Kita sebagai manusia tidak terlepas dari kemarahan. Sering kali kita dihadapkan persoalan baik masalah kerja, masalah keluarga, masalah percintaan yang menyebabkan kita kerap kali dilanda kemarahan. Ketidaksesuaian yang dilakukan orang lain dengan apa yang kita inginkan menyebabkan kita kecewa dan marah. Pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa dia memperlakukan saya dengan buruk, mengapa dia menyakiti saya terus melanda kita. Dan semakin kita berusaha menjawab pertanyaan tersebut, semakin kita terlarut dalam kekecewaan tersebut. Selain itu, kita juga diliputi dengan keinginan untuk membalas dendam agar mereka dapat merasakan sakitnya seperti yang kita rasakan. Untuk ini kita perlu mengetahui dari mana semua ini berasal ? Apa yang menyebabkan diri kita ini marah ? Jawabannya adalah PIKIRAN.

Sebenarnya hal ini telah ditemukan oleh guru agung kita yakni Sang Buddha Gotama. Sang Buddha sendiri pernah bersabda bahwa pikiran adalah pelopor dan pembentuk yang merupakan ujung dari suatu tindakan. Intinya yang menyebabkan kita kecewa dan marah karena pelabelan pikiran akan suatu masalah. Masalah itu sendiri sifatnya netral. Mengapa bisa terjadi pelabelan oleh pikiran yang sifatnya negatif ? Hal ini tidak terlepas dari kamma dan kemelekatan kita sendiri. Kamma dan kemelekatan kita ini terjadi karena kebiasaan buruk yang sering kita lakukan akibat kita tidak mengendalikan pikiran. Kita selalu dilekati dengan keinginan-keinginan. Keinginan dihargai, keinginan dihormati, keinginan didengarkan. Bila keinginan tersebut tidak diwujudkan maka kita akan menderita. Padahal bila ditelusuri yang mewujudkan keinginan tersebut bukanlah kita, melainkan lawan interaksi kita. Dan masalah berikutnya kita sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan lawan interaksi kita agar berbuat sesuai dengan yang kita inginkan.

Jadi kesimpulan yang dapat diambil di atas, ada dua komponen penting yang menyebabkan kita merasa kecewa dan marah, yaitu pelabelan pikiran yang bersifat negatif dan tindakan dari lawan interaksi kita. Dan seperti yang telah diuraikan, kita tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan lawan interaksi kita. Jadi satu-satu caranya untuk menghindari terjadinya kekecewaan dan kemarahan adalah perubahan dari pelabelan pikiran kita sendiri. Pelabelan pikiran yang bagaimanakah yang dapat membantu kita menghindari kekecewaan dan kemarahan ? Jawabannya adalah pelabelan pikiran yang sifatnya positif.

Pelabelan pikiran positif dapat dilakukan dengan mengendalikan pikiran kita agar selalu berpikir positif. Berpikir positif dalam arti kita memandang segala sesuatu yang terjadi atau yang lawan interaksi lakukan sifatnya adalah membantu kita. Dengan berpikir positif dapat menciptakan suasana yang tenang dan damai dalam diri kita, dan kita pun merasa bahagia. Sebagai contoh, ketika seseorang memarahi kita, kita dapat berpikir secara positif mereka memarahi kita karena mereka peduli dengan kita, mereka mengharapkan kita agar menjadi lebih baik dengan kritik mereka. Selain itu dengan berpikir positif, kita dapat melihat seorang pemarah merupakan orang yang paling baik yang selalu memberikan kita latihan kesabaran. Bila kita renungkan, adakah uang yang bisa membeli sesuatu yang sama seperti hasil dari latihan kesabaran yang telah kita capai ? Jawabannya uang tidak akan dapat membelinya. Maka dalam hidup ini kita sangat membutuhkan pemarah-pemarah yang selalu memberikan kita latihan kesabaran agar dapat selalu berpikir positif.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana caranya agar kita dapat selalu mengendalikan pikiran kita agar berpikir positif ? Caranya tidak lain dengan menyadari segala sesuatu yang sedang terjadi. Jadi biasakan diri kita untuk selalu bertanya pada diri kita sendiri apa yang sedang kita lakukan. Apakah hal yang kita lakukan ini sifatnya positif atau negatif? Dengan menyadari apa yang tengah kita lakukan, maka kita dapat mengatur pelabelan pikiran kita menjadi positif. Cara ini dapat juga dilakukan dengan praktek meditasi untuk memudahkan pikiran kita untuk fokus akan suatu hal. Dengan pelabelan pikiran positif, maka kita akan terlepas dari pikiran dan prasangka buruk dan otomatis akan membawa kebahagiaan untuk diri kita sendiri dan diri orang lain.