easter-japanese

Kejadian ini saya alami saat saya betul betul baru mengenal Buddhisme.Pada saat itu saya masih rancu alias campur aduk gado-gado antara “tung-tung cep” dan (Buddha) Dhamma…. Saya cuma tahu “pai-pai bye-bye”. Suatu hari kira-kira jam 6 atau 7 pagi saya terbangun, karena masih malas saya pikir “Ah tidur 1 jam lagi masih bisa, karena ke buka toko jam 9 pagi juga kepagian banget.” Saya pun kembali tertidur pulas sampai bermimpi heboh. Tidak disangka mimpi itu benar-benar membangunkan kesadaran saya.

Entah bagaimana awalnya di dalam mimpi itu saya bersama mama dan satu orang kenalan di vihara menjadi terdakwa atas suatu kasus dimana kami tidak bersalah. Dalam mimpi tersebut kami di jatuhi hukuman penggal, dan eksekusi akan dilaksanakan setelah jam makan siang, di dalam mimpi sekitar 2,5 jam lagi kurang lebih.

Saya menjadi amat teramat takut, takut setakut takutnya karena saya akan mati beberapa jam lagi. Saya sangat mengharapkan keajaiban kalau hukuman penggal itu batal atau ditundapun rasanya bahagia. Sangat kalut sampai akhirnya (masih di dalam mimpi) saya teringat keajaiban dalam menyebut nama Buddha Amitofo (nien fo) dalam mimpi tersebut rasanya saya teringat kalau saya pernah membaca disuatu buku tertulis cerita bahwa seorang terpidana mati pernah membaca amitofo sebanyak 1 juta kali hingga akhirnya ia terbebas sama sakali dari hukuman.

Mengingat hal tersebut, langsung saya berpikir untuk nien fo, tapi 1 juta kali rasanya mustahil dalam waktu 2 jam-an, tapi saya tetap usaha untuk membaca sambil mengharapkan mukjizat walaupun rasanya hal tersebut sangat-teramat tidak mungkin. Sambil nien fo saya terus menerus menangis (lha sebentar lagi mati terpenggal atas kesalahan yang tidak saya lakukan) sampai akhirnya saya samar-samar mendengar suara teriakan mama saya yang rasanya sedang memarahi pembantu di rumah. Saya masih berpikir “Lho kok mama marah-marah bukannya sudah sangat dekat kematian berbuat baik sedikit,eh tapi kok marah-marah sama si mbak di rumah, apa ini mimpi?” Akhirnya saya terbangun dengan masih terisak menangis. Tidak pernah saya bangun tidur dengan sebahagia itu, sampai linglung rasanya. Benar-benar merasa syok, kalau saya masih hidup, masih bernafas entah sampai kapan.

Hal yang sangat baik setelah itu, saya jadi benar-benar tidak bisa membunuh (gak ada lagi plok nyamuk, gak ada lagi raket listrik) karena masih ingat rasanya saat-saat menjelang saya mau di penggal. Rasanya saya gak perduli dicemooh “Itu digigit nyamuk tapi dibiarin aja (palingan saya usir), gak sampe segitunya juga kali.” Digigit semut merah rangrang juga gak reflek tangan ketempat sakit digigit dan menghabisi nyawa si semut. Entah rasanya benar-benar gak bisa aja menghilangkan nyawa mahluk lain sampai sekarang dan mudah-mudahan (karena saya belum pernah mengalaminya) sampai kapan pun walau nyawa saya yang terancam.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata Semoga semua mahluk hidup berbahagia