Konon di jaman Tiongkok kuno dulu, pernah hidup seorang pakar kuda. Dia sangat mahir mengenali dan memilih kuda unggulan. Kemasyurannya semakin bertambah setelah dia menulis sebuah buku panduan tentang bagaimana memilih kuda yang unggul. Menurutnya salah satu cirinya adalah mata yang besar, dahi yang simetris dan kaki belakang yang kuat.

Alkisah, sang pakar kuda memiliki anak yang tidak begitu cerdas, namun dia ingin sekali mengajarkan ilmunya memilih kuda yang tangguh itu kepada anaknya. Dalam rangka memberikan latihan, maka dia pun memberikan buku panduan memilih kuda tersebut kepada sang anak dan menugaskannya berkelana untuk mencari seekor kuda yang tangguh dan membawanya pulang ke rumah. Ternyata, tak sampai beberapa jam, sang anak sudah kembali ke rumah berteriak-teriak memanggil ayahnya bahwa dia sudah menemukan kuda unggul. Begitu sang ayah keluar, ternyata si anak membawakan dia seekor kodok. Menurut sang anak, “si kuda unggul” tersebut memiliki mata yang besar, dahi yang simetris dan kaki belakang yang kuat.

Sudah sering kita dengar dalam percakapan buddhis di milis-milis ataupun forum obrolan istilah-istilah “bertentangan dengan dhamma”, “sesuai dengan dhamma”, “buku-buku dhamma”, “adhammik”, dan sebagainya. Dalam definisi mereka, dhamma itu adalah sesuatu yang memiliki merk “Buddhis”. Jadi kalau suatu ajaran itu berasal dari vihara atau buku-buku buddhis atau pemuka-pemuka agama Buddha, maka berarti ajaran itu adalah “dhamma”. Anak-anak sekolahan pun tahu bahwa definisi dhamma itu adalah “ajaran Sang Buddha”.

Salah satu ciri utama Buddhisme adalah ajaran kebebasan berpikirnya. Buddha menyarankan sendiri agar setiap pengikutnya untuk menguji, mencerna dan mengalami sendiri ajarannya, bukan menerimanya bulat-bulat dengan sebuah stempel sertifikasi “dhamma®”. Khotbah indah Buddha kepada suku Kalama merupakan bukti bahwa Buddha adalah seorang yang mendukung kebebasan berpikir yang seluas-luasnya. Beliau ingin agar pengikutnya berpikir dan mengalami sendiri suatu paham ataupun konsep, bukan menerimanya sebagai dogma.

Seperti halnya cerita si pakar kuda tadi, dhamma bukanlah sesuatu yang bisa ditransfer dengan membaca sebuah buku panduan, juga bukan sesuatu yang bisa ditransfer hanya dengan membicarakannya. Adakah pemain bola professional yang lihai karena kursus tertulis? Adakah pemain piano yang mahir dengan membaca buku? Demikian jugalah dhamma, sesuatu bisa dikatakan sebagai dhamma apabila anda mengalaminya sendiri.

Bagaimanakah cara yang terbaik untuk mengalami rasa jeruk? Apakah kita perlu memperdebatkan kandungan vitamin C-nya? Apakah kita perlu mengetahui rangkaian DNA jeruk, nama latin pohon jeruk? Tidak perlu, cara terbaik untuk mengalami sendiri rasa jeruk adalah dengan membuka kulitnya dan memakannya. Demikian pula cara terbaik untuk mengalami sendiri dhamma tersebut adalah dengan membuka kulitnya dan mempraktekkannya sampai anda merasakan manfaatnya.

Ada sebuah kutipan menarik dari Morpheus di sebuah film, “Neo, sooner or later you’re going to realize just as I did that there’s a difference between knowing the path and walking the path.”. Demikianlah tingkat-tingkat pemahaman dhamma. “Dhamma” pada level knowing the path, tidaklah sama dengan Dhamma pada level walking the path.

“Mengerti” pada level knowing the path, tidaklah sama dengan “mengerti” pada level walking the path. Pada level knowing the path, sesuatu diterima sebatas pada intelek dan logika. Sedangkan pada level walking the path, sesuatu sudah dipahami dan diresapi sampai mendarah-daging.

Sebagai buddhis, semua tentu sudah tahu membunuh, mencuri dan berbohong itu jelek, gak baik, karma jelek, dan sebangsanya. Tapi “tahu” disitu adalah “tahu” pada level knowing the path, bukan pada level walking the path. Dan yang sering terjadi di milis-milis buddhis ini, sebagai buddhis, tentu semua mengerti bahwa ego gede, mau menang sendiri, memaki-maki itu adalah jelek. Tapi sekali lagi, “mengerti” di sana hanyalah sebatas intelek, sebatas knowing the path. Apa artinya hapal luar kepala teori bermain bulutangkis, tapi gak pernah mencoba main bulutangkis? Apa artinya hapal luar kepala teori “dhamma”, tapi gak pernah mencoba mengalami sendiri dhamma itu?

Lalu bagaimanakah kita tahu kalau kita sudah beralih dari mode “knowing the path” menjadi “walking the path”? Saat anda merasakan manfaat dari memahami dan mempraktekkan dhamma dan bahkan membagikannya manfaatnya kepada dunia sekitar anda, berarti anda sudah walking the path.

Sudahkah anda memberi manfaat bagi orang lain hari ini?