Umumnya orang menjadi baik ketika orang2 disekitarnya baik. Tetapi menjadi baik hanya saat orang lain baik terhadap anda bukanlah sifat sejati seorang manusia bajik. Seorang manusia bajik adalah seseorang yang benar-benar berbudi luhur tak peduli bagaimana tingkah laku orang-orang disekitarnya; apakah baik atau buruk. Itulah manusia bajik sejati.

Ketika anda tinggal disuatu komunitas, anda harus hidup rukun bersama orang2 dikomunitas tersebut. Seorang manusia berbudi luhur hidup dengan sadar (sati), bijaksana dan penuh metta. Jika hidup dengan sati, bijaksana dan metta, anda akan hidup rukun dengan siapa saja. Semua makhluk hidup menginginkan kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan, terbebas dari penderitaan namun kenyataan mereka masih menderita karena issa(iri hati) dan macchariya(kikir).

Menumbuhkan rasa dengki saat melihat keberuntungan atau kesejahteraan orang lain itulah issa.tidak senang dengan kemajuan orang lain dalam Dhamma itulah issa. Seseorang yang merasa senang melihat kesusahan(kemalangan)orang lain,orang ini takkan pernah merasa tentram.

Bila seseorang menggenggam erat2 pemilikannya itulah macchariya(kikir). Bila pihak lain baik, sukses dan maju dalam Dhamma, orang seyogianya turut berbahagia atas keberuntungan mereka. Namun sejumlah orang tidak memandangnya demikian, mereka hanya bisa mengais kesalahan, memandang dari sisi negatif saja. Senang bila bisa mempermalukan atau membeberkan kesalahan orang lain.

Iri hati adalah DOSA. Meninggal dengan batin diliputi dosa akan langsung terlahir dialam neraka. Kikir adalah LOBHA. Meninggal dengan batin diliputi lobha akan terlahir dialam peta(setan kelaparan). Anda bermeditasi untuk mengurangi LOBHA dan DOSA, namun lobha dan dosa tetap muncul. Apabila anda tak dapat hidup rukun bahkan dengan diri sendiri(batin), bagaimana dapat hidup rukun dengan orang lain? Tak sanggup bersabar bahkan sedikit saja. Setiap hal harus sesuai dengan selera sendiri, sesuai dengan keinginan sendiri. Bila seseorang masih terus saja mengikuti tingkah DOSA, keinginan-keinginannya dapat dipenuhi di neraka.

Bila hidup dengan metta seseorang dapat lebih bersabar terhadap orang lain, lebih mudah memaafkan orang lain. Sebatang pohon akan memberikan keteduhan kepada penebang pohon sampai akhirnya dirinya ditumbangkan. Sepotong kayu cendana akan terus menyebarkan wanginya sampai terbakar habis.

Sang Bodhisatta dalam kelahirannya sebagai seekor Raja kera, menolong seorang pemburu yang jatuh kedalam sebuah parit besar. Karena kehabisan tenaga setelah mengeluarkan pemburu ini, ia beristirahat sebentar dipangkuan sang pemburu. Pemburu tersebut berpikir, hari ini tidak berhasil menangkap apa-apa, daging keralah yang akan dibawanya pulang ke rumah. Dengan sebongkah batu, pemburu ini menghantam kepala Bodhisatta, menciderai kepalanya. Sang Bodhisatta menyadari niat pemburu ini lalu menyelamatkan diri kepuncak pohon. Bodhisatta berpikir kalau dia meninggalkan pemburu itu begitu saja di hutan mungkin si pemburu akan dimangsa harimau. Oleh karena itu Sang Bodhisatta menyuruh pemburu itu mengikuti bekas ceceran darahnya ditanah untuk keluar dari hutan sehingga selamatlah si pemburu itu. Seorang makhluk berbudi luhur adalah seseorang yang akan memberikan pertolongan bahkan kepada penyerangnya dengan keringat dan darahnya sendiri

(wejangan Shwe U Min Sayadaw).

Terima kasih kepada Adhigunadharo/Henry Chen