Kata “stress” sudah sangat tidak asing di telinga kita, bahkan setiap hari pasti ada yang mengucapkannya, tidak hanya di lingkungan kerja (kantor), di rumah bahkan di lingkungan anak-anak yakni di sekolah. Stress boleh diartikan ketegangan atau tekanan atau beban yang menghimpit sehingga timbul suatu keadaan yang sangat tidak menyenangkan.

Saya sendiri dari kecil hingga lulus SMA tidak pernah mengalami yang namanya “stress” dan belum pernah diucapkan. Saya baru mengalami pertama kali saat kuliah, dimana keadaan saat itu sungguh berbeda. Kalau SD sampai SMA yang namanya ulangan dan bila kita belajar, dijamin ulangan pasti bisa, dengan asumsi apa yang telah dipelajari tidak dilupakan atau mendadak “hang” kata anak sekarang. Tapi saat kuliah, walau sudah belajar, ditambah lagi latihan soal dari buku pinjaman di perpustakaan, belum tentu saat di test kita bisa menjawabnya. Nah! Itulah saat pertama kali saya mengalami “stress”, kebetulan jurusan yang saya ambil adalah statistika di IPB, kita dikasih satu formula, dan disuruh uraikan atau bagaimana terjadinya rumus tersebut dan teori-teori apa yang mendasarinya. Puyeng deh..??? Saat itu, pengetahuan saya tentang Dhamma boleh dibilang nol, walau KTP beragama Buddha, tapi saya sama sekali tidak dapat mengatasi rasa “stress” tersebut.

Setelah hidup berumah-tangga, ternyata “stress” itu belum pergi juga, masih tetap melekat dengan saya. Apalagi setelah punya anak, dimana kita juga harus ngantor, juga harus ngurusin anak di malam harinya. Yang paling “stress” adalah saat baby sitter minta cuti walau cuma sehari, rasanya pekerjaan mengurusi anak, susah banget. Di saat-saat harinya akan tiba, saya sudah duluan sakit kepala memikirkan pekerjaan yang sangat menyusahkan itu. Memberi makan bayi yang susah makan, menyusui bayi yang tak mau pakai dot, belum lagi yang malamnya nangis melulu. Wah! Benar-benar stress dech!

Tapi kini, syukurlah semua rasa “stress” itu sudah bisa saya atasi, bahkan saya usir jauh-jauh. Untuk itu, saya muncul untuk sharing dengan teman-teman, semoga bisa mengikuti langkah saya.

Kini, saya menyadari bahwa sebenarnya “stress” ini muncul hanya karena pikiran kita. Kalau kita menganggap bahwa itu bukan beban, tentu pikiran kita tak akan terbebani. Dan kita senantiasa sadar bahwa hidup ini pasti berubah, bila kemarin saya merasa senang, dan hari ini saya merasa sedih, ini sudah sewajarnya. Karena roda samsara terus berputar, tidak mungkin kita selalu di atas, kadang giliran kita di bawah. Saat kita di bawah atau dalam keadaan tidak menyenangkan, kita harus selalu berpikir, sabar….., ini hanya sementara, hidup ini tidak kekal. Walaupun dukkha yang lagi melanda kita, tapi ini hanyalah rangkaian karma yang harus kita jalani. Semakin cepat kita melaluinya, tentu semakin cepat terbebas darinya. Jadi kita jalani apapun yang melanda kita dengan senang hati, niscaya yang namanya “stress” tak akan muncul lagi.

Seperti keadaan saya sekarang, orang lain yang menilai merasa “stress” tapi saya lalui dengan “enjoy” aja. Saya mempunyai 3 anak dengan usia sekolah TK, SD dan SMP. Dari pagi-pagi saya mesti menyiapkan mereka berangkat sekolah, kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan rumah yang seabreg (maklum memang tak ada pembantu), baca paritta sekitar 1 jam, setelah itu mesti jemput anak satu per satu dengan jam pulang yang berbeda. Kemudian mengurus makan siang mereka dan mempersiapkan mereka mengikuti kursus, sedangkan untuk pelajaran sekolah harus saya ajari sendiri. Saya sendiri juga mengurus usaha sepulang anak-anak dari sekolah dan mereka saya bawa karena kebetulan usaha saya adalah tempat kursus anak-anak. Malamnya saya masih harus kontrol pelajaran dan PR mereka. Sore saya mengajar anak orang lain, malam harus mengajari anak sendiri. Ada lagi tambahan aktivitas di luar rumah, yakni ikutan ibu-ibu Wandani jadi panitia ini itu, baca paritta untuk orang sakit/meninggal, ikut paduan suara ibu-ibu, pokoknya yang penting semua makhluk hidup berbahagia. Orang lain yang melihat saya, selalu bertanya, “Apa kamu tidak “stress”?” saya menjawab: “tidak”. Semua ini bisa terlaksana karena kita menjalaninya dengan “enjoy” dan jangan jadikan beban. Terkadang rasanya sehari 24 jam itu tidak cukup, saya yakin semakin banyak kegiatan kita, kita semakin tak sempat berpikir untuk “stress”. So, lebih baik mengisi waktu kita dengan kegiatan yang positif daripada kita terpaku pada pikiran “stress” tanpa melakukan apapun. Yang akhirnya jadi benar-benar “stress”.

Marilah kita mulai berpikir bahwa memang ini yang harus saya jalani, jadi percuma saya menunda atau saya terus menyesali atau meratapi nasib, tapi justru semakin cepat kita menjalaninya, semakin cepat kita terbebas darinya. Say NO to STRESS, HAPPY? YES YES YES! Selamat mencoba! Semoga bermanfaat!