“Oleh diri sendiri kejahatan diperbuat, karena diri sendiri seseorang menjadi ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tidak diperbuat, karena diri sendiri seseorang menjadi suci. Kesucian atau ketidaksucian adalah milik masing – masing. Tidak seorangpun yang dapat menyucikan orang lain”. ATTA VAGGA XII : 165.

Tanpa disadari, kita sering menuding orang lain atas penderitaan yang dialami. Misalnya :

  • Gagal mendapatkan pasangan hidup, langsung dikatakan bahwa si A, B atau C penyebabnya.
  • Gagal dalam bisnis, spontan divonis bahwa penyebabnya adalah orang tua karena tidak memberikan dukungan “financial”. Atau kompetitor berlaku curang dan tidak fair.
  • Gagal menyelesaikan suatu proyek, seketika disalahkan orang lain karena tidak memberikan dukungan moril maupun materil.
  • Gagal dalam ujian, dosen dikatakan sentimen dan antipati pada dirinya.
  • Gagal membina rumah tangga yang harmonis, langsung menuding pihak ketiga sebagai “trouble maker”, dan lain sebagainya.

“Di dunia ini, apabila seseorang dikuasai oleh keinginan kotor dan beracun, kesedihan niscaya berkembang bagaikan rumput birana yang tumbuh subur karena tersirami air hujan. Tetapi barang siapa yang dapat mengalahkan keinginan yang sukar dikalahkan itu, kesedihan niscaya akan berlalu darirnya seperti butir air yang jatuh dari daun teratai”. TANHA VAGGA XXIV : 335 – 336.

Seyogianya yang diperbuat jika gagal mendapatkan pasangan hidup adalah meneropong ke dalam diri sendiri. Disamping mencari tahu kekurangan yang dimiliki, hendaknya juga memperbaiki dan meningkatkan kwalitas diri. Melalui kiat ini maka apapun kekuatan luar yang ingin menggagalkan diri kita, tidaklah akan berhasil.

Gagal dalam bisnis adalah dengan mengevaluasi strategi – strategi yang telah diprogramkan. Apakah sudah terlaksana dengan baik / optimal atau belum ? Atau sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini ? Jika belum terlaksana dengan baik / optimal maka segeralah dilaksanakan. Kalau tidak relevan lagi dengan situasi dan kondisi saat ini maka segeralah diganti dengan yang “up to date”.

Gagal menyelesaikan suatu proyek adalah dengan sesegera mungkin mencari tahu sebab musababnya dan “way out” nya. Berhasil tidaknya kehidupan ini, kitalah yang menentukannya sedangkan pihak luar “hanya” atau “bisa saja” sebagai motivator dan bukanlah “decision maker”

Gagal dalam ujian adalah dengan menyadari bahwa keseriusan dalam belajar perlu ditingkatkan. Alangkah ironisnya jika dikarenakan oleh sentimen pribadi, seorang dosen sampai tega mengorbankan karirnya.

Gagal membina rumah tangga yang harmonis adalah dengan sesegera mungkin kedua belah pihak saling introspeksi. Jika ada kekurangan, janganlah dijadikan sebagai topik pembahasan tetapi jadikanlah sebagai suatu momentum untuk saling mengisi. Ingat, Nobody Is Perfect ! Realitanya, jika kita mampu dan mau mengintrospeksi atau berkaca pada diri sendiri maka akan terlihat dengan jelas bahwa penderitaan yang dialami adalah murni dari diri kita sendiri. Kitalah yang menyebabkan munculnya penderitaan tersebut.

“Seseorang yang mengadili suatu kasus dengan gegabah (prasangka sepihak) tidaklah dapat dikatakan sebagai orang adil. Orang bijak menyidik secara seksama baik yang benar maupun yang salah. Orang yang mengadili suatu aksus dengan tidak gegabah, adil dan memegang hukum sebagai patokan; ia yang bijak ini patut digelari sebagai orang adil”. DHAMMATTHA VAGGA XIX : 256 – 257

KESIMPULAN :

Realitanya, apapun yang terjadi dan di alami adalah murni akibat / hasil dari apa yang telah diperbuat dan tidak lah logis menyalahkan siapapun juga.

“Meskipun seseorang dapat mengalahkan ribuan orang sebanyak ribuan kali dalam peperangan, ia bukanlah penakluk yang terunggul. Namun, seseorang yang mampu menaklukkan diri sendiri, itulah yang disebut pemenang yang terunggul dalam peperangan melawan kekotoran bathin”. KHUDDAKA NIKAYA, ITIVUTTAKA : 18.

Lari dari kenyataan atau tidak mau menerima kerealitaan hidup, sama halnya dengan pasrah menerima apapun yang terjadi. Atau tidak mau terlepas dari hal – hal yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, agar kehidupan ini bebas dari gelombang derita dan senantiasa dipenuhi oleh getaran bahagia, terimalah apapun yang terjadi dengan pedang kebijaksanaan. Sadari juga bahwa setiap makhluk hidup, tidaklah akan bebas dari apa yang telah diperbuat. Perbuatan baik menimbulkan kebahagiaan dan begitu pula sebaliknya, perbuatan jahat akan menyebabkan makhluk – makhluk tergilas oleh penderitaan.

“Hai Saudara ! Benar atau palsu; Anda sendiri yang tahu”. ANGUTTARA NIKAYA, TIKANIPATA 479.

Sabbe Satta Sabba Dukkha Pamuccantu – Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata : Semoga semua makhluk terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia, sadhu,…..sadhu,……..sadhu,…….