Kenapa saya angkat tema ini pada artikel saya kali ini? Ya, karena memang sekarang ini kerukunan umat beragama sedang diuji kesetiaanya dengan banyaknya konflik antar umat beragama, baik di Indonesia, maupun di dunia. Banyak kasus kriminal mengangkat tameng dari semua kesalahan mereka, yaitu agama. Mereka menamakan diri mereka atas nama agama dalam berperang antar umat manusia. Banyak juga yang menghina umat agama lain. Karena kebutaan mereka, mereka menghina umat agama lain, menginjak-injak harkat dan martabat agama yang orang lain itu peluk. Sehingga timbullah perpecahan di antara umat beragama.

Kenapa sih ini semua terjadi ? simpel saja sebenarnya. Mereka berpikir satu hal bahwa agama mereka lebih baik. Mereka termakan ajaran-ajaran dari agama mereka masing-masing, tanpa mencernanya lebih lanjut. Mereka hanya mengiyakan semua kata-kata dari masing-masing kitab suci mereka masing-masing, mereka berkata “ Ini kan kata-kata Tuhan. Ia pasti tidak salah.” Atau “ini kan Dharma yang Sang Buddha ajarkan. Pasti Sang Buddha tidak salah dong!” Benar. Itu semua benar. Bahkan saya acungi sepasang jempol saya untuk itu semua. Tuhan, itu tidak pernah salah. Sang Buddha sendiri juga tidak salah. Ia adalah Guru Dharma yang selalu terjaga semua ucapannya, dan Ia tidak akan mengucapkan sesuatu yang salah tentang Dharma.

Sebenarnya, kita semua harus tahu. Bahwa Dhamma yang sesungguhnya, tidak hanya diterima secara mentah-mentah, tanpa penjelasan yang jelas. Sang Buddha sendiri mengatakan bahwa “Ia harus meneliti apapun yang dijelaskan, baik dari kitab suci, baik itu dari guru agamanya sendiri.” (kurang lebih itulah intinya -red). Jadi, ketika kita mendengar sebuah tuntutan dari sebuah kitab suci, ataupun dari seorang guru agama, kita harus menganalisanya secara mendalam. Karena semuanya, ajaran yang benar, adalah ajaran dimana kita sendiri yang meyakini ajaran itu benar.

Tuhan jahat?? Ha! Anda salah besar. Justru ketika anda melihat suatu tuntutan dari sebuah kitab suci, sebetulnya anda yang sedang dikuasai oleh Mara, yang menyumbat telinga dan hati anda dari kata-kata Tuhan yang Maha sempurna. Anda justru menjatuhkan pemeluk agama lain dengan interpretasi anda sendiri yang dangkal, Anda berpikir bahwa agama si A itu agama pembunuh, atau agama si B itu berhala banget, patung semua disembah. Anda harus melihat ke dalam diri anda sendiri. Anda sebenarnya yang menyembah berhala, karena Anda ‘menyembah’ dan meyakini pendapat Anda yang salah, dan mematrikan kesalahan itu di dalam diri Anda, sehingga diri Anda menjadi buta, dan anda justru semakin dekat dengan alam penderitaan yang menyakitkan.

Marilah kita semua. Kali ini saya tidak menyuruh Anda semua untuk berdoa. Saya hanya meminta bahwa, tolong, mengacalah pada diri sendiri. Sadari, dan resapi, bahwa Dhamma yang benar sesungguhnya adalah Dhamma olahan kita. Karena Dhamma harusnya diresapi di dalam diri kita. Bukan kita terima mentah-mentah.