Sanggha terkasih

Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha

Semoga anda senantiasa dalam keadaan sehat, damai dan bahagia

Hari sudah beranjak malam, tapi mata tetap saja sulit terpejam. Bermula dari membaca sebuah buku lama karya Gede Prama, tiba-tiba saja ide untuk menulis sebuah artikel mampir sebentar dan mengubah perjalanan hidup di malam ini. Membaca karya Gede Prama memang seringkali membuat pikiran segera berpikir untuk membuat sebuah karya yang sama. Sama dalam hal ini tidak berarti bahwa idenya sama, tetapi lebih kepada bahasa yang bisa membuat tulisan memiliki jiwa dan mampu menginspirasi jiwa-jiwa yang sedang hampa.

Bagi siapa saja yang baru belajar agama Buddha, cara umat Buddha memberikan salam sudah menjadi pertanda bahwa ajaran Buddha memperkaya toleransi dan pengertian. Jika berada di komunitas tradisi Selatan, “Namo Buddhaya” menjadi ciri yang amat dengan mudah menjadi identitas sahabat-sahabat di komunitas tersebut. Sedikit catatan, bukan untuk menggurui tapi untuk memberi sedekar berbagi pandangan, tentang cara ini, ada seorang pakar yang menyarankan untuk melengkapi salam tersebut dengan dua buah salam lagi yang sama pentingnya. Jika Namo Buddhaya artinya adalah Terpujilah Buddha, maka Namo Dharmaya adalah Terpujilah Dharma dan Namo Sanghaya berarti Terpujlah Sangggha. Jika rajin berpikir sejenak secara mendalam tentang dua tambahan salam tersebut, memang sepertinya Namo Buddhaya akan lebih lengkap jika ditambahkan dengan Namo Dharmaya dan Namo Sangghaya. Selain Namo Buddhaya, salam lain yang juga cukup dikenal adalah Namo Sakyamuni Buddhaya. Terjemahan bebasnya kurang lebih sama. Sama seperti Namo Buddhaya, unsur pujian kepada Dharma dan Sangha juga tidak terlihat.

Tetapi, apakah sebenarnya Namo Buddhaya adalah sebuah salam atau pujian. Kembali kepada pendapat sahabat pakar tersebut, ternyata memang itu bukan salam tetapi pujian. Lalu bagaimana kita seharusnya memberi sebuah salam kepada sesama umat Buddha? Jawaban untuk pertanyaan ini memang sebaiknya tidak dibahas lebih mendalam. Bukan apa-apa, waktu dan energi akan habis terbuang jika yang dibahas adalah kata-kata bukan makna. Makna jelas lebih mendalam, bukan hanya sekedar arti sebuah kata-kata. Pujian atau salam, kepada Buddha, Dharma, Sanggha akhirnya hanya akan menjadi sekedar lip service (baca; manis di bibir) belaka takala hati masih belum bisa merasakan damai. Orang bisa saja memuja Triratna setiap hari, tetapi jika praktiknya hanya sekedar di mulut, maka ini sama saja dengan tidak menghormati Buddha. Ini mirip dengan supir-supir angkutan yang membaca doa dengan hikmat dan khusyuk sebelum berangkat kerja, tetapi lupa bahwa lampu merah artinya berhenti, bukan tancap gas, atau alpa kalau tanda S dicoret artinya dilarang berhenti, tanda P dicoret berarti dilarang parkir. Tentu saja tidak adil jika kita hanya menuding jari ke mereka saja tanpa berani mengakui bahwa siapa saja, termasuk kita, juga suka punya hobi alpa akan aturan dan displin. Kalau saja mau melihat lebih jauh lagi ke dalam makna dan cerita dibalik pujian kepada Buddha, Dharma dan Sanggha, ternyata jelas bahwa Buddha bukan tipe yang haus pujian, kedudukan apalagi sanjungan. Rasa-rasanya tidak pernah didengar kalau Buddha menyombongkan dirinya sebagai juru selamat, meskipun sudah pasti Buddha adalah Juru Selamat. Tanyakan kepada Kisa Gotami, Pattacara, Angulimala jika ada kesempatan. Tanyakan bagaimana Buddha menyelamatkan hidup mereka, tetapi Buddha dengan rendah hati mengatakan bahwa “Ia hanya seorang penunjuk jalan.” Kerendahan hati, ketulusan, dan semangat untuk melayani tanpa henti sepanjang perjalanan hidupnya layak menjadi arti yang sesungguhnya dari Namo Buddhaya.