“Tatkala tiba waktunya untuk berupaya, tidak mau berupaya, meski masih muda dan bertenaga kuat justru berogah-ogahan, membiarkan pikiran jatuh terbenam, bermalas-malasan, terpekur; orang semacam ini tidak akan menjumpai jalan kebijaksanaan” MAGGA VAGGA XX : 280.

“Samma Vayama : daya upaya benar” yang menduduki urutan ke enam, dari “Atthagika Arya Magga : 8 Jalan Mulia”, untuk mencapai pantai seberang Nibbana, juga merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki, agar bisa meraih kesucian. Di setiap aspek kehidupan, kita diharuskan memiliki daya upaya agar bisa memenuhi kebutuhan hidup. Bagi seorang pelajar, menjelang ujian kenaikan kelas jika memiliki daya upaya yang serius untuk belajar, maka pasti akan lulus dengan nilai yang memuaskan. Begitu juga halnya dengan seorang salesman/manager/pimpinan perusahaan/wiraswastawan atau innovator jika selalu memiliki daya upaya yang teguh dan mantap (menjalankan profesinya) maka persentase keberhasilan, akan sangat besar sekali. Jadi teguh tidaknya daya upaya yang telah dimiliki, sangatlah berperanan di dalam menentukan, berhasil tidaknya, apa yang telah dicita-citakan. Daya upaya benar dalam hal ini adalah berdaya upaya untuk membersihkan kekotoran-kekotoran bathin dan mengembangkan kebajikan sebanyak-banyaknya. Adapun daya upaya benar yang harus dimiliki sedini mungkin, agar terbebas dari jeratan-jeratan dukkha (derita) adalah :

A. Berdaya Upaya Menghindari Kejahatan Yang Belum Ada Di Dalam Diri.

Di era yang serba materialitis ini (umumnya), segala sesuatu diukur atau dipandang dari sisi keduniawiannya. Jika si A kaya atau memiliki kekuasaan maka berbondong-bondonglah orang-orang memuja dan mengagung-agungkan namanya. Kalau terlahirkan kurang menguntungkan dibandingkan orang lain, misalnya miskin, bodoh dan sakit-sakitan maka semua cara di “halal” kan, serta selalu menuding orang-orang lain atas kemalangan-kemalangan (kekurang beruntungan) yang dialami. Itu ciri khas orang-orang yang matanya senantiasa diselimuti oleh keduniawian. Sebagai manusia yang Berdaya Upaya yang benar, hendaknya di kondisi yang menguntungkan, kita senantiasa mau memanfaatkan kelebihan-kelebihan (kekayaan/kerupawanan/kepintaran) yang dimiliki, untuk kemajuan bathin dan kebahagiaan serta kesejahteraan makhluk makhluk hidup lainnya. Dan di sisi sebaliknya, dalam kondisi yang kurang menguntungkan, kita berani dan mau instropeksi diri serta meyakini akan hakekat dari hukum karma, tanpa adanya niat-niat menyalahkan/menuduh pihak lain atas kemalangan-kemalangan yang diterima. Jika sikap mulia ini telah dimiliki maka secara tidak langsung, kita telah menghindari kejahatan. “Apabila telah (telanjur) berbuat jahat, seseorang hendaknya tidak mengulangi kejahatan itu. Jangan pula membangkitkan kepuasan atas kejahatan itu. Sebab, penimbunan kejahatan akan mengakibatkan penderitaan” PAPA VAGGA IX : 117.

B. Berdaya Upaya Menghindari Kejahatan Yang Sudah Ada Di Dalam Diri.

Di dalam sabda-Nya, Sang Buddha menyabdakan : “Apabila seseorang berbuat jahat, hendaknya ia tidak mengulangi perbuatannya itu & jangan merasa senang dengan perbuatan itu. Sungguh menyakitkan akibat dari memupuk perbuatan jahat.” Agar suatu kejahatan dapat terhindari sedini mungkin, hendaknya selalu direnungkan sabda Sang Buddha yang tertera di bawah ini. “Sebagaimana diri kita, demikian pula makhluk lain. Sebagaimana makhluk lain, demikian pula diri kita. Dengan memikirkan mereka, dengan memperbandingkan mereka, tidak seharusnya kita saling membunuh atau menyebabkan pembunuhan”.

C. Berdaya Upaya Menumbuhkan Kebaikan Yang Belum Ada Di Dalam Diri.

Berbuat baik itu, sama ibaratnya dengan memakan obat yang pahit (di kala sakit). Umumnya, akan dijumpai banyak rintangan, di saat kita akan melangkah kan kaki kita ke arah kebajikan. Tetapi, jika rintangan itu dapat ditangani dengan baik maka kebahagiaanlah buahnya. Di tengah-tengah masyarakat adalah hal yang umum didengar, seseorang dicela di kala berbuat baik dan dipuji disaat berbuat jahat. Mengunjungi panti sosial (yatim piatu/jompo/tuna-netra dan lain sebagainya) dikatakan “caper : cari perhatian” atau sok alim. Tetapi kalau bathin kita senantiasa stabil & memiliki keyakinan yang baik bahwa itulah salah satu konsekwensi dari perbuatan baik maka semua celaan, hinaan dan bahkan fitnahan, tidak akan mempengaruhi niat-niat mulia ini. Di dalam sabda-Nya, Sang Buddha menyabdakan: “Bergegaslah berbuat kebaikan dan kendalikan pikiranmu dari kejahatan, barang siapa lamban berbuat baik maka pikirannya akan senang dalam kejahatan.” Jadi perbuatan baik itu adalah hal mutlak (vital) untuk ditumbuhkan sedini mungkin, agar jeratan-jeratan derita dapat dijauhi.

D. Berdaya upaya mengembangkan kebaikan yang sudah ada di dalam diri.

Begitu ada kesempatan untuk berbuat baik maka segeralah direalisasikan dan jangan ditunggu sampai keesokan harinya. “Don’t wait till tomorrow for what you can do today: jangan ditunggu sampai keesokan harinya, untuk apa yang bisa dikerjakan dihari ini”, merupakan suatu nasehat yang cukup sederhana serta perlu direnungkan, di setiap saat akan mengawali suatu aktivitas. “Apabila seseorang berbuat baik, hendaknya dia mengulangi perbuatannya itu dan bersuka cita dengan perbuatannya itu. Sungguh membahagiakan akibat dari memupuk perbuatan baik” demikianlah yang disabdakan oleh Sang Buddha.

KESIMPULAN :

Samma Vayama (daya upaya benar) adalah merupakan salah satu bagian dari Delapan Jalan Mulia, untuk bisa merealisir Nibbana, yang juga merupakan tujuan akhir dari umat Buddha. Samma Vayama (daya upaya benar) dalam hal ini adalah :

  • Berdaya upaya menghindari segala bentuk/wujud dari kejahatan, dengan selalu berpegang teguh pada Buddha Dharma.
  • Berdaya upaya menghilangkan segala bentuk/wujud dari kejahatan, dengan selalu berpedoman pada hukum karma. “Tidak mau disakiti maka janganlah menyakiti”
  • Berdaya upaya menumbuhkan segala bentuk/wujud dari kebaikan, dengan kekuatan cinta kasih dan kasih sayang
  • Berdaya upaya mengembangkan segala bentuk/wujud dari kebaikan, dengan selalu melakukan paramita-paramita (perbuatan-perbuatan luhur).

Semoga dengan dimiliki Samma Vayama (daya upaya benar) ini, hendaknya kehadiran kita berdampak positif bagi kebahagiaan dan kesejahteraan semua makhluk. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu-sabbe satta bhavantu sukhitata : Semoga semua makhluk terbebaskan dari derita, dan semoga semuanya senantiasa berbahagia..sadhu,..sadhu,..sadhu.