabbe satta bhavantu sukhitata : Semoga semua makhluk terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia, Sadhu…Sadhu…Sadhu…