“Saccam have sadhutaram rasanam : di antara semua rasa, rasa kebenaran adalah yang terbaik”. Suttta Nipata 311.

Bagaimana hebat dan pintarnya seseorang jika tidak dipercayai maka apapun tidak akan bisa diperbuat atau dihasilkan. Contoh kasus, akankah si A yang jenius, diberikan kesempatan memimpin suatu perusahaan yang besar jika dia tidak dipercayai ? Atau mungkinkah si B yang inovatif didukung jika dia tidak dipercayai ? Atau bisakah si C yang miskin mendapatkan sejumlah dana jika dia tidak dipercayai ? Dari contoh-contoh yang diatas maka akan bisa disimpulkan bahwa seseorang akan berhasil atau tidak, sangatlah ditentukan oleh ada tidaknya :

a) Kemampuan. b) Kemauan. c) Kesempatan atau kepercayaan yang diberikan.

Dan tidaklah mungkin, dengan hanya semata-mata mengandalkan kemampuan dan kemauan, seseorang akan bisa merealisasikan keinginannya. Dan di kehidupan yang nyata ini, adakalanya sering juga dijumpai orang-orang yang berkemampuan biasa-biasa saja tetapi diberi kesempatan (dipercayai) memimpin suatu perusahaan. Pemimpin jenis ini, biasanya adalah pemimpin yang bertipe “Yes Man atau Yes Woman” atau “Boss Is Always Right” dan sifat otoriternya sangatlah terasa. Dan adakalanya, orang-orang yang lebih pintar darinya malah menjadi bawahannya. Berkenaan dengan pemimpin tipe ini, Sang Buddha menyabdakan : “Ketika segerombolan sapi sedang menyeberang, apabila pemimpinnya berjalan melenceng, semuanya akan ikut melenceng. Demikian pula dalam kelompok manusia, apabila orang yang telah menjabat sebagai pembesar bertingkah laku yang tidak sesuai dengan kebenaran, apa perlunya berbicara tentang penduduknya. Jika kepala pemerintah tidak terpancangkan pada kebenaran, seluruh pemerintahan niscaya akan berada dalam penderitaan.” Selanjutnya, agar dipercayai dan bisa merealisasikan akan apa yang telah dicita-citakan maka :

I. Terimalah kerealitaan yang dialami. Dalam hal ini, jika terlahirkan miskin maka akuilah kemiskinan tersebut dan janganlah lari dari kenyataan ini. Pada hakekatnya, sekali saja kita berbohong tentang status sosial kita maka seumur hidup tidak akan dipercayai lagi. Dan begitu juga halnya dengan pendidikan. Jika hanya tamatan SMU maka janganlah sekali-kali mengatakan bahwa kita adalah sarjana. Rasanya, tiada seorangpun yang senang dan mau dibohongi. Jadi, kejujuranlah yang dibutuhkan agar bisa dipercayai. Sang Buddha menyabdakan : “Saccam ve amata vaca : kejujuran adalah ucapan yang tidak mati atau kekal”.

II. Janganlah lari dari tanggung jawab atau mengkambinghitamkan orang lain. Agar kondisi ini bisa dimengerti maka : a) sadarilah dengan baik bahwa pada dasarnya, tidaklah ada orang yang sempurna dalam segala hal dan begitu juga halnya dengan perbuatan. Di hari ini, bisa saja benar tetapi keesokan harinya, bisa saja salah. Sadarilah akan kerealitaan ini. b) sadarilah pula bahwa kita, bukanlah tipe pengecut yang selalu lari dari tanggung jawab.

III. Perbuatlah pekerjaan yang didelegasikan sebaik mungkin atau jadikanlah The Best Of The Best. Siapapun orangnya jika dia selalu mendapatkan yang terbaik dari bawahannya maka akan timbul rasa kagum dan salut. Rasa kagum dan salut, inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal muncul/lahirnya kepercayaan. Oleh karena itu, sadarilah dengan sebaik-baiknya jika kita melakukan yang terbaik untuk atasan kita, maka dampaknya selain menguntungkan diri kita tetapi juga atasan kita. Dan alangkah bodoh dan piciknya jika ada pola pikir yang mengatakan bahwa yang terbaik yang diperbuat, hanya akan menguntungkan pihak atasan. Sang Buddha menyabdakan : “Orang yang rajin sepanjang siang dan malam, tidak hanya termenung, dikatakan mempunyai keberuntungan setiap hari”.

IV. Jangan anggap sepele dengan pekerjaan yang ditugaskan walalupun kecil nilainya. Renungkanlah selalu bahwa pada pada umumnya, seseorang mengalami kehancuran selalu diawali oleh hal-hal yang sifatnya sepele atau kecil. Terjadinya kebakaran, juga diawali oleh percikan api yang kecil. Dan begitu juga halnya dengan kematian, biasanya selalu diawali dengan penyakit yang ringan yang tidak diobati dengan segera dan akhirnya menjadi kronis serta ganas. Agar kondisi ini tersirnakan dari jalur kehidupan maka :

a) Seriuslah disetiap tugas yang dikerjakan. b) Berikanlah yang terbaik walaupun nilainya kecil. c) Janganlah menganggap sepele terhadap apapun tugas yang dikerjakan. d) Selalulah raih yang terbaik disetiap tugas yang didelegasikan.

V. Janganlah ingkar janji atau mengelak dari tanggung jawab. Bagi orang yang berprinsip, yang namanya janji adalah utang dan sudah seharusnya dilunasi. Orang yang selalu ingkar janji dan mengelak dari tanggung jawab, biasanya : a) Akan dikucilkan dari lingkungan pergaulan. b) Tidak akan dipercaya. c) Akan susah memenuhi kebutuhan sandang dan pangannya dan d) Tidak akan bisa berkembang.

Oleh karena itu, agar bisa dipercayai maka pikirkan dan renungkanlah terlebih dahulu, sebelum menjanjikan sesuatu. Jika janji tersebut sudah terucapkan maka sudah seharusnya dilaksanakan atau ditepati dan juga janganlah sekali-kali, lari dari tanggung jawab yang telah didelegasikan.

Sang Buddha menyabdakan :

“Memiliki ketekunan dalam semangat, mempraktekkan dasar-dasar dari kesadaran, dihiasi dengan bunga kebebasan, engkau akan damai dan tidak tercemari” Dan dengan ditepatinya janji yang telah diutarakan maka secara tidak langsung, selain akan selalu dipercayai, kapan dan dimanapun kita berada juga akan dihormati, disegani dan dikagumi.

VI. Kerjakanlah segala sesuatunya dengan penuh semangat dan sesuai pula dengan apa yang telah di instruksikan. Pada hakekatnya, pekerjaan apapun yang jika dikerjakan dengan penuh semangat maka akan memberikan hasil yang terbaik, dan disamping itu, bebannya juga akan semakin ringan. Tetapi jika suatu pekerjaan dikerjakan dengan terpaksa dan tanpa adanya semangat maka selain hasilnya akan menjadi amburadul atau asal-asalan, bebannya juga akan semakin berat.

Sang Buddha menyabdakan :

“Apabila rajin bekerja, tidak ceroboh, pandai mengelola, mencukupi kehidupan dengan wajar; seseorang niscaya akan dapat merawat dan bahkan melipatgandakan kekayaannya”

Oleh karena itu, bekerjalah dengan penuh semangat dan seandainya kurang berhasil maka janganlah sekali-kali patah semangat. Bagaikan batu yang ditetesi oleh air, yang setetes demi setetes maka lamban laun, batu tersebut pasti akan berlobang. Demikian juga halnya di dalam usaha, jika hari ini gagal maka masih ada peluang di keesokan harinya. Dan jika gagal juga maka ulang lagi untuk yang ke sekian kalinya, pada keesokan harinya. Disaat mengulang dan mengulang, hendaknya juga diisi dengan pengevaluasian untuk mengetahui sebab musabab dari kegagalan. Dengan gigih dan penuh semangat maka apa yang telah direncanakan akan bisa meraih hasil yang optimal. Sang Buddha menyabdakan : “Bekerjalah terus, pantang mundur; hasil yang diinginkan niscaya akan terwujud sesuai dengan cita-cita”.

Kesimpulan :

Disetiap aspek dari kehidupan ini, dipercayai adalah salah satu jalur tersingkat untuk meraih keberhasilan. Bagi seorang anak yang selalu dipercayai oleh kedua orang tuanya maka akan semakin mudah mendapatkan sejumlah dana untuk bisa merealisasikan kreativitasnya. Dan bagi seorang pengusaha yang selalu dipercayai oleh Bank maka akan semakin mudah mendapatkan kredit untuk mengekspansi perusahaannya. Begitu juga halnya jika kehadirannya selalu dipercayai oleh masyarakat. Selanjutnya, bagi seorang “dharmaduta : pembabar ajaran Sang Buddha” akan semakin mudah menyampaikan visi dan misi dari ajaran Sang Buddha jika ia dipercayai oleh masyarakat. Dan akhirnya, dipercayai adalah suatu hal yang mutlak dan harus dimiliki agar “objek : sasaran” yang ingin dicapai, bisa sesuai dengan yang telah direncanakan.

Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu – Sabbe satta bhavantu sukhitata : Semoga semua makhluk terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia, Sadhu…Sadhu…Sadhu…